HARAP DIBACA DULU !
Cara pembelian file :
1. SMS atau Whatsapp kan kode file dan alamat email anda ke : 0877-0247-1469 (bukan voice line, SMS only). Contoh : kode EKON0001, xxxxxx@gmail.com.
2. Setelah pesan Anda kami terima, kami akan konfirmasi via SMS ketersediaan file tersebut, sekaligus menginstruksikan untuk membayar ganti biaya pengetikan ke rekening kami dengan ketentuan harga 1 skripsi/PTK = 50rb; harga 1 tesis = 75rb; ditambah dengan 3 digit angka paling belakang nomor HP Anda
3. Jika Anda telah selesai mentransfer, lakukan konfirmasi dengan mengirim SMS ke nomor 0877-0247-1469 (bukan voice line, SMS only).
4. Apabila langkah-langkah diatas telah Anda lakukan, kami akan segera mengirim SKRIPSI, PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK) atau TESIS sesuai dengan request anda (lengkap dari cover s/d daftar pustaka, bisa dalam format WORD atau PDF) melalui attachment (lampiran) ke alamat email yang anda berikan (maksimal 1 jam dari saat pengecekan transfer), Anda tinggal mengeditnya.
Mohon maaf, dengan segala hormat kami tidak melayani :
1. Tawar menawar harga.
2. Komplain setelah lewat 2 hari dari tanggal pengiriman.
Terima kasih atas perhatiannya.
SKRIPSI HUBUNGAN KEPATUHAN DALAM MENJALANKAN DIET DENGAN GULA DARAH TERKONTROL PADA PASIEN DIABETES MELITUS
(KODE : 0016-KEPERAWATAN) : SKRIPSI HUBUNGAN KEPATUHAN DALAM MENJALANKAN DIET DENGAN GULA DARAH TERKONTROL PADA PASIEN DIABETES MELITUS
Faktor-faktor yang mempengaruhi ketidakpatuhan dapat digolongkan menjadi empat bagian menurut Niven (2002) antara lain :
SKRIPSI HUBUNGAN BUDAYA ORGANISASI DENGAN KEPUASAN KERJA PERAWAT PELAKSANA DI RUMAH SAKIT
(KODE : 0015-KEPERAWATAN) : SKRIPSI HUBUNGAN BUDAYA ORGANISASI DENGAN KEPUASAN KERJA PERAWAT PELAKSANA DI RUMAH SAKIT
Robbins (2007) menjelaskan bahwa pelaksanaan budaya organisasi dapat dikaji dari dimensi budaya organisasi. Dimensi budaya organisasi tidak ditetapkan secara mudah melainkan berdasarkan studi empiris. Studi empiris ini biasanya tidak dilakukan menggunakan sampel kecil melainkan menggunakan sampel besar yang melibatkan beberapa organisasi. Hasilnya tidak ditemukan dimensi budaya yang berlaku secara umum. Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa memahami budaya organisasi melalui dimensi-dimensinya dapat menggambarkan budaya organisasi dari suatu organisasi tersebut. Banyak ahli yang menguraikan dimensidimensi dalam budaya organisasi salah satunya adalah Denison. Denison and Mirsha (1995) dalam Casida (2007) mengaikat budaya organisasi dengan efektifitas organisasi. efektifitas organisasi tersebut dipengaruhi oleh empat faktor di dalam budaya organisasi yaitu keterlibatan (Involvement), konsistensi (consistency), adapatasi (Adadptation), Misi (Mision).
SKRIPSI HUBUNGAN BEBERAPA FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEJADIAN DIARE DENGAN DEHIDRASI DAN TANPA DEHIDRASI PADA BALITA YANG DATANG DI PUSKESMAS
(KODE : 0014-KEPERAWATAN) : SKRIPSI HUBUNGAN BEBERAPA FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEJADIAN DIARE DENGAN DEHIDRASI DAN TANPA DEHIDRASI PADA BALITA YANG DATANG DI PUSKESMAS
TINJAUAN PUSTAKA
a. Gangguan absorbsi atau diare osmotik.
b. Malabsoprsi
SKRIPSI HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN IBU DAN DUKUNGAN SUAMI TERHADAP PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF
(KODE : 0013-KEPERAWATAN) : SKRIPSI HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN IBU DAN DUKUNGAN SUAMI TERHADAP PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF
SKRIPSI HUBUNGAN ANTARA PELAYANAN POSYANDU DENGAN KUNJUNGAN IBU YANG MEMPUNYAI BALITA KE POSYANDU
(KODE : 0012-KEPERAWATAN) : SKRIPSI HUBUNGAN ANTARA PELAYANAN POSYANDU DENGAN KUNJUNGAN IBU YANG MEMPUNYAI BALITA KE POSYANDU
SKRIPSI FAKTOR - FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PENYAKIT REMATIK PADA LANSIA
1. Definisi Menua
Penuaan adalah konsekuensi yang tidak dapat dihindarkan. Menua (menjadi tua) adalah suatu proses menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri/mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan yang diderita (Constantinides, 1994 dalam Maryam, R. Siti dkk, 2008). Seiring dengan proses menua tersebut, tubuh akan mengalami berbagai masalah kesehatan yang biasa disebut sebagai penyakit degenerative.
Penuaan adalah suatu proses alami yang tidak dapat dihindari, berjalan terus menerus, dan berkesinambungan. Selanjutnya akan menyebabkan perubuhan anatomis, fisiologis dan biokimia pada tubuh sehingga akan mempengaruhi fungsi dan kemampuan tubuh secara keseluruhan. (Maryam, R. Siti dkk, 2008)
Menua bukanlah suatu penyakit, tetapi merupakan proses berkurangnya daya tahan tubuh dalam menghadapi rangsangan dari dalam maupun dari luar tubuh. Sebenarnya tidak ada batas yang tegas, pada usia berapa penampilan seseorang mulai menurun. Pada setiap orang, fungsi fisiologis alat tubuhnya sangat berbeda, baik dalam hal pencapaian puncak maupun saat menurunnya. (Nugroho, W. 2000)
a. Batasan Lanjut Usia
1) Batasan umur lansia menurut organisasi kesehatan dunia (WHO) Lanjut usia meliputi:
a) Usia pertengahan (middle age), ialah kelompok usia 45 sampai 59 tahun.
b) Lanjut usia (elderly) = antara 60 sampai 74 tahun
c) Lanjut usia tua (old) = antara 75 sampai 90 tahun
d) Usia sangat tua (very old) = diatas 90 tahun
2) Menurut Dra. Ny. Jos Masdani (psikolog UI)
Lanut usia merupakan kelanjutan dari usia dewasa. Kedewasaan dapat dibagi menjadi empat bagian :
a) Fase iuventus, antara 25 sampai 40 tahun
b) Fase vertilitas, antara 40 sampai 50 tahun
c) Fase prasenium, antara 55 sampai 64 tahun
d) Fase senium, 65 tahun hingga tutup usia
3) Menurut UU No. 4 tahun 1965 pasal 1 dinyatakan sebagai
berikut : "Seorang dapat dinyatakan sebagai seorang jompo atau lanjut usia setelah yang bersangkutan mencapai umur 55 tahun, tidak mempunyai atau tidak berdaya mencari nafkah sendiri untuk keperluan hidupnya sehari-hari dan menerima nafkah dari orang lain. (Nugroho, 2000) b. Teori-Teori Proses Menua
Beberapa teori teori proses menua (Maryam, R. Siti dkk, 2008) :
1) Teori biologi
Teori biologi mencangkup teori genetic dan mutasi, immunology, teori stress, teori radikal bebas, dan teori rantai silang.
a) Teori genetic dan mutasi
Menurut teori genetic dan mutasi, menua terprogram secara genetic untuk spesies-spesies tertentu. Menua terjadi sebagai akibat dari perubahan biokimia yang diprogram oleh molekul DNA dan setiap sel pada saatnya akan mengalami mutasi sebagai contoh yang khas adalah mutasi dari sel-sel kelamin (terjadi penurunan kemampuan fungsi sel).
Terjadi pengumpulan pigmen atau lemak dalam tubuh yang disebut teori akumulasi dari produk sisa, sebagai contoh adalah adanya figmen lipofusin di sel otot jantung dan sel-sel susunan saraf pusat pada lansia yang mengakibatkan terganggunya fungsi sel itu sendiri. Pada teori biologi dikenal dengan istilah pemakaian dan perusakan (wear and tear) yang terjadi karena kelebihan usaha dan stress yang menyebabkan sel-sel tubuh menjadi lelah (pemakaian). Pada teori ini juga didapatkan terjadinya peningkatan jumlah kolagen dalam tubuh lansia, tidak ada perlindungan terhadap radiasi, penyakit.
b) Teori Imunologis (Lueckenotte, 1995)
Beberapa teori menyatakan bahwa penurunan atau perubahan dalam keefektifan sistem imun berperan dalam penuaan. Mekanisme seluler tidak teratur diperkirakan menyebabkan serangan pada jaringan tubuh melalui imunodefisiensi atau penurunan imun. Tubuh akan kehilangan kemampuan untuk membedakan proteinnya sendiri dengan protein asing, sistem imun menyerang dan menghancurkan jaringannya sendiri pada kecepatan yang meningkat secara bertahap. Dengan bertambahnya usia, kemampuan sistem imun untuk menghancurkan bakteri, virus dan jamur melemah. Bahkan sistem ini mungkin tidak memulai serangannya sehingga sel mutasi terbentuk beberapa kali. Semakin bertambahnya usia, fungsi sistem imun kehilangan keefektifan, imunodefisiensi berhubungan dengan penurunan fungsi
c) Teori stress
Teori stress mengungkapkan menua terjadi akibat hilangnya sel-sel yang biasa digunakan oleh tubuh. Regenerasi jaringan tidak dapat mempertahankan kestabilan lingkungan internal, kelebihan usaha, dan stress yang menyebabkan sel-sel tubuh lelah terpakai.
d) Teori radikal bebas
Radikal bebas dapat terbentuk dialam bebas, tidak stabilnya radikal bebas (kelompok atom) mengakibatkan oksidasi oksigen bahan-bahan organic seperti karbohidrat dan protein. Radikal ini menyebabkan sel-sel tidak dapat melakukan regenerasi.
e) Teori rantai silang
Pada teori rantai silang diungkapkan bahwa reaksi kimia sel-sel yang tua atau rusak menyebabkan ikatan yang kuat, khususnya jaringan kolagen, ikatan ini menyebabkan kurangnya elastisitas, kekacauan dan hilangnya fungsi sel.
2) Teori Psikologis
a) Teori Pelepasan
Teori pelepasan memberikan pandangan bahwa penyesuaian diri lansia merupakan suatu proses yang secara berangsur
SKRIPSI FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PENYAKIT SKABIES
PENYAKIT SKABIES
1.1 Pengertian Skabies
Skabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh tungau (mite) Sarcoptes scabei, yang termasuk dalam kelas Arachnida. Tungau ini berukuran sangat kecil dan hanya bisa dilihat dengan mikroskop atau bersifat mikroskopis. Penyakit skabies sering disebut kutu badan. Penyakit ini juga mudah menular dari manusia ke manusia, dari hewan ke manusia dan sebaliknya. Skabies mudah menyebar baik secara langsung yaitu, melalui sentuhan langsung dengan penderita maupun secara tak langsung atau apapun yang pernah dipergunakan penderita dan belum dibersihkan dan masih terdapat tungau sarcoptesnya. Skabies menyebabkan rasa gatal pada bagian kulit seperti disela-sela jari, siku, selangkangan. Skabies identik dengan penyakit anak pondok pesantren, penyebabnya adalah kondisi kebersihan yang kurang terajaga, sanitasi yang buruk, kurang gizi dan kondisi ruangan terlalu lembab dan kurang mendapat sinar matahari secara langsung. Penyakit kulit scabies menular dengan cepat pada suatu komunitas yang tinggal bersama sehingga dalam pengobatannya harus dilakukan secara serentak dan menyeluruh pada semua orang dan lingkungan pada komunitas yang terserang skabies, karena apabila dilakukan pengobatan secara individual maka akan mudah tertular kembali penyakit skabies (Yosef, 2007).
1.2 Epidemiologi
Skabies ditemukan di semua negara dengan prevalensi yang bervariasi. Dibeberapa negara yang sedang berkembang prevalensi skabies sekitar 6 % - 27 % populasi umum dan cenderung tinggi pada anak-anak serta remaja (Sungkar, 1995).
Suatu survei yang dilakukan pada tahun 1983 diketahui bahwa disepanjang sungai Ucayali, Peru, ditemukan beberapa desa di mana semua anak-anak dari penduduk asli desa tersebut mengidap skabies. Pada tahun 1985, Behl menyatakan bahwa prevalensi skabies pada anak-anak desa-desa Indian adalah 100%. Di Santiago, Chili, insiden tertinggi terdapat pada kelompok umur 10-19 tahun (45%) sedangkan di Sao Paolo, Brazil insiden tertinggi terdapat pada anak yang berusia <9 2008="" 5-14="" anak="" arakbah="" berbeda="" berusia="" dengan="" di="" golongan="" gulati="" hal="" india="" laporan="" maju="" melaporkan="" menyatakan="" negara="" p="" pada="" prevalensi="" sama="" semua="" skabies="" srivatava="" tahun.="" terdapat="" tersebut="" tertinggi="" umur="" usia="" yang="">Pada tahun 1975 terjadi wabah skabies di perkampungan Indian di Kepulauan San Bias, Panama. Penduduk didaerah tersebut hidup dalam lingkungan yang padat dengan jumlah penghuni tiap rumah 13 orang atau lebih. Pada survei pertama didapatkan prevalensi skabies sebesar 28% pada suatu kelompok dan pada kelompok yang lain 42%. Dua tahun kemudian dilakukan survei pada pulau Van lebih besar yang berpenduduk 2.000 orang. Pada survei tersebut ditemukan bahwa 90% penduduk mengidap skabies. Pada tahun 1986 survei di Indian lainnya berpenduduk 756 orang didapatkan bahwa prevalensi skabies anak-anak yang berumur 10 tahun adalah 61% dan pada bayi yang kurang dari 1 tahun adalah 84% (Barakbah, 2008)
Skabies merupakan penyakit endemik pada banyak masyarakat. Penyakit ini dapat mengenai semua ras dan golongan di seluruh dunia. Penyakit skabies banyak dijumpai pada anak dan orang dewasa muda, insidennya sama terjadi pada pria dan wanita. Insiden skabies di negara berkembang menunjukkan siklus fluktuasi yang sampai saat ini belum dapat dijelaskan. Interval antara akhir dari suatu endemik dan permulaan epidemik berikutnya kurang lebih 10-15 tahun (Harahap, 2000).
Menurut Departemen Kesehatan RI prevalensi skabies di Puskesmas seluruh Indonesia pada tahun 1986 adalah 4,6%-12,9%, dan skabies menduduki urutan ketiga dari 12 penyakit kulit tersering. Di Bagian Kulit dan Kelamin FKUI/RSCM pada tahun 1988, dijumpai 734 kasus skabies yang merupakan 5,77% dari seluruh kasus baru. Pada tahun 1989 dan 1990 prevalensi skabies adalah 6% dan 3,9%. Prevalensi skabies sangat tinggi pada lingkungan dengan tingkat kepadatan penghuni yang tinggi dan kebersihan yang kurang memadai (Depkes. RI, 2000).
1.3 Etiologi
Sarcoptes scabiei termasuk filum Arthopoda , kelas Arachnida, ordo Ackarina, superfamili Sarcoptes. Pada manusia disebut Sarcoptes scabiei var. hominis. Secara morfologik merupakan tungau kecil, berbentuk oval, punggungnya cembung dan bagian perutnya rata. Tungau ini transient, berwarna putih, kotor, dan tidak bermata. Ukurannya yang betina berkisar antara 330 - 450 mikron x 250 - 350 mikron, sedangkan yang jantan lebih kecil, yakni 200 - 240 mikron x 150 - 200 mikron. Bentuk dewasa mempunyai 4 pasang kaki, 2 pasang kaki di depan sebagai alat alat untuk melekat dan 2 pasang kaki kedua pada betina berakhir dengan rambut, sedangkan pada yang jantan pasangan kaki ketiga berakhir dengan rambut dan keempat berakhir dengan alat perekat. Siklus hidup tungau ini sebagai berikut, setelah kopulasi (perkawinan) yang terjadi di atas kulit, yang jantan akan mati, kadang-kadang masih dapat hidup dalam terowongan yang digali oleh yang betina. Tungau betina yang telah dibuahi menggali terowongan dalam stratum korneum, dengan kecepatan 2 -3 milimeter sehari dan sambil meletakkan telurnya 2 atau 4 butir sehari sampai mencapai jumlah 40 atau 50 . Bentuk betina yang telah dibuahi ini dapat hidup sebulan lamanya. Telurnya akan menetas, biasanya dalam waktu 3-5 hari, dan menjadi larva yang mempunyai 3 pasang kaki. Larva ini dapat tinggal dalam terowongan, tetapi dapat juga keluar. Setelah 2 -3 hari larva akan menjadi nimfa yang mempunyai 2 bentuk, jantan dan betina, dengan 4 pasang kaki. Seluruh siklus hidupnya mulai dari telur sampai bentuk dewasa memerlukan waktu antara 8-12 hari (Handoko, 2001).
Telur menetas menjadi larva dalam waktu 3-4 hari, kemudian larva meninggalkan terowongan dan masuk ke dalam folikel rambut. Selanjutnya larva berubah menjadi nimfa yang akan menjadi parasit dewasa. Tungau betina akan mati setelah meninggalkan telur, sedangkan tungau jantan mati setelah kopulasi (Mulyono, 1986).
Sarcoptes scabiei betina dapat hidup diluar pada suhu kamar selama lebih kurang 7-14 hari. Yang diserang adalah bagian kulit yang tipis dan lembab, contohnya lipatan kulit pada orang dewasa. Pada bayi, karena seluruh kulitnya masih tipis, maka seluruh badan dapat terserang (Andrianto & Tie, 1989). 1.4 Patogenesi
Kelainan kulit dapat disebabkan tidak hanya oleh tungau skabies, tetapi juga oleh penderita sendiri akibat garukan. Dan karena bersalaman atau bergandengan sehingga terjadi kontak kulit yang kuat, menyebabkan kulit timbul pada pergelangan tangan. Gatal yang terjadi disebabkan oleh sensitisasi terhadap sekret dan ekskret tungau yang memerlukan waktu kira-kira sebulan setelah infestasi. Pada saat itu kelainan kulit menyerupai dermatitis dengan ditemukannya papul, vesikel, urtika dan Iain-lain. Dengan garukan dapat timbul erosi, ekskoriasi, krusta dan infeksi sekunder. Kelainan kulit dan gatal yang terjadi dapat lebih luas dari lokasi tungau (Handoko, 2001).
9>
SKRIPSI FAKTOR - FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERILAKU LANSIA DALAM MELAKUKAN KUNJUNGAN KE POSYANDU LANSIA
A. Konsep lansia
1. Definisi lansia.
Menurut Contantinides (1994) menua adalah suatu proses menghilangnya secara perlahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri dan mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan yang diderita. Proses menua () merupakan suatu perubahan progresif pada organisme yang telah mencapai kematangan intrinsik dan bersifat irreversibel serta menunjukkan adanya kemunduran sejalan dengan waktu. Proses alami yang disertai dengan adanya penurunan kondisi fisik, psikologis maupun sosial akan saling berinteraksi satu sama lain . Proses menua yang terjadi pada lansia secara linier dapat digambarkan melalui empat tahap yaitu, kelemahan (impairment), keterbatasan fungsional (functional limitations), ketidakmampuan (disability), dan keterhambatan (handicap) yang akan dialami bersamaan dengan proses kemunduran.
Menurut Keliat (1999) usia lanjut dikatakan sebagai tahapan akhir perkembangan pada daur kehidupan manusia. Sedangkan UU no 4 tahun 1965 menyebutkan bahwa yang termasuk lansia tersebut adalah orang yang sudah 55 tahun ke atas dan usia 55 tahun di jadikan batas pensiun bagi seorang pekerja, akan tetapi menurut pasal 1 ayat (2), (3), (4) UU No. 13 Tahun 1998 (di dalam Maryam, 2008) tentang kesehatan dikatakan bahwa lanjut usia adalah seseorang yang telah mencapai usia lebih dari 60 tahun.
Menurut Miller (2003) menua adalah suatu proses yang mengubah manusia dewasa dari keadaan sehat menjadi rapuh dengan berkurangnya cadangan kemampuan sistem fisiologis dan meningkatnya kerentanan terhadap penyakit dan diikuti kematiaan.
Sedangkan menurut Mickey (2006) proses menjadi tua disebabkan faktor biologik yang terdiri dari 3 fase yaitu fase progresif, fase stabil dan fase regresif. Dalam fase regresif mekanisme lebih kearah kemunduran yang dimulai dalam sel, komposisi terlecil tubuh manusia. Proses ini berlangsung secara alamiah, terus menerus dan berkesinambungan yang selanjutnya akan menyebabkan perubahan anatomis, fisiologis dan biokemis pada jaringan tubuh dan akhirnya akan mempengaruhi fungsi dan kemampuan badan secara keseluruhan. Ini merupakan suatu fenomena yang kompleks dan multidimensional yang dapat diobservasi di dalam satu sel dan berkembang sampai pada keseluruhan sistem.
2. Klasifikasi lansia.
Klasifikasi berikut ini adalah lima klasifikasi pada lansia, menurut Depkes RI 2003 (di dalam Maryam, 2008).
a. Pralansia (prasenilis), yaitu seseorang yang berusia antara 45 - 59 tahun.
b. Lansia, yaitu orang yang berusia 60 tahun atau lebih.
c. Lansia resiko tinggi, yaitu orang yang berusia 70 tahun atau lebih / seseorang
berusia 60 tahun atau lebih dengan masalah kesehatan.
d. Lansia potensial, yaitu lansia yang masih mampu melakukan perkerjaan dan atau
kegiatan yang dapat menghasilkan barang / jasa.
e. Lansia tidak potensial, yaitu lansia yang tidak berdaya mencari nafkah, sehingga hidupnya bergantung pada bantuan orang lain. Batasan - batasan lansia menurut WHO (di dalam Nugroho 2000), mengelompokkan lansia menjadi empat kelompok yaitu meliputi :
a. Usia pertengahan (middle age), ialah kelompok usia 45 - 59 tahun.
b. Usia lanjut (erderly), ialah kelompok antara usia 60 - 70 tahun.
c. Usia lanjut tua (old), ialah kelompok antara usia 70 - 75 tahun.
d. Usia sangat tua (very old), ialah kelompok usia diatas 90 tahun.
Menurut Masdani (di dalam Nugroho, 2000) lansia merupakan kelanjutan dari usia dewasa yang dibagi menjadi empat bagian, yaitu :
a. Fase iuventus, antara usia 25 - 40 tahun.
b. Fase verilitas, antara usia 40 - 50 tahun.
c. Faseprasenium, antara usia 55 - 56 tahun.
d. Fase senium, usia lebih dari 65 tahun.
Menurut Setyonegoro pengelompokan lanjut usia yaitu :
a. Dewasa muda ( ), usia antara 18 atau 20 - 25 tahun.
b. Dewasa penuh (middle years) atau maturasi, usia antara 25 - 60 atau 65 tahun.
c. Lanjut usia (geriatric age), usia lebih dari 65 tahun atau 70 tahun. Terbagi untuk
usia 70 - 75 tahun (old) dan lebih dari 80 tahun (very old).
3. Tipe lansia
Menurut Nugroho (2000) beberapa tipe pada lansia bergantung pada karakter, pengalaman hidup, lingkungan, kondisi fisik, mental sosial dan ekonominya. Tipe tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut :
a. Tipe arif bijaksana, yaitu kaya dengan hikmah, pengalaman, dalam menyesuaikan
diri dengan perubahan zaman, bersikap ramah, rendah hati, sederhana, dermawan,
mempunyai kesibukan, memenuhi undangan dan menjadi panutan.
b. Tipe mandiri, yaitu mengganti kegiatan yang hilang dengan yang baru, selektif
dalam mencari pekerjaan, bergaul dengan teman dan memenuhi undangan.
c. Tipe tidak puas, yaitu konflik lahir batin menentang proses penuaan sehingga
menjadi orang yang tidak sabar, gampang marah, mudah tersinggung, banyak
menuntut, suka mengeritik dan tidak mau untuk dilayani.
d. Tipe pasrah, yaitu menerima dan menunggu nasib baik, mengikuti kegiatan agama
dan melakukan pekerjaan apa saja.
e. Tipe bingung, yaitu kaget, kehilangan kepribadian, minder, menjauh dan
mengasingkan diri, menyesal dan acuh tak acuh.
Dari macam-macam tipe diatas masih ada tipe optimis, konstruktif, dependen (bergantungan), defisit (bertahan), militan dan serius, pemarah dan frustasi (kecewa akibat kegagalan dalam melakukan sesuatu), putus asa (benci pada diri sendiri).
4. Pelayanan Keperawatan Pada Lansia
Pelayanan keperawatan terhadap lansia menggunakan metode pendekatan, yaitu : a. Pendekatan Fisik.
Pendekatan fisik dilakukan dengan cara memperhatikan kesehatan objektif,
kebutuhan, perubahan fisik pada organ tubuh, tingkat kesehatan yang masih bisa
dicapai dan dikembangkan, serta penyakit yang dapat dicegah atau ditekan
progresifnya. Pendekatan fisik pada umumnya dibagi menjadi dua yaitu lanjut
usia yang masih aktif
dan lanjut usia yang pasif. Dimana lansia mengalami keterbatasan fisik, kemunduran fisik akibat proses penuaan dapat mempengaruhi ketahanan tubuh terhadap gangguan atau infeksi dari luar. Tindakan tidak selalu menunggu adanya keluhan dari lansia, karena tidak jarang lansia menghindari kontak yang terlalu sering dengan tenaga kesehatan. Hal itu dapat diantisipasi dengan pengamatan yang cermat terhadap kondisi lansia dan pendekatan fisik ini lebih ditekankan untuk pemenuhan dasar lansia.
b. Pendekatan Psikis
Pada pendekatan psikis ini perawat memiliki peran penting untuk mengadakan pendekatan edukatif, perawat dapat juga berperan sebagai pendukung (supporte), dapat juga sebagai penampung rahasia pribadi dan sebagai sahabat yang akrab karena lansia sangat membutuhkan rasa aman dan cinta kasih dari lingkungan.
c. Pendekatan sosial
Dalam melakukan pendekatan sosial perawat bisa mengajak lansia berdiskusi, tukar pikiran dan bercerita yang merupakan upaya untuk melakukan pendekatan sosial. Selain itu perawat juga bisa memberi kesempatan untuk berkumpul bersama sesama lansia yang berarti menciptakan sosialisasi mereka. Lansia juga harus diberi kesempatan mengadakan komunikasi dan sosialisasi dengan dunia luar seperti mendengar berita dan rekreasi.
d. Pendekatan spiritual
Tujuan pendekatan spiritual ini adalah untuk memberikan ketenangan dan kepuasan batin dalam berhubungan dengan Tuhan. pada pendekatan spiritual ini setiap lansia akan menunjukkan reaksi yang berbeda-beda dalam menghadapi peristiwa kematian dan perawat bisa memberikan support pada lansia dalam menghadapi kematian.
5. Teori Proses Menua.
Beberapa teori pada proses menua : a. Teori biologis
Menurut Potter (2005) menjelaskan proses fisik penuaan, termasuk perubahan fungsi, struktur, pengembangan, panjang usia dan kematian.
1) Teori generik (genetik theory / Genetic Lock).
Teori ini mengusulkan bahwa akumulasi sampah metabolik atau zat nutrisi dapat merusak sintesis DNA. Teori genetik terdiri dari teori asam deoksiribonukleat (DNA), teori ketepatan dan kesalahan, mutasi, somatik dan glikogen. Teori ini menyatakan bahwa proses replikasi pada tingkatan seluler menjadi tidak teratur karena adanya informasi tidak sesuai yang diberikan dari inti sel. Molekul DNA menjadi bersilangan (crosslink) dengan unsur yang lain sehingga mendorong malfungsi molekular dan akhirnya malfungsi organ tubuh.
2) Teori imunologis.
Teori imunitas menggambarkan penurunan atau kemunduran dalam keefektifan sistem imun yang berhubungan dengan penuaan. Mekanisme seluler tidak teratur diperkirakan menyebabkan serangan pada jaringan tubuh melalui penurunan imun. Dengan bertambahnya usia, kemampuan pertahanan / imun untuk menghancurkan bakteri, virus dan jamur melemah sehingga mereka lebih rentan untuk menderita berbagai penyakit seperti kanker dan infeksi. Seiring berkurangnya imun terjadilah suatu peningkatan respon auto imun pada tubuh lansia.
3) Teori Neuroendokrin
Salah satu area neurologi yang mengalami gangguan secara universal akibat penuaan adalah waktu reaksi yang diperlukan untuk dapat menerima
SKRIPSI GAMBARAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI IBU DALAM PEMBERIAN MAKANAN PENDAMPING ASI ( MP-ASI ) PADA BAYI USIA 0-6 BULAN
2.1.1. Air Susu Ibu
ASI mengandung semua zat gizi untuk membangun dan penyediaan energi dalam susunan yang diperlukan. ASI tidak memberatkan fungsi traktus digestivus dan ginjal yang belum berfungsi dengan baik pada bayi yang baru lahir, serta menghasilkan pertumbuhan fisik yang optimum. Lagipula ASI memiliki berbagai zat anti infeksi, yang dapat meningkatkan sistem imun bayi (Pudjiadi, 2003).
ASI mempunyai nilai gizi yang paling tinggi dibandingkan dengan makanan bayi yang berasal dari susu hewan, seperti susu sapi, susu kerbau atau susu apapun yang tidak sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan bayi. Komposisi zat gizi yang terkandung dalam ASI adalah lemak, protein, karbohidrat, mineral dan vitamin (Krisnatuti dan Rina, 2004).
Berdasarkan waktu diproduksi, ASI dapat dibagi menjadi tiga yaitu (Roesli, 2005 ):
1. Kolostrum merupakan cairan yang pertama kali di sekresi oleh kelenjar mamae yang mengandung tissue debris dan residual material yang terdapat dalam alveoli dan duktus dari kelenjar mamae sebelum dan segera sesudah melahirkan anak.
Disekresi oleh kelenjar mamae dari hari pertama sampai hari ketiga atau keempat, dari masa laktasi. Komposisi kolostrum dari hari ke hari berubah. Merupakan cairan kental yang ideal yang berwarna kekuning-kuningan, lebih kuning dibandingkan ASI matur.
- Merupakan suatu laxanif yang ideal untuk membersihkan meconeum usus bayi yang baru lahir dan mempersiapkan saluran pencernaan bayi untuk menerima makanan selanjutnya.
Lebih banyak mengandung protein dibandingkan ASI matur, tetapi berlainan dengan ASI matur dimana protein yang utama adalah kasein, pada kolostrum protein yang utama adalah globulin, sehingga dapat memberikan daya perlindungan tubuh terhadap infeksi.
- Lebih banyak mengandung antibodi dibandingkan ASI matur yang dapat memberikan perlindungan bagi bayi sampai 6 bulan pertama.
- Lebih rendah kadar karbohidrat dan lemaknya dibandingkan dengan ASI matur.
Total energi lebih rendah dibandingkan ASI mature yaitu 58 kalori/100 ml kolostrum.
Vitamin larut lemak lebih tinggi. Sedangkan vitamin larut dalam air dapat lebih tinggi atau lebih rendah.
- Bila dipanaskan menggumpal, ASI mature tidak. PH lebih alkalis dibandingkan ASI mature. Lemaknya lebih banyak mengandung kolestrol dan lesitin di bandingkan ASI matur. Terdapat trypsin inhibitor, sehingga hidrolisa protein di dalam usus bayi menjadi krang sempurna, yang akan menambah kadar antobodi
pada bayi. Volumenya berkisar 150-300 ml/24 jam.
2. Air Susu Masa Peralihan (Masa Transisi)
- Merupakan ASI peralihan dari kolostrum menjadi ASI matur.
- Disekresi dari hari ke 4 - hari ke 10 dari masa laktasi, tetapi ada pula yang berpendapat bahwa ASI mature baru akan terjadi pada minggu ke3-ke5. Kadar protein semakin rendah, sedangkan kadar lemak dan karbohidrat semakin tinggi. Volume semakin meningkat.
- ASI yang disekresi pada hari ke 10 dan seterusnya, yang dikatakan komposisinya relatif konstan, tetapi ada juga yang mengatakan bahwa minggu ke 3 sampai ke 5 ASI komposisinya baru konstan.
3. Air Susu Matur
Merupakan makanan yang dianggap aman bagi bayi, bahkan ada yang mengatakan pada ibu yang sehat ASI merupakan makanan satu-satunya yang diberikan selama 6 bulan pertama bagi bayi.
- ASI merupakan makanan yang mudah di dapat, selalu tersedia, siap diberikan pada bayi tanpa persiapan yang khusus dengan temperatur yang sesuai untuk bayi. Merupakan cairan putih kekuning-kuningan, karena mengandung kasienat, riboflaum dan karotin. Tidak menggumpal bila dipanaskan.
- Volume: 3 00 - 8 5 0 ml/24 j am
- Terdapat anti mikrobaterial faktor, yaitu:
- Antibodi terhadap bakteri dan virus.
Sel (phagocyte, granulocyle, macrophag, lymhocycle type T) Enzim (lysozime, lactoperoxidese) Protein {lactoferrin, B]2 Binding Protein)
- Faktor resisten terhadap stapilokokus. Komplement ( C3 dan C4)
2.1.1.1. Komposisi ASI
Kandungan colostrum berbeda dengan air susu yang mature, karena colostrum mengandung berbeda dengan air susu yang mature, karena colostrum dan hanya sekitar 1% dalam air susu mature, lebih banyak mengandung imunoglobin A (IgA), laktoterin dan sel-sel darah putih, terhadap, yang kesemuanya sangat penting untuk pertahanan tubuh bayi, terhadap serangan penyakit (Infeksi) lebih sedikit mengandung lemak dan laktosa, lebih banyak, mengandung vitamin dan lebih banyak mengandung mineral-mineral natrium (Na) dan seng (Zn) (Roesli, 2005).
Berdasrkan sumber dari Food and Nutrition Boart, National research Council Washington tahun 1980 diperoleh perkiraan komposisi kolostrum ASI dan susu sapi untuk setiap 100 ml seperti tertera pada tabel berikut: Tabel 2.1. Komposisi ASI
Zat-zat Gizi Kolostrum ASI Susu Sapi
Energi (K Cal) 58 70 65
Protein (g) 2,3 0,9 3,4
- Kasein/whey 1:1,5 1:1,2
- Kasein (mg) 140 187 -
- Laktamil bumil 218 161 -(mg)
- Laktoferin (mg) 330 167 -
- Ig A (mg) 364 142 - Laktosa (g) 5,3 7,3 4,8 Lemak (g) 2,9 4,2 3,9 Vitamin
- Vit A (mg) 151 75 41
- VitBl (mg) 1,9 14 43
- Vit B2 (mg) 30 40 145
- Asam 75 160 82Nikotinmik (mg)
- Vit B6 (mg) - 12-15 64
- Asam pantotenik 183 246 340
- Biotin 0,06 0,6 2,8
- Asam folat 0,05 0,1 ,13
- Vit B12 0,05 0,1 0,6
-VitC 5,9 5 1,1
- Vit D (mg) - 0,04 0,02
-VitZ 1,5 0,25 0,07
- Vit K (mg) - 1,5 6 Mineral
- Kalsium (mg) 39 35 130
- Klorin (mg) 85 40 108
- Tembaga (mg) 40 40 14
- Zat besi (ferrum) 70 100 70 (mg)
- Magnesium (mg) 4 4 12
- Fosfor (mg) 14 15 120
- Potassium (mg) 74 57 145
- Sodium (mg) 48 15 58
- Sulfur (mg) 22 14 30
Perbandingan komposisi kolostrum, ASI dan susu sapi dapat dilihat pada tabel 1. Dimana susu sapi mengandung sekitar tiga kali lebih banyak protein daripada ASI. Sebagian besar dari protein tersebut adalah kasein, dan sisanya berupa protein whey yang larut. Kandungan kasein yang tinggi akan membentuk gumpalan yang relatif keras dalam lambung bayi bila bayi diberi susu sapi, sedangkan ASI walaupun mengandung lebih sedikit total protein, namun bagian protein "whey"nya lebih banyak, sehingga akan membetuk gumpalan yang lunak dan lebih mudah dicerna serta diserapoleh usus bayi. Sekitar setengah dari energi yang terkandung dalam ASI berasal dari lemak, yang lebih mudah dicerna dan diserap oleh bayi dibandingkan dengan lemak susu sapi, sebab ASI mengandung lebih banyak enzim pemecah lemak (lipase). Kandungan total lemak sangat bervariasi dari satu ibu ke ibu lainnya, dari satu fase lakatasi air susu yang pertama kali keluar hanya mengandung sekitar 1 - 2% lemak dan terlihat encer. Air susu yang encer ini akan membantu memuaskan rasa haus bayi waktu mulai menyusui. Air susu berikutnya disebut "Hind milk", mengandung sedikitnya tiga sampai empat kali lebih banyak lemak. Ini akan memberikan sebagian besar energi yang dibutuhkan oleh bayi, sehingga penting diperhatikan agar bayi, banyak memperoleh air susu ini (Roesli, 2005).
Laktosa (gula susu) merupakan satu-satunya karbohidrat yang terdapat dalam air susu murni. Jumlahnya dalam ASI tak terlalu bervariasi dan terdapat lebih banyak dibandingkan dengan susu sapi. Di samping fungsinya sebagai sumber energi, juga didalam usus sebagian laktosa akan diubah menjadi asam laktat. Di dalam usus asam laktat tersebut membantu mencegah pertumbuhan bakteri yang tidak diinginkan dan juga membantu penyerapan kalsium serta mineral-mineral lain. ASI mengandung lebih sedikit kalsium daripada susu sapi tetapi lebih mudah diserap, jumlah ini akan mencukupi kebutuhan untuk bahan-bahan pertama kehidupannya. ASI juga mengandung lebih sedikit natrium, kalium, fosfor dan klor dibandingkan dengan susu sapi, tetapi dalam jumlah yang mencukupi kebutuhan bayi (Roesli, 2005).
Apabila makanan yang dikonsumsi ibu memadai, semua vitamin yang diperlukan bayi selama empat sampai enam bulan pertama kehidupannya dapat diperoleh dari ASI. Hanya sedikit terdapat vitamin D dalam lemak susu, tetapi penyakit polio jarang terjadi pada anak yang diberi ASI, bila kulitnya sering terkena sinar matahari. Vitamin D yang terlarut dalam air telah ditemukan terdapat dalam susu, meskipun fungsi vitamin ini merupakan tambahan terhadap vitamin D yang terlarut lemak (Roesli, 2005).
2.1.1.2. Keuntungan Pemberian ASI
Menurut Pudjiadi (2005) keuntungan -keuntungan yang dapat diperoleh dari pemberian ASI yaitu:
1. Keuntungan pemberian ASI bagi bayi :
Kandungan gizi yang sesuai dengan kebutuhan bayi. Mudah dicerna dan diserap.
Selalu bersih dan segar. Aman. Menyempurnakan pertumbuhan bayi sehingga bayi lebih sehat dan cerdas ( meningkatkan IQ sebanyak 12,9 point). Melindungi tubuh dari berbagai penyakit terutama penyakit infeksi.
Memperindah kulit, gigi dan bentuk rahang. Tersedia pada suhu yang tepat sehingga bayi tidak harus menunggu. Bayi yang diberi ASI akan jarang mengalami diare, tidak akan sembelit dan jarang terkena alergi.
2. Keuntungan Pemberian ASI bagi ibu Murah. Biasanya periode tidak subur ibu menyusui lebih panjang
dibandingkan dengan ibu yang tidak menyusui. Menyusui segera setelah melahirkan akan mempengaruhi kontraksi uterus sehingga proses pemulihan setelah melahirkan akan berlangsung lebih cepat. Ibu lebih sehat dan mencegah kegemukan. Akan tercipta hubungan yang erat dan hangat antara bayi dan
ibunya. Menghindari ibu dari kemungkinan timbulnya kanker payudara.
2.1.1.3. Frekuensi Pemberian ASI
Pada pemberian bayi yang baru lahir mempunyai jadwal makan yang tidak teratur. Mereka bisa makan sebanyak 6 sampai 12 kali atau mungkin juga sampai 18 kali dalam 24 jam tanpa jadwal yang teratur. Dalam dua hari pertama produksi ASI belum banyak hingga tidak perlu menyusui terlalu lama, cukup beberapa menit saja untuk merangsang keluarnya ASI. Pada hari-hari berikutnya bayi dapat disusui selama 15-20 menit tiap kalinya, walaupun sebagian besar ASI keluar pada 5-10 menit pertama dari setiap buah dada. Jadwal menyusui hendaknya disesuaikan dengan aktivitas sehari-hari ibu. Misalnya tiap 3 jam dimulai pada jam 6 pagi, walaupun demikian jadwal itu tidak perlu kaku, jika setelah 2 jam bayi sudah menangis dapat diberikan lagi. Sebaliknya harus diperhatikan, bahwa bayi yang menangis tidak selalu disebabkan oleh rasa lapar. Mungkin juga oleh mulas-mulas ( kolik, gerak usus yang berlebihan ) setelah minum ASI, sedang sakit dan sebagainya (Pudjiadi, 2005).
2.1.2. Makanan Pendamping ASI (MP-ASI)
Seiring dengan bertambahnya usia anak, ragam makanan yang diberikan harus bergizi lengkap dan seimbang. Peran zat gizi ini penting untuk menunjang tumbuh kembang anak. Dalam hal ini pengaturan pola konsumsi makanan, ibu mempunyai peran yang sangat penting dalam memilih jenis makanan yang bergizi seimbang. MP-ASI harus diberikan setelah anak berusia 6 bulan dan berlanjut sampai usia 24 bulan, karena pada masa tersebut produksi ASI makin menurun sehingga suplai zat gizi dari ASI tidak lagi memenuhi kebutuhan gizi anak yang semakin meningkat (Wiryo, 2002).
Banyak faktor yang mengakibatkan pemberian makanan pendamping ASI terlalu dini, antara lain kebiasaan yang turun-temurun dari keluarga, dan banyak faktor lainnya yang membuat pemberian makanan pendamping ASI tidak sesuai umur anak (Soedibyo, 2007).
2.1.3. Pengganti Air Susu Ibu (PASI)