Showing posts with label skripsi keperawatan. Show all posts
Showing posts with label skripsi keperawatan. Show all posts
SKRIPSI HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU PRIMIGRAVIDA TRIMESTER III TERHADAP TEKNIK MENYUSUI YANG BENAR

SKRIPSI HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU PRIMIGRAVIDA TRIMESTER III TERHADAP TEKNIK MENYUSUI YANG BENAR

Thursday, June 16, 2016

(KODE : 0017-KEPERAWATAN ) : SKRIPSI HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU PRIMIGRAVIDA TRIMESTER III TERHADAP TEKNIK MENYUSUI YANG BENAR


BAB II 
TINJAUAN TEORITIS

A. Pengetahuan (Knowledge)
Pengetahuan adalah hasil "tahu", dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengindraan terjadi melalui pancaindra manusia, yakni indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan raba (Notoatmodj o,2003: 127).
Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang. Karena dari pengalaman dan penelitian ternyata perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan (Notoatmodjo, 2003: 128).
Penelitian Rogers (1974) yang dikutip oleh Notoatmodjo (2003: 128), mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku baru (berprilaku baru), didalam diri orang tersebut terjadi proses yang yang berurutan, yaitu Awareness (kesadaran), di mana orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui lebih dahulu terhadap stimulus (objek). Interest (merasa tertarik) terhadap stimulus atau objek tersebut. Di sini sikap subjek sudah mulai timbul. Evaluation (menimbang-nimbang) terhadap baik dan tidaknya stimulus tersebut bagi dirinya. Hal ini berarti sikap responden sudah lebih baik lagi. Trial, di mana subjek mulai mencoba melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh stimulus. Adoption, dimana subjek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran, dan sikapnya terhadap stimulus.
Pengetahuan yang dicakup di dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkat, yaitu :
a. Tahu (Know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan ini adalah mengingat kembali (recall) terhadap suatu spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima.
b. Memahami (Comprehension)
Memahami yaitu suatu kemampuan menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui, dan tempat menginterpretasikan materi tersebut secara benar.
c. Aplikasi (Application)
Aplikasi yaitu suatu kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi sebenarnya.
d. Analisis (Analysis)
Analisa yaitu suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam suatu struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu sama lain.
e. Sintesis (Synthesis)
Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.
f. Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi yaitu kemampuan untuk melakukan suatu penilaian terhadap suatu materi atau objek.

B. Sikap (Attitude)
Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup terhadap suatu stimulasi atau objek. Manifestasi sikap tidak dapat langsung dilihat, tetapi hanya dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari perilaku yang tertutup (Notoatmodjo, 2003: 130).
1. Komponen Pokok Sikap
Menurut Notoatmodjo (2003), komponen pokok sikap meliputi hal-hal berikut:
a. Kepercayaan (keyakinan), ide, dan konsep terhadap suatu objek.
b. Kehidupan emosional atau evaluasi emosional terhadap suatu objek.
c. Kecenderungan untuk bertindak.
2. Tingkatan Sikap
Menurut Notoatmodjo (2003), tingkatan sikap meliputi:
a. Menerima (Receiving)
Menerima, diartikan bahwa orang (subjek) mau dan memperhatikan stimulus yang diberikan objek.
b. Merespon (Responding)
Merespon yaitu memberikan jawaban jika ditanya, mengerjakan, dan menyelesaikan tugas yang diberikan mempakan indikasi sikap.
c. Menghargai (Valuing)
Menghargai yaitu pada tingkat ini individu mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan suatu masalah.
d. Bertanggungjawab (Responsible)
Bertanggung jawab yaitu mempakan sikap yang paling tinggi, dengan segala resiko bertanggungjawab terhadap sesuatu yang telah dipilih.
3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Sikap
Menurut Maulana (2009), faktor-faktor yang mempengaruhi sikap yaitu :
a. Faktor Internal yaitu faktor yang terdapat dalam diri pribadi manusia itu sendiri.
Faktor ini berupa daya pilih seseorang untuk menerima atau menolak pengaruh-pengaruh yang datang dari luar.
b. Faktor Eksternal yaitu faktor yang terdapat dari luar diri manusia itu sendiri.
Faktor ini berupa interaksi sosial diluar kelompok. Misalnya interaksi antara manusia dalam bentuk kebudayaaan yang sampai kepada individu melalui surat kabar, televisi, majalah, dan sebagainya.

C. Teknik Menyusui yang Benar
1. Pengertian Teknik Menyusui yang Benar
Perinasia (2003), menyatakan teknik menyusui yang benar adalah cara memberikan ASI kepada bayi dengan perlekatan dan posisi ibu dan bayi dengan benar.
Menurut Roesli (2008), agar proses menyusui dapat berjalan lancar, maka seorang ibu harus mempunyai keterampilan menyusui agar ASI dapat mengalir dari payudara ibu ke bayi secara efektif
2. Manfaat menyusui
Menurut Roesli (2008), bagi ibu dan bayi ASI menyebabkan kuatnya ikatan batin antara ibu dan bayi. Hal ini merupakan manfaat awal dari menyusui.
a. Manfaat bagi bayi
Menurut Saleha (2009), banyak manfaat pemberian ASI khususnya ASI ekslusif yang dapat dirasakan yaitu: komposisi sesuai kebutuhan, kalori dari ASI memenuhi kebutuhan bayi sampai usia enam bulan, ASI mengandung zat pelindung, perkembangan psikomotorik lebih cepat, menunjang perkembangan kognitif, menunjang perkembangan penglihatan, memperkuat ikatan batin antara ibu dan anak, dasar untuk perkembangan emosi yang hangat dan dasar untuk perkembangan kepribadian yang percaya diri.
b. Manfaat bagi ibu
Menurut Saleha (2009), manfaat menyusui bagi ibu adalah mencegah perdarahan pascapersalinan dan mempercepat kembalinya rahim ke bentuk semula, mempercepat ibu kembali ke berat badan sebelum hamil, menunda kesuburan, menimbulkan perasaan dibutuhkan dan mengurangi kemungkinan kanker payudara dan ovarium.
c. Manfaat bagi keluarga
Adapun manfaat menyusui bagi keluarga menurut Saleha (2009) adalah mudah dalam proses pemberiannya, mengurangi biaya rumah tangga dan bayi yang mendapat ASI jarang sakit, sehingga dapat menghemat biaya untuk berobat.
d. Manfaat bagi Negara
Manfaat menyusui bagi negara menurut Saleha (2009) adalah penghematan untuk subsidi anak sakit dan pemakaian obat-obatan, penghematan devisa dalam hal pembelian susu formula dan perlengkapan menyusui dan mendapatkan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. 
3. Posisi dan perlekatan menyusui yang benar
Menurut Maryunami, A. (2009), terdapat berbagai macam posisi menyusui sebagai berikut: 
a. Posisi ibu
1) Posisi menyusui ibu yang bersalin normal (persalinan spontan)
Ibu yang melahirkan secara spontan bisa lebih leluasa memilih posisi menyusui, sambil duduk atau berbaring menyamping. Jika posisi duduk yang dipilih: gunakan kursi yang nyaman, upayakan telapak kaki menginjak lantai dan gunakan bangku kecil sebagai pengganjal bila posisi kaki agak menggantung.
2) Posisi menyusui ibu yang melahirkan seksio caesaria
Football position adalah posisi yang disarankan untuk ibu yang melahirkan melalui persalinan seksio caesaria. Pada posisi ini: tubuh bayi digendong dengan salah satu tangan ibu, upayakan letak kepala bayi berada tepat dibawah payudara dan membentuk garis lurus dengan badan bayi dan posisi ini aman karena bagian bawah perut ibu yang masih nyeri akibat operasi dapat terlindungi. Posisi ini merupakan posisi yang paling nyaman bagi ibu maupun bayinya. (Varney's.2008).
3) Posisi menyusui ibu dengan bayi kembar
Sama dengan ibu yang melahirkan melalui persalinan seksio caesaria, football position (dengan cara seperti memegang bola) juga tepat untuk bayi kembar dimana kedua bayi disusui bersaman kiri dan kanan, dengan cara : kedua tangan ibu memeluk masing-masing satu kepala bayi, seperti memegang bola, letakkan tepat dibawah payudara ibu, posisi kaki bayi boleh dibiarkan menjuntai keluar, untuk memudahkan, kedua bayi dapat diletakkan pada satu bidang datar yang memiliki ketinggian kurang lebih sepinggang ibu dengan demikian, ibu cukup menopang kepala bayi kembarnya saja. Cara lain adalah dengan meletakkan bantal diatas pangkuan ibu.

SKRIPSI HUBUNGAN KEPATUHAN DALAM MENJALANKAN DIET DENGAN GULA DARAH TERKONTROL PADA PASIEN DIABETES MELITUS

SKRIPSI HUBUNGAN KEPATUHAN DALAM MENJALANKAN DIET DENGAN GULA DARAH TERKONTROL PADA PASIEN DIABETES MELITUS

Thursday, June 16, 2016

(KODE : 0016-KEPERAWATAN) : SKRIPSI HUBUNGAN KEPATUHAN DALAM MENJALANKAN DIET DENGAN GULA DARAH TERKONTROL PADA PASIEN DIABETES MELITUS


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA 

A. Konsep kepatuhan
1. Pengertian
Kepatuhan berasal dari kata dasar patuh, yang berarti disiplin dan taat. Menurut Sacket dalam Niven (2000) kepatuhan adalah sejauh mana perilaku pasien sesuai dengan ketentuan yang diberikan oleh profesional kesehatan
2. Variabel yang mempengaruhi tingkat kepatuhan
Beberapa variabel yang mempengaruhi tingkat kepatuhan menurut Brunner & Suddarth (2002) adalah :
a. Variabel demografi seperti usia, jenis kelamin, status sosio ekonomi dan pendidikan.
b. Variabel penyakit seperti keparahan penyakit dan hilangnya gejala akibat terapi.
c. Variabel program terapeutik seperti kompleksitas program dan efek samping yang tidak menyenangkan.
d. Variabel psikososial seperti intelegensia, sikap terhadap tenaga kesehatan, penerimaan, atau penyangkalan terhadap penyakit, keyakinan agama atau budaya dan biaya finansial dan lainnya yang termasuk dalam mengikuti regimen hal tersebut diatas juga ditemukan oleh Bart Smet dalam psikologi kesehatan. 
3. Faktor-faktor yang mempengaruhi ketidakpatuhan
Faktor-faktor yang mempengaruhi ketidakpatuhan dapat digolongkan menjadi empat bagian menurut Niven (2002) antara lain :
a. Pemahaman tentang instruksi
Tak seorang pun dapat mematuhi instruksi jika ia salah paham tentang instruksi yang diberikan padanya.
b. Kualitas interaksi
Kualitas interaksi antara profesional kesehatan dan pasien merupakan bagian yang penting dalam menentukan derajat kepatuhan.
c. Isolasi sosial dan keluarga
Keluarga dapat menjadi faktor yang sangat berpengaruh dalam menentukan keyakinan dan nilai kesehatan dan nilai kesehatan individu serta juga dapat menentukan program pengobatan yang dapat mereka terima.
d. Keyakinan, sikap dan kepribadian
Becker et al (1979) dalam Niven ( 2002) telah membuat suatu usulan bahwa model keyakinan kesehatan berguna untuk memperkirakan adanya ketidak patuhan. 
4. Faktor penentu derajat ketidakpatuhan
Neil Niven (2002: 193), juga mengungkapkan derajat ketidakpatuhan itu ditentukan oleh beberapa faktor, yaitu:
a. Kompleksitas prosedur pengobatan.
b. Derajat perubahan gaya hidup yang dibutuhkan.
c. Lamanya waktu dimana pasien harus mematuhi program tersebut.
d. Apakah penyakit tersebut benar-benar menyakitkan.
e. Apakah pengobatan itu berpotensi menyelamatkan hidup.
f. Keparahan penyakit yang dipersepsikan sendiri oleh pasien dan bukan petugas kesehatan. 
5. Strategi untuk meningkatkan kepatuhan
Menurut Smet (1994) berbagai strategi telah dicoba untuk meningkatkan kepatuhan adalah :
a. Dukungan profesional kesehatan
Dukungan profesional kesehatan sangat diperlukan untuk meningkatkan kepatuhan, contoh yang paling sederhana dalam hal dukungan tersebut adalah dengan adanya teknik komunikasi. Komunikasi memegang peranan penting karena komunikasi yang baik diberikan oleh profesional kesehatan baik dokter/ perawat dapat menanamkan ketaatan bagi pasien.
b. Dukungan sosial
Dukungan sosial yang dimaksud adalah keluarga. Para profesional kesehatan yang dapat meyakinkan keluarga pasien untuk menunjang peningkatan kesehatan pasien maka ketidakpatuhan dapat dikurangi.
c. Perilaku sehat
Modifikasi perilaku sehat sangat diperlukan. Untuk pasien dengan diabetes melitus diantaranya adalah tentang bagaimana cara untuk menghindari komplikasi lebih lanjut apabila sudah menderita diabetes. Modifikasi gaya hidup dan kontrol secara teratur atau minum obat sangat perlu bagi pasien diabetes.
d. Pemberian informasi
Pemberian informasi yang jelas pada pasien dan keluarga mengenai penyakit yang dideritanya serta cara pengobatannya 

B. Diabetes Melitus
1. Definisi
a. Diabetes melitus adalah keadaan hiperglikemia kronik disertai berbagai kelainan metabolik akibat gangguan hormonal, yang menimbulkan berbagai komplikasi kronik pada mata, ginjal, saraf dan pembuluh darah, disertai lesi pada membran basalis dalam pemeriksaan dengan mikroskop elektron (Mansjoer, 2000 : 580).
b. Diabetes melitus adalah sekelompok kelainan heterogen yang ditandai oleh kenaikan kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemia (Brunner & Suddart, 2002 : 1220),
c. Diabetes melitus adalah suatu kumpulan gejala yang timbul pada seseorang disebabkan oleh karena adanya peningkatan kadar glukosa darah akibat kekurangan insulin baik absolut maupun relatif (Soegondo, 2007).
d. Diabetes melitus adalah penyakit hiperglikemia yang ditandai oleh ketiadaan absolut insulin atau insensitivitas sel terhadap insulin (Corwin, 2001 : 542).

SKRIPSI HUBUNGAN BUDAYA ORGANISASI DENGAN KEPUASAN KERJA PERAWAT PELAKSANA DI RUMAH SAKIT

SKRIPSI HUBUNGAN BUDAYA ORGANISASI DENGAN KEPUASAN KERJA PERAWAT PELAKSANA DI RUMAH SAKIT

Saturday, May 28, 2016

(KODE : 0015-KEPERAWATAN) : SKRIPSI HUBUNGAN BUDAYA ORGANISASI DENGAN KEPUASAN KERJA PERAWAT PELAKSANA DI RUMAH SAKIT


BAB II
KAJIAN TEORI 

A. Budaya Organisasi 
1. Pengertian Budaya Organisasi 
Robbin (2007) mendefenisikan bahwa budaya organisasi adalah sebagai  suatu sistem makna yang dianut oleh anggota-anggota yang membedakan  organisasi tersebut dengan organisasi lain. Robbin mendefenisikan budaya  organisasi sebagai sebuah sistem pemaknaan bersama yang dibentuk oleh anggotanya yang sekaligus menjadi pembeda dengan organisasi lain. Riani (2011)  menjelaskan bahwa budaya organisasi merupakan sistem dari shared value,  keyakinan dan kebiasaan-kebiasaan dalam suatu organisasi yang saling  berinteraksi dengan struktur formalnya untuk menciptakan norma-norma perilaku. 
Budaya organisasi juga mencakup nilai-nilai dan standar-standar yang  mengarahkan perilaku pelaku organisasi dan menentukan arah organisasi secara keseluruhan. 
Budaya organisasi adalah simbol dan interaksi unik pada setiap organisasi.  Hal ini meliputi cara berpikir, berperilaku, berkeyakinan yang sama-sama dimiliki  oleh anggota unit (Marquis, 2010). Budaya organisasi tampak dalam dimensi  aktivitas tugas dan aktivitas pemeliharaan (dinamika) kelompok/organisasi yang  berupa penggunaan bahasa, pengambilan keputusan, teknologi yang digunakan,  dan praktik kerja sehari-hari (Diklat DIKNAS, 2007). 
Druicker (dalam Tika, 2006) menyebutkan bahwa budaya organisasi adalah pokok  penyelesaian masalah-masalah eksternal dan internal yang pelaksanaannya  dilakukan secara konsisten oleh suatu kelompok yang kemudian mewariskan  kepada anggota-anggota baru sebagai cara yang tepat untuk memahami,  memikirkan, dan merasakan terhadap masalah-masalah. 
Berdasarkan pengertian-pengertian di atas maka budaya organisasi adalah  aturan kerja yang ada di organisasi yang akan menjadi pegangan dari sumber daya  manusia dalam menjalankan kewajibannya dan nilai-nilai untuk berperilaku dalam  organisasi. Nilai-nilai tersebut tercermin dalam perilaku dan sikap mereka sehari hari selama mereka berada dalam organisasi tersebut dan sewaktu mewakili  organisasi berhadapan dengan pihak luar. Dengan kata budaya organisasi  mencerminkan cara staf melakukan sesuatu (membuat keputusan, melayani pasien, dll) yang dapat dilihat kasat mata dan dirasakan terutama oleh orang diluar  organisasi tersebut. Dapat juga dikatakan budaya organisasi adalah pola terpadu  perilaku manusia di dalam organisasi termasuk pemikiran-pemikiran, tindakan tindakan, pembicaraan-pembicaraan yang dipelajari dan diajarkan kepada generasi  berikutnya (Muluk, 1999). 
Organisasi yang berorientasi pada pelayanan kesehatan memerlukan budaya  dukungan (Support Culture) dan budaya peran (Role Culture) sebagai cara  meningkatkan motivasi dan kepuasan anggota organisasi. Budaya organisasi yang  efektif adalah budaya organisasi yang mengakar kuat dan dalam. Di rumah sakit  yang berbudaya demikian, dapat dipastikan hampir semua individunya menganut  nilai-nilai yang seragam dan konsisten. 

2. Fungsi Budaya Organisasi 
 Budaya organisasi menurut Tika (2006) memiliki beberapa fungsi yaitu :
(1) sebagai batas pembeda terhadap lingkungan, organisasi maupun kelompok lain, 
(2) sebagai perekat bagi staf dalam suatu organisasi, 
(3) mempromosikan stabilitas  sistem sosial, 
(4) sebagai mekanisme kontrol dalam memadu dan membentuk  sikap serta perilaku staf, 
(5) sebagai integrator, (6)membentuk perilaku bagi para  staf, 
(7) sebagai sarana untuk menyelesaikan masalah-masalah pokok organisasi, 
(8) sebagai acuan dalam menyusun perencanaan perusahaan, 
(9) sebagai alat  komunikasi, 
(10)sebagai penghambat berinovasi. 
Robbins (2003) menyatakan bahwa budaya organisasi mempunyai beberapa  fungsi dalam organisasi yaitu memberi batasan untuk mendefinisikan peran  sehingga memperlihatkan perbedaan yang jelas antar organisasi, memberikan  pengertian identitas terhadap sesuatu yang lebih besar dibandingkan minat  anggota organisasi secara perorangan, menunjukkan stabilitas sistem sosial,  memberikan pengertian dan mekanisme pengendalian yang dapat dijadikan  pedoman untuk membentuk sikap dan perilaku anggota organisasi dan pada  akhirnya budaya orgnisasi dapat membentuk pola pikir dan perilaku anggota  organisasi. 
Ada beberapa manfaat yang dapat diperoleh kedua belah pihak, baik  organisasi maupun para anggotanya. Manfaat tersebut adalah memberikan  pedoman bagi tindakan pengambilan keputusan, mempertinggi komitmen  organisasi, menambah perilaku konsistensi perilaku para anggota organisasi dan  mengurangi keraguan para anggota orgnisasi, karena budaya memberitahukan pada mereka sesuatu dilakukan dan dianggap penting (Mangkunegara, 2005). 

3. Pembentukan Budaya Organisasi 
Robbins (2001) berpendapat bahwa dibutuhkan waktu yang lama untuk pembentukan budaya organisasi. Sekali terbentuk, budaya itu cenderung berakar,  sehingga sukar bagi para manager untuk mengubahnya. 
Dari gambar diatas, dapat dilihat bahwa budaya organisasi diturunkan dari  filsafat pendiri, kemudian budaya ini sangat mempengaruhi kriteria yang  digunakan dalam merekrut/memperkerjakan anggota organisasi. Tindakan dari  manajemen puncak menentukan iklim umum dari perilaku yang dapat diterima  baik dan tidak. Tingkat kesuksesan dalam mensosialisasikan budaya organisasi   tergantung pada kecocokan nilai-nilai staf baru dengan nilai-nilai organisasi dalam  proses seleksi maupun pada preferensi manajemen puncak akan metode-metode sosialisasi. 

4. Dimensi Budaya Organisasi 
Robbins (2007) menjelaskan bahwa budaya organisasi adalah sebuah proses  deskripsi mengenai keadaan organisasi. Penelitian mengenai budaya organisasi  berfokus pada staf mampu merasakan budaya organisasi, terlepas dari mereka  suka atau tidak suka pada budaya organisasi tersebut. Budaya organisasi dapat dirasakan keberadaannya melalui perilaku anggota dalam organisasi tersebut. Hal ini dapat dilihat dari pola dan cara-cara berpikir, merasa, menanggapi dan menuntun para anggota organisasi dalam mengambil keputusan maupun kegiatan kegiatan lainnya dalam organisasi.
Robbins (2007) menjelaskan bahwa pelaksanaan budaya organisasi dapat dikaji dari dimensi budaya organisasi. Dimensi budaya organisasi tidak ditetapkan  secara mudah melainkan berdasarkan studi empiris. Studi empiris ini biasanya  tidak dilakukan menggunakan sampel kecil melainkan menggunakan sampel besar  yang melibatkan beberapa organisasi. Hasilnya tidak ditemukan dimensi budaya  yang berlaku secara umum. Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa memahami budaya organisasi melalui dimensi-dimensinya dapat menggambarkan budaya organisasi dari suatu organisasi tersebut. Banyak ahli yang menguraikan dimensidimensi dalam budaya organisasi salah satunya adalah Denison. Denison and Mirsha (1995) dalam Casida (2007) mengaikat budaya  organisasi dengan efektifitas organisasi. efektifitas organisasi tersebut dipengaruhi oleh empat faktor di dalam budaya organisasi yaitu keterlibatan (Involvement), konsistensi (consistency), adapatasi (Adadptation), Misi (Mision). 
1. Keterlibatan (involvement) 
Keterlibatan merupakan kunci yang tampak dan dapat dirasakan dalam setiap  budaya organisasi (Sutrisno, 2010). Keterlibatan merupakan dimensi budaya  organisasi yang menunjukkan tingkat partisipasi staf dalam proses pengambilan  keputusan (Sobirin, 2007). Denison (2000) dalam Casida (2007) menyatakan,  keterlibatan adalah suatu perlakuan yang membuat staf meras diikutsertakan 
dalam kegiatan organisasi sehingga membuat staf bertanggung jawab tentang  tindakan yang dilakukannya. Keterlibatan (involvement) adalah kebebasan atau  independensi yang dipunyai setiap individu dalam mengemukakan pendapat. 
Keterlibatan tersebut perlu dihargai oleh kelompok atau pimpinan suatu organisasi  sepanjang menyangkut ide untuk memajukan dan mengembangkan  organisasi/perusahaan. Wesemann (2001) dalam Zwan (2006) menjelaskan bahwa keterlibatan mencakup kemampuan organisasi untuk membangun professional dan administrasi staf. Cho (2006) menyatakan bahwa staf yang memiliki perasaan  terlibat dalam organisasi, mereka akan merasa bagian di dalam organisasi dan  pendapat serta tindakan yang mereka lakukan akan terhubung langsung dengan  tujuan organisasi. Keterlibatan menciptakan partisipasi dan komitmen staf terhadap organisasi. Staf yang terlibat di dalam organisasi maka akan meningkat  kinerjanya (Denison (1990) dalam Zwan (2006)).

SKRIPSI HUBUNGAN BEBERAPA FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEJADIAN DIARE DENGAN DEHIDRASI DAN TANPA DEHIDRASI PADA BALITA YANG DATANG DI PUSKESMAS

SKRIPSI HUBUNGAN BEBERAPA FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEJADIAN DIARE DENGAN DEHIDRASI DAN TANPA DEHIDRASI PADA BALITA YANG DATANG DI PUSKESMAS

Saturday, May 28, 2016

(KODE : 0014-KEPERAWATAN) : SKRIPSI HUBUNGAN BEBERAPA FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEJADIAN DIARE DENGAN DEHIDRASI DAN TANPA DEHIDRASI PADA BALITA YANG DATANG DI PUSKESMAS


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Pustaka
1. Diare
a. Pengertian
Diare akut adalah buang air besar pada bayi atau anak lebih dari 3 kali perhari, disertai perubahan konsistensi tinja menjadi cair dengan atau tanpa lendir dan darah yang berlangsung kurang dari 2 minggu (Subagyo B dan Nurtjahjo BS, 2010).
Diare umumnya dibagi menjadi diare akut dan diare kronis, yang keduanya dapat disebabkan karena infeksi dan non infeksi (Subagyo B dan Nurtjahjo BS, 2010).

b. Insidensi
Diare masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Negara berkembang termasuk di Indonesia dan merupakan salah satu penyebab kematian dan kesakitan tertinggi pada anak, terutama usia dibawah 5 tahun. Di dunia terdapat 6 juta anak meninggal tiap tahunnya karena diare dan sebagian besar kejadian tersebut terjadi di negara berkembang. Dari 17% kematian anak di dunia disebabkan oleh diare, sedangkan di Indonesia, dari hasil Riskesdas 2007 didapatkan bahwa diare masih merupakan penyebab kematian bayi terbanyak untuk golongan 1 -4 tahun yaitu 25,2% dibanding pneumonia 15,5%. Dari survei kesehatan demografi Indonesia (1991 ) menyatakan bahwa satu dari sepuluh balita menderita diare dalam dua minggu terakhir, selain itu setiap tahun di Indonesia terjadi 150 kejadian luar biasa dengan jumlah kasus sekitar 20.000 orang dan angka kematian sekitar 2 %. Angka kesakitan diare diperkirakan antara 120 - 130 kejadian per 1000 penduduk, 60% kejadian tersebut terjadi pada Balita (Depkes, 1993)

c. Etiologi
Pada saat ini telah dapat diidentifikasi tidak kurang dari 25 jenis mikroorganisme yang dapat menyebabkan diare pada anak dan bayi. Penyebab infeksi utama timbulnya diare umumnya adalah golongan virus, bakteri dan parasit. Dua tipe dasar dari diare akut oleh karena infeksi non inflammatory dan inflammatory. Enteropatogen menimbulkan non inflammatory diare melalui produksi enterotoksin oleh bakteri, destruksi sel permukaan villi oleh virus, perlekatan oleh parasit, perlekatan oleh bakteri, sebaliknya inflammatory diare biasanya disebabkan oleh bakteri yang menginvasi usus secara langsung atau memproduksi sitotoksin (Subagyo B dan Nurtjahjo BS, 2010).
Beberapa mikroorganisme penyebab diare akut yang dapat menyebabkan diare pada manusia 

d. Faktor-faktor risiko
Cara penularan diare pada umumnya melalui cara fekal - oral yaitu: (Subagyo B dan Nurtjahjo BS, 2010). melalui makanan atau minuman yang tercemar oleh enteropatogen,
• kontak langsung tangan dengan penderita atau barang- barang yang telah tercemar tinja penderita
• tidak langsung melalui lalat Faktor risiko yang dapat meningkatkan penularan enteropatogen antara lain (Subagyo B dan Nurtjahjo BS, 2010).
• Tidak memberikan ASI secara penuh untuk 4 -6 bulan pertama kehidupan bayi.
• Tidak memadainya penyediaan air bersih, pencemaran air oleh tinja, kurangnya sarana kebersihan lingkungan (MCK) dan pribadi yang buruk.
• Penyiapan dan penyimpanan makanan yang tidak higienis dan cara penyapihan yang tidak baik.
1) Faktor umur
Sebagian besar episode diare terjadi pada 2 tahun pertama kehidupan, insiden tertinggi terjadi pada kelompok umur 6-11 bulan pada saat diberikan makanan pendamping ASI. Pola ini menggambarkan kombinasi efek penurunan kadar antibodi ibu, kurangnya kekebalan aktif bayi, pengenalan makanan yang mungkin terkontaminasi bakteri tinja dan kontak langsung dengan tinja manusia atau binatang pada saat bayi mulai merangkak (Subagyo B & Nurtjahjo BS, 2010).
2) Infeksi asimptomatik
Sebagian besar infeksi usus bersifat asimtomatik dan proporsi asimomatik ini meningkat setelah umur 2 tahun dikarenakan pembentukan imunitas aktif. Pada infeksi asimtomatik yang mungkin berlangsung beberapa hari atau minggu, tinja penderita mengandung virus, bakteri atau kista protozoa yang infeksius. Orang dengan infeksi asimtomatik berperan penting dalam penyebaran banyak enteropatogen terutama bila mereka tidak menyadari adanya infeksi, tidak menjaga kebersihan dan berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain ( Tjitra E,1994 )
3) Faktor musim
Di daerah tropik termasuk (Indonesia), diare yang disebabkan oleh rotavirus dapat terjadi sepanjang tahun dengan peningkatan sepanjang musim kemarau, sedangkan diare karena bakteri cenderung meningkat pada musim hujan (Subagyo B & Nurtjahjo BS, 2010)
4) Epidemi dan pandemik
Vibrio cholera 0.1 dan shigella dysentriae 1 dapat menyebabkan epidemik dan pandemik yang mengakibatkan tingginya angka kesakitan dan kematian pada semua golongan usia. Sejak tahun 1961, kolera yang disebabkan oleh Vibrio cholera 1.0 biotipe Eltor telah menyebar ke negara - negara di afrika, Amerika latin, Asia, Timur Tengah dan di beberapa daerah di Amerika Utara dan Eropa. Dalam kurun waktu yang sama Shigella dysentriae tipe 1 menjadi penyebab wabah yang besar di Amerika Tengah dan terakhir di Afrika Tengah dan Asia Selatan. Pada akhir tahun 1992, dikenal strain baru Vibrio Cholera 0139 yang menyebabkan epidemik di Asia dan lebih dari 11 negara mengalami wabah (Widayana IW, 2003) 5. Patofisiologi
Secara umum diare disebabkan oleh 2 hal, yaitu gangguan pada proses absorbsi atau sekresi. Kejadian diare secara umum terjadi dari satu atau beberapa mekanisme yang saling tumpah tindih . Diare dapat juga dikaitkan dengan gangguan motilitas, inflamasi, dan imunologi (Subagyo B & Nurtjahjo BS, 2010).
a. Gangguan absorbsi atau diare osmotik.
Secara umum terjadi penurunan fungsi absorbsi oleh berbagai sebab seperti celiac spure atau karena :
1) Mengkonsumsi magnesium klorida
2) Defisiensi enzim sukrase - isomaltase adanya defisiensi laktase defisien pada anak yang lebih besar.
Adanya bahan yang tidak diserap, menyebabkan bahan intraluminal pada usus halus bagian proksimal tersebut bersifat hipertonis dan menyebabkan hiperosmolaritas. Akibat perbedaan tekanan osmosis antara lumen usus halus dan darah maka pada segmen usus jejunum yang bersifat permeabel, air akan mengalir kearah lumen jejunum, sehingga air akan banyak terkumpul dalam lumen usus. Natrium (Na) akan mengikuti masuk ke dalam lumen, dengan demikian akan terkumpul cairan intraluminal yang besar dengan kadar Na yang normal. Sebagian kecil cairan ini akan diabsorbsi kembali, akan tetapi lainnya akan tetap tinggal di lumen oleh karena ada bahan yang tidak bisa diserap seperti magnesium, glukosa, sukrosa, laktosa, maltosa disegmen ileum dan melebihi kemampuan absorbsi kolon, sehingga terjadi diare. Bahan - bahan seperti karbohidrat dari jus buah, atau bahan yang mengandung sorbitol dalam jumlah berlebihan, akan memberikan dampak yang sama (Subagyo B & Nurtjahjo BS, 2010).
b. Malabsoprsi
Gambaran karakteristik penyakit yang menyebabkan malabsorbsi usus halus adalah atropi vili. Lebih lanjut mikroorganisme tertentu (bakteri tumbuh lampau, giardiasis, enter oadherent E.coli) menyebabkan malabsorbsi nutrisi dengan mengubah fisiologi membran brush border tanpa merusak susunan anatomi mukosa. Hal ini dapat terjadi pada keadaan: (Subagyo B & Nurtjahjo BS, 2010).
• Maldigesti protein lengkap, karbohidrat dan trigliserida diakibatkan insufisiensi eksokrin pankreas.
• Gangguan atau kegagalan ekskresi pankreas menyebabkan kegagalan pemecahan kompleks protein, karbohidrat, trigliserida,
• Pemberian obat pencahar; laktulosa, pemberian magnesium hydroxide (misalnya susu magnesium).
• Mendapat cairan hipertonis dalam jumlah besar dan cepat,
• Pemberian makan atau minum yang tinggi karbohirat, setelah mengalami diare menyebabkan kekambuhan diare.
c. Gangguan sekresi atau diare sekretorik
1) Hiperplasia cripta
Teoritis adanya hyperplasia kripta akibat penyakit apapun, dapat menyebabkan sekresi intestinal dan diare. Pada umumnya penyakit ini menyebabkan atropi vili (Bambang Subagyo & Nurtjahjo Budi Santoso, 2010)
2) Luminal secretagogeus
Dikenal 2 bahan yang menstimulasi sekresi lumen yaitu enterotoksin bakteri dan bahan kimia yang dapat menstimulasi seperti laksansia, garam empedu bentuk dihydroxy, serta asam lemak rantai panjang.
Toksin penyebab diare ini terutama bekerja dengan cara meningkatkan konsentrasi intrasel cAMP, cGMP atau Ca++ yang selanjutnya akan mengaktifkan protein kinase. Pengaktifan protein kinase akan menyebabkan fosforilasi membrane protein sehingga menyebabkan perubahan saluran ion, yang akan menyebabkan Cl di kripta keluar. Disisi lain terjadi peningkatan pompa natrium, dan natrium masuk kedalam lumen usus bersama Cl .
Bahan laksatif dapat menyebabkan efek bervariasi pada aktifitas NaK - ATPase. Beberapa diantaranya memacu peningkatan kadar cAMP intraseluler, meningkatkan permeabilitas intestinal dan sebagian menyebabkan kerusakan sel mukosa. Beberapa obat menyebabkan sekresi intestinal . Penyakit malabsorpsi seperti reseksi ileum dan penyakit Crohn dapat menyebabkan kelainan sekresi seperti menyebabkan peningkatan konsentrasi garam empedu, lemak ( Subagyo B & Nurtjahjo BS, 2010)
3) Blood - Borne Secretagogues.
Diare sekretorik pada anak - anak di negara berkembang, umumnya disebabkan enterotoksin E.coli atau cholera. Berbeda dengan negara berkembang, sedangkan di negara maju diare sekretorik jarang ditemukan, apabila ada, kemungkinan disebabkan obat atau tumor seperti ganglioneuroma atau neuroblastoma yang menghasilkan hormon seperti VIP. Pada orang dewasa, diare sekretorik berat disebabkan oleh neoplasma pankreas, sel non- beta yang menghasilkan VIP, polipeptida pankreas, hormon sekretorik lainnya: sindroma watery diarrhea hypokalemia achlorhydria (WDHA). Diare yang disebabkan tumor ini termasuk jarang. Semua kelainan mukosa usus, berakibat sekresi air dan mineral berlebihan pada villus dan kripta, sehingga semua enterosit terlibat dan dapat terjadi pada mukosa usus yang normal ( Subagyo B & Nurtjahjo BS, 2010).
4) Diare akibat gangguan peristatik
Baik peningkatan ataupun penurunan motilitas, keduanya dapat menyebabkan diare. Penurunan motilitas dapat mengakibatkan bakteri tumbuh banyak yang menyebabkan diare. Kegagalan motilitas usus yang berat menyebabkan stasis intestinal berakibat inflamasi, dekonjugasi garam empedu dan malabsorbsi. Diare akibat hiperperistaltik pada anak jarang terjadi. Watery diare dapat disebabkan karena hipermotilitas pada kasus kolon irritable pada bayi. Gangguan motilitas mungkin merupakan penyebab diare pada thyrotoksikosis, malabsorbsi asam empedu dan berbagai penyakit lain ( Subagyo B & Nurtjahjo BS, 2010).
5) Diare inflamasi
Proses inflamasi di usus halus dan kolon menyebabkan diare pada beberapa keadaan. Akibat kehilangan sel epitel dan kerusakan tight junction, tekanan hidrostatik dalam pembuluh darah dan lymphatic menyebabkan air, elektrolit, mukus, protein dan sering kali sel darah merah dan sel darah putih menumpuk dalam lumen. Biasanya diare akibat inflamasi ini berhubungan dengan tipe diare lain seperti diare osmotik dan diare sekretorik.
Bakteri patogen akan mempengaruhi struktur dan fungsi tight junction, menginduksi sekresi cairan dan elektrolit, dan akan mengaktifkan kaskade inflamasi. Efek infeksi bakterial pada tight junction akan mempengaruhi susunan anatomis dan fungsi absorbsi yaitu cytoskeleton dan perubahan susunan protein. Sebagai contoh, C. difficile akan menginduksi kerusakan cytoskeleton maupun protein, Bacteroides fragilis menyebabkan degradasi proteolitik protein tight junction, V. cholera mempengaruhi distribusi protein tight junction, sedangkan EPEC menyebabkan akumulasi protein cytoskeleton (Subagyo B & Nurtjahjo BS, 2010).

SKRIPSI HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN IBU DAN DUKUNGAN SUAMI TERHADAP PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF

SKRIPSI HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN IBU DAN DUKUNGAN SUAMI TERHADAP PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF

Saturday, May 28, 2016

(KODE : 0013-KEPERAWATAN) : SKRIPSI HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN IBU DAN DUKUNGAN SUAMI TERHADAP PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF


BAB II 
TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Pustaka
1. Anatomi dan Histologi Payudara
Payudara terletak di fascia superficialis yang meliputi dinding anterior thorak. Pada perempuan setelah pubertas payudara membesar dan dianggap berbentuk seperti setengah bulat. Pada wanita dewasa muda payudara terletak diatas costa II sampai VI dan terbentang dari pinggir lateral sternum sampai linea axillaris media. Pinggir lateral atas payudara meluas sampai sekitar pinggir bawah Payudara tersusun atas beberapa bagian yaitu :
Pada bagian luar terdapat papilla mammae (puting susu) berbentuk kerucut dan mungkin warnanya merah muda, coklat muda atau coklat tua. Bagian paling luar papilla ini ditutupi epitel berlapis gepeng dengan lapisan tanduk yang berhubungan langsung dengan kulit di dekatnya (Junqueira, 2007). Daerah berwarna gelap yang mengelilingi puting susu disebut areola. Pada areola terdapat kelenjar-kelenjar kecil yang disebut kelenjar montagomery, menghasilkan cairan berminyak untuk menjaga kesehatan kulit disekitar areola (Roesli, 2000).
Payudara tersusun atas lobulus-lobulus dimana setiap lobulus terdiri dari sekelompok alveoli berbentuk kantong, tersusun atas epitel yang aktif mensekresikan  ASI selama menyusui. ASI yang dihasilkan akan dialirkan melalui sistem duktus laktiferus menuju sinus laktiferus. Sinus laktiferus merupakan saluran ASI melebar dan membentuk kantung disekitar areola yang berfungsi untuk menyimpan ASI (Sherwood, 2001).
Jaringan lemak di sekitar alveoli dan duktus laktiferus menentukan besar kecilnya ukuran payudara. Payudara besar atau kecil memiliki alveoli dan sinus laktiferus yang sama, sehingga dapat menghasilkan ASI sama banyak. Disekeliling alveoli juga terdapat jaringan otot polos yang akan berkontraksi dan memeras keluar ASI. Keberadaan hormon oksitosin menyebabkan otot polos tersebut berkontraksi (Soetjiningsih, 1997).

2. Fisiologi Menyusui
a. Air susu ibu dan hormon prolaktin
Setiap kali bayi menghisap payudara akan merangsang ujung saraf sensorik di sekitar payudara sehingga merangsang kelenjar hipofisis anterior untuk menghasilkan hormon prolaktin. Hormon prolaktin akan menyebabkan sel sekretorik di alveoli menghasilkan ASI (Sherwood, 2001).
Dari gambar di atas setelah hormon prolaktin dihasilkan, hormon tersebut berada di peredaran darah selama 30 menit setelah penghisapan puting. Hormon prolaktin dapat merangsang payudara menghasikan ASI untuk minum berikutnya. Sedangkan untuk minum yang sekarang, bayi mengambil ASI yang sudah ada (IDAI, 2008).
Makin banyak ASI yang dikeluarkan dari sinus laktiferus, makin banyak produksi ASI. Makin sering bayi menyusu makin banyak ASI yang diproduksi. Sebaliknya makin jarang bayi menyusu, makin sedikit payudara menghasilkan ASI. Jika bayi berhenti menghisap maka payudara akan berhenti menghasikan ASI. Prolaktin umumnya dihasilkan pada malam hari, sehingga menyusui pada malam hari dapat mempertahankan produksi ASI. Hormon prolaktin juga akan menekan ovulasi, sehingga menyusui secara eksklusif akan memperlambat kembalinya fungsi kesuburan dan menstruasi. Oleh karena itu menyusui pada malam hari penting untuk menunda kehamilan (Soetjiningsih, 1997)
b. Air susu ibu dan hormon oksitosin
Hormon oksitosin diproduksi oleh bagian posterior kelenjar hipofisis. Hormon tersebut dihasilkan bila ujung saraf sensorik di sekitar payudara dirangsang oleh isapan bayi. Oksitosin akan merangsang kontraksi otot di sekeliling alveoli dan memeras ASI keluar dari alveoli ke sinus laktiferus yang dapat dikeluarkan oleh bayi dan atau ibunya (Sherwood, 2001).
Oksitosin dibentuk lebih cepat dibandingkan prolaktin. Keadaan ini menyebabkan ASI di payudara akan mengalir untuk dihisap. Oksitosin sudah mulai bekerja saat ibu berkeinginan untuk menyusui (sebelum bayi menghisap). Jika reflek oksitosin tidak bekerja dengan baik, maka bayi mengalami kesulitan untuk mendapatkan ASI, padahal payudara tetap menghasilkan ASI namun tidak mengalir keluar (IDAI, 2008). Efek penting oksitosin lainnya adalah menyebabkan uterus berkontraksi setelah melahirkan. Hal ini membantu mengurangi perdarahan, walapun kadang mengakibatkan nyeri. Nyeri diakibatkan karena adanya kontraksi uterus yang berfungsi membantu involusi uterus (Cunningham, 2002).
Keadaan yang dapat meningkatkan hormon oksitosin yaitu perasaan dan curahan kasih sayang kepada bayi, celotehan atau tangisan bayi, dukungan ayah dalam pengasuhan bayi seperti menggendong bayi ke ibu saat akan disusui atau disendawakan, mengganti popok dan memandikan bayi, suami juga dapat membantu pekerjaan rumah tangga (Roesli, 2000).
Beberapa keadaan yang dapat mengurangi produksi hormon oksitosin yaitu rasa cemas terhadap perubahan bentuk payudara dan bentuk tubuh, meninggalkan bayi karena harus bekerja, ASI tidak mencukupi kebutuhan bayi, rasa cemas, sedih, marah, kesal, atau bingung, dan rasa sakit terutama saat menyusui (Depkes RI 2007).
Tanda dan sensasi reflek oksitosin aktif antara lain sensasi diperah di dalam payudara sesaat sebelum menyusui atau pada waktu proses menyusui berlangsung, ASI mengalir dari payudara bila ibu memikirkan bayinya, atau mendengar bayinya menangis, ASI menetes dari payudara sebelah bila bayi menyusu pada payudara yang lainnya, ASI memancar halus ketika bayi melepas payudara pada waktu menyusui, Adanya nyeri yang berasal dari kontraksi rahim, kadang diiringi keluarnya darah dari vagina selama menyusui di minggu pertama, Hisapan yang lambat, dalam dan tegukan bayi menunjukan bahwa ASI mengalir ke dalam mulut bayi (Kristiyanasari, 2009).

3. Air Susu Ibu (ASI) 
a. Pengertian
ASI manusia adalah suatu suspensi lemak dan protein dalam suatu larutan karbohidrat-mineral. Seorang ibu yang menyusui dapat dengan mudah memproduksi 600 ml ASI perhari (Cunningham, 2002).
b. Komposisi ASI
Air susu ibu (ASI) mengandung makronutrien yaitu karbohidrat, protein dan lemak dan mikronutrien adalah vitamin dan mineral. Air susu ibu hampir 90% terdiri dari air. Volume dan komposisi nutrient ASI berbeda untuk setiap ibu bergantung dari kebutuhan bayi. Perbedaan volume dan komposisi diatas juga terlihat pada masa menyusui (kolostrum, ASI transisi, ASI matang, dan ASI pada penyapihan) (IDAI, 2008).
1) Komposisi ASI menurut stadium laktasi adalah :
i. Kolostrum
Kolostrum adalah ASI khusus berwarna kekuningan, agak kental dan diproduksi dalam beberapa hari setelah persalinan. Sekresi kolostrum berlangsung selama kurang lebih 5 hari, dan mengalami perubahan menjadi ASI matur 4 minggu setelahnya (Cunningham, 2002). Dibandingkan dengan ASI matur, kolostrum mengandung lebih banyak mineral dan protein yang sebagian besar terdiri dari globulin, tetapi lebih sedikit mengandung gula dan lemak. Antibodi yang terdapat pada kolostrum, dan kandungan immunoglobulin A-nya dapat memberikan perlindungan pada bayi baru lahir untuk melawan pathogen enterik, kolostrum juga memudahkan perjalanan kotoran pertama bayi yang disebut mekonium. Kolostrum membantu proses maturasi saluran cerna sehingga dapat mencegah alergi dan intoleransi makanan. Total energi kolostrum 58 Kal/100 ml kolostrum. Volume kolostrum sekitar 150-300 ml/24 jam (Soetjiningsih, 1997).
ii. ASI transisi
ASI transisi merupakan ASI peralihan dari kolostrum menjadi ASI matur. ASI transisi ini disekresi dari hari ke-4 sampai hari ke-10 dari masa laktasi, Kadar protein dalam ASI transisi semakin rendah sedangkan kadar karbohidrat dan lemak semakin tinggi. Volume ASI transisi akan semakin meningkat (Kristiyanasari, 2009). 
iii. ASI matur
ASI matur merupakan ASI yang disekresi pada hari ke-10 dan seterusnya dimana komposisinya relatif konstan. Pada ibu yang sehat dimana produksi ASI cukup, ASI ini merupakan makanan satu-satunya yang paling baik dan cukup untuk bayi sampai umur 6 bulan. ASI matur merupakan suatu cairan berwarna putih kekuningan yang diakibatkan warna dari garam Ca-caseinat, riboflavin, dan karoten yang terdapat di dalamnya. ASI matur ini tidak akan menggumpal jika dipanaskan dan terdapat beberapa antimikrobial, antara lain: antibodi terhadap bakteri dan virus, sel (fagosit granulosit, makrofag dan limfosit T), enzim, protein (laktoferin, B12 binding protein), faktor resisten terhadap stafilokokus, komplemen, interferron producting cell, dan hormon-hormon (Soetjiningsih, 1997).
c. Komposisi ASI secara Umum :
i. Karbohidrat
Laktosa adalah karbohidrat utama dalam ASI dan berfungsi sebagai salah satu sumber energi bagi otak. Kadar laktosa dalam ASI dua kali lipat dibandingkan dengan kadar laktosa dalam susu formula. Penyerapan laktosa ASI lebih baik dibandingkan laktosa susu formula atau susu sapi sehingga angka kejadian diare intoleransi laktosa pada pemberian ASI lebih sedikit (IDAI, 2008).
ii. Protein
Protein dalam ASI lebih banyak terdiri dari protein whey yang lebih mudah diserap oleh usus bayi, sedangkan susu sapi lebih banyak mengandung protein casein yang lebih sulit dicerna oleh usus bayi. Disamping itu, beta laktoglobulin yaitu fraksi dari protein whey yang banyak terdapat di protein susu sapi dan dapat menyebabkan alergi tidak terdapat dalam ASI. Kualitas protein ASI lebih baik dibanding susu sapi. ASI mempunyai jenis asam amino lebih lengkap dibandingkan susu sapi. Salah satu contohnya adalah taurin. Taurin diperkirakan mempunyai peranan pada perkembangan otak karena protein ini ditemukan dalam jumlah cukup tinggi pada jaringan otak yang sedang berkembang. Kadar taurin dalam susu formula hanya sedikit dibandingkan susu sapi. Jumlah dan kualitas nukleutida ASI lebih banyak dan lebih bagus dibanding susu sapi. Nukleutida ini memiliki peranan dalam meningkatkan pertumbuhan dan kematangan usus, merangsang pertumbuhan bakteri baik dalam usus dan meningkatkan penyerapan besi dan daya tahan tubuh (Soetjiningsih, 1997).
iii. Lemak
Kadar lemak dalam ASI lebih tinggi dibandingkan dengan susu sapi dan susu formula. Kadar lemak yang tinggi ini dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan otak yang cepat selama masa bayi. Lemak omega 3 dan omega 6 yang berperan dalam perkembangan otak bayi banyak ditemukan dalam ASI. Disamping itu ASI juga banyak mengadung asam lemak rantai panjang diantaranya asam dokosaheksanoik (DHA) dan asam arakidonat (ARA) yang berperan terhadap perkembangan jaringan saraf dan mata. Susu sapi tidak mengandung DHA dan ARA oleh karena itu hampir semua susu formula ditambahkan DHA dan ARA, tetapi DHA dan ARA yang ditambahkan ke dalam susu formula tidak sebaik yang terdapat dalam ASI (IDAI, 2008).
iv. Vitamin
Semua vitamin terkandung dalam ASI manusia, tetapi dalam jumlah bervariasi, dan pemberian makanan pada ibu akan meningkatkan sekresinya (Cunningham,
2002).
v. Mineral
Kadar mineral dalam ASI tidak begitu dipengaruhi oleh makanan yang dikonsumsi ibu dan tidak pula dipengaruhi status gizi ibu. Mineral di dalam ASI memiliki kualitas lebih baik dan lebih mudah diserap dibandingkan dengan mineral dalam susu sapi. Mineral utama yang terdapat dalam ASI adalah kalsium yang berfungsi untuk pertumbuhan jaringan otot dan tulang, transmisi jaringan saraf dan faktor pembekuan darah. Kandungan zat besi baik dalam ASI maupun susu formula keduanya rendah serta bervariasi, namun zat besi dalam ASI lebih mudah diserap. Kandungan mineral zink ASI jauh lebih rendah dari susu formula, tetapi tingkat penyerapannya lebih baik. Penyerapan zink dalam ASI, susu sapi, dan susu formula berturut-turut 60%, 43-50%,, dan 27-32%. Mineral dalam ASI yang kadarnya lebih tinggi dibanding susu formula adalah selenium, yang sangat dibutuhkan pada saat pertumbuhan anak cepat (Soetjiningsih, 1997).

4. Keunggulan ASI dan Manfaat Menyusui
Keunggulan dan manfaat menyusui dapat dilihat dari beberapa aspek yaitu: aspek gizi, aspek imunologik, aspek psikologi, aspek kecerdasan, neurologis, ekonomis dan aspek penundaan kehamilan (Kristiyanasari, 2009).
a. Manfaat ASI Bagi Bayi.
i. Manfaat Kolostrum
Beberapa manfaat kolostrum untuk bayi diantaranya kolostrum mengandung zat kekebalan terutama IgA untuk melindungi bayi dari berbagai penyakit infeksi terutama diare, mengandung protein, vitamin A yang tinggi dan mengandung karbohidrat dan lemak rendah, sehingga sesuai dengan kebutuhan gizi bayi pada hari-hari pertama kelahiran. Membantu mengeluarkan mekonium yaitu kotoran bayi yang pertama berwarna hitam kehijauan, jumlah kolostrum yang bervariasi walaupun sedikit namun cukup untuk memenuhi gizi bayi (Soetjiningsih, 1997).
ii. Aspek Psikologik
Saat proses menyusui terjadi kontak langsung antara ibu dan bayi sehingga timbul ikatan kasih sayang antara ibu dan bayi. Bayi akan merasa aman dan puas karena bayi merasakan kehangatan tubuh ibu dan mendengar denyut jantung ibu yang sudah dikenal sejak masih dalam rahim. Adanya interaksi tersebut penting untuk pertumbuhan dan perkembangan psikologik bayi (Kristiyanasari, 2009).
iii. Aspek Kecerdasan
Interaksi ibu-bayi dan kandungan gizi ASI sangat dibutuhkan untuk perkembangan sistem syaraf otak yang dapat meningkatkan kecerdasan bayi. Penelitian menunjukkan bahwa IQ pada bayi yang diberi ASI secara eksklusif memiliki IQ point 4.3 point lebih tinggi pada usia 18 bulan, 4-6 point lebih tinggi pada usia 3 tahun, dan 8.3 point lebih tinggi pada usia 8.5 tahun, dibandingkan dengan bayi yang tidak diberi ASI (IDAI, 2008).
b. Manfaat ASI Bagi Ibu
i. Aspek kontrasepsi
Dengan menyusui secara eksklusif dapat menunda haid dan kehamilan. Penghisapan puting payudara akan menghambat sekresi LH dan FSH. Dengan demikian menyusui mencegah ovulasi dan berfungsi sebagai cara mencegah kehamilan walaupun tidak 100% efektif sebagai alat kontrasepsi (Sherwood, 2001).
ii. Aspek Kesehatan Ibu
Isapan bayi pada puting ibu merangsang keluarnya hormon oksitosin yang membantu involusi uterus dan mencegah perdarahan pasca persalinan. Penundaan haid dan pencegahan perdarahan pasca persalinan dapat mengurangai kejadian anemia defisiensi besi. Penelitian membuktikan menyusui bayi secara eksklusif dapat menurunkan angka kejadian kanker payudara dan ovarium sebanyak 25 % (Cunningham, 2002).
iii. Aspek Penurunan Berat Badan
Ibu yang menyusui bayinya secara eksklusif ternyata dapat lebih mudah dan cepat kembali ke berat badan semula seperti sebelum hamil (Roesli, 2000).
c. Manfaat ASI Bagi Keluarga.
Memberikan ASI secara eksklusif dapat menghemat pengeluaran dana keluarga karena keluarga tidak memerlukan dana tambahan untuk membeli susu formula selain itu menyusui sangat praktis. Karena dapat diberikan kapan saja dan dimana saja keluarga tidak perlu menyiapkan air masak, botol, dan dot yang harus dibersihkan terlebih dulu (Kristiyanasari, 2009).
d. Manfaat ASI Bagi Negara.
Adanya faktor protektif dan zat nutrisi yang sesuai dalam ASI menjamin status gizi bayi baik dan dapat menghindari bayi dan anak dari penyakit infeksi misalnya diare, otitis media, dan infeksi saluran pernafasan akut bagian bawah sehingga akan menurunkan angka kesakitan dan kematian bayi selain itu dapat pula menghemat subsidi rumah sakit dan menghemat devisa Negara karena anak yang mendapatkan ASI lebih jarang dirawat di rumah sakit dari pada bayi yang di beri susu formula. Jika semua ibu menyusui diperkirakan dapat menghemat devisa Negara yang seharusnya digunakan untuk membeli susu (Kristiyanasari, 2009).

5. ASI Eksklusif
a. Pengertian
Pemberian ASI eksklusif adalah hanya memberikan air susu ibu saja tanpa makanan atau minuman lain sejak lahir hinga bayi berusia enam bulan (MENEGAP, 2007) Menurut organisasi kesehatan dunia (WHO) dan UNICEF merekomendasikan menyusui eksklusif sejak lahir selama enam bulan pertama hidup anak, dan tetap disusui bersama pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI) yang cukup sampai berusia dua tahun atau lebih.

SKRIPSI HUBUNGAN ANTARA PELAYANAN POSYANDU DENGAN KUNJUNGAN IBU YANG MEMPUNYAI BALITA KE POSYANDU

SKRIPSI HUBUNGAN ANTARA PELAYANAN POSYANDU DENGAN KUNJUNGAN IBU YANG MEMPUNYAI BALITA KE POSYANDU

Saturday, May 28, 2016

(KODE : 0012-KEPERAWATAN) : SKRIPSI HUBUNGAN ANTARA PELAYANAN POSYANDU DENGAN KUNJUNGAN IBU YANG MEMPUNYAI BALITA KE POSYANDU


BAB II 
TINJAUAN PUSTAKA

A. Posyandu
1. Definisi Posyandu
Posyandu merupakan perpanjangan tangan puskesmas yang memberikan pelayana dan pemantauan kesehatan yang di laksanakan secara terpadu yang di lakukan oleh dan untuk masyarakat. Posyandu sebagai wadah peran serta masyarakat, yang menyelenggarakan sistem pelayanan pemenuhan kebutuhan dasar, peningkatan kualitas manusia.(UGM, 2007).
Posyandu adalah suatu forum komunikasi, ahli teknologi dan pelayanan kesehatan masyarakat oleh dan untuk masyarakat yang mempunyai nilai strategis dalam mengembangkan sumberdaya manusia sejakdini. (Effendy, 1998).
2. Tujuan Posyandu
Tujuan pokok dari pos pelayanan terpadu adalah :
a. Untuk mempercepat penurunan angka kematian ibu dan anak
b. Untuk meningkatkan pelayanan kesehatan ibu untuk menurunkan IMR (Infant Mortiliy Rate)
c. Untuk mempercepat penerimaan NKKBS
d. Untuk meningkatkan kemampuan masyarakat untuk mengembangkan kegiatan kesehatan dan kegiatan-kegiatan lain yang menunjang peningkatan kemampuan hidup sehat
e. Untuk pendekatan dan pemerataan pelayanan kesehatan kepada masyarakat dalam usaha meningkatkan cakupan pelayanan kesehatan kepada penduduk berdasarkan letak geografi
f. Untuk meningkatkan dan pembinaan peran serta masyarakat dalam rangka alih teknologi untuk swakelola usaha-usaha kesehatan masyarakat.
3. Sasaran Posyandu
a. Bayi berusia kurang dari 1 tahun
b. Anak balita usia 1-5 tahun
c. Ibu hamil, ibu menyusui, dan ibu nifas
d. Pasangan usia subur
4. Kegiatan Posyandu
a. Panca Krida Posyandu
Lima kegiatan Posyandu, yaitu: Kesehatan Ibu dan Anak, Keluarga Berencana, Imunisasi, Peningkatan gizi dan Penanggulangan gizi.
b. Sapta Krida Posyandu
Tujuh kegiatan Posyandu, yaitu: Kesehatan ibu dan anak, Keluarga Berencana, Imunisasi, Peningkatan gizi, Penanggulangan gizi, Sanitasi dasar, dan Penyediaan obat esensial.
5. Sistem Posyandu
Sistem 5 (lima) meja :
a. Meja 1 (satu) :
1) Pendaftaran
2) Pencatatan bayi, balita, ibu hamil, ibu menyusui, dan pasangan usia subur.
b. Meja 2 (dua) Penimbangan balita, ibu hamil
c. Meja 3 (tiga) Pengisian KMS
d. Meja 4 (empat)
1) Diketahui berat badan anak yang naik atau tidak naik, ibu hamil dengan resiko tinggi, pasangan usia subur yang belum mengikuti KB
2) Penyuluhan kesehatan
3) Pelayanan TMT, oralit, Vitamin A, tablet zat besi, pil unggulan dan kondom
e. Meja 5 (lima)
1) Pemberian imunisasi
2) Pemeriksaan kehamilan
3) Pemeriksaan kesehatan dan pengobatan
4) Pelayanan kontrasepsi, IUD, dan suntikan.
6. Persyaratan Posyandu
a. Penduduk RW tersebut paling sedikit terdapat 100 orang balita.
b. Terdiri dari 120 kepala keluarga.
c. Disesuaikan dengan kemampuan petugas (bidan desa).
d. Jarak antara kelompok rumah, jumlah KK dalam 1 (satu) tempat atau kelompok tidak terlalu jauh.
7. Lokasi Posyandu
a. Berada ditempat yang mudah didatangi oleh masyarakat
b. Ditentukan oleh masyarakat itu sendiri
c. Dapat merupakan lokasi sendiri
d. Bila tidak memungkinkan dapat dilaksanakan dirumah penduduk, balai desa, pos RT / RW atau pos lainnya
8. Sarana dasar
Timbangan bayi, timbangan dewasa, kartu KMS, obat - obat berupa Vitamin A, tablet dan sirup Fe, kapsul iodium, obat cacing, oralit, ATK.
9. Sumber Dana
Pembiayaan Posyandu berasal dari berbagai sumber, antara lain :
a. Iuran pengguna / pengunjung Posyandu
b. Iuran masyarakat umum dalam bentuk dana sehat
c. Sumbangan / donatur dari perorangan atau kelompok masyarakat
d. Bantuan dari pemerintah terutama pada awal pembembentukan yakni berupa dana stimulan atau bantuan lainnya dalam bentuk sarana dan prasarana Posyandu.
Pengelolaan dana dilakukan oleh pengurus Posyandu. Dana harus disimpan ditempat yang aman dan jika mungkin mendatangkan hasil. Untuk keperluan biaya rutin disediakan kas kecil yang dipegang oleh kader yang ditunjuk. Setiap pemasukan dan pengeluaran harus dicatat dan dikelola secara bertanggung jawab.

B. Pelayanan Posyandu
Pelayanan posyandu meliputi kesehatan ibu dan anak, keluarga berencana, pemberantasan penyakit menular dengan imunisasi, penaggulangan diare dan gizi yang di lakukan dengan penimbangan balita. (http://irc-kmpk.ugm.ac.id, diakses tanggal 24 maret 2008) 
1. Jenis pelayanan yang minimal perlu diberikan kepada anak (balita dan baduta)
a. Penimbangan untuk memantau pertumbuhan anak, perhatian harus diberikan secara khusus terhadap anak yang selama 3 kali penimbangan pertumbuhannya tidak cukup naik sesuai umurnya (lebih rendah dari 200 gram/bulan) dan anak yang pertumbuhannya berada dibawah garis merah KMS.
b. Pemberian makanan pendamping ASI dan Vitamin A 2 (dua) kali setahun.
c. Pemberian PMT untuk anak yang tidak cukup pertumbuhannya (kurang dari 200 gram/bulan) dan anak yang berat badannya berada dibawah garis merah KMS.
d. Memantau atau melakukan pelayanan imunisasi dan tanda – tanda lumpuh layuh.
e. Memantau kejadian ISPA dan Diare, serta melakukan rujukan bila diperlukan.
2. Pelayanan Ibu hamil dan Ibu menyusui
Bagi ibu hamil dan menyusui, pelayanan diberikan oleh tenaga kesehatan baik oleh Bidan Desa maupun tenaga kesehatan dari Puskesmas di meja V (lima) saat Posyandu buka, berupa :
a. Ibu hamil : pemeriksaan kehamilan, pemberian makanan tambahan bagi ibu hamil yang mengalami KEK, pemberian tablet tambah darah, dan penyuluhan gizi dan kesehatan reproduksi.
b. Ibu menyusui : Pemberian Vitamin A, pemberian makanan tambahan, pelayanan nifas dan pemberian tablet tambah darah, penyuluhan tentang pemenuhan gizi selama menyusui, pemberian ASI eksklusif, perawatan nifas dan perawatan bayi baru lahir, dan pelayanan KB.
3. Pelayanan dengan kunjungan rumah
Kunjungan rumah dilakukan oleh kader dan bila perlu didampingi oleh pendamping dari tenaga kesehatan atau tokoh masyarakat maupun unsur LSM sebelum dan sesudah hari buka Posyandu.
Kegiatan yang dilakukan dalam kunjungan rumah meliputi :
a. Menyampaikan undangan kepada kelompok sasaran agar berkunjung ke Posyandu saat hari buka
b. Mengadakan pemutahiran data bayi, balita, ibu hamil, ibu menyusui dan pemetaan keluarga mi skin
c. Intensifikasi penyuluhan gizi dan kesehatan dasar
d. Melakukan tindak lanjut temuan pada hari buka Posyandu dengan pemberian PMT
e. Pemantauan status imunisasi dan lumpuh layuh
f. Dengan dukungan tenaga kesehatan dan tokoh masyarakat melakukan kampanye pemeriksaan kehamilan dan pertolongan persalinan oleh bidan atau tenaga kesehatan dari Puskesmas dan dapat membentuk kegiatan kelompok peminat kesehatan ibu dan anak.

C. Kunjungan Ibu-ibu ke Posyandu
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia kunjungan merupakan aktivitas seseorang dalam perihal mendatangi suatu objek tertentu. Begitu juga dengan ibu-ibu yang rajin mengunjungi posyandu dengan membawa balitanya. Dari segi pelaksanaan pelayanan posyandu dapat berjalan dengan baik apabila jumlah kunjungan yang tinggi. Fungsi posyandu bagi masyarakat desa sangat berarti, hal ini dapat di lihat dari jumlah kunjungan posyandu di desa lebih tinggi di bandingkan jumlah kunjungan posyandu di kota. Pemanfaatan kelengkapan pelayanan mempengaruhi kunjungan di posyandu. Kunjungan posyandu di desa lebih tinggi di bandingkan posyandu di kota.

D. Balita
Periode penting dalam tumbuh kembang anak adalah balita.karena pada masa ini pertumbuhan dasar yang akan mempengaruhi dan menentukan perkembangaan anak selanjutnya.pada masa balita ini perkembangan kemampuan berbahasa, kreativitas, kesadaran sosial, emosional dan intelegensia berjalan sangat cepat dan merupakan landasan perkembangan berikutnya.
Perkembangan moral serta dasar dasar kepribadian juga di bentuk pada masa ini.dalam perkembangan anak terdapat masa kritis, dimana di perlukan rangsangan atau stimulasi yang berguna agar potensi berkembang, sehingga perlu mendapat perhatian. Perkembangan psikososial sangat di pengaruhi lingkungan dan interaksi antara anak dan orang tua nya atau orang dewasa lain nya.. perkembangan anak akan optimal bila interaksi social di di usahakan sesuai dengan kebutuhan anak pada berbagai tahap perkembangan nya, bahkan sejak bayi masih dalam kandungan. 
 SKRIPSI FAKTOR - FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PENYAKIT REMATIK PADA LANSIA

SKRIPSI FAKTOR - FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PENYAKIT REMATIK PADA LANSIA

Monday, January 18, 2016
(0011-KEPERAWATAN) SKRIPSI FAKTOR - FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PENYAKIT REMATIK PADA LANSIA

BAB II 
TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Terkait
1. Definisi Menua
Penuaan adalah konsekuensi yang tidak dapat dihindarkan. Menua (menjadi tua) adalah suatu proses menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri/mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan yang diderita (Constantinides, 1994 dalam Maryam, R. Siti dkk, 2008). Seiring dengan proses menua tersebut, tubuh akan mengalami berbagai masalah kesehatan yang biasa disebut sebagai penyakit degenerative.
Penuaan adalah suatu proses alami yang tidak dapat dihindari, berjalan terus menerus, dan berkesinambungan. Selanjutnya akan menyebabkan perubuhan anatomis, fisiologis dan biokimia pada tubuh sehingga akan mempengaruhi fungsi dan kemampuan tubuh secara keseluruhan. (Maryam, R. Siti dkk, 2008)
Menua bukanlah suatu penyakit, tetapi merupakan proses berkurangnya daya tahan tubuh dalam menghadapi rangsangan dari dalam maupun dari luar tubuh. Sebenarnya tidak ada batas yang tegas, pada usia berapa penampilan seseorang mulai menurun. Pada setiap orang, fungsi fisiologis alat tubuhnya sangat berbeda, baik dalam hal pencapaian puncak maupun saat menurunnya. (Nugroho, W. 2000)
a. Batasan Lanjut Usia
1) Batasan umur lansia menurut organisasi kesehatan dunia (WHO) Lanjut usia meliputi:
a) Usia pertengahan (middle age), ialah kelompok usia 45 sampai 59 tahun.
b) Lanjut usia (elderly) = antara 60 sampai 74 tahun
c) Lanjut usia tua (old) = antara 75 sampai 90 tahun
d) Usia sangat tua (very old) = diatas 90 tahun
2) Menurut Dra. Ny. Jos Masdani (psikolog UI)
Lanut usia merupakan kelanjutan dari usia dewasa. Kedewasaan dapat dibagi menjadi empat bagian :
a) Fase iuventus, antara 25 sampai 40 tahun
b) Fase vertilitas, antara 40 sampai 50 tahun
c) Fase prasenium, antara 55 sampai 64 tahun
d) Fase senium, 65 tahun hingga tutup usia
3) Menurut UU No. 4 tahun 1965 pasal 1 dinyatakan sebagai
berikut : "Seorang dapat dinyatakan sebagai seorang jompo atau lanjut usia setelah yang bersangkutan mencapai umur 55 tahun, tidak mempunyai atau tidak berdaya mencari nafkah sendiri untuk keperluan hidupnya sehari-hari dan menerima nafkah dari orang lain. (Nugroho, 2000) b. Teori-Teori Proses Menua
Beberapa teori teori proses menua (Maryam, R. Siti dkk, 2008) :
1) Teori biologi
Teori biologi mencangkup teori genetic dan mutasi, immunology, teori stress, teori radikal bebas, dan teori rantai silang.
a) Teori genetic dan mutasi
Menurut teori genetic dan mutasi, menua terprogram secara genetic untuk spesies-spesies tertentu. Menua terjadi sebagai akibat dari perubahan biokimia yang diprogram oleh molekul DNA dan setiap sel pada saatnya akan mengalami mutasi sebagai contoh yang khas adalah mutasi dari sel-sel kelamin (terjadi penurunan kemampuan fungsi sel).
Terjadi pengumpulan pigmen atau lemak dalam tubuh yang disebut teori akumulasi dari produk sisa, sebagai contoh adalah adanya figmen lipofusin di sel otot jantung dan sel-sel susunan saraf pusat pada lansia yang mengakibatkan terganggunya fungsi sel itu sendiri. Pada teori biologi dikenal dengan istilah pemakaian dan perusakan (wear and tear) yang terjadi karena kelebihan usaha dan stress yang menyebabkan sel-sel tubuh menjadi lelah (pemakaian). Pada teori ini juga didapatkan terjadinya peningkatan jumlah kolagen dalam tubuh lansia, tidak ada perlindungan terhadap radiasi, penyakit.
b) Teori Imunologis (Lueckenotte, 1995)
Beberapa teori menyatakan bahwa penurunan atau perubahan dalam keefektifan sistem imun berperan dalam penuaan. Mekanisme seluler tidak teratur diperkirakan menyebabkan serangan pada jaringan tubuh melalui imunodefisiensi atau penurunan imun. Tubuh akan kehilangan kemampuan untuk membedakan proteinnya sendiri dengan protein asing, sistem imun menyerang dan menghancurkan jaringannya sendiri pada kecepatan yang meningkat secara bertahap. Dengan bertambahnya usia, kemampuan sistem imun untuk menghancurkan bakteri, virus dan jamur melemah. Bahkan sistem ini mungkin tidak memulai serangannya sehingga sel mutasi terbentuk beberapa kali. Semakin bertambahnya usia, fungsi sistem imun kehilangan keefektifan, imunodefisiensi berhubungan dengan penurunan fungsi
c) Teori stress
Teori stress mengungkapkan menua terjadi akibat hilangnya sel-sel yang biasa digunakan oleh tubuh. Regenerasi jaringan tidak dapat mempertahankan kestabilan lingkungan internal, kelebihan usaha, dan stress yang menyebabkan sel-sel tubuh lelah terpakai.
d) Teori radikal bebas
Radikal bebas dapat terbentuk dialam bebas, tidak stabilnya radikal bebas (kelompok atom) mengakibatkan oksidasi oksigen bahan-bahan organic seperti karbohidrat dan protein. Radikal ini menyebabkan sel-sel tidak dapat melakukan regenerasi.
e) Teori rantai silang
Pada teori rantai silang diungkapkan bahwa reaksi kimia sel-sel yang tua atau rusak menyebabkan ikatan yang kuat, khususnya jaringan kolagen, ikatan ini menyebabkan kurangnya elastisitas, kekacauan dan hilangnya fungsi sel.
2) Teori Psikologis
a) Teori Pelepasan
Teori pelepasan memberikan pandangan bahwa penyesuaian diri lansia merupakan suatu proses yang secara berangsur

SKRIPSI FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PENYAKIT SKABIES

SKRIPSI FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PENYAKIT SKABIES

Monday, January 18, 2016
(0010-KEPERAWATAN) SKRIPSI FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN
PENYAKIT SKABIES

BAB 2 
TINJAUAN PUSTAKA

1. Konsep Dasar Skabies
1.1 Pengertian Skabies
Skabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh tungau (mite) Sarcoptes scabei, yang termasuk dalam kelas Arachnida. Tungau ini berukuran sangat kecil dan hanya bisa dilihat dengan mikroskop atau bersifat mikroskopis. Penyakit skabies sering disebut kutu badan. Penyakit ini juga mudah menular dari manusia ke manusia, dari hewan ke manusia dan sebaliknya. Skabies mudah menyebar baik secara langsung yaitu, melalui sentuhan langsung dengan penderita maupun secara tak langsung atau apapun yang pernah dipergunakan penderita dan belum dibersihkan dan masih terdapat tungau sarcoptesnya. Skabies menyebabkan rasa gatal pada bagian kulit seperti disela-sela jari, siku, selangkangan. Skabies identik dengan penyakit anak pondok pesantren, penyebabnya adalah kondisi kebersihan yang kurang terajaga, sanitasi yang buruk, kurang gizi dan kondisi ruangan terlalu lembab dan kurang mendapat sinar matahari secara langsung. Penyakit kulit scabies menular dengan cepat pada suatu komunitas yang tinggal bersama sehingga dalam pengobatannya harus dilakukan secara serentak dan menyeluruh pada semua orang dan lingkungan pada komunitas yang terserang skabies, karena apabila dilakukan pengobatan secara individual maka akan mudah tertular kembali penyakit skabies (Yosef, 2007).
1.2 Epidemiologi
Skabies ditemukan di semua negara dengan prevalensi yang bervariasi. Dibeberapa negara yang sedang berkembang prevalensi skabies sekitar 6 % - 27 % populasi umum dan cenderung tinggi pada anak-anak serta remaja (Sungkar, 1995).
Suatu survei yang dilakukan pada tahun 1983 diketahui bahwa disepanjang sungai Ucayali, Peru, ditemukan beberapa desa di mana semua anak-anak dari penduduk asli desa tersebut mengidap skabies. Pada tahun 1985, Behl menyatakan bahwa prevalensi skabies pada anak-anak desa-desa Indian adalah 100%. Di Santiago, Chili, insiden tertinggi terdapat pada kelompok umur 10-19 tahun (45%) sedangkan di Sao Paolo, Brazil insiden tertinggi terdapat pada anak yang berusia <9 2008="" 5-14="" anak="" arakbah="" berbeda="" berusia="" dengan="" di="" golongan="" gulati="" hal="" india="" laporan="" maju="" melaporkan="" menyatakan="" negara="" p="" pada="" prevalensi="" sama="" semua="" skabies="" srivatava="" tahun.="" terdapat="" tersebut="" tertinggi="" umur="" usia="" yang="">Pada tahun 1975 terjadi wabah skabies di perkampungan Indian di Kepulauan San Bias, Panama. Penduduk didaerah tersebut hidup dalam lingkungan yang padat dengan jumlah penghuni tiap rumah 13 orang atau lebih. Pada survei pertama didapatkan prevalensi skabies sebesar 28% pada suatu kelompok dan pada kelompok yang lain 42%. Dua tahun kemudian dilakukan survei pada pulau Van lebih besar yang berpenduduk 2.000 orang. Pada survei tersebut ditemukan bahwa 90% penduduk mengidap skabies. Pada tahun 1986 survei di Indian lainnya berpenduduk 756 orang didapatkan bahwa prevalensi skabies anak-anak yang berumur 10 tahun adalah 61% dan pada bayi yang kurang dari 1 tahun adalah 84% (Barakbah, 2008)
Skabies merupakan penyakit endemik pada banyak masyarakat. Penyakit ini dapat mengenai semua ras dan golongan di seluruh dunia. Penyakit skabies banyak dijumpai pada anak dan orang dewasa muda, insidennya sama terjadi pada pria dan wanita. Insiden skabies di negara berkembang menunjukkan siklus fluktuasi yang sampai saat ini belum dapat dijelaskan. Interval antara akhir dari suatu endemik dan permulaan epidemik berikutnya kurang lebih 10-15 tahun (Harahap, 2000).
Menurut Departemen Kesehatan RI prevalensi skabies di Puskesmas seluruh Indonesia pada tahun 1986 adalah 4,6%-12,9%, dan skabies menduduki urutan ketiga dari 12 penyakit kulit tersering. Di Bagian Kulit dan Kelamin FKUI/RSCM pada tahun 1988, dijumpai 734 kasus skabies yang merupakan 5,77% dari seluruh kasus baru. Pada tahun 1989 dan 1990 prevalensi skabies adalah 6% dan 3,9%. Prevalensi skabies sangat tinggi pada lingkungan dengan tingkat kepadatan penghuni yang tinggi dan kebersihan yang kurang memadai (Depkes. RI, 2000).
1.3 Etiologi
Sarcoptes scabiei termasuk filum Arthopoda , kelas Arachnida, ordo Ackarina, superfamili Sarcoptes. Pada manusia disebut Sarcoptes scabiei var. hominis. Secara morfologik merupakan tungau kecil, berbentuk oval, punggungnya cembung dan bagian perutnya rata. Tungau ini transient, berwarna putih, kotor, dan tidak bermata. Ukurannya yang betina berkisar antara 330 - 450 mikron x 250 - 350 mikron, sedangkan yang jantan lebih kecil, yakni 200 - 240 mikron x 150 - 200 mikron. Bentuk dewasa mempunyai 4 pasang kaki, 2 pasang kaki di depan sebagai alat alat untuk melekat dan 2 pasang kaki kedua pada betina berakhir dengan rambut, sedangkan pada yang jantan pasangan kaki ketiga berakhir dengan rambut dan keempat berakhir dengan alat perekat. Siklus hidup tungau ini sebagai berikut, setelah kopulasi (perkawinan) yang terjadi di atas kulit, yang jantan akan mati, kadang-kadang masih dapat hidup dalam terowongan yang digali oleh yang betina. Tungau betina yang telah dibuahi menggali terowongan dalam stratum korneum, dengan kecepatan 2 -3 milimeter sehari dan sambil meletakkan telurnya 2 atau 4 butir sehari sampai mencapai jumlah 40 atau 50 . Bentuk betina yang telah dibuahi ini dapat hidup sebulan lamanya. Telurnya akan menetas, biasanya dalam waktu 3-5 hari, dan menjadi larva yang mempunyai 3 pasang kaki. Larva ini dapat tinggal dalam terowongan, tetapi dapat juga keluar. Setelah 2 -3 hari larva akan menjadi nimfa yang mempunyai 2 bentuk, jantan dan betina, dengan 4 pasang kaki. Seluruh siklus hidupnya mulai dari telur sampai bentuk dewasa memerlukan waktu antara 8-12 hari (Handoko, 2001).
Telur menetas menjadi larva dalam waktu 3-4 hari, kemudian larva meninggalkan terowongan dan masuk ke dalam folikel rambut. Selanjutnya larva berubah menjadi nimfa yang akan menjadi parasit dewasa. Tungau betina akan mati setelah meninggalkan telur, sedangkan tungau jantan mati setelah kopulasi (Mulyono, 1986).
Sarcoptes scabiei betina dapat hidup diluar pada suhu kamar selama lebih kurang 7-14 hari. Yang diserang adalah bagian kulit yang tipis dan lembab, contohnya lipatan kulit pada orang dewasa. Pada bayi, karena seluruh kulitnya masih tipis, maka seluruh badan dapat terserang (Andrianto & Tie, 1989). 1.4 Patogenesi
Kelainan kulit dapat disebabkan tidak hanya oleh tungau skabies, tetapi juga oleh penderita sendiri akibat garukan. Dan karena bersalaman atau bergandengan sehingga terjadi kontak kulit yang kuat, menyebabkan kulit timbul pada pergelangan tangan. Gatal yang terjadi disebabkan oleh sensitisasi terhadap sekret dan ekskret tungau yang memerlukan waktu kira-kira sebulan setelah infestasi. Pada saat itu kelainan kulit menyerupai dermatitis dengan ditemukannya papul, vesikel, urtika dan Iain-lain. Dengan garukan dapat timbul erosi, ekskoriasi, krusta dan infeksi sekunder. Kelainan kulit dan gatal yang terjadi dapat lebih luas dari lokasi tungau (Handoko, 2001).

SKRIPSI FAKTOR - FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERILAKU LANSIA DALAM MELAKUKAN KUNJUNGAN KE POSYANDU LANSIA

SKRIPSI FAKTOR - FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERILAKU LANSIA DALAM MELAKUKAN KUNJUNGAN KE POSYANDU LANSIA

Monday, January 18, 2016
(0009-KEPERAWATAN) SKRIPSI FAKTOR - FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERILAKU LANSIA DALAM MELAKUKAN KUNJUNGAN KE POSYANDU LANSIA

BAB II 
TINJAUAN PUSTAKA

Pada bab ini akan menjelaskan tentang teori dan konsep terkait, yaitu tentang konsep lansia, konsep perilaku dan konsep Posyandu Lansia. Pada akhir bab ini akan disampaikan penelitian terkait yang berhubungan dengan penelitian yang akan dilakukan.
A. Konsep lansia
1. Definisi lansia.
Menurut Contantinides (1994) menua adalah suatu proses menghilangnya secara perlahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri dan mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan yang diderita. Proses menua () merupakan suatu perubahan progresif pada organisme yang telah mencapai kematangan intrinsik dan bersifat irreversibel serta menunjukkan adanya kemunduran sejalan dengan waktu. Proses alami yang disertai dengan adanya penurunan kondisi fisik, psikologis maupun sosial akan saling berinteraksi satu sama lain . Proses menua yang terjadi pada lansia secara linier dapat digambarkan melalui empat tahap yaitu, kelemahan (impairment), keterbatasan fungsional (functional limitations), ketidakmampuan (disability), dan keterhambatan (handicap) yang akan dialami bersamaan dengan proses kemunduran.
Menurut Keliat (1999) usia lanjut dikatakan sebagai tahapan akhir perkembangan pada daur kehidupan manusia. Sedangkan UU no 4 tahun 1965 menyebutkan bahwa yang termasuk lansia tersebut adalah orang yang sudah 55 tahun ke atas dan usia 55 tahun di jadikan batas pensiun bagi seorang pekerja, akan tetapi menurut pasal 1 ayat (2), (3), (4) UU No. 13 Tahun 1998 (di dalam Maryam, 2008) tentang kesehatan dikatakan bahwa lanjut usia adalah seseorang yang telah mencapai usia lebih dari 60 tahun.
Menurut Miller (2003) menua adalah suatu proses yang mengubah manusia dewasa dari keadaan sehat menjadi rapuh dengan berkurangnya cadangan kemampuan sistem fisiologis dan meningkatnya kerentanan terhadap penyakit dan diikuti kematiaan.
Sedangkan menurut Mickey (2006) proses menjadi tua disebabkan faktor biologik yang terdiri dari 3 fase yaitu fase progresif, fase stabil dan fase regresif. Dalam fase regresif mekanisme lebih kearah kemunduran yang dimulai dalam sel, komposisi terlecil tubuh manusia. Proses ini berlangsung secara alamiah, terus menerus dan berkesinambungan yang selanjutnya akan menyebabkan perubahan anatomis, fisiologis dan biokemis pada jaringan tubuh dan akhirnya akan mempengaruhi fungsi dan kemampuan badan secara keseluruhan. Ini merupakan suatu fenomena yang kompleks dan multidimensional yang dapat diobservasi di dalam satu sel dan berkembang sampai pada keseluruhan sistem.
2. Klasifikasi lansia.
Klasifikasi berikut ini adalah lima klasifikasi pada lansia, menurut Depkes RI 2003 (di dalam Maryam, 2008).
a. Pralansia (prasenilis), yaitu seseorang yang berusia antara 45 - 59 tahun.
b. Lansia, yaitu orang yang berusia 60 tahun atau lebih.
c. Lansia resiko tinggi, yaitu orang yang berusia 70 tahun atau lebih / seseorang
berusia 60 tahun atau lebih dengan masalah kesehatan.
d. Lansia potensial, yaitu lansia yang masih mampu melakukan perkerjaan dan atau
kegiatan yang dapat menghasilkan barang / jasa.
e. Lansia tidak potensial, yaitu lansia yang tidak berdaya mencari nafkah, sehingga hidupnya bergantung pada bantuan orang lain. Batasan - batasan lansia menurut WHO (di dalam Nugroho 2000), mengelompokkan lansia menjadi empat kelompok yaitu meliputi :
a. Usia pertengahan (middle age), ialah kelompok usia 45 - 59 tahun.
b. Usia lanjut (erderly), ialah kelompok antara usia 60 - 70 tahun.
c. Usia lanjut tua (old), ialah kelompok antara usia 70 - 75 tahun.
d. Usia sangat tua (very old), ialah kelompok usia diatas 90 tahun.
Menurut Masdani (di dalam Nugroho, 2000) lansia merupakan kelanjutan dari usia dewasa yang dibagi menjadi empat bagian, yaitu :
a. Fase iuventus, antara usia 25 - 40 tahun.
b. Fase verilitas, antara usia 40 - 50 tahun.
c. Faseprasenium, antara usia 55 - 56 tahun.
d. Fase senium, usia lebih dari 65 tahun.
Menurut Setyonegoro pengelompokan lanjut usia yaitu :
a. Dewasa muda ( ), usia antara 18 atau 20 - 25 tahun.
b. Dewasa penuh (middle years) atau maturasi, usia antara 25 - 60 atau 65 tahun.
c. Lanjut usia (geriatric age), usia lebih dari 65 tahun atau 70 tahun. Terbagi untuk
usia 70 - 75 tahun (old) dan lebih dari 80 tahun (very old).
3. Tipe lansia
Menurut Nugroho (2000) beberapa tipe pada lansia bergantung pada karakter, pengalaman hidup, lingkungan, kondisi fisik, mental sosial dan ekonominya. Tipe tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut :
a. Tipe arif bijaksana, yaitu kaya dengan hikmah, pengalaman, dalam menyesuaikan
diri dengan perubahan zaman, bersikap ramah, rendah hati, sederhana, dermawan,
mempunyai kesibukan, memenuhi undangan dan menjadi panutan.
b. Tipe mandiri, yaitu mengganti kegiatan yang hilang dengan yang baru, selektif
dalam mencari pekerjaan, bergaul dengan teman dan memenuhi undangan.
c. Tipe tidak puas, yaitu konflik lahir batin menentang proses penuaan sehingga
menjadi orang yang tidak sabar, gampang marah, mudah tersinggung, banyak
menuntut, suka mengeritik dan tidak mau untuk dilayani.
d. Tipe pasrah, yaitu menerima dan menunggu nasib baik, mengikuti kegiatan agama
dan melakukan pekerjaan apa saja.
e. Tipe bingung, yaitu kaget, kehilangan kepribadian, minder, menjauh dan
mengasingkan diri, menyesal dan acuh tak acuh.
Dari macam-macam tipe diatas masih ada tipe optimis, konstruktif, dependen (bergantungan), defisit (bertahan), militan dan serius, pemarah dan frustasi (kecewa akibat kegagalan dalam melakukan sesuatu), putus asa (benci pada diri sendiri).
4. Pelayanan Keperawatan Pada Lansia
Pelayanan keperawatan terhadap lansia menggunakan metode pendekatan, yaitu : a. Pendekatan Fisik.
Pendekatan fisik dilakukan dengan cara memperhatikan kesehatan objektif,
kebutuhan, perubahan fisik pada organ tubuh, tingkat kesehatan yang masih bisa
dicapai dan dikembangkan, serta penyakit yang dapat dicegah atau ditekan
progresifnya. Pendekatan fisik pada umumnya dibagi menjadi dua yaitu lanjut
usia yang masih aktif
dan lanjut usia yang pasif. Dimana lansia mengalami keterbatasan fisik, kemunduran fisik akibat proses penuaan dapat mempengaruhi ketahanan tubuh terhadap gangguan atau infeksi dari luar. Tindakan tidak selalu menunggu adanya keluhan dari lansia, karena tidak jarang lansia menghindari kontak yang terlalu sering dengan tenaga kesehatan. Hal itu dapat diantisipasi dengan pengamatan yang cermat terhadap kondisi lansia dan pendekatan fisik ini lebih ditekankan untuk pemenuhan dasar lansia.
b. Pendekatan Psikis
Pada pendekatan psikis ini perawat memiliki peran penting untuk mengadakan pendekatan edukatif, perawat dapat juga berperan sebagai pendukung (supporte), dapat juga sebagai penampung rahasia pribadi dan sebagai sahabat yang akrab karena lansia sangat membutuhkan rasa aman dan cinta kasih dari lingkungan.
c. Pendekatan sosial
Dalam melakukan pendekatan sosial perawat bisa mengajak lansia berdiskusi, tukar pikiran dan bercerita yang merupakan upaya untuk melakukan pendekatan sosial. Selain itu perawat juga bisa memberi kesempatan untuk berkumpul bersama sesama lansia yang berarti menciptakan sosialisasi mereka. Lansia juga harus diberi kesempatan mengadakan komunikasi dan sosialisasi dengan dunia luar seperti mendengar berita dan rekreasi.
d. Pendekatan spiritual
Tujuan pendekatan spiritual ini adalah untuk memberikan ketenangan dan kepuasan batin dalam berhubungan dengan Tuhan. pada pendekatan spiritual ini setiap lansia akan menunjukkan reaksi yang berbeda-beda dalam menghadapi peristiwa kematian dan perawat bisa memberikan support pada lansia dalam menghadapi kematian.
5. Teori Proses Menua.
Beberapa teori pada proses menua : a. Teori biologis
Menurut Potter (2005) menjelaskan proses fisik penuaan, termasuk perubahan fungsi, struktur, pengembangan, panjang usia dan kematian.
1) Teori generik (genetik theory / Genetic Lock).
Teori ini mengusulkan bahwa akumulasi sampah metabolik atau zat nutrisi dapat merusak sintesis DNA. Teori genetik terdiri dari teori asam deoksiribonukleat (DNA), teori ketepatan dan kesalahan, mutasi, somatik dan glikogen. Teori ini menyatakan bahwa proses replikasi pada tingkatan seluler menjadi tidak teratur karena adanya informasi tidak sesuai yang diberikan dari inti sel. Molekul DNA menjadi bersilangan (crosslink) dengan unsur yang lain sehingga mendorong malfungsi molekular dan akhirnya malfungsi organ tubuh.
2) Teori imunologis.
Teori imunitas menggambarkan penurunan atau kemunduran dalam keefektifan sistem imun yang berhubungan dengan penuaan. Mekanisme seluler tidak teratur diperkirakan menyebabkan serangan pada jaringan tubuh melalui penurunan imun. Dengan bertambahnya usia, kemampuan pertahanan / imun untuk menghancurkan bakteri, virus dan jamur melemah sehingga mereka lebih rentan untuk menderita berbagai penyakit seperti kanker dan infeksi. Seiring berkurangnya imun terjadilah suatu peningkatan respon auto imun pada tubuh lansia.
3) Teori Neuroendokrin
Salah satu area neurologi yang mengalami gangguan secara universal akibat penuaan adalah waktu reaksi yang diperlukan untuk dapat menerima

SKRIPSI GAMBARAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI IBU DALAM PEMBERIAN MAKANAN PENDAMPING ASI ( MP-ASI ) PADA BAYI USIA 0-6 BULAN

SKRIPSI GAMBARAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI IBU DALAM PEMBERIAN MAKANAN PENDAMPING ASI ( MP-ASI ) PADA BAYI USIA 0-6 BULAN

Monday, January 18, 2016
(0008-KEPERAWATAN) SKRIPSI GAMBARAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI IBU DALAM PEMBERIAN MAKANAN PENDAMPING ASI ( MP-ASI ) PADA BAYI USIA 0-6 BULAN

BAB 2 
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Jenis Makan Bayi 0-6 bulan 
2.1.1. Air Susu Ibu
ASI mengandung semua zat gizi untuk membangun dan penyediaan energi dalam susunan yang diperlukan. ASI tidak memberatkan fungsi traktus digestivus dan ginjal yang belum berfungsi dengan baik pada bayi yang baru lahir, serta menghasilkan pertumbuhan fisik yang optimum. Lagipula ASI memiliki berbagai zat anti infeksi, yang dapat meningkatkan sistem imun bayi (Pudjiadi, 2003).
ASI mempunyai nilai gizi yang paling tinggi dibandingkan dengan makanan bayi yang berasal dari susu hewan, seperti susu sapi, susu kerbau atau susu apapun yang tidak sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan bayi. Komposisi zat gizi yang terkandung dalam ASI adalah lemak, protein, karbohidrat, mineral dan vitamin (Krisnatuti dan Rina, 2004).
Berdasarkan waktu diproduksi, ASI dapat dibagi menjadi tiga yaitu (Roesli, 2005 ):
1. Kolostrum merupakan cairan yang pertama kali di sekresi oleh kelenjar mamae yang mengandung tissue debris dan residual material yang terdapat dalam alveoli dan duktus dari kelenjar mamae sebelum dan segera sesudah melahirkan anak.
Disekresi oleh kelenjar mamae dari hari pertama sampai hari ketiga atau keempat, dari masa laktasi. Komposisi kolostrum dari hari ke hari berubah. Merupakan cairan kental yang ideal yang berwarna kekuning-kuningan, lebih kuning dibandingkan ASI matur.
- Merupakan suatu laxanif yang ideal untuk membersihkan meconeum usus bayi yang baru lahir dan mempersiapkan saluran pencernaan bayi untuk menerima makanan selanjutnya.
Lebih banyak mengandung protein dibandingkan ASI matur, tetapi berlainan dengan ASI matur dimana protein yang utama adalah kasein, pada kolostrum protein yang utama adalah globulin, sehingga dapat memberikan daya perlindungan tubuh terhadap infeksi.
- Lebih banyak mengandung antibodi dibandingkan ASI matur yang dapat memberikan perlindungan bagi bayi sampai 6 bulan pertama.
- Lebih rendah kadar karbohidrat dan lemaknya dibandingkan dengan ASI matur.
Total energi lebih rendah dibandingkan ASI mature yaitu 58 kalori/100 ml kolostrum.
Vitamin larut lemak lebih tinggi. Sedangkan vitamin larut dalam air dapat lebih tinggi atau lebih rendah.
- Bila dipanaskan menggumpal, ASI mature tidak. PH lebih alkalis dibandingkan ASI mature. Lemaknya lebih banyak mengandung kolestrol dan lesitin di bandingkan ASI matur. Terdapat trypsin inhibitor, sehingga hidrolisa protein di dalam usus bayi menjadi krang sempurna, yang akan menambah kadar antobodi
pada bayi. Volumenya berkisar 150-300 ml/24 jam.
2. Air Susu Masa Peralihan (Masa Transisi)
- Merupakan ASI peralihan dari kolostrum menjadi ASI matur.
- Disekresi dari hari ke 4 - hari ke 10 dari masa laktasi, tetapi ada pula yang berpendapat bahwa ASI mature baru akan terjadi pada minggu ke3-ke5. Kadar protein semakin rendah, sedangkan kadar lemak dan karbohidrat semakin tinggi. Volume semakin meningkat.
- ASI yang disekresi pada hari ke 10 dan seterusnya, yang dikatakan komposisinya relatif konstan, tetapi ada juga yang mengatakan bahwa minggu ke 3 sampai ke 5 ASI komposisinya baru konstan.
3. Air Susu Matur
Merupakan makanan yang dianggap aman bagi bayi, bahkan ada yang mengatakan pada ibu yang sehat ASI merupakan makanan satu-satunya yang diberikan selama 6 bulan pertama bagi bayi.
- ASI merupakan makanan yang mudah di dapat, selalu tersedia, siap diberikan pada bayi tanpa persiapan yang khusus dengan temperatur yang sesuai untuk bayi. Merupakan cairan putih kekuning-kuningan, karena mengandung kasienat, riboflaum dan karotin. Tidak menggumpal bila dipanaskan.
- Volume: 3 00 - 8 5 0 ml/24 j am
- Terdapat anti mikrobaterial faktor, yaitu:
- Antibodi terhadap bakteri dan virus.
Sel (phagocyte, granulocyle, macrophag, lymhocycle type T) Enzim (lysozime, lactoperoxidese) Protein {lactoferrin, B]2 Binding Protein)
- Faktor resisten terhadap stapilokokus. Komplement ( C3 dan C4)
2.1.1.1. Komposisi ASI
Kandungan colostrum berbeda dengan air susu yang mature, karena colostrum mengandung berbeda dengan air susu yang mature, karena colostrum dan hanya sekitar 1% dalam air susu mature, lebih banyak mengandung imunoglobin A (IgA), laktoterin dan sel-sel darah putih, terhadap, yang kesemuanya sangat penting untuk pertahanan tubuh bayi, terhadap serangan penyakit (Infeksi) lebih sedikit mengandung lemak dan laktosa, lebih banyak, mengandung vitamin dan lebih banyak mengandung mineral-mineral natrium (Na) dan seng (Zn) (Roesli, 2005).
Berdasrkan sumber dari Food and Nutrition Boart, National research Council Washington tahun 1980 diperoleh perkiraan komposisi kolostrum ASI dan susu sapi untuk setiap 100 ml seperti tertera pada tabel berikut: Tabel 2.1. Komposisi ASI
Zat-zat Gizi Kolostrum ASI Susu Sapi
Energi (K Cal) 58 70 65
Protein (g) 2,3 0,9 3,4
- Kasein/whey  1:1,5 1:1,2
- Kasein (mg) 140 187 -
- Laktamil bumil 218 161 -(mg)  
- Laktoferin (mg) 330 167 -
- Ig A (mg) 364 142 - Laktosa (g) 5,3 7,3 4,8 Lemak (g) 2,9 4,2 3,9 Vitamin  
- Vit A (mg) 151 75 41
- VitBl (mg) 1,9 14 43
- Vit B2 (mg) 30 40 145
- Asam 75 160 82Nikotinmik (mg)  
- Vit B6 (mg) - 12-15 64
- Asam pantotenik 183 246 340
- Biotin 0,06 0,6 2,8
- Asam folat 0,05 0,1 ,13
- Vit B12 0,05 0,1 0,6
-VitC 5,9 5 1,1
- Vit D (mg) - 0,04 0,02
-VitZ 1,5 0,25 0,07
- Vit K (mg) - 1,5 6 Mineral  
- Kalsium (mg) 39 35 130
- Klorin (mg) 85 40 108
- Tembaga (mg) 40 40 14
- Zat besi (ferrum) 70 100 70 (mg)  
- Magnesium (mg) 4 4 12
- Fosfor (mg) 14 15 120
- Potassium (mg) 74 57 145
- Sodium (mg) 48 15 58
- Sulfur (mg) 22 14 30
Perbandingan komposisi kolostrum, ASI dan susu sapi dapat dilihat pada tabel 1. Dimana susu sapi mengandung sekitar tiga kali lebih banyak protein daripada ASI. Sebagian besar dari protein tersebut adalah kasein, dan sisanya berupa protein whey yang larut. Kandungan kasein yang tinggi akan membentuk gumpalan yang relatif keras dalam lambung bayi bila bayi diberi susu sapi, sedangkan ASI walaupun mengandung lebih sedikit total protein, namun bagian protein "whey"nya lebih banyak, sehingga akan membetuk gumpalan yang lunak dan lebih mudah dicerna serta diserapoleh usus bayi. Sekitar setengah dari energi yang terkandung dalam ASI berasal dari lemak, yang lebih mudah dicerna dan diserap oleh bayi dibandingkan dengan lemak susu sapi, sebab ASI mengandung lebih banyak enzim pemecah lemak (lipase). Kandungan total lemak sangat bervariasi dari satu ibu ke ibu lainnya, dari satu fase lakatasi air susu yang pertama kali keluar hanya mengandung sekitar 1 - 2% lemak dan terlihat encer. Air susu yang encer ini akan membantu memuaskan rasa haus bayi waktu mulai menyusui. Air susu berikutnya disebut "Hind milk", mengandung sedikitnya tiga sampai empat kali lebih banyak lemak. Ini akan memberikan sebagian besar energi yang dibutuhkan oleh bayi, sehingga penting diperhatikan agar bayi, banyak memperoleh air susu ini (Roesli, 2005).
Laktosa (gula susu) merupakan satu-satunya karbohidrat yang terdapat dalam air susu murni. Jumlahnya dalam ASI tak terlalu bervariasi dan terdapat lebih banyak dibandingkan dengan susu sapi. Di samping fungsinya sebagai sumber energi, juga didalam usus sebagian laktosa akan diubah menjadi asam laktat. Di dalam usus asam laktat tersebut membantu mencegah pertumbuhan bakteri yang tidak diinginkan dan juga membantu penyerapan kalsium serta mineral-mineral lain. ASI mengandung lebih sedikit kalsium daripada susu sapi tetapi lebih mudah diserap, jumlah ini akan mencukupi kebutuhan untuk bahan-bahan pertama kehidupannya. ASI juga mengandung lebih sedikit natrium, kalium, fosfor dan klor dibandingkan dengan susu sapi, tetapi dalam jumlah yang mencukupi kebutuhan bayi (Roesli, 2005).
Apabila makanan yang dikonsumsi ibu memadai, semua vitamin yang diperlukan bayi selama empat sampai enam bulan pertama kehidupannya dapat diperoleh dari ASI. Hanya sedikit terdapat vitamin D dalam lemak susu, tetapi penyakit polio jarang terjadi pada anak yang diberi ASI, bila kulitnya sering terkena sinar matahari. Vitamin D yang terlarut dalam air telah ditemukan terdapat dalam susu, meskipun fungsi vitamin ini merupakan tambahan terhadap vitamin D yang terlarut lemak (Roesli, 2005).
2.1.1.2. Keuntungan Pemberian ASI
Menurut Pudjiadi (2005) keuntungan -keuntungan yang dapat diperoleh dari pemberian ASI yaitu:
1. Keuntungan pemberian ASI bagi bayi :
Kandungan gizi yang sesuai dengan kebutuhan bayi. Mudah dicerna dan diserap.
Selalu bersih dan segar. Aman. Menyempurnakan pertumbuhan bayi sehingga bayi lebih sehat dan cerdas ( meningkatkan IQ sebanyak 12,9 point). Melindungi tubuh dari berbagai penyakit terutama penyakit infeksi.
Memperindah kulit, gigi dan bentuk rahang. Tersedia pada suhu yang tepat sehingga bayi tidak harus menunggu. Bayi yang diberi ASI akan jarang mengalami diare, tidak akan sembelit dan jarang terkena alergi.
2. Keuntungan Pemberian ASI bagi ibu Murah. Biasanya periode tidak subur ibu menyusui lebih panjang
dibandingkan dengan ibu yang tidak menyusui. Menyusui segera setelah melahirkan akan mempengaruhi kontraksi uterus sehingga proses pemulihan setelah melahirkan akan berlangsung lebih cepat. Ibu lebih sehat dan mencegah kegemukan. Akan tercipta hubungan yang erat dan hangat antara bayi dan
ibunya. Menghindari ibu dari kemungkinan timbulnya kanker payudara.
2.1.1.3. Frekuensi Pemberian ASI
Pada pemberian bayi yang baru lahir mempunyai jadwal makan yang tidak teratur. Mereka bisa makan sebanyak 6 sampai 12 kali atau mungkin juga sampai 18 kali dalam 24 jam tanpa jadwal yang teratur. Dalam dua hari pertama produksi ASI belum banyak hingga tidak perlu menyusui terlalu lama, cukup beberapa menit saja untuk merangsang keluarnya ASI. Pada hari-hari berikutnya bayi dapat disusui selama 15-20 menit tiap kalinya, walaupun sebagian besar ASI keluar pada 5-10 menit pertama dari setiap buah dada. Jadwal menyusui hendaknya disesuaikan dengan aktivitas sehari-hari ibu. Misalnya tiap 3 jam dimulai pada jam 6 pagi, walaupun demikian jadwal itu tidak perlu kaku, jika setelah 2 jam bayi sudah menangis dapat diberikan lagi. Sebaliknya harus diperhatikan, bahwa bayi yang menangis tidak selalu disebabkan oleh rasa lapar. Mungkin juga oleh mulas-mulas ( kolik, gerak usus yang berlebihan ) setelah minum ASI, sedang sakit dan sebagainya (Pudjiadi, 2005).
2.1.2. Makanan Pendamping ASI (MP-ASI)
Seiring dengan bertambahnya usia anak, ragam makanan yang diberikan harus bergizi lengkap dan seimbang. Peran zat gizi ini penting untuk menunjang tumbuh kembang anak. Dalam hal ini pengaturan pola konsumsi makanan, ibu mempunyai peran yang sangat penting dalam memilih jenis makanan yang bergizi seimbang. MP-ASI harus diberikan setelah anak berusia 6 bulan dan berlanjut sampai usia 24 bulan, karena pada masa tersebut produksi ASI makin menurun sehingga suplai zat gizi dari ASI tidak lagi memenuhi kebutuhan gizi anak yang semakin meningkat (Wiryo, 2002).
Banyak faktor yang mengakibatkan pemberian makanan pendamping ASI terlalu dini, antara lain kebiasaan yang turun-temurun dari keluarga, dan banyak faktor lainnya yang membuat pemberian makanan pendamping ASI tidak sesuai umur anak (Soedibyo, 2007).
2.1.3. Pengganti Air Susu Ibu (PASI)