Showing posts with label skripsi pend bhs indonesia. Show all posts
Showing posts with label skripsi pend bhs indonesia. Show all posts
SKRIPSI PENGEMBANGAN MEDIA MUSIKALISASI PUISI SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN KEMAMPUAN MENGAPRESIASI PUISI UNTUK SISWA KELAS IX SMP

SKRIPSI PENGEMBANGAN MEDIA MUSIKALISASI PUISI SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN KEMAMPUAN MENGAPRESIASI PUISI UNTUK SISWA KELAS IX SMP

Monday, January 11, 2016

(KODE : 0009-PEND BHS INDO) : SKRIPSI PENGEMBANGAN MEDIA MUSIKALISASI PUISI SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN KEMAMPUAN MENGAPRESIASI PUISI UNTUK SISWA KELAS IX SMP


BAB II 
TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORETIS

A. Tinjauan Pustaka
Upaya untuk meningkatkan keterampilan mengapresiasi puisi dengan baik hingga saat ini masih menjadi topik yang menarik untuk dijadikan bahan penelitian. Di samping karena kondisi pembelajaran apresiasi di lapangan masih kurang signifikan, penelitian-penelitian yang telah ada hingga saat ini masih kurang memberikan solusi yang efektif bagi guru dan siswa. Para ahli bahasa, praktisi pendidikan, maupun calon pendidik pun turut serta dalam memberikan solusi dalam permasalahan ini. Hal ini terbukti dengan banyaknya penelitian tentang upaya peningkatan keterampilan mengapresiasi puisi yang telah dilakukan oleh para peneliti. Penelitian-penelitian yang sejenis penelitian tindakan kelas ini berbeda-beda satu dengan yang lain karena mempunyai kebaruan tersendiri. Berbagai penelitian pengembangan telah banyak dilakukan, di antaranya adalah penelitian yang dilakukan oleh Linaberger (2004), Hudlotin (2006), Anggraini (2008), Arfiani (2008), Leggo (2009), Ryan (1998), dan Kusumastuti (2009).
Linaberger (2004) dengan judul penelitian Poetry Top 10: A fool Proof for Teaching Poetry. Penelitian ini berisi langkah-langkah dalam pengajaran menulis dan mengapresiasi puisi. Langkah-langkah tersebut bertujuan untuk mempermudah guru dalam memberikan pembelajaran menulis dan mengapresiasi puisi, selama ini guru merasa gagal dalam memberikan pelajaran materi tersebut. Siswa hanya mampu membaca puisi, persamaan penelitian tersebut dengan penelitian yang lain dilakukan oleh peneliti mengenai solusi untuk mengatasi pembelajaran menulis dan mengapresiasi puisi. Perbedaannya adalah apabila peneliti yang lain dilakukan menggunakan teknik inkuiri dan latihan terbimbing untuk mempermudah dalam pembelajaran puisi mengenai kendala dalam mengajarkan siswa dalam menulis dan mengapresiasi puisi. Peneliti tersebut menggunakan sepuluh cara untuk mengajarkan materi tersebut dalam pembelajaran.
Hudlotin (2006) melakukan penelitian dengan judul Pengembangan Pembelajaran Membawakan Acara dengan Compact Disc melalui Penerapan Pendekatan Kontekstual pada Siswa Kelas VIII-E MTs Salafiyah Kajen Kabupaten Pati. Dalam penelitiannya tersebut peneliti menghasilkan media VCD yang berisi rekaman model membawakan acara. Ternyata berdasarkan hasil peneliti dapat disimpulkan bahwa penerapan media VCD membawakan acara melalui pendekatan kontekstual ini mampu mengubah prilaku belajar siswa dalam membawakan acara. Terdapat keterkaiatan antara penelitian Hudlrotin dengan penelitian ini karena media yang digunakan adalah media VCD. Selain itu, keterampilan membawakan acara dengan keterampilan membacakan puisi merupakan keterampilan yang dilakukan di depan umum. Perbedaan penelitian Hudlrotin (2006) dengan penelitian ini terletak pada teknik yang digunakan dan keterampilan yang diajarkan. Penelitian ini menggunakan teknik relaksasi sedangkan penelitian Hudlrotin melalui penerapan pendekatan kontekstual. Kemampuan yang ditingkatkan dalam penelitian ini adalah keterampilan membacakan puisi sedangkan penelitian Hudlrotin adalah Kemampuan membawakan Acara dengan Compact Disc melalui Penerapan Pendekatan Kontekstual pada Siswa Kelas VIII-E MTs Salafiyah Kajen Kabupaten Pati.
Peneliti selanjutnya adalah Anggraini (2008) dengan judul penelitian Pengembangan Bahan ajar Membacakan Puisi untuk siswa SD Kelas Rendah menunjukkan adanya peningkatan kemampuan siswa dalam mengapresiasi puisi dan kemampuan membacakan puisi. Penelitian mengembangkan bahan ajar berupa buku antologi puisi anak SD kelas rendah dan bahan ajar audio visual berupa VCD Pemodelan membacakan puisi anak SD kelas rendah. Penggunaan bahan ajar antologi puisi dan VCD ternyata mampu menarik perhatian siswa untuk lebih giat berlatih membacakan puisi.
Penelitian yang dilakukan oleh Arfiani (2008) berjudul Pengembangan Media Video Klip Puisi sebagai Alternatif Media Pembelajaran untuk Mengapresiasi Puisi Siswa Kelas VII SMP. Penelitian ini menghasilkan produk media video klip puisi sebagai alternatif media pembelajaran mengapresiasi puisi. Pengembangan video klip ini dapat menghasilkan suara dan gambar, sehingga siswa lebih mudah mengapresiasi puisi. Namun, dengan adanya gambar siswa lebih cenderung memperhatikan gambar dari pada puisi yang disampaikan. Selain itu durasi waktu yang digunakan terlalu lama, sehingga siswa harus berusaha mengingat dan lebih berkonsentrasi dalam menyimak lagu.
Leggo (2009) dalam karya ilmiah yang berjudul "Poetry of Place Helping Student Write Their Worlds" menunjukkan bahwa pembelajaran mengapresiasi dapat membantu siswa menemukan, yaitu dapat membantu mereka mengetahui siapa mereka, di mana mereka berada, dan bagaimana mereka melihat dunia. Melalui pembelajaran mengapresiasi puisi dapat mengetahui keadaan lingkungan di mana ia berada serta dapat membantu mereka melihat dunia dari sisi yang berada. Siswa dapat mengapresiasi keadaan lingkungan dengan menunjukkan unsur seni dan keindahan dengan imajinasi yang mereka miliki. Persamaan dengan penelitian yang dilakukan peneliti yaitu pada mengapresiasi puisi, perbedaannya ada pada manfaat pada peneliti tersebut.
Dalam artikelnya yang berjudul Using Film to Develop Learner Multination yang dimuat dalam jurnal The Internet TESL, Ryan menuliskan bahwa siswa cenderung lebih berminat pada menonton film dan video. Tujuan guru di kelas adalah mengembangkan minat siswa tersebut ke arah positif, yaitu menikmati film atau video tersebut ke dalam kegiatan pembelajaran. Dengan pemanfaatan film dan video, siswa dapat mengatasi tugas-tugas yang berkaitan dengan pemutaran film atau video tersebut. Sesuai dengan jurnal di atas, peneliti juga memanfaatkan video pembacaan puisi untuk meningkatkan minat siswa dalam mengerjakan pembacaan puisi dengan video yang telah disaksikan nya. Kusumastuti (2009) melakukan penelitian dengan judul Pengembangan Media Pembelajaran Menyimak Cerita bagi Siswa SMP. Penelitian ini menghasilkan produk media kaset cerita. Media kaset ini mampu meningkatkan kompetensi siswa dalam menyimak cerita.
Proses pembelajaran menyimak cerita yang semula hanya dilakukan dengan membacakan teks cerita kemudian dibuat alternatif media kaset. Teks cerita yang ada di kaset direkam dengan narasi cerita yang bagus dan bervariasi serta diiringi musik instrumental. Penelitian ini juga menghasilkan buku petunjuk penggunaan media tersebut.
Berdasarkan tinjauan pustaka di atas dapat diketahui bahwa dalam penelitian pengembangan yang telah dilakukan ada satu penelitian pengembangan tentang keterampilan membacakan puisi. Penelitian mengenai keterampilan membacakan puisi memang sudah pernah dilakukan. Namun, penelitian tersebut perlu dikembangkan lagi agar menjadi lebih baik. Penelitian mengenai keterampilan membacakan puisi yang banyak dilakukan belum menggunakan media dan teknik yang membuat siswa aktif dan mampu mengapresiasi puisi dengan baik.

SKRIPSI PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN NHT BERBANTUAN MBI TERHADAP HASIL BELAJAR BAHASA INDONESIA SISWA KELAS V

SKRIPSI PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN NHT BERBANTUAN MBI TERHADAP HASIL BELAJAR BAHASA INDONESIA SISWA KELAS V

Monday, January 11, 2016
(0008-PEND BHS INDO) SKRIPSI PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN NHT BERBANTUAN MBI TERHADAP HASIL BELAJAR BAHASA INDONESIA SISWA KELAS V

BAB II 
KAJIAN TEORI

A. Proses Belajar Mengajar 
1. Pengertian belajar
Menurut Purwanto (2009: 38) belajar adalah proses dalam diri individu yang berinteraksi dengan lingkungan untuk mendapatkan pembahan dalam perilakunya. Sedangkan menurut Dimyati dan Mudjiono (2009: 25) belajar merupakan tindakan dan perilaku siswa yang komplek. Sebagai tindakan, maka belajar hanya dialami oleh siswa sendiri. Menurut Slameto (2010: 2) belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu pembahan tingkah laku yang bam secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.
Dalam sistem pendidikan tujuan kurikulum maupun tujuan instruksional, menurut Benyamin Bloom (Sudjana, 2011: 22) menggunakan klasifikasi hasil belajar secara garis besar menjadi tiga ranah antara lain: (a) ranah kognitif berkenaan dengan hasil belajar intelektual yakni pengetahuan atau ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis, sentesis, dan evaluasi, (b) ranah efektif berkenaan dengan sikap yang terdiri dan lima aspek yakni, penerimaan, jawaban atau reaksi, penilaian, organisasi dan internalisasi, dan (c) ranah psikomotoris berkenaan dengan hasil belajar keterampilan dan kemampuan bertindak yang terdiri dan enam aspek yakni, gerakan refleksi, ketepatan, gerakan keterampilan kompleks dan gerakan ekspresif dan interpretatif.
Dari beberapa pendapat di atas dapat diartikan bahwa hasil belajar merupakan suatu hasil yang diperoleh dari peserta didik setelah mengikuti proses pembelajaran. Jadi hasil menentukan tercapai tidaknya tujuan pendidikan yang diaplikasikan dalam bentuk penilaian dalam rangka memberikan pertimbangan apakah tujuan pendidikan tersebut tercapai. Penilaian hasil belajar tersebut dilakukan terhadap proses belajar mengajar untuk mengetahui tercapainya tidaknya tujuan pengajaran dalam hal penguasaan bahan pelajaran oleh peserta didik, selain itu penilaian tersebut dilakukan untuk mengetahui keefektifan proses belajar mengajar yang dilakukan oleh guru.

2. Teori belajar
Sebenarnya terdapat berbagai teori belajar yang dikemukakan oleh para ahli. Namun dalam uraian berikut ini dibatasi hanya pada teori belajar yang mendukung pembelajaran kooperatif. a. Teori kontruktivisme sosial
Kontruktivisme sosial berasal dari Vygotsky. Menurut Vygotsky dalam Huda (2012: 24), mental siswa berkembang pada level intrapersonal di mana mereka belajar menginternalisasi kan dan mentransformasikan interaksi interpersonal mereka dengan orang lain. Lalu pada level intrapersonal di mana mereka mulai memperoleh pemahaman dan keterampilan baru dari hasil interaksi ini. Landasan inilah yang menjadi alasan mengapa siswa perlu diajak untuk berinteraksi bersama siswa lain yang lebih mampu atau orang yang lebih dewasa sehingga mereka bisa menyelesaikan tugas-tugas yang tidak bisa mereka selesaikan sendiri. Oleh karena itu, pembelajaran kooperatif menekankan pada belajar kelompok
antar siswa.
a. Teori Piaget
Teori lain yang mendukung tentang belajar kelompok kecil yang ada pada pembelajaran kooperatif berasal dari teori Piaget tentang konflik sosio kognitif. Menurut Piaget dalam Huda (2012: 25), konflik tersebut muncul ketika siswa mulai merumuskan kembali pemahamannya akan suatu masalah yang bertentangan dengan pemahaman siswa atau orang lain yang sedang berinteraksi dengannya. Saat pertentangan terjadi setiap siswa akan tertantang untuk menuturkan kembali pemahamannya kepada siswa lain dan bersama siswa lain secara bersama-sama menyelesaikan dan meluruskan pemahaman-pemahaman yang masih bertentangan tersebut.

3. Ciri-ciri hasil belajar
Menurut Dimyati dan Mudjiono (2009: 26) membagi beberapa ciri-ciri hasil belajar adalah hasil belajar memiliki kapasitas berupa pengetahuan, kebiasaan, keterampilan sikap dan cita-cita, adanya perubahan mental dan perubahan jasmani, dan memiliki dampak pengajaran dan pengiring. Dari penjelasan tersebut, dapat ditekankan bahwa ciri-ciri hasil belajar adalah berupa perubahan pengetahuan, kebiasaan, sikap serta adanya perubahan mental dan perubahan jasmani yang ditunjukan.

4. Prinsip belajar
Menurut Dimyati dan Mudjiono (2009: 42) prinsip-prinsip belajar yang dapat digunakan sebagai dasar dalam upaya pembelajaran, baik bagi siswa untuk meningkatkan upaya belajar maupun bagi guru dalam upaya untuk meningkatkan mengajar adalah perhatian dan motivasi, keaktifan, keterlibatan langsung/berpengalaman, pengulangan, tantangan, penguatan, dan perbedaan individual. Sedangkan prinsip-prinsip belajar menurut Suprijono (2012: 4) adalah perubahan perilaku, belajar merupakan proses yang sistemik yang dinamis, konstruktif, organik, dan belajar merupakan pengalaman yang pada dasarnya adalah hasil interaksi antara peserta didik dengan lingkungannya.
Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan peneliti bahwa belajar memiliki prinsip-prinsip bahwa belajar memerlukan proses dan penahapan serta kematangan diri siswa, belajar akan lebih mantap dan efektif bila didorong dengan motivasi sehingga siswa dapat berpartisipasi aktif, meningkatkan minat dan membimbing untuk mencapai tujuan instruksional. Perkembangan pengalaman anak didik akan banyak mempengaruhi kemampuan belajar yang bersangkutan serta belajar perlu ada interaksi siswa dengan lingkungan.

5. Ranah penilaian hasil belajar siswa
Menurut Dimyati dan Mudjiono (2009: 26) ranah penilaian hasil belajar meliputi ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotor. Ketiga ranah tersebut merupakan penentu hasil belajar siswa. Berikut ranah penilaian hasil belajar antara lain sebagai berikut.
a. Ranah kognitif
Ranah kognitif menurut Bloom, dkk (Dimyati dan Mudjiono, 2009: 26) menyatakan bahwa ranah kognitif terdiri dari enam jenis perilaku sebagai berikut.
1. Pengetahuan, mencapai kemampuan ingatan tentang hal yang telah dipelajari dan tersimpan dalam ingatan. Pengetahuan itu berkenaan dengan fakta, peristiwa, pengertian, kaidah, teori, prinsip, atau metode.
2. Pemahaman, mencakup kemampuan menangkap arti dan makna tentang hal yang dipelajari.
3. Penerapan, mencakup kemampuan menerapkan metode dan kaidah untuk menghadapi masalah yang nyata dan baru. Misalnya, menggunakan prinsip.
4. Analisis, mencakup kemampuan merinci suatu kesatuan ke dalam bagian- bagian sehingga struktur keseluruhan dapat dipahami dengan baik. Misalnya mengurangi masalah menjadi bagian yang telah kecil.
5. Sintesis, mencakup kemampuan membentuk suatu pola baru. Misalnya kemampuan menyusun suatu program kerja.
6. Evaluasi, mencakup kemampuan membentuk pendapat tentang beberapa hal berdasarkan kriteria tertentu. Misalnya, kemampuan menilai hasil karangan.
b. Ranah afektif
Ranah afektif menurut Krathwohl dan Bloom, dkk (Dimyati dan Mudjiono, 2009: 27) terdiri dari lima perilaku-perilaku sebagai berikut.
1) Penerimaan, yang mencakup kepekaan tentang hal tertentu dan kesediaan memperhatikan hal tersebut. Misalnya, kemampuan mengakui adanya perbedaan-perbedaan.
2) Partisipasi, yang mencakup kerelaan, kesediaan memperhatikan, dan berpartisipasi dalam suatu kegiatan. Misalnya, mematuhi aturan, dan berpartisipasi dalam suatu kegiatan.
3) Penilaian dan penentuan sikap, yang mencakup menerima suatu nilai, menghargai, mengakui dan menentukan sikap. Misalnya, menerima suatu pendapat orang lain.
4) Organisasi, yang mencakup kemampuan membentuk suatu sistem nilai sebagai pedoman dan pegangan hidup. Misalnya, menempatkan nilai dalam suatu skala nilai dan dijadikan pedoman bertindak secara bertanggung jawab.
5) Pembentukan pola hidup, yang mencakup kemampuan menghayati nilai dan membentuknya menjadi pola nilai kehidupan pribadi. Misalnya, pada kemampuan untuk mempertimbangkan dan menunjukkan tindakan yang berdisiplin.
c. Ranah psikomotor
Ranah psikomotor menurut Simpson (Dimyati dan Mudjiono, 2009: 29) terdiri dari tujuh jenis perilaku yaitu persepsi yang mencakup kemampuan memilah-milah kan (mendiskriminasikan) hal-hal secara khas, dan menyadari adanya perbedaan yang khas tersebut. Misalnya, pemilahan warna, angka 6 dan 9, huruf b dan d, persiapan yang mencakup kemampuan penempatan diri dalam keadaan di mana akan terjadi suatu gerakan atau rangkaian gerakan. Kemampuan ini mencakup jasmani dan rohani. Misalnya, posisi star lomba tari. Gerakan terbimbing mencakup kemampuan melakukan gerakan sesuai contoh, atau gerakan peniruan. Misalnya, meniru gerak tari, membuat lingkaran di atas pola.

SKRIPSI PENGAJARAN KEMAMPUAN MENULIS CERPEN DENGAN METODE RESITASI DAN METODE KONTEKSTUAL PADA SISWA KELAS X DI SMA

SKRIPSI PENGAJARAN KEMAMPUAN MENULIS CERPEN DENGAN METODE RESITASI DAN METODE KONTEKSTUAL PADA SISWA KELAS X DI SMA

Monday, January 11, 2016
(0007-PEND BHS INDO ) SKRIPSI PENGAJARAN KEMAMPUAN MENULIS CERPEN DENGAN METODE RESITASI DAN METODE KONTEKSTUAL PADA SISWA KELAS X DI SMA

BAB II 
LANDASAN TEORI
A.  Menulis
1.   Pengertian Menulis
Ada beberapa pakar yang menjabarkan pengertian menulis Menurut Tarigan (1994: 21) menulis adalah menurunkan atau melukiskan lambang-lambang grafik yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami oleh seseorang, sehingga orang-orang lain dapat membaca lambang-lambang grafik tersebut kalau mereka memahami bahasa dan gambaran grafik itu.
Menurut Suparno dan Muhammad Yunus (2007: 1.29) menulis adalah kegiatan komunikasi berupa penyampaian pesan secara tertulis kepada pihak lain. Menurut Nurudin (2007: 4) menulis adalah kegiatan yang dilakukan seseorang untuk menghasilkan tulisan. Sedangkan menurut Wiyanto (2004: 1) menulis berarti mengubah bunyi yang dapat didengar menjadi tanda-tanda yang dapat dilihat.
Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa menulis adalah menurunkan atau melukiskan lambang-lambang grafik yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami oleh seseorang sehingga orang-orang lain dapat membaca lambang-lambang grafik tersebut.

2.  Unsur-unsur Menulis
Menurut The Liang Gie (dalam Nurudin, 2007: 5), unsur menulis setidak-tidaknya terdiri dari : gagasan, tuturan (narasi, deskripsi, eksposisi, argumentasi, persuasi), tatanan, dan wahana.
Unsur yang pertama adalah gagasan. Yang dimaksud dengan gagasan adalah pendapat, pengalaman, atau pengetahuan yang ada dalam pikiran seseorang. Setiap orang mesti punya gagasan, apapun bentuk gagasan itu. Gagasan seseorang akan sangat tergantung pada pengalaman masa lalu, pengetahuan yang dimilikinya, latar belakang hidupnya, kecenderungan personal dan untuk tujuan apa gagasan itu ingin dikemukakan.
Unsur yang kedua adalah tuturan. Tuturan adalah pengungkapan gagasan sehingga dapat dipahami oleh pembaca. Ada beberapa macam-macam tuturan antara lain : narasi (penceritaan), deskripsi (pelukisan), eksposisi (pengungkapan berdasar fakta secara teratur, logis, terpadu), argumentasi (meyakinkan), dan persuasi (pembujukan).
Unsur yang ketiga adalah tatakan. Tatanan yang dimaksud di sini adalah tertib pengaturan dan penyusunan gagasan dengan mengindahkan berbagai asas, aturan, dan teknik sampai merencanakan rangka dan langkah. Ini berarti menulis tidak sekedar menulis, tetapi menulis dengan disertai sebuah "aturan" menulis.
Unsur selanjutnya adalah wahana. Wahana juga sering disebut dengan alat. Wahana dalam menulis berarti sarana pengantar gagasan berupa bahasa tulis yang terutama menyangkut kosakata, gramatika, dan retorika (seni memakai bahasa). Bagi penulis pemula, wahana sering menjadi masalah yang krusial. Akan tetapi, jika disertai niat yang menggelora disertai dengan belajar terus menulis, wahana lambat laun akan bisa dilalui dengan mudah.

3.  As as Menulis yang Baik
Menurut Nurudin (2007 : 39) asas menulis yang baik adalah kejelasan (clarity), keringkasan (consieness), ketepatan (correctness), kesatu paduan (unity), penegasan (emphasis).
Yang dimaksud kejelasan adalah tulisan harus dapat dibaca dan dimengerti oleh pembaca. Ini juga termasuk bahwa yang dimaksud penulis tidak disalahartikan atau salah tafsir oleh pembaca gara-gara kalimat-kalimatnya tidak jelas. Dengan kata lain kalimat bisa dikatakan jelas kalau apa yang dipahami oleh pembaca sama persis dengan apa yang dimaksud penulisnya.
Yang dimaksud keringkasan di sini adalah bahwa kalimat yang disusun tidak saja pendek-pendek tetapi jangan menggunakan ungkapan-ungkapan yang berlebihan. Hal ini juga berarti jangan terlalu menghambur-hamburkan kata seenaknya, tak berputar-putar atau mengulang-ulang dalam menyampaikan gagasan. Namun demikian, pendek-pendek juga bukan berarti tanpa masalah.
Ketepatan (correctness), yang dimaksud ketepatan adalah suatu penulisan harus dapat menyampaikan butir gagasan kepada pembaca dengan kecocokan seperti yang dimaksud penulisnya. Ini berarti apa yang diinginkan oleh penulis bisa dipahami sama persis oleh pembacanya. Itu pulalah yang sering dianjurkan bahwa penulis yang baik adalah penulis yang mampu memahami siapa pembaca tulisannya.
Kesatu paduan (unity), yang dimaksud dengan kesatu paduan adalah ada satu gagasan dalam satu alenia. Kasus demikian sering dialami oleh penulis pemula yang belum terbiasa membuat alinea dengan hanya satu pokok pikiran. Satu alenia sebisa mungkin hanya memiliki satu pokok pikiran dengan beberapa pokok pikiran penjelas.
Pertautan (coherence), yang dimaksudnya adalah antar bagian bertautan satu sama lain (antar alenia atau kalimat). Ketiadaan pertautan sangat sering terjadi bila seorang penulis menulis dengan tergesa-gesa dan hanya kompilasi (menggabungkan berbagai sumber tanpa ada kata atau kalimat perangkai atau hanya tumpukan pendapat banyak orang yang disusun sendiri) dari berbagai sumber. Penegasan (Emphasis), adanya penonjolan atau punya derajat perbedaan antar bagian. Ini sangat tergantung pada keahlian penulis. Seorang penulis yang mahir akan bisa menyebar penekanan pada setiap bagian, tetapi, bukan berarti penulis pemula tidak bisa melakukannya. Penulis pemula bisa melakukannya dengan cara membuat sub bahasan dari sebuah tulisan.
Ada enam tahapan yang dapat ditempuh oleh seorang yang hendak menulis cerpen. Enam tahap dimaksud adalah
(1) tahap peningkatan peristiwa,
(2) tahap pemilihan peristiwa,
(3) tahap penyusunan urutan peristiwa,
(4) tahap perangkaian peristiwa fiktif,
(5) tahap penyusunan cerpen, dan
(6) tahap revisi dan penjadian cerpen.
Pada tahap peng ingatan peristiwa, penulis melakukan kegiatan mengingat-ingat peristiwa-peristiwa yang pernah dialami/dirasakannya, tetapi diketahuinya. Peristiwa di sini dapat berupa peristiwa fisik maupun peristiwa non-fisik (batin, pemikiran, perasaan, dsb).
Pada tahap pemilihan peristiwa, penulis melakukan kegiatan menentukan salah satu peristiwa di antara sekian peristiwa yang pernah dialaminya/dirasakannya, atau diketahuinya.
Selanjutnya tahap penyusunan urutan peristiwa. Pada tahap ini penulis melaksanakan kegiatan menyusun urutan peristiwa yang pernah dialaminya/dirasakannya, ataupun mengubah urutan peristiwanya disusun secara garis besar, tidak rinci, dan mendetil.
Tahap perangkaian peristiwa fiktif. Pada tahap ini penulis melaksanakan kegiatan merangkai peristiwa nyata dengan peristiwa fiktif. Penulis dapat mengurai, menambah, ataupun mengubah urutan peristiwa yang telah disusunnya.
Tahap penyusunan cerpen. Pada tahap ini penulis menuliskan peristiwa yang telah ditambah dan/atau yang telah diubah (peristiwa fiktif).
Tahap revisi dan penjadian cerpen, pada tahap ini penulis melaksanakan kegiatan membaca kembali cerpen yang ditulisnya. Apabila ada hal-hal yang perlu diperbaiki, penulis dapat memperbaikinya. Apabila penulis merasa perlu untuk merombak cerpennya, maka penulis boleh melakukannya. Setelah direvisi cerpen ditulis kembali dihasilkan sebuah cerpen (Nurudin, 2007:6).
B. Cerpen
1.   Pengertian Cerpen
Cerita pendek adalah cerita berbentuk prosa yang relatif pendek (Sumardjo, 1986: 30). Menurut bentuk fisiknya cerita pendek (atau disingkat menjadi cerpen) adalah suatu cerita yang pendek (Sumardjo, 1986: 36). Notosusanto (dalam Tarigan, 1986: 176) mengatakan bahwa "cerita pendek" adalah cerita yang panjangnya sekitar 5000 kata atau kira-kria 17 halaman kuarto spasi rangkap yang terpusat dan lengkap pada dirinya.
Rosidi dalam (Tarigan, 1986: 176) memberi batasan dan keterangan bahwa "cerpen atau cerita pendek merupakan cerita yang

SKRIPSI PENERAPAN PENDEKATAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING DALAM PEMBELAJARAN MENULIS PUISI PADA SISWA KELAS X SMA

SKRIPSI PENERAPAN PENDEKATAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING DALAM PEMBELAJARAN MENULIS PUISI PADA SISWA KELAS X SMA

Monday, January 11, 2016
( 0006- PEND BHS INDO) SKRIPSI PENERAPAN PENDEKATAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING DALAM PEMBELAJARAN MENULIS PUISI PADA SISWA KELAS X SMA

BAB II 
LANDASAN TEORI

A. Menulis Puisi
1.   Pengertian Menulis Puisi
Menulis merupakan salah satu aspek keterampilan berbahasa ketiga setelah menyimak dan berbicara, kemudian membaca. Ketrampilan menulis adalah ketrampilan proses karena hampir semua orang yang membuat tulisan, baik karya ilmiah, nonilmiah, maupun catatan pribadi, jarang yang melakukan secara spontan dan langsung jadi, demikian dikata (Jauhari, 2012:16).
Menulis sebagai peningkatan kecerdasan. Pada waktu, menulis, daya nalar kita berjalan selain mengeluarkan ide-ide, kita juga mengingat-ingat informasi yang pernah didapat. Hal seperti itu sama dengan melatih ketajaman dan daya tangkap otak. Anak yang bisa belajar dengan berlatih dan menghafal ketajaman otaknya jauh lebih baik dari pada anak didaerah terpencil yang aktivitas sehari-harinya hanya bermain dan mencari makanan, demikian dikata (Jauhari, 2013:15).
Menulis adalah menurunkan atau melukiskan lambang-lambang grafik yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami oleh seseorang, sehingga orang-orang lain dapat membaca lambang-lambang grafik tersebut kalau bisa memahami bahasa dan gambaran grafik itu, demikian dikata (Tarigan, 1994:21).
Menulis adalah pengungkapan ide, gagasan, pikiran, dan pengetahuan seseorang yang diwujudkan dengan lambang-lambang fonem yang telah disepakati bersama. Untuk mendapat ide, gagasan, dan pengetahuan tersebut, kita perlu menyimak dan membaca, demikian dikata (Jauhari, 2013:24).
ata puisi berasal dari bahasa Yunani poieo atau poio yang berarti 1) membangun, 2) menyebabkan, menimbulkan, dan 3) membuat puisi. "Poetes" berarti membuat puisi atau penyair, demikian dikata (Jauhari, 2013:130). Kosasih (2012:97) mengatakan bahwa puisi adalah bentuk karya sastra yang menggunakan kata-kata indah dan karya makna. Keindahan sebuah puisi disebabkan oleh diksi, majas, rima, dan irama yang terkandung dalam karya sastra Sejalan pendapat tersebut, Azizi dkk (2012:124) puisi adalah ragam sastra yang bahasa terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait. Pada dasar membuat puisi seseorang telah menciptakan suatu dunia tersendiri yang mungkin berisi pesan atau gambaran suasana-suasana tertentu baik fisik maupun batin. Puisi itu karya estetis yang bermakna, yang mempunyai arti, bukan hanya sesuatu yang kosong. Oleh karena itu, sebelum pengkajian aspek-aspek yang lain, perlu lebih dahulu puisi dikaji sebagai sebuah struktur yang bermakna dan bernilai estetis, demikan dikata (Pradopo, 2005:3). Dalam puisi bunyi bersifat estetis, yang merapakan unsur puisi untuk mendapatkan keindahan dan tenaga ekspresif. Bunyi disamping hiasan dalam puisi, puisi juga mempunyai tugas yang penting yaitu untuk memperdalam ucapan, menimbulkan rasa, menimbulkan bayangan angan yang jelas, dan menimbulkan suasana yang khusus, demikian dikata (Baribin, 1990:41).
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa menulis puisi adalah cara menuangkan ekspresi pemikiran dari pengarang yang dapat membangkitkan perasaan, merangsang imajinasi panca indra yang digali dari situasi lingkungan masyarakat atau pengalaman pengarang dalam bentuk tulisan dan disajikan untuk masyarakat dalam suasana yang berirama yang direkam dan diekspresikan, dinyatakan dengan menarik dan memberi kesan.
2.  Cara Menulis Puisi
Telah kita ketahui  bahwa puisi  sudah  dikenal lama oleh masyarakat donesia. Tidak semua orang dapat menulis puisi dengan bagus dan semua makna tersampaikan. Ada beberapa cara untuk menulis puisi menurut Dewi, dkk, 2009:36-37). a. Menentukan Tema
Tema merapakan gagasan pokok yang dikemukakan oleh penyair melalui puisinya. Tema yang sering digunakan dalam puisi misalnya ketuhanan (religious), kemanusiaan, cinta, patrotisme, penyelesalan. Kembangkan pilihan kata ke dalam larik-larik puisi. Kembangkan kalimat-kalimat yang telah siswa pilih ke dalam larik-larik puisi yang ada biar bisa mempermudah menentukan.
b.Menyusun Larik-Larik Puisi Menjadi Kalimat
Larik-larik yang telah siswa susun dapat siswa disatukan ke dalam bait puisi. Jagan lupa, siswa haras memperhatikan persajakan atau rima dalam menyusun larik ke dalam bait. Perlu siswa ketahui bahwa persajakan dibentuk dari persamaan bunyi.
c.Beri Judul Pada Puisi Yang Kita Buat
Judul dapat diambil dari pilihan kata yang berkesan atau sama dengan tema. Judul diungkapkan dengan kata-kata menarik.
3.  Hal-Hal Menulis Puisi
Menurut Kosasih (2012:124) hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menulis
puisi sebagai berikut.
a. Puisi diciptakan dalam suasana perasaan intens yang menuntut pengucapan jiwa yang spontan dan padat. Dalam puisi, seseorang berbicara dan mengucapkan dirinya sendiri secara ekspresif. Hal berbeda dengan prosa, yang pengarangnya tidak selalu mengucapkan dirinya sendiri, tetapi juga bisa berbicara tentang orang lain dan dunianya yang lain.
1) Sebuah proses sosial dalam puisi harus berbeda dengan proses sosial dalam esai, berita, pidato dan pamplet.
2) Hal yang sama juga berlaku untuk sajak cinta, yang harus kita bedakan dengan surat cinta atau rayuan seorang kekasih di taman, di belakang sekolah atau rayuan berbusa dari seorang jejaka dalam telenovela.
3) Tema-tema keutuhan  yang  diangkat  dalam  puisi berbeda dengan khotbah atau doa-doa keagamaan yang dilantunkan oleh peminta- peminta di dalam atau terminal.
puisi mendasarkan masalah atau berbagai hal yang menyentuh kesadaran Anda sendiri. Tema yang kita tulis berangkat dari inspirasi dari sendiri yang khas, sekecil, dan sederhana apa pun inspirasi itu.
c. Dalam menulis puisi kita perlu memikirkan cara penyampaiannya.
Cara penyampaian ide tau perasaan atau majas.
1)Gaya bahasa adalah perkataan yang terungkap karena perasaan yang timbul atau hidup dalam hatimu dan mampu menimbulkan suatu perasaan dalam tertentu dalam hati pembaca.
2)Gaya   bahasa   membuat   kalimat-kalimat   dalam   puisi   menjadi hidup, bergerak   dan   merangsang   pembaca   untuk   member   reaksi tertentu dan berkontemplasi atas apa yang dikemukakan penyair.
4.Ciri - Ciri Menulis Puisi
a.Puisi bersifat pemusatan atau konsentrik, karena bentuk puisi hanya memusatkan pelukis annya pada hal-hal pokok.
b.Hampir semua kata yang dipakai dalam penulisan menunjuk arti yang tidak  sebenarnya.  Kata-kata  dalam  puisi  berperan  sebagai  lambang-lambang atau kiasan-kiasan.
c.Kata-kata dalam puisi bersifat konotatif. Kadang-kadang kata-kata dalam puisi   disebut   pula   sebagai   kata-kata   bersayap   karena   mempunyai kemungkinan arti yang lebih dari satu.
d.Penyusunan baris-baris kalimat atau tipografi pada puisi ditentukan bukan hanya oleh pertautan makna atau arti, melainkan juga rasa atau suasana puisi. Pengubahan tipografi dari bentuk yang sudah ditentukan penyair ke
bentuk tipografi yang lain akan berakibat menggubah makna dan rasa atau suasana puisi bersangkutan, demikian dikata (Kosasih, 2012:115).
5.Unsur-Unsur Puisi Menurut Kosasih (2012:97) secara garis besar, unsur-unsur puisi terbagi menjadi dua macam, yakni struktur fisik atau struktur batin. Dimana unsur-unsur puisi sebagai berikut. a.   Unsur fisik
1)  Diksi (Pemilihan Kata)
Kata-kata yang digunakan dalam puisi merupakan hasil pemilihan yang sangat cermat. Kata-kata merupakan hasil pertimbangan, baik itu makna, susunan bunyinya, maupun hubungan kata itu dengan kata-kata lain dalam baris dan baitnya. Diksi adalah pemilihan kata-kata yang dilakukan oleh penyair dalam puisi. Karena puisi adalah bentuk karya sastra yang

 SKRIPSI KEEFEKTIFAN TEKNIK SCAFFOLDING DALAM PEMBELAJARAN MENULIS CERPEN SISWA KELAS X

SKRIPSI KEEFEKTIFAN TEKNIK SCAFFOLDING DALAM PEMBELAJARAN MENULIS CERPEN SISWA KELAS X

Monday, January 11, 2016
(0005-PEND BHS INDO) SKRIPSI KEEFEKTIFAN TEKNIK SCAFFOLDING DALAM PEMBELAJARAN MENULIS CERPEN SISWA KELAS X

BAB II 
KAJIAN TEORI

A. Deskripsi Teori
1. Pengertian Menulis
Pembelajaran bahasa wajib mengajarkan berbagai keterampilan berbahasa, salah satunya adalah keterampilan menulis. Menulis itu sendiri diartikan sebagai suatu keahlian dalam menuangkan suatu ide, gagasan atau gambaran yang ada di dalam pikiran manusia menjadi sebuah karya tulis yang dapat dibaca dan mudah dimengerti atau dipahami orang lain (Wardhana via Rohmadi, 2007: 33). Di sisi lain, Tarigan (2008: 22) mengatakan bahwa menulis ialah menurunkan atau melukiskan lambang-lambang grafik yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami oleh seseorang, sehingga orang- orang lain dapat membaca lambang-lambang grafik tersebut kalau mereka memahami bahasa dan gambaran grafik itu.
Sementara itu, menulis juga merupakan kemampuan kompleks yang menuntut sejumlah pengetahuan dan keterampilan (Akhadiah, 1988: 2). Melalui kegiatan menulis, penulis terdorong untuk terus belajar secara aktif. Penulis menjadi penemu sekaligus pemecah masalah bukan sekadar menjadi penyadap informasi dari orang lain. Penulis akan lebih mudah memecahkan permasalahannya, yaitu menganalisisnya secara tersurat dalam konteks yang lebih kongkret. Kegiatan menulis yang terencana akan membiasakan seseorang berpikir serta berbahasa secara tertib. Berdasarkan pendapat para ahli di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa menulis adalah keterampilan kompleks seseorang dalam menyampaikan gagasan atau pendapat dengan menggunakan lambang-lambang grafik yang berfungsi sebagai alat komunikasi yang berupa nonverbal untuk menyampaikan pesan kepada pembaca oleh penulis.
2. Fungsi dan Tujuan Menulis
Pada dasarnya fungsi dan tujuan utama menulis adalah sebagai alat komunikasi yang tidak langsung atau tidak tatap muka. Menulis dapat memudahkan seseorang untuk merasakan dan menikmati hubungan-hubungan, memperdalam daya tanggap atau persepsi, memecahkan masalah-masalah yang sedang dihadapi, dan menyusun urutan pengalaman. Ada beberapa tujuan menulis yang diungkapkan Hairston (via Darmadi 1996:3), tujuan tersebut adalah sebagai berikut.
2.a. Sarana untuk menemukan sesuatu.
2.b. Kegiatan menulis dapat memunculkan ide baru.
2.c. Melatih kemampuan mengorganisasi dan menjernihkan berbagai konsep atau ide yang kita miliki.
2.d. Melatih sikap objektif yang ada pada diri seseorang.
2.e. Membantu diri kita untuk menyerap dan memproses informasi.
2.f. Kegiatan menulis akan memungkinkan seseorang berlatih memecahkan beberapa masalah sekaligus.
2.g. Kegiatan menulis dalam sebuah bidang ilmu akan memungkinkan seseorang menjadi aktif dan tidak hanya menjadi penerima informasi.
3. Tahap dalam Menulis
Seorang penulis pasti akan mengalami proses yang panjang dalam menciptakan suatu karya yang kreatif. Sehubungan dengan hal tersebut, penulis harus mengetahui tahapan apa saja yang harus dilalui dalam menciptakan karya kreatif tersebut. Sumardjo (2007: 75 - 78) mengemukakan bahwa pada dasarnya terdapat lima tahap proses kreatif menulis yaitu tahap persiapan, inkubasi, inspirasi, penulisan, dan revisi. Masing-masing tahap tersebut dijelaskan sebagai berikut.
Pertama, adalah tahap persiapan. Pada tahap ini seorang penulis telah menyadari apa yang akan dia tulis dan bagaimana ia akan menuliskannya. Apa yang akan ditulis adalah munculnya gagasan, isi tulisan. Sedang bagaimana ia akan menuangkan gagasan itu adalah soal bentuk tulisannya. Soal bentuk tulisan inilah yang menentukan syarat teknik penulisan. Gagasan itu akan ditulis dalam bentuk artikel atau esai, atau dalam bentuk cerpen, atau dalam bentuk yang lain. Dengan demikian, yang pertama muncul adalah sang penulis telah mengetahui apa yang akan dituliskan nya dan bagaimana menuliskannya. Munculnya gagasan seperti ini memperkuat si penulis untuk segera memulainya atau mungkin juga masih diendapkan nya.
Kedua, tahap inkubasi. Pada tahap ini gagasan yang telah muncul tadi disimpan dan dipikirkan matang-matang, dan ditunggu waktu yang tepat untuk menuliskannya. Selama masa pengendapan ini biasanya konsentrasi penulis hanya pada gagasan itu saja. Di mana saja dia berada dia memikirkan dan mematangkan gagasannya.
Ketiga, saat inspirasi. Inilah saat “Eureka” yaitu saat yang tiba-tiba seluruh gagasan menemukan bentuknya yang amat ideal. Gagasan dan bentuk ungkapannya telah jelas dan padu. Ada desakan yang kuat untuk segera menulis dan tak bisa ditunggu-tunggu lagi.
Keempat, tahap penulisan. Jika pada tahap inspirasi telah muncul maka segeralah lari ke mesin tulis atau komputer atau ambil bolpoin dan segera menulis. Keluarkan segala hasil inkubasi selama ini. Tuangkan semua gagasan yang baik atau kurang baik, muntahan semuanya tanpa sisa dalam bentuk tulisan yang direncanakan nya. Jangan pikirkan mengontrol diri dulu. Jangan menilai mutu tulisanmu dahulu. Itu nanti pada tahap berikutnya. Rasio belum boleh bekerja dulu. Bawah sadar dan kesadaran dituliskan dengan gairah besar. Hasilnya masih suatu karya kasar, masih sebuah draf belaka. Spontanitas amat penting disini.
Kelima, adalah tahap revisi. Periksalah dan nilai lah berdasarkan pengetahuan dan apresiasi yang dimiliki. Buang bagian yang di nalar tidak perlu, tambahkan yang mungkin perlu ditambahkan. Pindahkan bagian atas ke  tengah atau ke bawah. Potong, tambal, dan jahit kembali berdasarkan rasio, nalar, pola bentuk yang telah diapresiasi dengan baik. Disinilah disiplin diri sebagai penulis diuji. Ia harus mau mengulangi menuliskannya kembali. Inilah bentuk tulisan terakhir yang dirasa telah mendekati idealnya Kalau sudah mantap, boleh diminta orang lain untuk membacanya.
4. Cerpen
Cerita pendek atau sering disingkat sebagai cerpen termasuk ke dalam bentuk prosa naratif fiktif. Cerita pendek cenderung padat dan langsung pada tujuannya dibandingkan karya-karya fiksi yang lebih panjang, seperti novella (dalam pengertian modern) dan novel. Karena singkatnya, cerita yang sukses mengandalkan teknik-teknik sastra seperti tokoh, plot, tema, bahasa dan insight secara lebih luas dibandingkan dengan fiksi yang lebih panjang. Ceritanya bisa dalam berbagai jenis.
Sebuah cerpen bukanlah sebuah novel yang dipendekkan dan juga bukan bagian dari novel yang belum ditulis. Cerpen merupakan suatu karya fiksi yang bisa dibaca sekali duduk. Dalam sebuah cerpen ceritanya membangkitkan efek tertentu pada diri pembaca. Cerpen biasanya memiliki alur tunggal yang langsung pada peristiwa dan menekankan pada tokoh utamanya saja (Sayuti, 2000: 8).
Di sisi lain, Nurgiyantoro (2010: 10) mengemukakan bahwa cerpen sesuai dengan namanya adalah cerita yang pendek. Akan tetapi, berapa ukuran panjang pendek itu memang tidak ada aturannya, tidak ada satu kesepakatan di antara para pengarang dan para ahli. Walaupun sama-sama pendek, panjang

SKRIPSI KEEFEKTIFAN PEMBELAJARAN MENULIS CERPEN DENGAN MENGGUNAKAN MODEL PROBLEM BASED INSTRUCTION (PBI) DAN MODEL SINEKTIK PADA SISWA SMA

SKRIPSI KEEFEKTIFAN PEMBELAJARAN MENULIS CERPEN DENGAN MENGGUNAKAN MODEL PROBLEM BASED INSTRUCTION (PBI) DAN MODEL SINEKTIK PADA SISWA SMA

Monday, January 11, 2016
(0004-PEND BHS INDO) SKRIPSI KEEFEKTIFAN PEMBELAJARAN MENULIS CERPEN DENGAN MENGGUNAKAN MODEL PROBLEM BASED INSTRUCTION (PBI) DAN MODEL SINEKTIK PADA SISWA SMA


BAB II 
KAJIAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORETIS

2.1 Kajian Pustaka
Peneliti menemukan beberapa penelitian yang relevan dengan penelitian yang dilakukan peneliti. Yaitu penelitian yang telah dilakukan oleh Hidayah (2009), Tranwati (2009), Mustikarini (2009), Pusparingga (2010), Budiman (2010). HidYY ((1 \&§ kcjAkf Y V jhnmd Penerapan Model Sinektik untuk Meningkatkan Keterampilan Menulis Puisi Siswa Kelas X4 SMA Negeri 1 Purwonegoro Kabupaten Banjarnegara Tahun Ajaran 2009/2010 menyimpulkan bahwa hasil tes pada siklus I sebesar 60,2 , sedangkan siklus II naik menjadi 74. Kenaikan sebesar 23,16 %. Perubahan perilaku diperoleh dari hasil nontes yang berupa observasi, jurnal, wawancara, dan dokumentasi foto. Peningkatan yang terjadi sebesar 43,33 % yaitu dengan rincian siklus I 60 dan siklus II naik menjadi 86. Jadi peningkatan keterampilan menulis puisi sangat dipengaruhi perilaku siswa.
Persamaan dengan penelitian yang di lakukan peneliti adalah model pembelajaran yang digunakan sama yaitu model Sinektik, yaitu suatu model pembelajaran yang digunakan untuk mengembangkan kreativitas dengan menggunakan pola berfikir analogi dan metafora.
Perbedaan penelitian yang di lakukan peneliti dengan Hidayah ada 3, yaitu Hidayah meneliti tentang keterampilan menulis puisi. Keterampilan menulis puisi yang ingin dicapai adalah jika mencapai nilai ketuntasan belajar yang telah ditetapkan oleh Hidayah yaitu 70. Peneliti meneliti keterampilan menulis cerpen. Menulis cerpen merupakan pembelajaran keterampilan menulis sebuah cerita pendek yang hams dimiliki oleh siswa. Kemampuan menulis cerpen yang dilakukan oleh siswa SMAN 2 Rembang kabupaten Rembang tahun ajaran 2011/2012 dapat diketahui dari hasil tugas yang diberikan oleh peneliti kepada siswa mengenai aspek-aspek menulis cerpen berdasarkan kisah cerita pengalaman orang lain setelah dilakukan pembelajaran menggunakan model Problem Based Instruction (Pada kelas A) dan model sintetik (pada kelas B). Perbedaan selanjutnya yaitu Hidayah hanya menggunakan satu buah kelas X, dan peneliti menggunakan dua buah kelas X. Perbedaan yang lain yaitu pada objek penelitian Hidayah hanya menggunakan satu model pembelajaran yaitu model sintetik, dan peneliti menggunakan dua model pembelajaran di dua kelas yang berbeda yaitu model Problem Based Instruction (PBI) di kelas A dengan model sintetik di kelas B. Problem Based Instruction (PBI) merupakan model pembelajaran yang menghadirkan masalah-masalah yang ada di sekitar siswa untuk merangsang proses berpikir kritis siswa untuk menemukan permasalahan yang nantinya akan dituangkan dalam cerpen. Model sintetik merupakan model pembelajaran yang merangsang kreativitas siswa dalam berpikir.
Metode penelitian yang digunakan peneliti berbeda dengan metode penelitian yang digunakan Hidayah. Dalam penelitiannya Hidayah menggunakan metode penelitian Penelitian Tindakan Kelas (PTK), yaitu penelitian tindakan yang berfokus pada proses belajar mengajar yang terjadi di kelas, bukan pada input kelas (silabus, mated, dll) ataupun output (hasil belajar). PTK dilakukan sebanyak dua kali yaitu siklus I dan siklus II di kelas yang sama. Peneliti menggunakan metode penelitian eksperimen yang dilakukan lebih dari dua kali di dua kelas yang berbeda. Metode eksperimen digunakan karena peneliti ingin menguji keefektifan dari dua model pembelajaran yaitu model Problem Based Instruction (PBI) dengan model sintetik dalam pembelajaran menulis cerpen pada kelas X.
Hasil penelitian yang dilakukan Hidayah berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan peneliti. Hidayah menyimpulkan terdapat peningkatan nilai keterampilan siswa dalam menulis puisi sebesar 23,16% (dari nilainya 60,2 menjadi 74) dan perubahan nilai perilaku sebesar 43,33% (dari 60 menjadi 86) setelah dilakukan pembelajaran menggunakan model sintetik. Hasil penelitian yang dilakukan peneliti yaitu ingin mengetahui pelaksanaan pembelajaran menggunakan model Problem Based Instruction dan model sinektik; mengetahui hasil pembelajaran dengan model Problem Based Instruction dan model Sinektik; dan menguji keefektifan model pembelajaran antara model Problem Based Instruction dengan model sinektik dalam pembelajaran menulis cepen siswa SMA. Peningkatan Keterampilan Menulis Cerpen Berdasarkan Pengalaman Pribadi Melaui Media Angka berdasarkan pengalaman pribadi melalui media angka. Nilai rata-rata kelas X pada tahap prasiklus sebesar 52,74 dan mengalami peningkatan 7,99% menjadi 69,70. Pada siklus II nilai rata-rata kelas meningkat 8,97% menjadi 69,70. Siswa juga mengalami perubahan perilaku yang sebelumnya kurang antusias menjadi lebih termotivasi terhadap pembelajaran menulis cerpen.
Persamaan dengan penelitian yang di lakukan peneliti adalah keterampilan menulis cerpen yang dilakukan di kelas X SMA. Siswa dikatakan berhasil dalam pembelajaran keterampilan menulis cerpen jika siswa mampu menulis cerpen sesuai dengan langkah-langkah menulis cerpen.
Perbedaan penelitian yang di lakukan peneliti dengan Tranwati ada 3 yaitu Tranwati menggunakan media angka. Angka adalah lambang, simbol, tanda sebagai bilangan dari sesuatu. Pada dasarnya angka dapat memotivasi siswa dan membangkitkan minatnya mengikuti pembelajaran. Penggunaan media angka dalam proses pembelajaran menulis cerpen diharapkan dapat mempermudah dan memotivasi proses pembelajaran dan mempertinggi hasil pembelajaran sehingga kompetensi ini ini benar-benar dikuasai siswa. Sedangkan peneliti menggunakan objek 2 model pembelajaran yaitu model Problem Based Instruction (PBI) dan model sinektik. Model Problem Based Instruction merupakan model pembelajaran yang menghadirkan masalah-masalah yang ada di sekitar siswa untuk merangsang proses berpikir siswa untuk menemukan permasalahan yang dituangkan dalam cerpen. Model sintetik merupakan model pembelajaran yang mendorong proses kreatif siswa dalam berpikir dengan menganalogikan diri mereka untuk menemukan penyebab dan solusi dari sebuah peristiwa atau masalah yang digunakan untuk bahan cerpen yang mereka tulis. Metode penelitian yang digunakan peneliti berbeda dengan metode penelitian yang digunakan Tranwati. Dalam peneitiannya Tranwati menggunakan metode penelitian Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yaitu penelitian tindakan yang berfokus pada proses belajar mengajar yang terjadi di kelas, bukan pada input kelas (silabus, mated, dll) ataupun output (hasil belajar). PTK dilakukan sebanyak dua kali yaitu siklus I dan siklus II di kelas yang sama. Peneliti menggunakan metode penelitian eksperimen yang dilakukan lebih dari dua kali di dua kelas yang berbeda. Metode eksperimen digunakan karena peneliti ingin menguji keefektifan dari dua model pembelajaran yaitu model Problem Based Instruction (PBI) dengan model sintetik dalam pembelajaran menulis cerpen pada kelas X.
Hasil penelitian yang dilakukan peneliti berbeda dengan penelitian yang telah dilakukan Tranwati. Tranwati menyimpulkan adanya peningkatan keterampilan menulis cerpen berdasarkan pengalaman pribadi melalui media angka. Nilai rata-rata kelas X pada tahap prasiklus sebesar 52,74 dan mengalami peningkatan 7,99% menjadi 69,70. Pada siklus II nilai rata-rata kelas meningkat 8,97% menjadi 69,70. Siswa juga mengalami perubahan perilaku yang sebelumnya kurang antusias menjadi lebih termotivasi terhadap pembelajaran menulis cerpen. Hasil penelitian yang dilakukan peneliti yaitu ingin mengetahui pelaksanaan pembelajaran menggunakan model Problem Based Instruction dan model sinektik; mengetahui hasil pembelajaran dengan model Problem Based Instruction dan model Sintetik; dan menguji keefektifan model pembelajaran antara   model   Problem   Based  Instruction   dengan   model   sintetik   dalam pembelajaran menulis cerpen siswa SMA. Peningkatan Kemampuan Menulis Cerpen Dengan Media Komik Siswa Kelas X-7 SMA Negeri 1 Prembun Kebumen Tahun Pelajaran 2008/2009 . penelitiannya pada tahap siklus I nilai rata-rata siswa 70,30 termasuk kategori baik namun belum mencapai standar minimal 75,00. Pada siklus II nilai rata-rata siswa meningkat menjadi 76,55 dan telah memenuhi standar minimal. Selain itu juga ada perubahan perilaku siswa yang tadinya kurang antusias menjadi tertarik, lebih semangat, dan konsentrasi, sehingga suasana kelas lebih tenang dan tertib. Persamaan dengan penelitian yang di lakukan peneliti adalah keterampilan menulis cerpen. Keterampilan menulis cerpen merupakan salah satu keterampilan menulis kreatif. Menulis cerpen sebagai suatu kegiatan yang melahirkan pikiran perasaan ekspresif dan apresiatif.
Perbedaan penelitian yang di lakukan peneliti dengan Mustikarini ada 3 yaitu Mustikarini menggunakan objek media komik. Komik digunakan sebagai sarana untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis khususnya menulis cerpen, sedangkan peneliti menggunakan objek penelitian dua model pembelajaran yaitu model Problem Based Instruction dan model sinektik. Model Problem Based Instruction merupakan model pembelajaran yang menghadirkan masalah-masalah yang ada di sekitar siswa untuk merangsang proses berpikir siswa untuk menemukan permasalahan yang dituangkan dalam cerpen. Model sintetik merupakan model pembelajaran yang mendorong proses kreatif siswa dalam berpikir dengan menganalogikan diri mereka untuk menemukan penyebab dan solusi dari sebuah peristiwa atau masalah yang digunakan untuk bahan cerpen yang mereka tulis.
Metode penelitian yang digunakan peneliti berbeda dengan metode penelitian yang digunakan Mustikarini. Mustikarini menggunakan metode penelitian Penelitian Tindakan Kelas (PTK), yaitu penelitian tindakan yang berfokus pada proses belajar mengajar yang terjadi di kelas, bukan pada input kelas (silabus, mated, dll) ataupun output (hasil belajar). PTK dilakukan sebanyak dua kali yaitu siklus I dan siklus II di kelas yang sama. Peneliti menggunakan metode penelitian eksperimen yang dilakukan lebih dari dua kali di dua kelas yang berbeda. Metode eksperimen digunakan karena peneliti ingin menguji keefektifan dari dua model pembelajaran yaitu model Problem Based Instruction (PBI) dengan model sinektik dalam pembelajaran menulis cerpen pada kelas X.
Hasil penelitian yang dilakukan Mustikarini berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan peneliti. Hasil penelitian yang dilakukan Mustikarini menyebutkan terjadi perubahan berupa peningkatan nilai serta perilaku siswa. Pada tahap siklus I nilai rata-rata siswa 70,30 termasuk kategori baik namun belum mencapai standar minimal 75,00. Pada siklus II nilai rata-rata siswa meningkat menjadi 76,55 dan telah memenuhi standar minimal. Perubahan perilaku siswa yang tadinya kurang antusias menjadi tertarik, lebih semangat, dan konsentrasi, sehingga suasana kelas lebih tenang dan tertib. Hasil penelitian yang dilakukan peneliti yaitu ingin mengetahui pelaksanaan pembelajaran menggunakan model Problem Based Instruction dan model sinektik; mengetahui hasil pembelajaran dengan model Problem Based Instruction dan model Sinektik; dan menguji keefektifan model pembelajaran antara model Problem Based Instruction dengan model sinektik dalam pembelajaran menulis cepen siswa SMA.
Pusparingga (2010) dalam Peningkatan Keterampilan Menulis Cerpen melalui Teknik Pengandaian Diri Sebagai Tokoh dalam Drama Siswa SMAN 1 kenaikan nilai rat-rat 14,4 / 21,9 % dari 65,7 menjadi 80,1. Dan juga terdapat perubahan perilaku siswa menjadi lebih serius dan bersemangat dalam melaksanakan kegitan menulis cerpen.
Persamaan dengan penelitian yang di lakukan peneliti adalah keterampilan menulis cerpen. Yaitu keterampilan siswa dalam menuliskan sebuah cerita. Keterampilan menulis cerpen merupakan salah satu keterampilan menulis kreatif. Menulis cerpen sebagai suatu kegiatan yang melahirkan pikiran perasaan ekspresif dan apresiatif
Perbedaan penelitian yang dilakukan peneliti dengan Pusparingga ada 3 yaitu Pusparingga menggunakan teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam drama untuk mengajarkan pembelajaran menulis cerpen untuk membangkitkan rasa ingin tau dan memunculkan ide yang sangat menarik di benak siswa, membangkitkan motivasi dan rangsangan dalam proses belajar mengajar, serta dapat mempengaruhi psikologi siswa. Dalam penelitian yang dilakukan peneliti, siswa menulis cerita berdasarkan kisah pengalaman orang lain menggunakan dua buah model pembelajaran yang digunakan dalam pembelajaran menulis cerpen

SKRIPSI IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA PADA KURIKULUM 2013

SKRIPSI IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA PADA KURIKULUM 2013

Monday, January 11, 2016
(0003-PEND BHS INDO) SKRIPSI IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA PADA KURIKULUM 2013

BAB II 
KAJIAN PUSTAKA

A. Kajian Teori dan Hasil Penelitian yang Relevan
1.    Implementasi Kurikulum 2013
a.   Hakikat Implementasi
Implementasi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai pelaksanaan atau penerapan. Berdasarkan makna implementasi, dapat dimengerti bahwa implementasi merupakan tindak lanjut dari sebuah perencanaan. Pemaknaan implementasi berkembang berdasarkan perspektif atau konteks nya. Namun, dalam perspektif apa pun makna implementasi memiliki kaitan dan saling melengkapi.
Setiawan (2004: 39) dalam bukunya yang berjudul Implementasi dalam Birokrasi Pembangunan menyatakan bahwa:
"implementasi adalah perluasan aktivitas yang saling menyesuaikan proses interaksi antara tujuan dan tindakan untuk mencapainya serta memerlukan jaringan pelaksana, birokrasi yang efektif". Berdasarkan pendapat ini, jelas bahwa tindakan atau wujud implementasi bertumpu pada tujuan. Selain itu, implementasi memerlukan pengorganisasian pelaksanaan dengan sistem kerja yang efektif.
Harsono (2002: 67) dalam bukunya yang berjudul Implementasi Kebijakan dan Politik mengemukakan bahwa "implementasi merupakan proses untuk melaksanakan kebijakan menjadi tindakan kebijakan, dari politik ke dalam administrasi". Pengembangan kebijakan dalam rangka penyempurnaan suatu program. Jika dianalisis lebih mendalam, pendapat ini dapat juga direpresentasikan pada perspektif pendidikan. Implementasi proses pembelajaran merupakan langkah administratif yang mengacu pada kebijakan kurikulum sebagai salah satu dampak sistem politik.
Pengembangan kebijakan kurikulum melalui tindakan merupakan langkah penyempurnaan kebijakan itu sendiri. Usman (2002: 70) berpendapat bahwa "implementasi bermuara pada aktivitas, aksi, tindakan, atau adanya mekanisme suatu sistem. Implementasi bukan sekadar aktivitas, tetapi suatu kegiatan yang terencana dan untuk mencapai tujuan kegiatan". Pendapat Usman berdasarkan perspektif pendidikan tersebut menjelaskan bahwa implementasi merupakan kegiatan yang terencana untuk mencapai tujuan yang telah disusun sebelumnya. Oleh karena itu, dalam implementasi kurikulum, guru perlu memahami konsep kurikulum dan silabus, serta mengembangkan RPP sebagai langkah perencanaan sehingga setiap aktivitas atau kegiatan pembelajaran terarah dan bertujuan.
Indonesia tengah mengalami pergantian kurikulum dari Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) menjadi Kurikulum 2013. Setiap kebijakan kurikulum pasti memiliki arah dan tujuan yang berbeda. Guru sebagai pelaksana proses pembelajaran sangat perlu memahami konsep Kurikulum 2013 yang memiliki landasan filosofis, yuridis, dan konseptual sehingga dalam implikasi membelajarkan siswa sesuai dengan struktur kurikulum.
b.   Kurikulum 2013
1)  Hakikat Kurikulum
Sebelum membahas mengenai pengertian atau hakikat kurikulum dari para ahli dan pakar pendidikan, perlu dipahami terlebih dahulu makna etimologis kurikulum. Secara etimologis, kurikulum berasal dari kata dalam bahasa Latin curie yang artinya pelari, dan cur ere yang artinya tempat berlari. Istilah kurikulum pada awalnya berasal dari dunia olahraga pada zaman Romawi Kuno di Yunani, dan kemudian diadopsi ke dalam dunia pendidikan (Suparlan, 2011). Suparlan (2011: 32) menyatakan bahwa istilah kurikulum mulai digunakan sekitar tahun 1968, sedangkan pada kurikulum sebelumnya masih menggunakan istilah rencana pelajaran. Pemaknaan kurikulum selalu mengalami perkembangan seturut dengan perkembangan zaman. Engkoswara (dalam Suparlan, 2011: 35) merumuskan perkembangan pengertian kurikulum tersebut dengan menggunakan formula-formula sebagai berikut.
a) K= , artinya kurikulum adalah jarak yang harus ditempuh oleh pelari;
b) K= X MP, artinya kurikulum adalah sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh oleh peserta didik;
c) K= X MP + KK, artinya kurikulum adalah sejumlah mata pelajaran dan kegiatan-kegiatan yang telah direncanakan sekolah yang harus ditempuh oleh peserta didik;
d) K= X MP + KK + SS + TP, artinya kurikulum adalah sejumlah mata pelajaran    dan    kegiatan-kegiatan    dan    segala    sesuatu    yang berpengaruh terhadap pembentukan pribadi peserta didik sesuai
dengan tujuan pendidikan yang telah ditetapkan oleh pemerintah atau sekolah.
Definisi kurikulum menurut Undang-Undang Nomor 20 Pasal 1 Butir 9 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional disebutkan bahwa "kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu" (dalam Indriyanto, 2010: 27). Berdasarkan definisi kurikulum tersebut, kita dapat mengetahui pengertian sekaligus komponen pembangun kurikulum. Subandiyah menambahkan bahwa komponen utama kurikulum meliputi tujuan pendidikan, isi/materi, organisasi/strategi, media, proses belajar mengajar, sedangkan komponen penunjangnya adalah sistem administrasi, bimbingan dan penyuluhan, dan sistem evaluasi (Suparlan, 2011).
Berikut terdapat beberapa konsep klasifikasi kurikulum oleh beberapa ahli. Aristoteles (dalam Suparlan, 2011), seorang pakar filsafat pendidikan telah mengembangkan model kurikulum dengan mencakup tiga komponen yaitu hasil, proses, dan wacana. Kurikulum sebagai hasil (product) merupakan kurikulum yang disusun dalam bentuk dokumen kurikulum untuk digunakan di sekolah atau satuan pendidikan tertentu; kurikulum sebagai proses (process) merupakan proses pelaksanaan pengajaran dan pembelajaran di dalam kelas berdasarkan kurikulum yang digunakan; kurikulum sebagai wacana (praxis), yaitu konsep-konsep yang tertuang dalam dokumen tersebut dan siap untuk diterapkan dalam proses pengajaran dan pembelajaran.
Pendapat lain diungkapkan oleh Hasan (dalam Suparlan, 2011: 39) yang telah menganalisis kurikulum dalam empat dimensi, yaitu kurikulum sebagai ide, rencana tertulis, kegiatan, dan hasil. Kurikulum sebagai suatu ide, yaitu sesuatu yang dihasilkan melalui kajian teoretis dan penelitian, khususnya dalam bidang pendidikan dan kurikulum. Kurikulum sebagai suatu rencana tertulis merupakan perwujudan dari kurikulum sebagai ide yang di dalamnya memuat tentang tujuan, bahan, kegiatan, alat-alat, dan waktu. Kurikulum sebagai kegiatan merupakan pelaksanaan dari kurikulum sebagai suatu rencana tertulis, misalnya dalam bentuk praktik pembelajaran. Kurikulum sebagai hasil merupakan konsekuensi dari kurikulum sebagai kegiatan, dalam bentuk ketercapaian tujuan kurikulum.
Suparlan (2011: 56) menjelaskan tiga macam kurikulum ditinjau dari konsep pelaksanaannya meliputi kurikulum ideal, aktual atau faktual, dan tersembunyi. Kurikulum ideal, yaitu kurikulum yang berisi sesuatu yang ideal, sesuatu yang dicita-citakan sebagaimana yang tertuang di dalam dokumen kurikulum. Kurikulum aktual atau faktual merupakan kurikulum yang dilaksanakan dalam proses pengajaran dan pembelajaran. Kenyataan pada umumnya memang jauh berbeda dengan harapan. Namun demikian, kurikulum aktual seharusnya mendekati kurikulum ideal. Kurikulum tersembunyi (hidden curriculum), yaitu segala sesuatu yang terjadi pada saat pelaksanaan kurikulum ideal menjadi kurikulum faktual.

SKRIPSI EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN MENULIS PUISI BERBASIS CONTEXTUAL TEACHING LEARNING DENGAN MEDIA GAMBAR PADA SISWA KELAS VIII

SKRIPSI EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN MENULIS PUISI BERBASIS CONTEXTUAL TEACHING LEARNING DENGAN MEDIA GAMBAR PADA SISWA KELAS VIII

Monday, January 11, 2016
(0002-PEND BHS INDO) SKRIPSI EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN MENULIS PUISI BERBASIS CONTEXTUAL TEACHING LEARNING DENGAN MEDIA GAMBAR PADA SISWA KELAS VIII

BAB II 
LANDASAN TEORI
A. Pembelajaran Sastra
1. Hakikat Pembelajaran Sastra
Pembelajaran adalah suatu upaya yang disengaja dan direncanakan sedemikian rupa oleh pihak guru sehingga memungkinkan terciptanya suasana dan aktivitas belajar yang kondusif bagi para siswanya (Jamaluddin, 2003:9). Dari definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa pembelajaran merupakan sebuah proses belajar yang kondusif bagi para siswa yang melibatkan pengalaman. Pembelajaran bahasa Indonesia meliputi pembelajaran bahasa dan sastra. Keterampilan yang dikembangkan berupa menyimak, berbicara, membaca, dan menulis.
2. Tujuan Pembelajaran Sastra
Rahmanto (1993:16) bahwa pengajaran sastra dapat membantu pendidikan secara utuh apabila cakupannya meliputi empat manfaat, yaitu membantu keterampilan berbahasa, meningkatkan pengetahuan budaya, mengembangkan cipta dan rasa, serta menunjang pembentukan watak.
a) Membantu Keterampilan Berbahasa
Keterampilan berbahasa memiliki empat keterampilan yaitu: menyimak, wicara, membaca, dan menulis. Mengikutsertakan pengajaran sastra dalam kurikulum berarti akan membantu siswa berlatih keterampilan membaca, dan keterampilan menyimak, wicara, dan menulis yang masing-masing erat hubungannya. Dalam pengajaran sastra, siswa dapat melatih keterampilan menyimak dengan suatu karya yang dibacakan oleh guru, teman atau lewat pita rekaman. Siswa dapat juga melatih keterampilan wicara dengan ikut berperan dalam suatu drama. Siswa dapat juga meningkatkan keterampilan membaca dengan membacakan puisi atau prosa cerita. Dan karena sastra itu menarik, siswa dapat mendiskusikannya dan kemudian menuliskan hasil diskusinya sebagai latihan keterampilan menulis.
b) Meningkatkan Pengetahuan Budaya
Karya sastra selalu menghasilkan 'sesuatu' dan kerap menyajikan banyak hal yang apabila dihayati benar-benar akan semakin menambah pengetahuan orang yang menghayatinya. Suatu bentuk pengetahuan khusus yang harus selalu dipupuk dalam masyarakat adalah pengetahuan tentang budaya yang dimilikinya. Istilah 'budaya' sekarang ini dipakai secara luas dan mengandung berbagai arti serta pengertian yang satu sama lain kadang berbeda. Setiap sistem pendidikan kiranya perlu disertai usaha untuk menanamkan wawasan pemahaman budaya bagi setiap anak didik.
c) Mengembangkan Cipta dan Rasa
Melaksanakan pengajaran tidak boleh berhenti pada penguraian pengertian keterampilan ataupun pengetahuan. Setiap guru hendaknya selalu menyadari bahwa setiap siswa adalah seorang individu dengan kepribadiannya yang khas, kemampuan, masalah dan kadar perkembangannya masing-masing yang khusus. Oleh karena itu, penting sekali memandang pengajaran sebagai proses pengembangan individu secara keseluruhan. Dalam hal pengajaran sastra, kecakapan yang perlu dikembangkan adalah kecakapan yang bersifat indra,yang bersifat penalaran, yang bersifat afektif, dan yang bersifat sosial, serta dapat ditambahkan lagi yang bersifat religius. Karya sastra sebenarnya dapat memberikan peluang-peluang untuk mengembangkan kecakapan-kecakapan semacam itu. Oleh karena itu dapat ditegaskan bahwa pengajaran sastra yang dilakukan dengan benar akan dapat menyediakan kesempatan untuk mengembangkan kecakapan-kecakapan tersebut lebih dari apa yang disediakan oleh mata pelajaran yang lain, sehingga mata pelajaran satra tersebut dapat lebih mendekati arah dan tujuan pengajaran dalam arti yang sesungguhnya.
d) Menunjang Pembentukan Watak
Perilaku seseorang lebih ditentukan oleh faktor-faktor pribadinya yang
paling dalam. Tidak ada satu pun jenis pendidikan yang mampu menentukan watak manusia kecuali mungkin pendidikan "cuci otak". Pendidikan hanya dapat berusaha membina dan membentuk, tetapi tidak dapat menjamin secara mutlak bagaimana watak manusia yang dididik nya. Meski demikian, dalam nilai
pengajaran sastra ada dua tuntutan yang dapat diungkapkan sehubungan dengan watak ini. Pertama, pengajaran sastra hendaknya mampu membina perasaan yang lebih tajam. Kedua, pengajaran sastra hendaknya dapat memberikan bantuan dalam usaha pengembangan berbagai kualitas kepribadian siswa. 3. Komponen-komponen belajar-mengajar Sebagai suatu sistem tentu saja kegiatan belajar mengajar mengandung sejumlah komponen yang meliputi tujuan, bahan pelajaran, kegiatan belajar mengajar, metode, media dan sumber belajar, serta evaluasi (Djamarah dan Aswan, 2006:41).
a. Tujuan
Adalah suatu cita-cita yang ingin dicapai dari pelaksanaan suatu kegiatan.tidak ada suatu kegiatan yang tidak diprogramkan tanpa tujuan, karena hal itu adalah suatu hal yang tidak memiliki kepastian dalam menentukan ke arah mana kegiatan itu akan dibawa.
Tujuan merupakan komponen yang dapat mempengaruhi komponen pengajaran lainnya meliputi bahan pelajaran, kegiatan belajar mengajar, pemilihan metode, alat, sumber, dan alat evaluasi. Semua komponen itu harus bersesuaian dan didayagunakan untuk mencapai tujuan seefektif dan seefisien mungkin. Bila salah satu komponen tidak sesuai dengan tujuan, maka pelaksanaan kegiatan belajar mengajar tidak akan dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
b. Bahan Pelajaran
Adalah subtansi yang akan disampaikan dalam proses belajar mengajar. Tanpa bahan pelajaran proses belajar mengajar tidak akan berjalan.
Bahan pokok pelajaran adalah bahan pelajaran yang menyangkut bidang studi yang dipegang oleh guru sesuai dengan profesinya(disiplin keilmuan). Sedangkan bahan pelajaran pelengkap atau penunjang adalah bahan pelajaran
yang dapat membuka wawasan seorang guru agar dalam mengajar dapat menunjang penyampaian bahan pelajaran pokok. Dengan demikian, bahan
pelajaran merupakan komponen yang tidak bisa diabaikan dalam pengajaran. sebab bahan adalah inti dalam proses belajar mengajar yang akan disampaikan anak didik.
c. Kegiatan belajar mengajar
Adalah inti kegiatan dalam pendidikan. Segala sesuatu yang telah diprogramkan akan dilaksanakan dalam proses belajar mengajar. Dalam kegiatan belajar mengajar guru dan siswa ikut terlibat aktif dalam sebuah interaksi dengan bahan pelajaran sebagai medium nya.
Kegiatan belajar mengajar, guru sebaiknya memperhatikan perbedaan individual anak didik, yaitu pada aspek biologis, intelektual, dan psikologis. Kerangka berpikir demikian dimaksudkan agar guru mudah dalam melakukan pendekatan kepada setiap anak didik secara individual. Anak didik sebagai individual memiliki perbedaan dalam hal sebagaimana disebutkan di atas. Pemahaman terhadap ketiga aspek tersebut akan merapatkan hubungan guru dengan anak didik sehingga, memudahkan melakukan pendekatan mastery learning dalam mengajar.
d. Metode
Adalah suatu cara yang digunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam kegiatan belajar mengajar metode sangat diperlukan oleh guru dan penggunaannya bervariasi sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai setelah pengajaran berakhir. Dalam kegiatan belajar mengajar, guru tidak harus terpaku dengan menggunakan satu metode, bisa menggunakan metode yang bervariasi agar kegiatan pembelajaran tidak membosankan, tetapi menarik perhatian anak didik. Akan tetapi penggunaan metode yang bervariasi tidak akan menguntungkan kegiatan belajar mengajar bila penggunaannya tidak tepat dan sesuai dengan situasi yang mendukung dan dengan psikologis anak didik. Oleh karena itu, di sinilah kompetensi guru diperlukan dalam pemilihan metode yang tepat.
e. Media
Adalah segala sesuatu yang membawa pesan (informasi) dari suatu sumber
untuk disampaikan kepada penerima. Media dapat berupa manusia, benda, ataupun peristiwa yang membuat siswa mendapatkan pengetahuan dan
keterampilan. Media memiliki arti yang sangat penting dalam proses belajar mengajar. Ketidak jelasan mated yang disampaikan bisa dibantu dengan menghadirkan sebuah media sebagai perantara.
Jadi, media sangat penting dalam proses belajar mengajar yaitu selain bisa memperjelas mated yang tidak jelas juga bisa untuk menstimulasi siswa selama proses belajar mengajar.
f. Sumber pelajaran,
Adalah sebagai sesuatu yang dapat dipergunakan sebagai tempat dimana bahan pengajaran terdapat asal untuk belajar seseorang.
g. Evaluasi
Suatu tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai yang bersangkutan dengan dunia pendidikan guna mengetahui sebab akibat dan hasil belajar siswa yang dapat mendorong dan mengembangkan kemampuan belajar.

B. Menulis Puisi
1. Hakikat Menulis Puisi
Menulis puisi merupakan sebuah penggambaran penggunaan bahasa yang indah, ditandai oleh bahasa yang ekspresif, pilihan kata yang padat, ringkas, namun memancarkan sejuta makna, persajakan yang ditata secara estetik, penataan bunyi yang indah, serta penggunaan gaya bahasa yang energik agar menghasilkan karya puisi dengan ciri-ciri puisi yang benar (Suparno, 2009:105).
Suryanto dan Anita (2004:44) tujuan seseorang menulis puisi terutama adalah untuk mengekspresikan isi hati dan pikiran. Mereka ingin membuat suatu karya seni yang memiliki nilai estetika. Ingin menjadikan puisi yang ditulis memenuhi standar keindahan sehingga akhirnya dapat memberikan penghiburan, kesenangan, dan kepuasan bagi pembacanya, maka dad itu dalam menulis puisi harus memperhatikan nilai-nilai estetika. Hal itu dapat dilakukan dengan menampilkan pilihan kata yang tepat serta rima yang menarik.

SKRIPSI EFEKTIVITAS METODE EXPLICIT INSTRUCTION DALAM PEMBELAJARAN MENULIS KARYA ILMIAH BERBASIS KEARIFAN LOKAL PADA SISWA KELAS XI

SKRIPSI EFEKTIVITAS METODE EXPLICIT INSTRUCTION DALAM PEMBELAJARAN MENULIS KARYA ILMIAH BERBASIS KEARIFAN LOKAL PADA SISWA KELAS XI

Monday, January 11, 2016
(0001-PEND BHS INDO) SKRIPSI EFEKTIVITAS METODE EXPLICIT INSTRUCTION DALAM PEMBELAJARAN MENULIS KARYA ILMIAH BERBASIS KEARIFAN LOKAL PADA SISWA KELAS XI


BAB III 
METODE PENELITIAN

A.-Metode Penelitian
Metode penelitian merupakan serangkaian strategi yang digunakan dalam mengumpulkan data penelitian yang diperlukan untuk mencapai tujuan penelitian dan menjawab masalah yang diteliti. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen. Metode eksperimen merupakan bagian dari metode kuantitatif yang mempunyai ciri khas, yaitu adanya kelompok kontrol (Sugiyono, 2010:72).
Menurut Arikunto (2010:9), metode eksperimen adalah penelitian yang sengaja membangkitkan timbulnya suatu kejadian atau keadaan, kemudian diteliti bagaimana akibatnya. Dengan kata lain, eksperimen adalah suatu cara untuk mencari hubungan sebab-akibat (hubungan kausal) antara dua faktor yang sengaja ditimbulkan oleh peneliti dengan mengeliminasi, mengurangi atau menyisihkan faktor-faktor lain yang mengganggu. Eksperimen selalu dilakukan dengan maksud untuk melihat akibat suatu perlakuan
Dalam penelitian ini metode eksperimen digunakan untuk melihat atau mengkaji keefektifan metode Explicit Instruction dalam pembelajaran menulis karya ilmiah berbasis kearifan lokal pada siswa kelas XI SMAN 1 Toroh tahun ajaran 2012/2013.

B.-Variabel Penelitian
Istilah variabel merupakan istilah yang tidak pernah ketinggalan dalam setiap jenis penelitian. F.N. Kerlinger menyebutkan variabel sebagai sebuah konsep, sebagai gejala yang bervariasi. Gejala adalah objek penelitian, sehingga variabel merupakan objek penelitian yang bervariasi (Arikunto, 2010:159).
Variabel penelitian menurut Sugiyono (2009:38-39) adalah suatu atribut atau sifat atau nilai dari orang, objek atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan nya. Menurut hubungan antara suatu variabel dengan variabel yang lain maka macam-macam variabel dalam penelitian dapat dibedakan menjadi:
1. Variabel Independen
Variabel ini sering disebut sebagai variabel stimulus, predictor, antecedent.
Dalam bahasa Indonesia sering disebut variabel bebas, yang artinya variabel
ini mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya
variabel dependen (terikat).
2.-Variabel Dependen
Sering disebut variabel output, kriteria, konsekuen. Dalam bahasa Indonesia sering disebut variabel terikat, yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas.
3.-Variabel Moderator
Merupakan variabel yang mempengaruhi (memperkuat dan memperlemah) hubungan antara variabel independen dan variabel dependen. Variabel tersebut juga disebut variabel independen ke dua.
4.-Variabel Intervening
Merupakan variabel yang secara teoritis mempengaruhi hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen menjadi hubungan yang tidak langsung dan tidak dapat diamati dan diukur.
Variabel ini merupakan variabel penyela/antara yang terletak di antara variabel independen dan variabel dependen, sehingga variabel independen tidak langsung mempengaruhi berubahnya atau timbulnya variabel dependen.
5.-Variabel Kontrol
Merupakan variabel yang dikendalikan atau dibuat konstan sehingga pengaruh variabel independen terhadap dependen tidak dipengaruhi oleh faktor luar yang tidak diteliti. Variabel konrtol sering digunakan oleh peneliti, bila akan melakukan penelitian yang bersifat membandingkan.
Variabel menurut James A. Black (dalam Waluyo, 1994:23) sebagai unit-unit relasional dari analisis yang memikul salah satu kumpulan nilai yang ditunjuk.
Dalam penelitian ini menggunakan dua macam variabel. Adapun variabel tersebut menurut Waluyo (1994:23) adalah sebagai berikut:
1.-Variabel bebas
Variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi variabel lainnya terutama
variabel terikat.
Dalam penelitian ini variabel bebasnya adalah penggunaan metode Explicit
Instruction.
2.-Variabel terikat
Variabel terikat adalah variabel yang berkaitan dengan topik utama
penelitian.
Dalam penelitian ini variabel terikat nya adalah kemampuan menulis karya
ilmiah berbasis kearifan lokal siswa kelas XI.

C. Populasi dan Sampel Penelitian
1. Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas: objek/subjek yang pempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh penelitian untuk dipelajari dan kemungkinan ditarik kesimpulan. Bukan hanya orang, tetapi juga objek benda-benda alam yang lain. Populasi juga bukan sekedar jumlah yang ada pada objek/subjek yang dipelajari, tetapi meliputi seluruh karakteristik/sifat yang dimiliki oleh subjek atau objek itu (Sugiyono, 2009:80).
Populasi menurut Palte (dalam Djojosuroto, 2004:93) adalah jumlah keseluruhan unit yang akan diselidiki karakteristik atau ciri-cirinya. Populasi dapat dibedakan atas dua, yaitu populasi sampling dan populasi sasaran. Dalam penelitian, populasi yang dipilih erat hubungannya dengan masalah yang ingin dipelajari.
Populasi menurut Arikunto (2010:173) adalah keseluruhan subjek penelitian. Apabila ingin meneliti semua elemen yang ada dalam wilayah penelitian, maka penelitiannya adalah penelitian populasi. Adapun populasi penelitian ini adalah siswa kelas XI SMAN 1 Toroh tahun ajaran 2012-2013 yang terdiri dari kelas XI IPA 1, IPA 2, IPA 3, IPS 1, IPS 2, IPS 3, IPS 4 yang tiap kelasnya berjumlah 36 siswa. 2. Sampel
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Bila populasi besar, dan penelitian tidak mungkin mempelajari semua yang ada pada populasi, misalnya karena keterbatasan dana, tenaga dan waktu, maka penelitian dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi itu. Apa yang dipelajari dari sampel itu, kesimpulan nya akan dapat diberlakukan untuk populasi. Untuk itu sampel yang diambil dari populasi harus betul-betul representatif (mewakili) (Sugiono, 2009:81).
Sampel menurut Arikunto (2010:174) adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti. Dinamakan penelitian sampel apabila kita bermaksud untuk menggeneralisasikan hasil penelitian sampel. Dalam hubungannya dengan masalah sampel, apabila subjeknya kurang dari 100, lebih baik diambil semua sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi.
Adapun sampel penelitian menurut Djojosuroto (2004:93-94) adalah sebagian dari unit-unit yang ada dalam populasi yang ciri-ciri atau karakteristiknya benar-benar diselidiki. Sebuah sampel haruslah dipilih sedemikian rupa sehingga setiap satuan elementer mempunyai kesempatan atau peluang yang sama untuk dipilih dan besarnya peluang tersebut tidak boleh sama dengan 0. Sampel dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI SMAN 1 Toroh tahun ajaran 2012/2013 dengan mengambil dua kelas yang dipilih yaitu kelas XI IPA 1 sebagai kelas eksperimen dan kelas XI IPA 2 sebagai kelas kontrol sampel penelitian.

D. Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data dapat dilakukan dalam berbagai setting, berbagai sumber, dan berbagai cara. Bila dilihat dari setting-nya, data dapat dikumpulkan pada setting alamiah (natural setting), pada laboratorium dengan metode eksperimen, di rumah dengan beberapa responden, pada suatu seminar, diskusi, di jalan dan Iain-lain. Bila dilihat dari sumber datanya, maka pengumpulan data dapat menggunakan sumber primer, dan sumber sekunder. Sumber primer adalah sumber data yang langsung memberikan data kepada pengumpul data, dan sumber sekunder merupakan sumber yang tidak langsung memberikan data kepada pengumpul data, misalnya lewat orang lain atau lewat dokumen. Selanjutnya bila dilihat dari segi cara atau teknik pengumpulan data, maka teknik pengumpulan data dapat dilakukan dengan interview (wawancara), kuesioner (angket), observasi (pengamatan), dan gabungan ketiganya (Sugiyono, 2009:137). Dalam penelitian ini menggunakan dua teknik pengumpulan data, yaitu tes dan non tes.
1. Tes
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik tes. Tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan serta alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan inteligensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok (Arikunto, 2010:193). Tes ini dilakukan sebanyak dua kali, yaitu:
a.-Tes pertama yaitu: tes yang dilakukan sebelum diberi penjelasan (pre-test).
b.-Tes kedua yaitu: tes yang dilakukan sesudah diberi penjelasan (pos -test).
Pre - test adalah tes yang dilakukan sebelum digunakan metode Explicit
Instruction dalam pembelajaran menulis karya ilmiah berbasis kearifan lokal. Sedang post - test adalah tes yang dilakukan setelah digunakan metode Explicit Instruction dalam pembelajaran menulis karya ilmiah berbasis kearifan lokal.
Bentuk tes yang diberikan adalah tes tulis, yaitu berupa tes uraian bebas yang berisikan beberapa pertanyaan mengenai materi menulis karya ilmiah, dan tes unjuk kerja produk yang merupakan bentuk latihan siswa untuk menuliskan hasil tulisan mereka berupa produk karya tulis ilmiah berbasis kearifan lokal.
Adapun kriteria penilaian yang harus dinilai sesuai dengan indikator yang telah ditentukan. Indikator-indikator yang hendak dicapai dalam penelitian ini yaitu: Indikator dalam penelitian ini adalah, (1) mampu menentukan gagasan yang akan dikembangkan dalam dalam karya tulis (berdasarkan pengamatan); (2) mampu menyusun kerangka karya tulis; (3) mampu mengembangkan kerangka menjadi karya tulis, dengan dilengkapi daftar pustaka; dan (4) mampu menyunting karya tulis. Aspek-aspek yang dinilai dengan instrumen tes dalam penelitian ini adalah (1) ketepatan/kecermatan penyajian (menggunkan tanda baca, ejaan, dan kata baku dan sistematika penulisan), (2) ketepatan dalam kemampuan keteorian (kegayutan teori yang digunakan dengan masalah), (3) ketepatan/kecermatan penulisan latar belakang (kemampuan mengungkapkan adanya kesenjangan antara kenyataan dan harapan dan pentingnya masalah), (4) ketepatan/kecermatan perumusan masalah (kemampuan merumuskan masalah secara sistematis), (5) kecermatan dalam pembahasan (kemampuan menganalisis data yang didapatkan), (6) kecermatan penulisan kesimpulan dan saran.
2. NonTes
Teknik non tes yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara, jurnal, dan dokumentasi.
a. Observasi
Dalam menggunakan metode observasi cara yang paling efektif adalah melengkapi nya dengan format atau blangko pengamatan sebagai instrumen. Format yang disusun berisi item-item tentang kejadian atau tingkah laku yang digambarkan akan terjadi. Dari penelitian berpengalaman diperoleh suatu petunjuk bahwa mencatat data observasi bukanlah sekedar mencatat, tetapi juga mengadakan pertimbangan kemudian mengadakan penilaian ke dalam suatu skala bertingkat (Arikunto, 2010:272).
Observasi digunakan untuk mengamati sikap siswa selama proses pembelajaran menulis karya ilmiah berbasis kearifan lokal dengan menggunakan metode Explicit Instruction. Hal-hal yang diamati meliputi (1) kesiapan siswa dalam mengikuti pelajaran; (2) perhatian dan sikap siswa pada saat gum menjelaskan mated; (3) kesungguhan siswa pada saat mengerjakan tugas; (4) siswa mengumpulkan hasil tulisan; (5) kerjasama siswa pada saat merefleksi pembelajaran.
b. Wawancara
Disamping memerlukan waktu yang cukup lama untuk mengumpulkan data, dengan metode wawancara peneliti harus memikirkan tentang pelaksanaan. Memberikan angket kepada responden dan menghendaki jawaban tertulis, lebih mudah jika dibandingkan dengan mengorek jawaban responden dengan bertatap muka. Mula-mula wawancara menanyakan serentetan pertanyaan yang sudah terstruktur, kemudian satu per satu diperoleh jawaban dalam mengorek keterangan lebih lanjut. Dengan demikian jawaban yang diperoleh bisa meliputi semua variabel, dengan keterangan yang lengkap dan mendalam (Arikunto, 2010:270).
Dalam wawancara ini berisi hal-hal seputar penggunaan metode Explicit Instruction dalam pembelajaran menulis karya ilmiah berbasis kearifan lokal. Apakah siswa merasa lebih paham menggunakan metode Explicit Instruction dalam pembelajaran, serta kesan-kesan siswa selama pembelajaran menulis karya ilmiah berbasis kearifan lokal berlangsung.
c.-Dokumentasi
Metode dokumentasi yaitu mencari data mengenai hal-hal atau variabel berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, dan sebagainya. Dalam menggunakan metode dokumentasi, peneliti memegang chek-list untuk variabel yang sudah ditentukan. Apabila terdapat variabel yang dicari, maka peneliti tinggal membubuhkan tanda check di tempat yang sesuai (Arikunto, 2010:274-275).