Showing posts with label skripsi pgpaud. Show all posts
Showing posts with label skripsi pgpaud. Show all posts
SKRIPSI PERAN MEDIA GAMBAR DALAM PEMBELAJARAN PAI PADA ANAK USIA DINI

SKRIPSI PERAN MEDIA GAMBAR DALAM PEMBELAJARAN PAI PADA ANAK USIA DINI

Monday, January 18, 2016
(0016-PGPAUD) SKRIPSI PERAN MEDIA GAMBAR DALAM PEMBELAJARAN PAI PADA ANAK USIA DINI

BAB II
MEDIA GAMBAR DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM PADA ANAK USIA DINI

A. Media Gambar
1.  Pengertian Media Gambar
Kata media berasal dari bahasa latin yang merupakan bentuk jamak kata medium, yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar pesan dari pengirim kepada penerima pesan.1
Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, media adalah alat (sarana) komunikasi, seperti koran, majalah, radio, televisi, film, poster dan spanduk.2
Association for Education and Communication Technology (AECT) sebagaimana disebutkan oleh Asnawir, mendefinisikan media yaitu segala bentuk yang dipergunakan untuk suatu proses penyaluran informasi.3 Apabila media itu membawa pesan atau informasi yang bertujuan instruksional atau mengandung maksud-maksud pengajaran, maka media itu disebut media pembelajaran.
Menurut Gagne yang dikutip oleh Arief S. Sadiman bahwa media adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsang untuk belajar.5
Sejalan dengan hal itu, menurut Santoso S. Hamijaya dalam bukunya Ahmad Rohani menyebutkan media adalah semua bentuk perantara yang dipakai orang penyebar ide, sehingga ide atau gagasan itu sampai pada penerima.6 Dan menurut Ahmad Rohani sendiri bahwasanya media adalah segala sesuatu yang dapat di indera yang berfungsi sebagai perantara atau sarana atau alat untuk proses komunikasi proses belajar mengajar.7
Dari definisi-definisi tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa media merupakan sesuatu yang bersifat menyampaikan pesan dan dapat merangsang pikiran, perasaan, dan kemauan audien (siswa) sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar mengajar pada dirinya.
Dengan demikian dapat dipahami bahwa media sudah selayaknya tidak lagi hanya dipandang sebagai alat bantu belaka bagi guru untuk mengajar, tetapi lebih dari itu media adalah alat penyalur dari pemberi pesan ke penerima pesan yang tidak hanya dapat digunakan oleh guru tetapi dapat pula digunakan oleh murid.
Sedangkan gambar adalah segala sesuatu yang diwujudkan secara visual dalam bentuk dua dimensi sebagai curahan perasaan atau pikiran.8
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, gambar adalah tiruan barang (orang, binatang, tumbuhan dan sebagainya) yang dibuat dengan coretan pensil dan sebagainya pada kertas, kayu dan sebagainya seperti; lukisan, foto, poster dan lain-lain.9
Jadi media gambar adalah media yang merupakan reproduksi bentuk asli dalam dua dimensi, yang berupa foto, lukisan.10
Melihat perincian pengertian komponen-komponen yang ada, maka dapat disimpulkan bahwa media gambar adalah sarana atau prasarana yang diwujudkan secara visual dalam bentuk dua dimensi yang dipergunakan untuk membantu tercapainya tujuan belajar. 2.  Fungsi dan Manfaat Media Gambar
Mengenai fungsi media itu sendiri pada mulanya kita mengenal media sebagai alat bantu dalam kegiatan belajar mengajar yakni yang memberikan pengalaman visual pada anak dalam rangka mendorong motivasi belajar, memperjelas, dan mempermudah konsep yang kompleks dan abstrak menjadi lebih sederhana, konkret, mudah dipahami. Dewasa ini dengan perkembangan teknologi serta pengetahuan, maka media pengajar berfungsi sebagai berikut:
1. Membantu memudahkan belajar bagi siswa dan juga memudahkan
pengajaran bagi guru.
2. Memberikan pengalaman lebih nyata (abstrak menjadi konkret).
3. Menarik perhatian siswa lebih besar (jalanya tidak membosankan).
4. Semua indra murid dapat diaktifkan.
5. Lebih menarik perhatian dan minat murid dalam belajar.
6. Dapat membangkitkan dunia teori dengan realitanya.
Dengan konsepsi semakin mantap fungsi media dalam kegiatan belajar mngajar tidak lagi peraga dari guru melainkan pembawa informasi atau pesan pembelajaran yang dibutuhkan siswa. Hal demikian pusat guru berpusat pada pengembangan dan pengolahan individu dan kegiatan belaj ar mengaj ar.J J
Sebagai seorang pendidik fungsi dan kemampuan media sangat penting artinya. Media merupakan integral dari sistem pembelajaran sebagai dasar kebijakan dalam pemilihan, pengembangan, maupun pemanfaatan. Sedangkan fungsi media gambar adalah sebagai berikut:
a.  Fungsi Media Gambar
Gambar sebagai media pendidikan tentunya mempunyai fungsi
yang diharapkan dalam proses belajar mengajar antara lain:
1). Fungsi Atensi
Di sini media visual atau gambar merupakan inti, yaitu menarik dan mengarahkan perhatian siswa untuk berkonsentrasi pada isi pelajaran yang berkaitan dengan makna visual yang ditampilkan atau menyertai teks materi pelajaran. Misalnya: Gambar yang diproyeksikan melalui Overhead Projector dapat menenangkan dan mengarahkan perhatian siswa atau peserta didik kepada pelajaran yang akan mereka terima. Dengan demikian kemungkinan untuk memperoleh dan mengingat isi pelajaran semakin besar.
2). Fungsi Afektif
Di sini media visual atau gambar dapat terlihat dari tingkat kenikmatan siswa ketika belajar atau membaca teks yang bergambar.
Misalnya: Gambar atau lambang visual dapat menggugah emosi dan sikap siswa, misalnya informasi yang menyangkut masalah sosial atau ras.
3). Fungsi Kognitif
Di sini media visual atau gambar terlihat dari temuan- temuan penelitian yang mengungkapkan bahwa lambang visual atau gambar memperlancar pencapaian tujuan untuk memahami dan mengingat informasi atau pesan yang terkandung dalam gambar.
4). Fungsi Compensators’
Di sini media pembelajaran terlihat dari hasil penelitian bahwa media visual atau gambar yang memberikan konteks untuk memahami teks membantu siswa yang lemah dalam membaca untuk mengorganisasikan informasi dalam teks dan mengingatnya kembali dengan kata lain, media pembelajaran berfungsi untuk

SKRIPSI POLA BIMBINGAN ORANG TUA DALAM MENANAMKAN KEMANDIRIAN ANAK USIA DINI PADA KELUARGA

SKRIPSI POLA BIMBINGAN ORANG TUA DALAM MENANAMKAN KEMANDIRIAN ANAK USIA DINI PADA KELUARGA

Monday, January 18, 2016
(0015-PGPAUD) SKRIPSI POLA BIMBINGAN ORANG TUA DALAM MENANAMKAN KEMANDIRIAN ANAK USIA DINI PADA KELUARGA


BAB II 
KERANGKA TEORITIS

A. Konsep Pendidikan Keluarga
Kata keluarga, secara etimologi terdiri dari kata kawula dan warga. Kawula artinya abdi, yakni hamba dan warga artinya anggota. Setiap individu dalam kehidupannya sehari-hari saling berinteraksi dan berkomunikasi, interaksi tersebut bertujuan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya karena manusia merupakan mahluk sosial yang membutuhkan orang lain. Begitu pula yang interaksi pertama kali dilakukan dalam keluarga karena keluarga merupakan lembaga pertama dan utama bagi anak.
Keluarga adalah institusi yang terbentuk karena ikatan perkawinan didalamnya hidup bersama pasangan suami istri secara sah karena pernikahan, mereka hidup bersama sehidup semati, dengan ringan dijinjing, berat sama dipikul, selalu rukun dan damai dengan tekad dan cita-cita untuk membentuk keluarga bahagia dan sejahtera lahir dan batin. Kedua orang tua memiliki peran yang sangat penting dalam mewujudkan kepribadian anak. Islam menawarkan metode-metode yang banyak di bawah rubrik aqidah atau keyakinan, norma atau akhlak serta fikih sebagai dasar dan prinsip serta cara untuk mendidik anak. Dan awal mula pelaksanaannya bisa dilakukan dalam keluarga.
Sekaitan dengan pendidikan, Islam menyuguhkan aturan-aturan di antaranya pada masa pra kelahiran yang mencakup cara memilih pasangan hidup dan adab berhubungan seks sampai masa pasca kelahiran yang mencakup pembacaan azan dan iqamat pada telinga bayi yang baru lahir, tehnik meletakkan buah kurma pada
langit-langit bayi, mendoakan bayi, memberikan nama yang bagus buat bayi, aqiqah (menyembelih kambing dan dibagikan kepada fakir miskin), khitan dan mencukur rambut bayi dan memberikan sedekah seharga emas atau perak yang ditimbang dengan berat rambut. Pelaksanaan amalan-amalan ini sangat berpengaruh pada jiwa anak.
Perilaku-perilaku anak akan menjadikan penyempurna mata rantai interaksi anggota keluarga dan pada saat yang sama interaksi ini akan membentuk kepribadiannya secara bertahap dan memberikan arah serta menguatkan perilaku anak pada kondisi-kondisi yang sama dalam kehidupan.
Pendidikan di dalam keluarga memiliki makna usaha sadar yang dilakukan oleh orang tua untuk membantu mengembangkan kepribadian dan kemampuan anak menjadi individu mandiri. Kata keluarga, secara etimologi terdiri dari kata kawula dan warga. Kawula artinya abdi, yakni hamba dan warga artinya anggota. Setiap individu dalam kehidupannya sehari-hari saling berinteraksi dan berkomunikasi, interaksi tersebut bertujuan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya karena manusia merupakan mahluk social yang membutuhkan orang lain.
1. Fungsi Pendidikan Keluarga
Keluarga dan pendidikan tidak bisa dipisahkan karena ini telah diakui bahwa keluarga adalah salah satu tripusat pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan secara kodrati. Pendidikan dalam keluarga memiliki nilai strategis dalam pembentukan kepribadian anak. Pendidikan keluarga ditujukan ke arah pendidikan anak, ke arah pembinaan pribadi anak yang dilaksanakan dalam keluarga, agar kelak mereka mampu melaksanakan kehidupannya sebagai manusia dewasa, baik sebagai pribadi maupun sebagai anggota keluarga dan anggota masyarakat. Pelaksanaan penampilan kehidupan dewasa tidak mungkin tanpa satu landasan yang kuat yang tidak saja melandasi kehidupan di dunia kini, melainkan di dunia kelak.
Pertanggungjawaban sepenuhnya diemban oleh orang tua yang berperan sebagai pengganti dan pembina kata hati anak, karena terdidiknya yang masih belum dewasa itu secara principal belum dapat mengemban tanggung jawab sendiri, eksistensi atau kepribadian anak tergantung dari pendidikan dalam keluarga, karena keluarga merupakan peletak dasar kepribadian anak.
Secara naluriah setiap orang tua pasti akan melindungi anaknya, terlebih apabila anak masih dalam usia balita dan dianggap masih belum mandiri dan belum memiliki ketrampilan dan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan dan menjaga dirinya dari penyakit. Dalam konteks ini akan terasa aneh jika seorang anak balita yang seharusnya masih sangat tergantung dengan pengasuhan orang tuanya justru malah banyak yang mengalami gangguan gizi seiring dengan bertambahnya usia. Dengan logika sederhana seharusnya dengan bertambah usia, anak akan tumbuh semakin kuat dan mandiri serta semakin jauh dari masalah gizi dan kesehatan pada umumnya.
Kita menyadari bahwa kehidupan senantiasa berubah dari waktu ke waktu. Sehingga setiap individu memerlukan penyesuaian terhadap tuntutan perubahan, maka dari itu keluarga dituntut untuk mempersiapkan anak-anak menjadi manusia tangguh karena keluarga merupakan lembaga yang universal yang didalamnya ada berbagai fungsi tidak hanya sebagai lembaga ekonomi.
Dibawah ini dijelaskan fungsi-fungsi dari keluarga, diantaranya adalah sebagai berikut :
a. Fungsi Edukasi
Adalah fungsi keluarga yang berkaitan dengan pendidikan anak khususnya dan pendidikan serta pembinaan anggota keluarga pada umumya.
b. Fungsi Sosialisasi
Adalah fungsi keluarga dalam upaya membantu dan mempersiapkan anak menjadi anggota masyarakat yang baik.
c. Fungsi Proteksi atau Fungsi Lindungan
Adalah fungsi keluarga untuk melindungi anak dari tindakan-tindakan yang tidak baik dan dari hidup yang menyimpang dari norma.
d. Fungsi Afeksi atau Fungsi perasaan
Adalah fungsi keluarga untk memahami bahwa anak berkomunikasi tidak hanya dengan mata dan telinganya saja, melainkan juga dengan lingkungan, orang tua bahkan dengan keseluruhan pribadinya.
e. Fungsi Religius
Adalah fungsi keluarga untuk memperkenalkan dan mengajak serta anak dan anggota keluarga lainnya kepada kehidupan keluarga yang beragama.
f. Fungsi Ekonomi s
Adalah fungsi keluarga meliputi pencarian nafkah, perencanaan, serta pembelajaran dan pemanfaatannya.
g. Fungsi Rekreasi
Adalah fungsi keluarga untuk memelihara iklim yang sehat (suasana akrab, ramah dan hangat antara anggota keluarga yang satu dengan yang lainnya).
h. Fungsi Biologis
Adalah fungsi keluarga yang berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan biologis anggota keluarga antara lain keter lindungan kesehatan, keter lindungan dari rasa lapar, haus, kedinginan, kepanasan, kelelahan, kenyamanan dan kesegaran fisik.
2. Peran Orang tua
Pendidikan bagi bangsa Indonesia harus dilakukan melalui tiga lingkungan yaitu keluarga, sekolah dan organisasi. Keluarga merupakan pusat pendidikan yang pertama dan terpenting, karena sejak timbulnya adab kemanusiaan sampai sekarang keluarga selalu berpengaruh besar terhadap perkembangan anak manusia.
Pendidikan adalah tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat dan pemerintah. Sekolah sebagai pembantu kelanjutan pendidikan dalam keluarga, sebab pendidikan yang pertama dan utama diperoleh anak ialah dalam keluarga. Peralihan bentuk pendidikan informal/keluarga ke formal/sekolah memerlukan kerjasama antara orang tua dan sekolah (pendidik). Sikap anak terhadap sekolah terutama akan dipengaruhi oleh sikap orang tua mereka. Sehingga diperlukan kepercayaan orang tua terhadap sekolah (pendidik) yang menggantikan tugasnya selama di sekolah. Orang tua harus memperhatikan sekolah anaknya dengan

SKRIPSI STUDI KORELASI LATAR BELAKANG PENDIDIKAN DAN KESEJAHTERAAN TERHADAP KINERJA GURU TK

SKRIPSI STUDI KORELASI LATAR BELAKANG PENDIDIKAN DAN KESEJAHTERAAN TERHADAP KINERJA GURU TK

Monday, January 18, 2016
(0014-PGPAUD) SKRIPSI STUDI KORELASI LATAR BELAKANG PENDIDIKAN DAN KESEJAHTERAAN TERHADAP KINERJA GURU TK

BAB II 
TINJAUAN PUSTAKA

A.  Hakikat Pendidikan
1.  Pengertian Pendidikan
Laju perkembangan zaman di dunia pendidikan yang terus berubah dengan signifikan sehingga banyak merubah pola pikir pendidik, dari pola pikir yang awam dan kaku menjadi lebih modern. Hal tersebut sangat berpengaruh dalam kemajuan pendidikan di Indonesia.
Menyikapi hal tersebut pakar-pakar pendidikan mengkritisi dengan cara mengungkapkan konsep dan teori pendidikan yang sebenarnya untuk mencapai tujuan pendidikan yang sesungguhnya.
Kamus Besar Bahasa Indonesia (2001 : 263), Pendidikan berasal dari kata "didik", Lalu kata ini mendapat awalan kata "me" sehingga menjadi "mendidik" artinya memelihara dan memberi latihan. Dalam memelihara dan memberi latihan diperlukan adanya ajaran, tuntutan dan pimpinan mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran.
Menurut UU No. 20 tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional, Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Hal yang berbeda dikemukakan oleh Ki Hadjar Dewantara dalam Fuad Ihsan (2008 : 5) dalam Kongres Taman Siswa yang pertama pada tahun 1930 menyebutkan: Pendidikan umumnya berarti segala daya upaya untuk memajukan ber tumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intelek), dan tubuh anak: di dalam Taman Siswa kita tidak boleh memisahkan bagian-bagian itu agar kita dapat memajukan kesempurnaan hidup, kehidupan dan penghidupan anak-anak yang kita didik selaras dengan dunianya.
Sedangkan menurut GBHN 1988 (BP 7 pusat, 1990: 105) memberikan batasan tentang pendidikan nasional sebagai berikut: pendidikan nasional yang berakar pada kebudayaan bangsa indonesia dan berdasarkan pancasila serta Undang-Undang Dasar 1945 diarahkan untuk meningkatkan kecerdasan serta dapat memenuhi kebutuhan pembangunan nasional dan bertanggung jawab atas pembangunan bangsa.
Wikipedia, Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.
Dalam pengertian yang sederhana dan umum makna pendidikan adalah sebagai usaha manusia untuk menumbuhkan dan mengembangkan potensi pembawaan baik jasmani maupun rohani dengan nilai-nilai yang ada di dalam masyarakat dan kebudayaan (Fuad Ihsan, 2008 : 2).
Hal ini sejalan dengan Ngalim Purwanto (2007 : 10) pendidikan ialah pimpinan yang diberikan dengan sengaja oleh orang dewasa kepada anak-anak, dalam pertumbuhannya (jasmani dan rohani) agar berguna bagi dirinya sendiri dan bagi masyarakat.
Batasan tentang pendidikan yang dibuat oleh para ahli beraneka ragam, dan kandungannya berbeda yang satu dari yang lain. Perbedaan tersebut mungkin karena orientasi nya, konsep dasar yang digunakan, aspek yang menjadi tekanan, atau karena falsafah yang melandasi nya. Batasan-batasan tersebut antara lain.
Pertama, pendidikan sebagai proses transformasi budaya sebagai proses transformasi budaya, pendidikan diartikan sebagai kegiatan pewarisan budaya dari satu generasi ke generasi yang lain. Nilai-nilai budaya tersebut mengalami proses transformasi dari generasi tua ke generasi muda. Ada tiga bentuk transformasi yaitu nilai-nilai yang masih cocok diteruskan misalnya nilai-nilai kejujuran, rasa tanggung jawab, dan lain-lain.
Kedua, pendidikan sebagai proses pembentukan pribadi. Sebagai proses pembentukan pribadi, pendidikan diartikan sebagai suatu kegiatan yang sistematis dan sistemik terarah kepada terbentuknya kepribadian peserta didik. Proses pembentukan pribadi melalui 2 sasaran yaitu pembentukan pribadi bagi mereka yang belum dewasa oleh mereka yang sudah dewasa dan bagi mereka yang sudah dewasa atas usaha sendiri.
Bertolak dari berbagai pengertian dan batasan pendidikan diatas dapat di tarik kesimpulan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran atau pelatihan agar peserta didik secara aktif dapat mengembangkan potensi dirinya supaya memiliki kekuatan spiritual keagamaan, emosional, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.
2.  Tingkat Pendidikan
Dalam dunia pendidikan terdapat tingkat pendidikan. Tingkat pendidikan adalah tahap pendidikan yang berkelanjutan, yang ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan peserta didik, tingkat kerumitan bahan pengajaran dan cara menyajikan bahan pengajaran.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2001:1198), tingkat adalah lapis dari sesuatu yang bersusun. Menurut McLeod dalam Syaeful Sagala (2010 : 2), pendidikan adalah sebagai proses perbuatan untuk memperoleh pengetahuan. Jadi tingkat pendidikan adalah tahapan pendidikan yang ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan peserta didik, tujuan yang akan dicapai, dan kemampuan yang dikembangkan. Pendidikan di Indonesia mengenal tiga jenjang pendidikan, yaitu pendidikan dasar (SD/MI/Paket A dan SMP/MTs/Paket B), pendidikan menengah (SMA, SMK/Paket C), dan pendidikan tinggi (Perguruan tinggi/PT). Meski tidak termasuk dalam jenjang pendidikan, terdapat pula pendidikan anak usia dini, pendidikan yang diberikan sebelum memasuki pendidikan dasar.
a. Pendidikan Dasar
Pendidikan ini merupakan pendidikan awal selama 9 tahun pertama masa sekolah anak-anak, yaitu di Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Pada masa ini para siswa mempelajari bidang-bidang studi antara lain: Ilmu Pengetahuan Alam, Matematika, Ilmu Pengetahuan Sosial, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Pendidikan Seni, Pendidikan Olahraga (Fuad Ihsan, 2008 : 26).
b. Pendidikan Menengah
Pendidikan menengah merupakan lanjutan pendidikan dasar, terdiri atas pendidikan menengah umum dan pendidikan menengah kejuruan. Pendidikan menengah berbentuk Sekolah Menengah Atas (SMA), Madrasah Aliyah (MA), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), dan Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK), atau bentuk lain yang sederajat seperti paket C (Fuad Ihsan, 2008: 27).
c. Pendidikan Tinggi
Pendidikan tinggi merupakan lanjutan dari pendidikan menengah dan menjadi pendidikan tertinggi dari ketiga tingkat pendidikan yang ada. Gelar yang didapat pada perguruan tinggi menurut hierarkinya adalah Diploma III ditempuh selama 3 tahun (masa pendidikan), S1 ditempuh selama 4 tahun dan S2 ditempuh setelah bergelar S1 serta S3 yang ditempuh setelah jenjang S2. Pendidikan guru juga termasuk dalam pendidikan ini dan dengan gelar S1 kependidikan (Fuad Ihsan, 2008 : 28).

SKRIPSI UPAYA MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR IPA MELALUI METODE KARYA WISATA

SKRIPSI UPAYA MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR IPA MELALUI METODE KARYA WISATA

Monday, January 18, 2016
(0013-PGPAUD) SKRIPSI UPAYA MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR IPA MELALUI METODE KARYA WISATA

BAB II
LANDASAN TEORITIK

A. Teori Dasar
1. Pengertian Pendidikan 
 Pendidikan menurut bahasa berasal dari kata didik dengan memberi awalan pe dan akhiran kan mengandung arti perbuatan (hal, cara, dan sebagainya).1 Pendidikan dalam bahasa Yunani disebut paedagogis yang berarti bimbingan yang diberikan pada anak, istilah ini kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan education yang berarti pengembangan atau bimbingan.
Pendidikan adalah “Usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara”.

2. Pengertian Pendidikan Anak Usia Dini
 Pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya yang di tujukan bagi anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang di lakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar memilih kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.

3. Pengertian Motivasi
 Motivasi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, adalah dorongan yang timbul pada diri seseorang secara sadar atau tidak sadar untuk melakukan tindakan dengan tujuan tertentu yang dapat menyebabkan seseorang bergerak melakukan sesuatu kerana ingin mencapai tujuan yang di kehendakinya.4
Ada beberapa macam motivasi yaitu :
a. Motivasi Intrinsik, adalah dorongan yang berasal dari dalam diri seorang siswa itu sendiri, yang timbul secara sadar dan terarah untuk mencapai tujuan dan keberadaannya mempunyai andil dan peran yang besar.
b. Motivasi Ekstrinsik, adalah dorongan yang berasal dari luar diri siswa, yang diberikan melalui proses belajar mengajar dengan metode yang tepat dan relevan.

4. Pengertian Belajar
 Menurut Vygotsky bahwa belajar dapat membuat anak merasa bebas dalam mengembangkan potensinya, dapat berinteraksi dan memimpin perkembangannya sendiri.5
 Beberapa prinsip belajar anak yaitu :
a. Berangkat dari yang di bawa anak
b. Belajar harus menantang pemahaman anak
c. Belajar dilakukan sambil bermain
d. Menggunakan alam sebagai sarana pembelajaran
e. Belajar dilakukan melalui sensori
f. Belajar membekali ketrampilan hidup
g. Belajar sambil melakukan

5. Pengertian Ilmu Pengetahuan Alam
IPA sendiri berasal dari kata sains yang berarti alam. Sains menurut Suyoso (1998:23) merupakan “pengetahuan hasil kegiatan manusia yang bersifat aktif dan dinamis tiada henti-hentinya serta diperoleh melalui metode tertentu yaitu teratur, sistematis, berobjek, bermetode dan berlaku secara universal”.
Menurut Abdullah (1998:18), IPA merupakan “pengetahuan teoritis yang diperoleh atau disusun dengan cara yang khas atau khusus, yaitu dengan melakukan observasi, eksperimentasi, penyimpulan, penyusunan teori, eksperimentasi, observasi dan demikian seterusnya kait mengkait antara cara yang satu dengan cara yang lain”.
Dari pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa Ilmu Pengetahuan Alam merupakan pengetahuan dari hasil kegiatan manusia yang diperoleh dengan menggunakan langkah-langkah ilmiah yang berupa metode ilmiah dan di didapatkan dari hasil eksperimen atau observasi yang bersifat umum sehingga akan terus di sempurnakan, dalam pembelajaran ilmu pengetahuan alam mencakup semua materi yang terkait dengan objek alam serta persoalannya.
Ruang lingkup Ilmu Pengetahuan Alam yaitu : makhluk hidup, energi dan perubahannya, bumi dan alam semesta serta proses materi dan sifatnya.
Ilmu Pengetahuan Alam terdiri dari tiga aspek yaitu :
º Fisika, pada apek Fisika IPA lebih memfokuskan pada benda-benda tak hidup
º Biologi , pada sapek Biologi IPA mengkaji pada persoalan yang terkait dengan makhluk hidup serta lingfkungannya.
º Kimia, pada aspek Kimia IPA mempelajari gejala-gejala kimia baik yang ada pada makhluk hidup maupun benda tak hidup yang ada di alam
Dengan demikian pendidikan IPA bukan hanya sekedar teori akan tetapi dalam setiap bentuk pengajarannya lebih ditekankan pada bukti dan kegunaan ilmu tersebut. Bukan berarti teori-teori terdahulu tidak digunakan, ilmu tersebut akan terus digunakan sampai menemukan ilmu dan teori baru.
Teori lama digunakan sebagai pembuktian dan penyempurnaan ilmu-ilmu alam yang baru, hanya saja teori tersebut bukan untuk dihapal namun di terapkan sebagai tujuan proses pembelajaran. Melihat hal tersebut di atas nampaknya pendidikan IPA saat ini belum dapat menerapkannya, perlu adanya usaha yang dilakukan agar pendidikan IPA yang ada sekarang ini dapat dilaksanakan sesuai dengan tujuan awal yang akan dicapai, karena kita tahu bahwa pendidikan IPA tidak hanya pada teori-teori yang ada namun juga menyangkut pada kepribadian dan sikap ilmiah dari peserta didik, untuk itu maka kepribadian dan sikap ilmiah perlu ditumbuhkan agar menjadi manusia yang sesuai dari tujuan pendidikan

B. Teori Penunjang 
1. Metode Karya Wisata 
 Pengertian metode tercantum di dalam kamus Besar Bahasa Indonesia yaitu cara yang teratur dan terpikir baik-baik untuk mencapai suatu maksud, 6 sedangkan karya wisata adalah berpergian atau mengunjungi suatu objek dalam rangka memperluas pengetahuan dimana metode dalam mengajar adalah :
a) Merupakan salah satu komponen dari proses pendidikan
b) Merupakan alat mencapai tujuan yang didukung oleh alat bantu mengajar,
c) Merupakan kebulatan dalam satu sistem pendidikan.
Metode mengajar sebagai upaya mencapai tujuan, dengan demikian diperlukan pengetahuan tentang tujuan itu sendiri.
 Perumusan tujuan yang sejelas-jelasnya merupakan persyaratan terpenting sebelum seseorang menentukan dan memilih metode mengajar yang tepat, karena kekaburan dalam tujuan yang hendak dicapai akan menyebabkan kesulitan dalam menentukan dan memilih metode yang tepat. Apa yang ingin dituju oleh suatu program bidang studi melalui unit pengajaran, semua termasuk dalam ruang lingkup dari metodologi.
 Dengan metode karya wisata tersebut di atas akan membuat para siswa tertarik dalam mempelajari mata pelajaran tersebut, khususnya mata pelajaran bidang ilmu pengetahuan alam.
Dari beberapa pengertian di atas, jelaslah bahwa metode adalah suatu teknik penyampaian bahan pelajaran kepada para siswa, agar siswa dapat menangkap pelajaran dengan mudah, efektif dan dapat dicerna oleh siswa dengan baik. Suatu hal yang tak dapat disangkal lagi bahwa kebutuhan terhadap metode adalah mutlak dalam pendidikan dan pengajaran, karena metode merupakan sarana dari segala macam agar tercapai hasil yang memuaskan, tanpa metode maka hasil kerja tidak akan teratur dan berjalan dengan baik.
Oleh karenanya dalam memberikan pelajaran dan perubahan-perubahan yang diinginkan, seorang pendidik harus memperhatikan hal tentang filsafat pendidikan, tujuan pelajaran yang hendak dicapai, anak didik yang kondusif, dan bahan pelajaran yang akan disampaikan, faktor usia, lingkungan, sifat bahan pelajaran, minat, dan kemampuan anak didik, maka salah satu cara untuk mengefektifkan dan menghidupkan proses belajar mengajar adalah dengan metode karya wisata. Terkadang dalam proses belajar mengajar siswa perlu diajak untuk ke luar kelas (sekolah), ini bertujuan untuk meninjau tempat-tempat tertentu atau objek-objek yang berkaitan dengan pelajaran yang mana dengan kegiatan ini diharapkan bukan hanya sekedar untuk rekreasi saja, akan tetapi untuk belajar atau memperdalam pelajarannya dengan melihat realitanya. Jadi penggunaan teknik atau metode karya wisata adalah “cara mengajar yang dilaksanakan dengan mengajak siswa ke suatu tempat atau objek tertentu di luar sekolah untuk mempelajari atau menyelidiki sesuatu yang relevan dengan pelajaran”. Objek dari karya wisata ini dapat dilakukan di perkebunan, museum, pabrik, bengkel, tempat-tempat ibadah, dan lain sebagainya.
Metode karya wisata mempunyai sinonim kata, antara lain widya wisata dan study tour. 7 Tujuan dari karya wisata antara lain adalah untuk memperluas wawasan.
2. Kelebihan dan Kekurangan Metode Karya Wisata
a. Kelebihan Metode Karya Wisata
a.1) Karya Wisata mempunyai prinsip pengajaran modern yang memanfaatkan lingkungan nyata dalam proses belajar mengajar.
a.2) Membuat apa yang dipelajari di sekolah lebih relevan dengan kenyataan dan kebutuhan di masyarakat.
a.3) Pengajaran dengan metode karya wisata dapat lebih merangsang kreatifitas siswa.
a.4) Informasi sebagai bahan pelajaran lebih luas, mendalam dan aktual.


SKRIPSI PERAN GURU DALAM MENGENALKAN MAKANAN BERGIZI PADA ANAK KELOMPOK B PAUD

SKRIPSI PERAN GURU DALAM MENGENALKAN MAKANAN BERGIZI PADA ANAK KELOMPOK B PAUD

Monday, January 18, 2016
(0012-PGPAUD) SKRIPSI PERAN GURU DALAM MENGENALKAN MAKANAN BERGIZI PADA ANAK KELOMPOK B PAUD

BAB II 
KAJIAN PUSTAKA

2.1 Hakikat Peran Guru
Guru adalah pendidik, yang menjadi tokoh, panutan, dan identifikasi bagi para peserta didik, dan lingkungannya. Oleh karena itu, guru harus memiliki standar kualitas pribadi tertentu, yang mencakup tanggung jawab, wibawa, mandiri, dan disiplin. Berkaitan dengan tanggung jawab, guru harus mengetahui, serta memahami nilai, norma moral, dan sosial, serta berusaha berperilaku dan berbuat sesuai dengan nilai dan norma tersebut. Guru juga harus bertanggung jawab terhadap segala tindakannya dalam pembelajaran di sekolah, dalam kehidupan bermasyarakat. (Mulyasa, 2008:39)
Guru memiliki banyak tugas, baik yang terikat oleh dinas maupun di luar dinas, dalam bentuk pengabdian, apabila kita kelompokkan terdapat tiga jenis tugas guru, yakni dalam bidang profesi tugas kemanusiaan berkaitan dengan pertumbuhan dan perkembangan anak yakni melalui pemberian makanan yang bergizi, dan tugas dalam bidang kemasyarakatan. (Usman Uzer, 2009:6).
Para guru seharusnya menekankan nilai atas aktivitas pembelajaran tertentu mendesain aktivitas ini dengan cara-cara yang membuat semua siswa yakin bahwa mereka akan sukses namun harus dibarengi dengan keadaan fisik anak itu sendiri, tanpa adanya tubuh yang kurang sehat maka akan timbul rasa malas sehingga tidak mampu beraktivitas sesuai yang diharapkan oleh guru. Sehingga perlu asupan gizi yang sehat untuk menyeimbangkan antara kesehatan tubuh dan kesehatan otak. (Parson, 2001:35)
Anak-anak usia dini sering 7 ierselera untuk makan sehingga orang tua sering menjadi was-was. Dalam memberikan makanan pada anak, orang tua harus memperhatikan porsi. Tidak perlu porsi maksimal disajikan dalam sekali makan. Cara lain yang juga dianggap baik ialah dengan mengizinkan mereka mengambil sendiri porsi yang mereka inginkan. Hal ini akan membuat anak merasa dihormati dan memiliki hak yang sama dengan orang dewasa (guru dan orang tua) saat di meja makan. Untuk memperkenalkan jenis makanan baru pada anak usia dini, guru harus memilih saat yang tepat untuk mengoptimalkan dalam memperkenalkan makanan yang bergizi bagi anak usia dini. (Depdiknas, 2002:21)
Menurut Mulyasa, (2008:40) peran guru adalah sebagai seorang pengajar dan pembimbing. Guru dapat mengajarkan kepada anak usia dini bukan hanya pada pembelajaran mengenai kompetensi anak dalam berkreativitas saja tetapi harus dibarengi dengan pengenalan dan pemberian makanan sehat yang banyak mengandung vitamin dan protein serta mengandung karbohidrat yang cukup. Sehingga menjadi anak yang sehat jasmani dan rohani. Anak tidak akan berkembang dengan sendirinya tanpa diberikan asupan gizi. Dalam hal ini, orang tua juga sangat berperan terhadap perkembangan dan pertumbuhan anak-anak mereka.
Menurut Usman Uzer, (2009:7) bahwa tugas guru sebagai profesi meliputi mendidik, mengajar, dan melatih. Mendidik berarti meneruskan dan mengembangkan nilai-nilai hidup. Mengajar berarti meneruskan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sedangkan melatih berarti mengembangkan keterampilan-keterampilan pada anak didik.
Tugas guru dalam bidang kemanusiaan di sekolah harus dapat menjadikan dirinya sebagai orang tua kedua. Ia harus mampu menarik simpati sehingga ia menjadi idola terhadap para anak didiknya. Pelajaran apapun yang diberikan, hendaknya menjadi motivasi bagi anak didik dalam belajar. Bila guru atau pendidik dalam penampilannya sudah tidak menarik, maka kegagalan pertama adalah guru tidak akan dapat menanamkan benih pengajarannya itu kepada anak didiknya. Peserta didik akan enggan menghadapi guru yang tidak menarik. Tugas guru dalam bidang kemanusiaan ini juga berfungsi dalam perkembangan dan pertumbuhan anak baik fisik maupun mental. Untuk itu guru harus menyediakan makanan yang bergizi dan seimbang sesuai dengan kebutuhannya. (Usman Uzer, 2009:7)
Menurut Mulyasa, (2008:45) Guru merupakan model atau teladan bagi peserta didik dan semua orang yang menganggap dia sebagai guru. Sebagai teladan tentu saja pribadi dan apa yang dilakukan guru akan mendapat sorotan peserta didik serta orang di sekitar lingkungannya yang menganggap atau mengakuinya sebagai guru, karena guru bukan saja mengajarkan tetapi mendidik dan membimbing anak usia dini, khususnya pada perkembangan dan pertumbuhan anak dalam kebutuhan gizi mereka.
Guru dapat bekerja sama dengan orang tua dalam hal pemberian makanan bergizi, agar nantinya tidak hanya berakhir pada pengenalan saja tetapi dilaksanakan sesuai tahap perkembangan anak usia dini. (Mulyasa, 2008;46)
Ada beberapa pendekatan peran guru dalam pembelajaran (Tini Sumartini, 2005 :47) antara lain:
1. Guru berperan sebagai pengajar
Dalam hal ini guru harus mengajar sesuai dengan kurikulum tanpa melihat minat anak. Semua anak dianggap botol kosong yang harus diisi oleh berbagai informasi tanpa melihat perbedaan bahkan meski anak tidak berminat pun guru harus tetap menyampaikan apa yang sudah dugariskan dalam kurikulum tersebut.
2. Guru berperan membelajarkan anak
Pada pendekatan ini guru berpegang pada panduan kemampuan yang akan dicapai anak dengan cara memahami minat, perasaan dan pengalaman anak.
3. Guru hanya berperan sebagai fasilitator dengan memberikan kesempatan kepada anak untuk mengungkapkan pengalaman, perasaannya melalui berbagai interaksi kepada guru maupun teman sebaya. Dalam hal ini anak dapat dengan leluasa mengekspresikan apa saja yang ada dalam pikirannya Pendekatan semacam ini merupakan pendekatan yang efektif dan terbaik karena anak dapat berkembang secara utuh.

2.2 Hakikat Makanan Bergizi 
2.2.1 Pengertian Menu atau Makanan Bergizi
Menu adalah susunan makanan yang dimakan oleh seseorang untuk sekali makan atau untuk sehari-hari. Kata "menu" biasa diartikan "hidangan". Menu adalah makanan yang terdiri dari beraneka ragam makanan dalam jumlah dan proporsi yang sesuai, sehingga memenuhi kebutuhan gizi seseorang guna pemeliharaan dan perbaikan sel-sel tubuh dan proses kehidupan serta pertumbuhan dan perkembangan (Almatsier, 2005:70).
Makanan bergizi adalah makanan yang mengandung zat-zat yang dibutuhkan oleh tubuh kita atau dapat disebut pula sebagai zat gizi, jadi makanan sehat sama dengan makanan bergizi. Zat gizi yang harus terkandung dalam makanan sehat adalah Karbohidrat, Protein, Lemak, Vitamin, Mineral, serat dan air. Karbohidrat adalah sumber energi bagi tubuh kita untuk melakukan aktivitas sehari-hari contohnya nasi, roti, gandum, dll. Protein adalah zat yang pembangun dibutuhkan oleh tubuh pada reaksi kimia dalam metabolisme tubuh, mengganti sel-sel yang rusak dalam tubuh. Protein dibagi menjadi 2 yaitu protein nabati dan protein hewani. contoh protein nabati adalah Ubi jalar (Telo), singkong, kentang sedangkan contoh protein hewani adalah daging, ikan laut dll. (Saptawati, 2010:30)
Menu atau makanan yang bergizi adalah menu yang terdiri dari beranekaragam makanan dengan jumlah dan proporsi yang sesuai, sehingga memenuhi kebutuhan gizi seseorang guna memelihara dan perbaikan sel-sel tubuh dan proses kehidupan serta pertumbuhan dan perkembangan (Almatsier, 2001:71)
Pedoman umum gizi harus diaplikasikan dalam penyajian hidangan yang memenuhi syarat gizi yang dikenal dengan menu seimbang. Menu berasal dari kata "menu" yang berarti suatu daftar yang tertulis secara rinci. Sedangkan definisi menu adalah rangkaian beberapa macam hidangan atau masakan yang disajikan atau dihidangkan untuk seseorang atau sekelompok untuk setiap kali makan, yaitu dapat berupa hidangan pagi, siang, dan malam. Pola makanan sehat mulai dikembangkan pada tahun 1950 dengan istilah "Empat Sehat Lima Sempurna" (Sulistyoningsih, 2011: 23). Pola menu 4 sehat 5 sempurna adalah pola makanan sehat yang bila disusun dengan baik mengandung semua zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh (Almatsier, 2005: 51).
Makanan bergizi adalah makanan yang mengandung semua zat gizi yang diperlukan oleh tubuh dalam jumlah yang cukup. Kebutuhan zat gizi setiap orang berbeda tergantung dari jenis kelamin, usia, jenis pekerjaan, berat badan, keadaan jasmani dan iklim. Malnutrisi adalah penyakit akibat salah takaran gizi atau akibat gizi yang tidak seimbang. Nutrisi merupakan proses pemasukan dan pengolahan zat makanan oleh tubuh. Piramida perbandingan jumlah zat gizi makanan yang seimbang Apabila perbandingan zat gizi tersebut terpenuhi dalam makanan sehari-hari, maka kesehatan tubuh dapat terjaga. KKP (kekurangan kalori dan protein) adalah gangguan karena kekurangan kalori dan protein. KKP yang berat disebut busung lapar.

2.2.2 Pengenalan dan Pemberian Makanan yang Bergizi
Beberapa jenis makanan untuk anak balita yang tentunya sangat sehat dan sangat diperlukan oleh buah hati, seperti kacang hijau. Kacang hijau menurut Hananto, (2002:52) adalah sejenis tanaman budidaya dan palawija yang dikenal luas di daerah tropika. Tumbuhan yang termasuk suku polong-polongan (Fagaceae) ini memiliki banyak manfaat dalam kehidupan sehari-hari sebagai sumber bahan pangan ber protein nabati tinggi. Kacang hijau di Indonesia menempati urutan ketiga terpenting sebagai tanaman pangan legum, setelah kedelai dan kacang tanah.
Sebagai orangtua, pastinya hanya ingin memberikan yang terbaik untuk sang buah hati, khususnya soal makanan. Sebab, nutrisi yang sehat sangat penting bagi pertumbuhan anak, baik untuk fisiknya, body image, kecerdasan anak, aktivitas fisik sepanjang hari, maupun performa olahraga. Lebih dari itu, nutrisi sehat berperan dalam pencegahan penyakit. Dari 100 persen kebutuhan kalori anak, 55 persen di antaranya sebaiknya didapat dari karbohidrat (nasi, roti, mi). Sementara lemak (minyak, mentega) menyumbang 30 persen, dan 15 persen didapat dari protein (daging, telur, susu, kacang).( Saptawati, 2010:33)
Makanan bergizi seimbang disajikan dalam menu empat sehat lima sempurna sebagai berikut:
a. Makanan pokok (nasi, jagung, singkong, roti, dan sagu).
b. Lauk pauk (daging, telur, ikan, tahu, dan tempe);
c. Sayuran (bayam, kangkung, dan buncis);
d. Buah-buahan (apel, mangga, pisang, dan papaya;.
e. Susu sebagai makanan pelengkap.
Selain memenuhi persyaratan empat sehat lima sempurna, dalam menyusun menu makanan bergizi seimbang perlu memperhatikan hal-hal berikut:
a. Bersih dan bebas kuman penyakit;
b. Makanan mudah dicerna dalam tubuh;
c. Bervariasi sehingga tidak menimbulkan kebosanan. (Soedirman, 2000:43)

2.2.3 Syarat-syarat Makanan Bergizi
Syarat-syarat makanan bergizi atau Menu sehat yang harus diketahui adalah sebagai berikut.
a. Pola makanan sehat
Pola makanan sehat diharapkan dapat memenuhi kebutuhan gizi. Susunan makanan yang dihidangkan dapat memenuhi kebutuhan gizi sesuai dengan umur, jenis kelamin, dan juga aktivitas yang dilakukan.
b. Aspek warna makanan sehat
Warna makanan sehat harus menarik sehingga dapat membangkitkan selera makan, namun penggunaan pewarna bahan tambahan makanan juga harus memperhatikan keamanannya dan diutamakan menggunakan pewarna alami.
c. Tekstur dan konsistensi
Tekstur dan konsistensi makanan yang dihidangkan disesuaikan dengan kemampuan fisiologis dan juga umur. Bentuk makanan bayi, lansia dan orang yang mengalami gangguan kesehatan khususnya pencernaan akan berbeda dengan orang dewasa pada umumnya.
d. Rasa dan Aroma
Aroma masakan yang kuat dikombinasikan dengan makanan yang tidak tajam baunya.
e. Ukuran dan bentuk potongan
Adanya kreasi dalam bentuk potongan dapat membangkitkan selera makan.
f. Suhu
Pertimbangkan makanan yang harus dihidangkan panas atau dingin dengan menyesuaikan
suhu lingkungan, udara atau iklim.
g. Penyajian menarik
Bila perlu makanan disajikan dengan hiasan, selain itu disajikan dalam keadaan yang bersih,
terhindar dari pencemaran yang dapat membahayakan kesehatan.
h. Tenaga dan waktu
Jenis hidangan yang akan disajikan disesuaikan dengan peralatan, kemampuan, tenaga dan
waktu yang dimiliki oleh ibu/keluarga.(Sulistyoningsih, 2010:33).
Makanan yang bergizi lengkap dan seimbang harus mengandung bahan makanan sumber tenaga yakni nasi, roti, kentang. Bahan makanan sumber zat pembangunan adalah Protein hewani (telur, ikan, daging, susu, keju); dan Protein nabati (tempe, tahu). Bahan makanan sumber zat pengatur adalah Sayuran seperti; bayam, buncis, wotel, tomat,Buah : pisang, pepaya, jeruk, apel. (Sulistyoningsih, 2010:34)
Untuk membuat makanan yang bergizi lengkap dan seimbang perlu disusun dari ketiga golongan bahan makanan di atas, dan dapat ditambahkan jenis makanan yang dapat memperkaya rasa menu misalnya; minyak, mentega, gula. Banyaknya kalori yang harus dikomsumsi dan jumlah kalorinya disesuaikan dengan umur (Sulistyoningsih, 2010:34).
Pemberian gizi adalah perilaku yang dilakukan ibu dalam memberikan makanan pada anaknya (Sulistyoningsih, 2010:35) meliputi:
a. Tindakan ibu dalam pemilihan makanan
Pemberian gizi dapat terpenuhi dengan sempurna maka perlu diperhatikan syarat bahan makanan yang akan digunakan sesuai dengan umur. Makanan tambahan yang baik menurut WHO (2005:11) adalah sebagai berikut : Kaya energi, protein dan mikronutrien (seperti zat besi, kalsium, zink, vitamin A, C, dan folat), serta bersih dan aman yakni;
a). Tidak ada pathogen;
b). Tidak ada bahan kimia berbahaya;
c). Tidak ada potongan tulang atau bagian yang keras membuat anak tersedak;
d). Tidak terlalu panas;
e). Tidak terlalu pedas atau asin;
f). Mudah dimakan oleh anak;
g). Tersedia didaerah dan harganya terjangkau serta mudah disiapkan.
b. Tindakan ibu dalam pengolahan makanan
Pilihlah cara pengolahan makanan yang menghasilkan tekstur lunak dengan kandungan air tinggi yaitu direbus, dikukus. Namun pada usia ini dapat dikenalkan cara kombinasi yaitu dipanggang atau digoreng asalkan tidak menghasilkan tesktur keras. Beberapa pilihan cara pengolahan kombinasi yaitu direbus dahulu kemudian panggang (perkedel panggang) atau dikukus, kemudian goreng (tempe dan tahu bacem).
c. Tindakan ibu dalam pemberian jadwal makanan
Sesudah jumlah bahan makanan sehari dan frekuensi makan diketahui, kemudian bahan makanan tersebut dibagi untuk tiap kali makan. Selanjutnya bahan makanan tersebut dapat dimasak hidangan dan tersusunlah menu.
d. Tindakan ibu dalam cara pemberian makanan

 SKRIPSI PENINGKATAN KETRAMPILAN BERBICARA PADA ANAK USIA DINI MELALUI TEKNIK MEMBACA NYARING MENGGUNAKAN BUKU CERITA BERGAMBAR

SKRIPSI PENINGKATAN KETRAMPILAN BERBICARA PADA ANAK USIA DINI MELALUI TEKNIK MEMBACA NYARING MENGGUNAKAN BUKU CERITA BERGAMBAR

Friday, January 15, 2016
(0011-PGPAUD) SKRIPSI PENINGKATAN KETRAMPILAN BERBICARA PADA ANAK USIA DINI MELALUI TEKNIK MEMBACA NYARING MENGGUNAKAN BUKU CERITA BERGAMBAR

BAB II
KONSEP KETERAMPILAN BERBICARA ANAK USIA DINI DAN TEKNIK MEMBACA NYARING MENGGUNAKAN BUKU CERITA BERGAMBAR

A. Konsep Perkembangan Bahasa Anak 
1. Pengertian Bahasa
Keterampilan berbahasa mencakup empat komponen yaitu keterampilan menyimak, keterampilan berbicara, keterampilan membaca, dan keterampilan menulis. Hurlock (1978:176) memaparkan bahasa adalah bentuk komunikasi pikiran dan perasaan disimbolkan agar dapat menyampaikan arti kepada orang lain. Hal yang mencakup bentuk bahasa menurut Hurlock yaitu bahasa lisan, bahasa tulisan, bahasa isyarat, bahasa tubuh, ekspresi wajah.
Santrock (2007:303) "language is a form of communication, whether spontaneous, written, or signed, that is based on a system of symbolik". Maksudnya adalah bahasa sebagai salah satu bentuk komunikasi walaupun dalam bentuk spontan, tertulis atau bahasa isyarat, yang kesemuanya menjadi dasar dari sistem berupa simbol.
Berdasarkan pendapat di atas, bahasa adalah suatu alat yang digunakan untuk berkomunikasi kepada orang lain dalam bentuk simbol baik dalam bahasa tertulis ataupun isyarat. Tujuan utama dari sebuah pembelajaran bahasa adalah untuk berkomunikasi. Penguasaan bahasa sendiri dapat terjadi melalui dua proses, yaitu pemerolehan dan pembelajaran. Pemerolehan bahasa terjadi secara tidak disadari karena sebagai akibat dari komunikasi alami. Kegiatan bahasa ini dialami oleh anak-anak dan orang-orang yang cukup lama dalam interaksi sosial. Berbeda dengan pemerolehan bahasa, pembelajaran bahasa mengacu pada pengumpulan pengetahuan bahasa melalui sesuatu yang disadari, berupa kemampuan yang dipelajari, dan bukan kemampuan yang diperoleh.
Lerner dalam Itta (2007:5) menyatakan bahwa dasar utama perkembangan bahasa adalah melalui pengalaman-pengalaman berkomunikasi yang kaya. Pengalaman yang kaya itu akan menunjang faktor-faktor bahasa yang lain yaitu yang termasuk ke dalam keterampilan berbahasa yang reseptif yaitu mendengarkan dan membaca, sedangkan berbicara dan menulis merupakan keterampilan berbahasa yang ekspresif. 2. Fungsi Bahasa
Pada dasarnya fungsi paling utama dari bahasa adalah sebagai alat untuk berkomunikasi. Suhartono (2005:7) fungsi bahasa untuk anak-anak sebagai berikut.
a. alat komunikasi dengan lingkungan terdekat, maksudnya adalah bahwa dengan anak mampu berbahasa maka kecenderungan untuk dapat berkomunikasi dengan orang-orang di sekitar akan menjadi besar. Anak akan banyak mencurahkan bentuk perasaan, ide, dan gagasan kepada orang lain dengan menggunakan bahasa tersebut,
b. alat mengembangkan kemampuan dasar anak yang meliputi sejumlah ranah (domain) yaitu: logika, matematik, bahasa, musik, ruang dan tempat, kinestetik, sosialisasi dengan orang lain (Interpersonal), dapat memahami diri sendiri (Intrapersonal),
c. alat mengembangkan ekspresi: perasaan, imajinasi, dan pikiran. Bahasa dalam hal ini memegang peranan sangat sentral baik dalam kehidupan bayi sampai orang dewasa.
3. Peranan Bahasa
Kemampuan berbahasa merupakan kemampuan yang hanya dimiliki oleh manusia. Bahasa banyak memiliki peranan bagi manusia. Manusia akan melakukan hubungan komunikasi dengan orang lain apabila terdapat satu kesamaan atau kemiripan berbahasa, baik isyarat maupun tertulis. Suhartono (2005:12) mengemukakan tiga peranan berbahasa berikut.
a. bahasa merupakan sarana utama untuk berpikir dan bernalar. Manusia diberkahi Allah SWT kemampuan berpikir yang membedakannya dengan mahluk lain. Bahasa muncul karena manusia berpikir, sehingga dengan bahasa memudahkan manusia untuk mencari berbagai informasi dan komunikasi,
b. bahasa sebagai alat penerus dan pengembang kebudayaan. Setiap kebudayaan memiliki nilai-nilai atau adat istiadat yang berbeda dengan kebudayaan lain. Agar nilai-nilai itu tetap terjaga, maka perlu diwariskan kepada generasi muda baik menggunakan bahasa verbal ataupun isyarat,
c. bahasa sebagai alat pemersatu. Bahasa memudahkan manusia untuk berkomunikasi. Manusia akan merasa nyaman berhubungan atau mencari informasi apabila terdapat kesamaan bahasa. 4. Tahap-Tahap Perkembangan Bahasa Anak
a. Tahap Pra linguistik
Tahap pralinguisik umumnya dialami oleh anak berusia 0-1 tahun. Anak pada usia ini oleh para ahli dianggap belum dapat berbahasa, walaupun mereka sudah dapat mengeluarkan bunyi-bunyi. Maksudnya adalah anak belum dapat mengucapkan "bahasa ucapan" seperti ucapan oleh orang dewasa.
1) tahap meraban pertama (0-6) bulan. Pada tahap ini selama bulan-bulan awal kehidupan, bayi dengan menangis, mendekut, mendenguk, menjerit, dan tertawa.
2) tahap meraban kedua (6-12) bulan. Pada tahap ini anak mulai aktif karena aspek fisik anak sudah jauh lebih baik seperti untuk mampu melakukan gerakan-gerakan seperti memegang dan mengangkat benda.
b. Tahap Linguistik
Tahap linguistik umumnya dialami anak mulai umur 1-5 tahun. Anak sudah mulai dianggap dapat mengucapkan bahasa ucapan yang menyerupai orang dewasa. Para ahli pada tahap ini membagi ke dalam empat bagian.
1) tahap holophrastic (tahap linguistik pertama 1-2 tahun). Tahap ini adalah tahap di mana anak sudah mulai mengucapkan suku kata.
2) ucapan-ucapan dua kata. Tahap linguistik kedua ini biasanya mulai menjelang tahun ke dua. Komunikasi yang ia sampaikan adalah bertanya dan meminta.
3) pengembangan tata bahasa (2,5-5 tahun). Perkembangan bahasa pada tahap ini bervariasi, hal ini bergantung pada perkembangan-perkembangan sebelumnya yang dialami anak.
4) tata bahasa menjelang dewasa. Tahap perkembangan bahasa anak yang ke empat ini biasanya dialami oleh anak yang sudah berumur antara 5-10 tahun. Pada tahap ini anak sudah mulai menerapkan struktur tata bahasa yang rumit.

B. Perkembangan Keterampilan Berbicara Anak
1. Pengertian
Pengertian bicara secara khusus dikemukakan Tarigan, (1981:15) bahwa keterampilan berbicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi dari kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan, menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan. Dalam bentuk atau wujudnya, berbicara dinyatakan sebagai suatu alat untuk mengkomunikasikan gagasan-gagasan yang disusun serta dikembangkan sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan sang pendengar atau penyimak.
Arsyad dan Mukti U.S dalam Rosita (2007) mengungkapkan bahwa keterampilan berbicara adalah kemampuan mengucap kalimat-kalimat untuk mengekspresikan, menyatakan, menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan.
Senada dengan pendapat di atas, Hurlock (1978:176) menyatakan bahwa berbicara adalah suatu bentuk bahasa yang menggunakan artikulasi atau kata-kata

SKRIPSI PENGARUH POLA ASUH ORANGTUA TERHADAP PERKEMBANGAN KEMANDIRIAN ANAK DIDIK TK

SKRIPSI PENGARUH POLA ASUH ORANGTUA TERHADAP PERKEMBANGAN KEMANDIRIAN ANAK DIDIK TK

Friday, January 15, 2016
(0010-PGPAUD) SKRIPSI PENGARUH POLA ASUH ORANGTUA TERHADAP PERKEMBANGAN KEMANDIRIAN ANAK DIDIK TK

BAB II 
KAJIAN TEORETIS

A. Kajian Teoritis Perkembangan Kemandirian Anak 
1. Pengertian Perkembangan Kemandirian Anak
Menurat Raymond Cartel dalam Sumadi Suryabrata (2003:309) perkemba¬ngan sebagai proses belajar, digambarkan melewati titik-titik yang merupakan kejadian-kejadian sebagai penjelmaan daripada pola-pola tingkah laku yang didorong oleh erg. Sedangkan menurut Kartini Kartono (2007:21) perkembangan adalah perubahan-perubahan psiko-fisik sebagai hasil dari proses pematangan fungsi-fungsi psikis dan fisik pada anak, ditunjang oleh faktor lingkungan dan proses belajar dalam waktu tertentu, menuju kedewasaan.
Berg, 1989 dalam (Mohammad Ali,2009:ll) mengemukakan pengertian perkembangan sebagai suatu proses perubahan yang bersifat progresif dan menye-babkan tercapainya kemampuan dan karakteristik psikis yang bara. Perubahan itu tidak terlepas dari perabahan yang terjadi pada struktur biologis, meskipun tidak semua perubahan kemampuan dan sifat psikis dipengaruhi oleh perubahan struktur biologis. Sedangkan menurut pendapat Bhatia (dalam Sartini Nuryoto, 1993:51) kemandirian adalah perilaku yang aktivitasnya diarahkan kepada diri sendiri, tidak mengharapkan pengarahan dari orang lain dan bahkan mencoba memecahkan atau menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa bantuan kepada orang lain.
Berbeda dengan Antonius (2000:145) seseorang yang mandiri adalah suatu suasana dimana seseorang mau dan mampu mewujudkan kehendak atau keinginan dirinya yang melihat dalam tindakan atau perbuatan nyata guna menghasilkan sesuatu (barang atau jasa) demi pemenuhan kebutuhan hidupnya dan sesamanya. Sedangkan Hasan Basri (1994:53) mengatakan bahwa kemandirian adalah keadaan seseorang dalam kehidupannya mampu memutuskan atau mengerjakan sesuatu tanpa bantuan.
Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa perkembangan kemandirian adalah proses belajar kemampuan seseorang untuk berdiri sendiri dengan kemampuannya dan tidak menggantungkan diri kepada orang lain dalam memecahkan permasalahan. 2. Ciri-ciri Kemandirian Anak
Menurut Yohanes Babari (2002:145) membagi ciri-ciri kemandirian dalam lima jenis, yaitu :
a. Percaya diri
Ciri anak yang mempunyai kemandirian adalah anak mempunyai kepercayaan diri yang kuat dapat mengerjakan sesuatu dengan kekuatan sendiri, tanpa bantuan orang lain.
b. Mampu bekerja sendiri
Sikap mandiri anak ditandai dengan adanya kecondongan untuk berbuat atas kehendak sendiri secara aktif atau pengambilan sikap yang kemudikan secara otonomi diri terhadap suatu obyek. Disamping tingkah laku dan mengerjakan pekerjaan sendiri tanpa bantuan dan perintah dari orang lain. Dari kemampuan bekerja sendiri di atas memberikan gambaran bahwa sikap mandiri anak ditandai dengan adanya kecondongan untuk mengambil sikap yang tadinya dikemudikan secara otonomi diri terhadap suatu obyek.
c. Mempunyai keahlian dan ketrampilan yang sesuai dengan kerjanya
Ciri anak yang mempunyai kemandirian adalah anak mempunyai keahlian dan ketrampilan, sehingga anak akan mampu memecahkan masalah-masalah dan kesulitan dengan keahlian dan ketrampilan yang telah dimilikinya.
d. Menghargai waktu
Salah satu ciri yang menandai sikap kemandirian pada diri anak adalah menghargai waktu dimana waktu digunakan seefektif dan seefisien mungkin untuk mengerjakan sesuatu yang ada manfaatnya, kedisiplinan dalam membagi dan menerapkan waktu.
e. Tanggung jawab
Ciri anak yang mempunyai kemandirian mempunyai tanggung jawab, sebab jika anak bertindak atas kesadaran dan kemauan sendiri maka ia hams bertanggung jawab atas perbuatannya itu. Biasanya anak yang dapat berdiri sendiri, lebih mampu memikul tanggung jawab, dan pada umumnya mempunyai emosi yang stabil. Sikap mandiri ditandai adanya rasa tanggung jawab atas perbuatan yang telah dilakukan.
Sedangkan menurut Chabib Thoha (1996:123-124) membagi ciri kemandirian dalam delapan jenis, yaitu :
a. Mampu berfikir secara kritis, kreatif dan inovatif.
b. Tidak mudah terpengaruh oleh pendapat orang lain.
c. Tidak lari atau menghindari masalah.
d. Memecahkan masalah dengan berfikir yang mendalam.
e. Apabila menjumpai masalah dipecahkan sendiri tanpa meminta bantuan orang lain.
f. Tidak merasa rendah diri apabila harus berbeda dengan orang lain.
g. Berusaha bekerja dengan penuh ketekunan dan kedisiplinan.
h. Bertanggung jawab atas tindakannya sendiri.
Berdasarkan uraian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa ciri-ciri anak yang mandiri adalah mempunyai kecondongan memecahkan masalah daripada berkutat dalam kekhawatiran bila terlibat masalah, tidak takut mengambil resiko karena sudah mempertimbangkan baik buruknya, percaya terhadap penilaian sendiri sehingga tidak sedikit-sedikit bertanya atau minta bantuan, dan mempunyai kontrol yang lebih baik terhadap dirinya.
3. Fungsi Kemandirian
Fungsi kemandirian menurut Muhammad Surya (1988:12) adalah :
a. Mengenal Diri Sendiri dan Lingkungan
Meliputi kemampuan pengenalan diri terhadap keadaan, potensi, kecendemngan, kekuatan dan kelemahan diri sendiri seperti apa adanya. Selain ini termasuk pengenalan terhadap keadaan di luar diri sendiri, terutama di lingkungan hidup sehari-hari. Apabila fungsi ini tidak berkembang dengan baik, pengembangan diri secara optimal dikhawatirkan tidak akan tercapai. Keadaan kurang mengenal lingkungan dapat mengakibatkan tingkah laku dan usaha pengembangan diri tidak serasi dengan kondisi obyektif yang ada.
b. Menerima Diri Sendiri dan Lingkungan
Hal ini menuntut agar individu yang bersangkutan bersikap positif dan dinamik terhadap kondisi obyektif yang ada di lingkungannya. Jika seseorang mengenal dirinya sendiri sebagai siswa yang kurang berprestasi, hendaknya mereka tidak mudah putus asa dalam menghadapi suatu permasalahan. Sikap menerima secara positif dan dinamik ini perlu didahului dan dilator oleh pengenalan diri dan lingkungan sebagaimana tersebut pada fungsi mengenal diri sendiri dan lingkungan. Individu dituntut untuk menerima lingkungan secara positif dan dinamik. Penerimaan yang positif dan dinamik akan membebaskannya dari sikap "nrimo" dalam arti tunduk menyerah saja terhadap kondisi lingkungan yang kurang menguntungkan misalnya tidak membuat putus asa, melainkan siswa menerima secara wajar dan berusaha memperbaikinya, sebaiknya kondisi lingkungan yang baik tidak membuatnya kurang berusaha dan berbangga diri secara berlebihan. Pribadi yang mandiri selalu bersikap positif dan dinamik terhadap diri dan lingkungannya.
c. Mengambil Keputusan
Menurut kemampuan individu untuk menetapkan satu pilihan dari berbagai kemungkinan yang ada berdasarkan pertimbangan yang matang. Pengambilan keputusan dan mengatasi masalah sering kali amat berat dilakukan, lebih-lebih pada diri seseorang, karena masih terjadi kekurang serasian antara kenyataan dan penerimaan diri sendiri serta pertentangan antara kenyataan dan penerimaan terhadap kondisi lingkungan. Proses pengambilan keputusan yang kurang memadai dapat menimbulkan suasana kebingungan atau jalan buntu ketidakmampuan bagi individu yang bersangkutan. Pada gilirannya suasana yang tidak menguntungkan diri dapat mengakibatkan keputusasaan dan kurang semangat.
d. Mengarahkan Diri Sendiri
Hal ini menuntut kemampuan individu untuk mencari dan menempuh jalan agar yang menjadi kepentingan dirinya dapat terselenggara secara positif dan dinamik. Berkaitan dengan fungsi pengambilan keputusan dapat dikatakan bahwa betapapun bagusnya suatu keputusan yang telah diambil oleh siswa, apabila keputusan itu tidak dijalankan tidaklah ada faedahnya. Anak yang bersangkutan harus berani menerjunkan dirinya untuk menjalani usaha berkenaan dengan keputusan yang telah diambilnya. e. Mewujudkan Diri Sendiri
Merupakan kebulatan dan kemantapan dari perwujudan motivasi (dorongan) yang telah ada pada diri sendiri sehingga siswa mampu atau sanggup untuk melakukan kegiatan belajar dengan semangat tanpa adanya paksaan, sehingga segenap potensi dan motivasi yang dimiliki dapat berkembang secara optimal. Kebulatan motivasi ini merupakan tujuan akhir dari usaha bimbingan.
Berdasarkan uraian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa fungsi kemandirian adalah mengenal diri sendiri dan lingkungan, menerima diri sendiri dan lingkungan, mengambil keputusan, mengarahkan diri sendiri dan mewujudkan diri sendiri. 4. Faktor-faktor yang Memengaruhi Perkembangan Kemandirian Anak Menurat Hasan Basri (1994:54) kemandirian dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu faktor yang terdapat di dalam dirinya sendiri (internal) dan faktor-faktor yang terdapat di luar dirinya (ekstemal). a. Faktor Internal (Endogen)
Faktor internal adalah semua pengaruh yang bersumber dari dalam dirinya sendiri, seperti keadaan keturunan dan konstitusi tubuhnya sejak dilahirkan dengan segala perlengkapan yang melekat padanya. Segala sesuatu yang dibawa sejak lahir adalah merupakan bekal dasar bagi pertumbuhan dan perkembangan individu selanjutnya. Bermacam-macam sifat dasar dari ayah dan ibu mungkin akan didapatkan di dalam diri seseorang, seperti bakat, potensi intelektual dan potensi pertumbuhan tubuhnya.
b. Faktor Ekstemal (Eksogen)
Faktor ekstemal adalah semua keadaa atau pengarah yang berasal dari luar dirinya, sering pila dinamakan dengan faktor lingkungan. Lingkungan kehidupan keluarga dan masyarakat yang baik teratama dalam bidang nilai dan kebiasaan-kebiasaan hidup akan membentuk kepribadian, termasuk pula dalam hal kemandiriannya.
Sementara menurut Mohammad Ali (2009:118) faktor yang memengaruhi kemandirian anak yaitu :
a. Gen atau keturunan orangtua. Orangtua yang memiliki sifat kemandirian yang tinggi seringkali menurankan anak yang memiliki kemandirian juga.
b. Pola asuh orang tua. Cara orangtua mengasuh atau mendidik anak akan memengaruhi perkembangan kemandirian anak.
c. Sistem pendidikan di sekolah. Proses pendidikan yang menciptakan kompetensi positif akan memperlancar perkembangan kemandirian anak.
d. Sistem kehidupan di masyarakat. Lingkungan masyarakat yang aman akan merangsang dan mendorong perkembangan kemandirian anak.
Berdasarkan uraian diatas dapat penulis simpulkan bahwa dalam mencapai kemandirian seseorang tidak terlepas dari banyak faktor yang mendasari terbentuknya kemandirian itu sendiri.
Dengan demikian, penulis berpendapat dalam mencapai kemandirian seseorang tidak lepas dari faktor-faktor tersebut diatas dan kemandirian anak akan terwujud sangat bergantung pada anak tersebut melihat, merasakan dan melakukan aktivitas sehari-hari di dalam lingkungan tempat tinggalnya. 5. Peranan Orangtua dalam Membangun Kemandirian Anak
Cara mengembangkan kemandirian anak menurut Tim Pustaka Familia (2009:49) adalah sebagai berikut:

SKRIPSI PENGARUH LAYANAN KONSULTASI DALAM MENGATASI KESULITAN BELAJAR DI TK

SKRIPSI PENGARUH LAYANAN KONSULTASI DALAM MENGATASI KESULITAN BELAJAR DI TK

Friday, January 15, 2016
(0009-PGPAUD) SKRIPSI PENGARUH LAYANAN KONSULTASI DALAM MENGATASI
KESULITAN BELAJAR DI TK

BAB II
KAJIAN TEORETIS



A. Kesulitan Belajar 
1. Pengertian Belajar
Belajar adalah merupakan suatu proses, suatu kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan. Belajar bukan hanya mengingat, akan tetapi lebih luas dari pada itu, yaitu mengalami. Hasil belajar bukan suatu penguasaan hasil latihan melainkan perubahan kelakuan. Berikut ini adalah defmisi belajar menurut beberapa ahli.
Belajar adalah sebagai suatu bentuk pertumbuhan atau perubahan dalam diri seseorang yang dinyatakan dalam cara-cara bertingkah laku yang baru berkat pengalaman dan latihan (Aqib, 2002:62).
Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya (Natawidjaja, 2004: 13).
membedakannya dengan makhluk lain. Belajar yang dilaksanakan oleh manusia merupakan bagian dari hidupnya berlangsung seumur hidup, kapan saja dan di mana saja baik di sekolah, di kelas, di jalanan dalam waktu yang tidak dapat ditentukan sebelumnya. Namun demikian satu hal sudah pasti bahwa belajar yang dilakukan oleh manusia senantiasa dilandasi oleh itikad dan maksud tertentu (Hamalik,
Belajar merupakan perubahan tingkah laku yang relatif mantap berkat latihan dan pengalaman. Belajar sesungguhnya adalah ciri khas manusia dan yang Belajar adalah proses perubahan tingkah laku yang terjadi di dalam satu situasi bukan di dalam satu ruang hampa. Situasi belajar ini ditandai dengan adanya motif-motif yang ditetapkan dan atau di terima siswa. Kadang-kadang satu proses belajar tidak dapat mencapai hasil yang maksimal disebabkan karena ketiadaan kekuatan yang mendorong (motivasi). Dalam hal inilah perlunya guru memasukkan motivasi dalam cara-cara mengajarnya (Surakhmad, 2004: 65).
2. Konsep Belajar bagi Anak Usia Dini
a. Ki Haj ar Dewantoro
Ki Hajar Dewantara melontarkan konsep belajar 3 dinding. Yang dimaksud belajar dengan 3 dinding bukanlah belajar di kelas dengan jumlah dinding 3 buah (salah satu dari 4 sisi dinding tidak ada), tetapi konsep tersebut mencerminkan tidak ada batas atau jarak antara di dalam kelas dengan realita di luar. Belajar bukan sekedar teori dan praktek di sekolah, tetapi juga belajar menghadapi realitas dunia. Sekolah dan Dunia menurut konsep ini berarti tidak terpisah. Dengan itu diharapkan para guru mengajarkan ilmu teori serta praktek di dunia dan juga kepada siswa jika tidak sungkan-sungkan menanyakan apa saja hal yang tidak diketahuinya tentang dunia kepada guru mereka masing-masing. Tujuan dari konsep ini, agar para lulusan sekolah dapat mampu hidup dan bisa berbuat banyak setelah lulus dari sekolah. Semboyan ini berasal dari ungkapan aslinya Ing Ngarsa Sung Tulada, Ing Madya
Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani. Hanya ungkapan tut wuri handayani saja yang banyak dikenal dalam masyarakat umum. Arti dari semboyan ini secara kap adalah: tut wuri handayani (dari belakang seorang guru harus bisa Semboyan dalam pendidikan yang dipakai adalah: tut wuri handayani.
memberikan dorongan dan arahan), ing madya mangun karsa (di tengah atau di antara murid, gum hams menciptakan prakarsa dan ide), dan ing ngarsa sung tulada (di depan, seorang pendidik hams memberi teladan atau contoh tindakan baik).
. Maria Montesorri
Maria Montessori mengemukakan bahwa setiap manusia melalui serangkaian lompatan kuantum pembelajaran (quantum leaps of learning) selama usia-usia pra sekolah. Usia pra-sekolah menjadi salah satu perhatian penting dalam metode Montessori karena pada masa itu anak mengalami perkembangan pesat. Masa penting anak pra-sekolah itu disebutnya dengan istilah "sensitive periods" (http ://id. wikipedia. org/wiki/Maria_Montesorri).
Metode Montessori tidak menyukai pengukuran prestasi secara tradisional (jenjang, ujian) dan menyebutkannya sebagai sebuah hal yang merusak pertumbuhan internal (inner growth) pada anak-anak dan orang orang dewasa. Analisis prestasi anak tidak diberikan. Sebagai gantinya, diberikan daftar ketrampilan, aktivitas dan titik-titik kritis, dan kadang-kadang pencapaian anak-anak secara naratif (kekuatan dan kelemahannya) dengan penekanan pada perbaikan kekurangannya.
Kelas montessori secara umum dibagi dalam 2 kelompok besar: lahir-6 dan 6-12. Kelompok pada tingkat pertama biasa disebut dengan istilah "casa dei bambini" (mmah anak-anak) dan berfokus pada pembelajaan dan pengembangan diri dengan kecepatan individual. Pada tingkat kedua, kerjasama dengan orang lain dan pendidikan semesta "cosmic education" mulai diperkenalkan.
Pengelompokan umur yang variatif dipercaya menghasilkan sikap mental yang kooperatif di mana anak yang lebih tua secara otomatis berbagi pengetahuan lebih mudah. Bagi siswa Montessori, belajar adalah perjalanan
menemukan sendiri (journey of self-discovery) yang pada akhirnya mengarah pada tingkat konsentrasi yang tinggi, kepercayaan diri, motivasi-pribadi, disiplin-pribadi, dan kecintaan pada belajar.
Metode Montessori mendukung individualitas dalam seting komunal di mana setiap anak bertanggung jawab untuk diri mereka dan masyarakat luas. Konsep ini diperbandingkan dengan konsep umum yang meletakkan kelas sebagai ukuran umum pendidikan dan anak hanya bagian dari daripadanya. c. JJ. Roseau
JJ.Rosseou mengemukakan tentang pembelajaran Klasik Naturalisme yang mengatakan bahwa anak pada waktu lahir adalah baik, jika anak rusak itu akibat pengaruh lingkungan. Belajar adalah Membiarkan anak tumbuh dan berkembang dengan sendirinya secara alamiah dan jangan diapa-apakan. Freedom to learn artinya adalah "biarlah anak belajar dengan bebas karena orang dapat mengaktualisasikan dirinya secara penuh jika orang tersebut tidak diganggu. petualang yang ditandai dengan perkembangan intelektual dan kemampuan nalar yang pesat. Masa remaja (adolescence), usia 15-25 tahun, masa hidup sebagai manusia yang beradab, masa pertumbuhan seksual, sosial, moral dan kata hati. d. Piaget
Piaget (dalam Suparno, 2001: 19) menemukan teori perkembangan kognitif gan intelektual anak secara kronologis terjadi 4 tahap. Urutan Rousseau membagi seluruh masa perkembangan anak atas empat tahap perkembangan, yaitu masa bayi (infancy), usia 0-2 tahun merupakan tahap perkembangan fisik, masa anak (childhood), usia 2-12 tahun, masa perkembangan sebagai manusia primitif. Masa remaja awal (pubercence), usia 12-15 tahun, masa tahap-tahap ini tetap bagi setiap orang, akan tetapi usia kronologis memasuki setiap tahap bervariasi pada setiap anak. Keempat tahap dimaksud adalah sebagai berikut: 1) Tahap sensor motor : umur 0-2 tahun (Ciri pokok perkembangannya anak mengalami dunianya melalui gerak dan indera nya serta permanensi obyek)
Tahap paling awal perkembangan kognitif terjadi pada waktu bayi lahir sampai sekitar berumur 2 tahun. Tahap ini disebut tahap sensor motor oleh Piaget. Pada tahap sensor motor, intelegensi anak didasarkan pada tindakan indera anak terhadap lingkungan, seperti melihat, meraba, mendengar, membau dan Iain-lain.
Pada tahap sensor motor, gagasan anak mengenai suatu benda berkembang dari periode "belum mempunyai gagasan" menjadi " sudah mempunyai gagasan". Gagasan mengenai benda sangat berkaitan dengan konsep anak tentang ruang dan waktu yang juga belum terakomodasi dengan baik.
Piaget membagi tahap sensor motor dalam enam periode, yaitu:
a) Periode 1 : Refleks (umur 0-1 bulan)
Periode paling awal tahap sensorimotor adalah periode refleks. Ini berkembang sejak bayi lahir sampai sekitar berumur 1 bulan.
b) Periode 2 : Kebiasaan (umur 1-4 bulan)
Pada periode perkembangan ini, bayi mulai membentuk kebiasan-kebiasaan pertama. Kebiasaan dibuat dengan mencoba-coba dan mengulang- ngulang suatu tindakan.
c) Periode 3 : Reproduksi kejadian yang menarik (umur 4-8 bulan)
Pada periode ini, seorang bayi mulai menjamah dan memanipulasi objek apapun yang ada di sekitarnya. Tingkah laku bayi semakin berorientasi pada objek dan kejadian di luar tubuhnya sendiri. la menunjukkan koordinasi antara penglihatan dan rasa jamah. Pada periode ini, seorang bayi juga menciptakan kembali kejadian-kejadian yang menarik baginya.
d) Periode 4 : Koordinasi Skemata (umur 8-12 bulan)
Pada periode ini, seorang bayi mulai membedakan antara sarana dan hasil tindakannya. la sudah mulai menggunakan sarana untuk mencapai suatu hasil. Sarana-sarana yang digunakan untuk mencapai tujuan atau hasil diperoleh dari koordinasi skema-skema yang telah ia ketahui.
e) Periode 5 : Eksperimen (umur 12-18 bulan)
Unsur pokok pada periode ini adalah mulainya anak memperkembangkan cara-cara baru untuk mencapai tujuan dengan cara mencoba-coba (eksperimen) bila dihadapkan pada suatu persoalan yang tidak dipecahkan dengan skema yang ada, anak akan mulai mencoba-coba dengan Trial and Error.
f) Periode Representasi (umur 18-24 bulan)
Periode ini adalah periode terakhir pada tahap intelegensi sensorimotor. Seorang anak sudah mulai dapat menemukan cara-cara baru yang tidak hanya berdasarkan rabaan fisis dan eksternal, tetap juga dengan koordinasi internal dalam barannya.
Karakteristik anak yang berada pada tahap ini adalah sebagai berikut:
(1) Berfikir melalui perbuatan (gerak)
(2) Perkembangan fisik yang dapat diamati adalah gerak-gerak refleks sampai ia
dapat berjalan dan bicara.
(3) Belajar mengkoordinasi akal dan geraknya.
(4) Cenderung intuitif egosentris, tidak rasional dan tidak logis.

SKRIPSI PELAKSANAAN PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM PADA ANAK USIA DINI

SKRIPSI PELAKSANAAN PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM PADA ANAK USIA DINI

Friday, January 15, 2016
(0008-PGPAUD) SKRIPSI PELAKSANAAN PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM PADA ANAK USIA DINI

BAB II
PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM PADA ANAK USIA DINI
A. Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
1. Pengertian pembelaj aran Pendidikan Agama Islam
Sebelum penulis memaparkan tentang pembelajaran, akan dikemukakan beberapa pengertian belajar.
Dalam bukunya Theories of Learning, Gordon H. Bower menyatakan belajar adalah: "learning is to gain knowledge through experience."1 Bahwa Belajar adalah suatu usaha untuk memperoleh pengetahuan melalui pengalaman.
Sedangkan dalam kitab Attarbiyah Wa Turuquttadris disebutkan bahwa:
"Belajar adalah suatu perubahan di dalam pemikiran siswa yang dihasilkan dari pengalaman terlebih dahulu kemudian menumbuhkan perubahan yang baru dalam pemikiran siswa."
Jadi, belajar adalah suatu proses yang kompleks untuk memperoleh perubahan baik kognitif, afektif, maupun psikomotorik. Proses pembelajaran tersebut melibatkan siswa secara langsung. Maka akan memberikan pengalaman tersendiri bagi siswa sehingga menumbuhkan perubahan yang positif pada tingkah lakunya.
Pembelajaran dalam pendidikan berasal dari kata 'instruction' yang berarti pengajaran. Menurut E. Mulyasa pembelajaran pada hakikatnya adalah proses interaksi antara peserta didik dengan lingkungannya sehingga terjadi perubahan perilaku ke arah yang lebih baik. Pembelajaran merupakan proses yang diselenggarakan oleh guru untuk membelajarkan siswa dalam belajar, bagaimana belajar memperoleh dan memproses pengetahuan, keterampilan, dan sikap.4 Sedangkan menurut Oemar Hamalik pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan, dan prosedur yang saling mempengaruhi mencapai tujuan pembelajaran.
Berdasarkan berbagai pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran adalah proses interaksi antara siswa dengan lingkungan belajar yang diatur guru untuk mencapai tujuan pengajaran yang telah ditetapkan. Untuk mencapai tujuan pengajaran tersebut, juga harus didukung oleh fasilitas yang disediakan sekolah sesuai dengan materi yang diajarkan agar tujuan pembelajaran dapat tercapai.
Setelah dibahas masalah pembelajaran, selanjutnya akan dibahas mengenai pendidikan. Menurut F. J. Mc. Donald pendidikan adalah: Education is a process or an activity which is directed at producing desirable changes in the behaviour of human beings.6 Bahwa pendidikan adalah sebuah proses atau sebuah aktivitas yang bertujuan untuk menghasilkan perubahan yang diinginkan.
Menurut UU No. 20 tahun 2003 bab I pasal 1 ayat 1 pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.
Jadi, pendidikan adalah suatu proses penyadaran diri untuk mengembangkan potensi-potensi sehingga menghasilkan perubahan menuju suatu kepribadian yang utama yang tampak dalam kebiasaan bertingkah laku, berpikir, dan bersikap.
Setelah penulis kemukakan beberapa definisi pendidikan, selanjutnya penulis akan memaparkan definisi pendidikan agama Islam. Pendidikan Agama Islam adalah upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati, hingga mengimani ajaran Agama Islam dibarengi dengan tuntunan untuk menghormati penganut agama lain dalam hubungannya dengan kerukunan antar umat beragama hingga terwujud kesatuan persatuan bangsa. Sedangkan menurut Zakiyah Daradjat yang telah dikutip oleh Abdul Majid dan Dian Andayani menyatakan bahwa Pendidikan Agama Islam adalah suatu usaha untuk membina dan mengasuh peserta didik agar senantiasa dapat memahami ajaran Islam secara menyeluruh. Lalu menghayati tujuan, yang pada akhirnya dapat mengamalkan serta menjadikan Islam sebagai pandangan hidup.
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran Pendidikan Agama Islam merupakan proses interaksi antara peserta didik dengan lingkungan belajar yang telah diatur oleh guru yang berguna untuk membina dan mengasuh secara sistematis dan pragmatis dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati, mengimani hingga mengamalkan ajaran agama Islam dibarengi dengan tuntunan untuk menghormati penganut agama lain dalam hubungannya dengan kerukunan antarumat beragama hingga terwujud persatuan dan kesatuan bangsa melalui ajaran-ajaran dasar yang terdapat dalam al Qur'an dan Hadits.
2. Fungsi dan Tujuan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
a. Fungsi pembelajaran Pendidikan Agama Islam
Fungsi utama pendidikan yaitu untuk menumbuhkan kreativitas peserta didik dan menanamkan nilai yang baik.  Sedangkan fungsi Pendidikan Agama Islam yaitu:
1) Pengembangan: untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan peserta didik kepada allah SWT yang telah ditanamkan dalam lingkungan keluarga.
2) Penanaman nilai sebagai pedoman hidup untuk mencari kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.
3) Penyesuaian mental: untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial dan dapat mengubah lingkungannya sesuai dengan ajaran agama
Islam.
4) Perbaikan yaitu untuk memperbaiki kesalahan - kesalahan, kekurangan, dan kelemahan peserta didik dalam keyakinan, pemahaman, dan pengalaman ajaran dalam kehidupan sehari - hari.
5) Pencegahan yaitu untuk menangkal hal-hal negatif dari lingkungannya atau dari budaya lain yang dapat membahayakan dirinya dan menghambat perkembangannya menuju manusia indonesia seutuhnya.
6) Pengajaran tentang ilmu pengetahuan keagamaan secara umum (alam nyata dan nir-nyata), sistem dan fungsionalnya.
7) Penyaluran, yaitu untuk menyalurkan anak-anak yang memiliki bakat khusus di bidang agama Islam agar dapat berkembang secara optimal sehingga dapat dimanfaatkan untuk dirinya sendiri
dan bagi orang lain. Berarti dapat disimpulkan bahwa fungsi pembelajaran Pendidikan Agama Islam yaitu untuk meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan peserta didik kepada Allah SWT yang telah ditanamkan sejak dini dalam diri peserta didik sebagai pedoman hidup untuk mencari kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.
b. Tujuan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
Tujuan artinya sesuatu yang dituju yaitu sesuatu yang akan dicapai dengan kegiatan atau usaha. Suatu kegiatan akan berakhir
Chabib Thoha, Kapita Selekta Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996),

SKRIPSI PELAKSANAAN METODE CERITA UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN SOSIALISASI ANAK USIA DINI

SKRIPSI PELAKSANAAN METODE CERITA UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN SOSIALISASI ANAK USIA DINI

Friday, January 15, 2016
(0007-PGPAUD) SKRIPSI PELAKSANAAN METODE CERITA UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN SOSIALISASI ANAK USIA DINI

BAB II 
PELAKSANAAN METODE CERITA UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN SOSIALISASI ANAK USIA DINI DI TK. 

A. Metode Cerita
1. Pengertian Metode Cerita
Dalam mengkomunikasikan ilmu pengetahuan agar berjalan secara efektif, maka perlu menerapkan berbagai metode mengajar yang sesuai dengan tujuan, situasi dan kondisi yang ada guna meningkatkan pembelajaran dengan baik. Hal ini dikarenakan berhasil atau tidaknya suatu proses belajar mengajar ditentukan oleh adanya metode pembelajaran yang merupakan suatu bagian yang sangat urgen dalam sistem pembelajaran. Yang dimaksud dengan metode disini adalah suatu cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam proses pembelajaran, metode sangat diperlukan oleh guru guna kepentingan proses pengajarannya.
Metode mengajar adalah cara yang dipergunakan guru dalam mengadakan hubungan dengan siswa pada saat berlangsungnya pelajaran. Banyak sekali metode yang dapat digunakan dalam kegiatan belajar mengajar antara lain adalah metode cerita/kisah. Metode cerita merupakan salah satu dari metode-metode mengajar lainnya yang diajarkan dalam kegiatan belajar mengajar.
Metode cerita merupakan salah satu bentuk sastra yang bisa dibaca atau hanya didengar oleh orang yang tidak bisa membaca. Di dalam cerita terdapat suatu keindahan dan kenikmatan tersendiri bagi anak-anak maupun orang dewasa yang mendengar ataupun menyimak nya.
Metode cerita adalah metode yang mengisahkan peristiwa-peristiwa sebuah hidup manusia masa lampau yang menyangkut ketaatannya atau kemungkaran nya dalam hidup terhadap perintah Tuhan yang dibawakan oleh Nabi dan Rasul yang hadir di tengah-tengah mereka.
Metode kisah atau cerita mengandung arti suatu cara dalam menyampaikan materi pelajaran dengan menuturkan secara kronologis tentang bagaimana terjadinya sesuatu hal, baik yang sebenarnya atau rekaan saja. Metode cerita atau kisah ini merupakan salah satu metode pendidikan yang masyhur dan terbaik, sebab kisah itu mampu menyentuh jiwa dan pikiran anak. Metode ini pun memiliki kelebihan salah satunya dapat mengaktifkan dan membangkitkan semangat siswa. Metode ini juga mempunyai pengaruh tersendiri bagi jiwa dan akal, dengan mengemukakan argumentasi yang logis.6 Sebagaimana firman Allah SWT yang berbunyi
"kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al-Qur'an ini kepadamu dan sesungguhnya kamu sebelum (kami mewahyukan)nya adalah termasuk orang-orang yang belum mengetahui." (QS. Yusuf: 3)7
"Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir."(QS. Al-A'raf: 176)8
4H.M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam Suatu Tinjauan Teoritis dan Praktis Berdasarkan Pendekatan Interdisipliner, (Jakarta: Bumi Aksara, 1996), hlm. 70.
Moeslichatoen R., dalam bukunya "Metode Pengajaran di Taman Kanak-kanak" menjelaskan metode bercerita merupakan salah satu pemberian pengalaman belajar bagi anak TK dengan membawakan cerita secara lisan.9 Cerita yang dibawakan guru harus menarik dan mengundang perhatian anak dan tidak lepas dari tujuan pendidikan anak TK, serta isi cerita harus dikaitkan dengan mereka yang penuh suka cita dan dalam penyampaian cerita diusahakan mampu memberikan perasaan gembira agar anak dapat memahami isi cerita yang disampaikan oleh guru. Dengan bercerita guru dapat memanfaatkan cerita untuk menanamkan sifat kejujuran, keberanian, keramahan, nilai-nilai moral dan keagamaan serta sikap-sikap positif yang lain dalam kehidupan baik lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat.
Secara bahasa, cerita diartikan sebagai tuturan yang membentangkan bagaimana terjadinya suatu hal (peristiwa, kejadian dan sebagainya) atau karangan yang menuturkan perbuatan, pengalaman atau penderitaan orang, kejadian dan sebagainya (baik yang sungguh terjadi maupun yang hanya rekaan belaka).10
Kemudian dalam bahasa Arab cerita sama dengan Qishah yang bentuk jamaknya adalah Qishash.11 Sedangkan dalam bahasa Inggris adalah story, dan tale yang berarti pula cerita.12 Selain cerita menurut bahasa, cerita juga memiliki arti secara terminologi atau istilah.
Menurut istilah, Muhaimin mengartikan cerita sebagai: ungkapan peristiwa-peristiwa bersejarah yang mengandung nilai-nilai pendidikan moral, rohani dan sosial bagi seluruh umat manusia di segala tempat dan zaman. Baik yang mengenai kisah yang bersifat kebaikan maupun Kedhaliman atau juga ketimpangan jasmani, rohani, materiil dan spiritual yang dapat melumpuhkan semangat manusia.
Kisah (cerita) memiliki peranan penting dalam memperkokoh ingatan anak dan kesadaran berfikir. Kisah (cerita) termasuk salah satu metode pendidikan islam yang efektif, karena kisah (cerita) yang diberikan kepada anak didik dapat mempengaruhi perasaannya dengan kuat.14 Dalam pendidikan islam, kisah (cerita) mempunyai fungsi yang sangat penting bagi perkembangan jiwa anak. Suatu kisah (cerita) bisa melahirkan sebuah kebahagiaan perasaan terhadap anak. Jika kisah (cerita) yang diberikan kepadanya kisah yang baik, maka ia akan berusaha menjadi anak yang baik.
Kisah (cerita) yang diberikan kepada anak, seharusnya diangkat dari Al-qur'an dan dapat digunakan sebagai salah satu cara untuk menyampaikan ajaran islam yang terkandung dibalik cerita tersebut misalnya aspek aqidah, ibadah maupun akhlak. Ketiga aspek ajaran islam ini bisa diberikan kepada anak usia prasekolah melalui metode kisah (cerita).
Cerita merupakan salah satu bentuk sastra yang memiliki keindahan dan kenikmatan tersendiri, selain itu cerita juga bisa dibaca atau hanya didengar oleh orang yang tidak bisa membaca.16 Akan menyenangkan bagi anak-anak maupun orang dewasa, jika pengarang, pencerita, dan penyimaknya sama-sama baik.
Dari pengertian-pengertian tersebut sekurang-kurangnya dapat disimpulkan bahwa cerita adalah suatu karya sastra yang dimaksudkan sebagai sarana untuk mengungkapkan sepenggal atau seluruhnya dari kejadian-kejadian atau peristiwa-peristiwa yang benar-benar terjadi (nyata) atau hanya rekaan (fiktif) belaka agar bisa diambil pelajaran.
Banyak jenis-jenis cerita, misalnya cerita islami yang dikenal dengan sebutan kisah. Cerita islami tidak hanya meliputi cerita yang bersumber dari kisah-kisah dalam Al-qur'an, tetapi juga cerita-cerita kehidupan sehari-hari dan juga cerita tentang kehidupan binatang yang di dalamnya memang terkandung nilai-nilai kebijakan atau moral ajaran islam yang pantas diteladani oleh anak.
Abdurrahman An-Nahlawi mengatakan, kisah mempunyai fungsi edukatif yang tidak dapat digantikan dengan bentuk penyampaian lain selain bahasa. Hal ini disebabkan kisah Qur'ani dan Nabawi memiliki beberapa keistimewaan yang membuatnya mempunyai dampak psikologis dan edukatif yang sempurna, rapi, dan jauh jangkauannya seiring dengan perkembangan zaman. Disamping itu, kisah (cerita) edukatif itu mampu memotivasi manusia untuk mengubah perilakunya, memperbaiki tekadnya sesuai dengan tuntutan pengarahan dari akhir kisah itu, serta mengambil pelajaran darinya.
Cerita yang sarat dengan hikmah-hikmah sangat baik untuk diceritakan kepada anak. Dengan nuansa islami dan ilustrasi yang menarik, buku-buku cerita sangat cocok sebagai media komunikasi untuk menasehati anak-anak tanpa menggurui. Dalam kehidupan sehari-hari selalu ada kebaikan dan kejahatan. Anak yang sering diberi cerita, akan tahu bahwa kebaikan selalu menang dan dengan sendirinya anak terdorong untuk melakukan hal-hal yang baik.
Melalui cerita inilah, seorang guru dapat menyampaikan pesan-pesan kebijakan dan kebajikan kepada anak-anak. Langsung atau tidak langsung, pesan bermakna dalam dan kadangkala mengandung arti nilai falsafah hidup yang begitu tinggi itupun begitu mendalam diterima anak-anak dan dikenang sepanjang hidupnya.
Dengan adanya kegiatan bercerita, guru dapat mendidik serta mengajar anak dengan memberi contoh lebih efektif daripada menasehatinya. Karena dengan bercerita akan lebih didengar daripada nasehat murni.
Bercerita dapat dijadikan metode untuk menyampaikan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat. Dalam cerita atau dongeng dapat ditanamkan berbagai macam nilai moral, nilai agama, nilai sosial, nilai budaya, dan sebagainya. Kita mungkin masih ingat pada masa kecil dulu, tidak segan-segannya orang tua selalu mengantarkan tidur anak-anaknya dengan cerita atau dongeng. Tidaklah mudah untuk dapat menggunakan metode bercerita. Dalam bercerita seorang guru harus menerapkan beberapa hal, agar pesan yang terdapat dalam sebuah cerita dapat sampai kepada anak didik. Beberapa hal yang dapat digunakan untuk memilih cerita dengan fokus moral, diantaranya:
a. Pilih cerita yang mengandung nilai baik dan buruk yang jelas.
b. Pastikan bahwa nilai baik dan buruk itu berada pada batas jangkauan
kehidupan anak.
c. Hindari cerita yang "memeras" perasaan anak, menakut-nakuti secara
fisik.18
Dalam bercerita seorang guru juga dapat menggunakan alat peraga untuk mengatasi keterbatasan anak yang belum mampu berfikir secara abstrak. Alat peraga yang dapat digunakan antara lain: boneka, tanaman, benda-benda tiruan, dan lain-lain. Selain itu juga bisa memanfaatkan kemampuan olah vokal yang dimilikinya untuk membuat cerita itu lebih hidup, sehingga lebih menarik perhatian anak. Strategi atau cara yang dapat digunakan ketika guru memilih metode bercerita sebagai salah satu metode yang digunakan dalam penanaman nilai moral adalah membagi anak menjadi beberapa kelompok, misalnya dalam satu kelas dibagi ke dalam 4 (empat) kelompok. Anak-anak yang mengikuti kegiatan bercerita duduk di lantai mengelilingi guru yang duduk di kursi kecil dikelilingi oleh mereka. Anak-anak yang duduk di lantai akan mendengarkan cerita yang disampaikan oleh guru. Sedangkan tiga kelompok yang lain duduk di kursi meja lainnya dengan kegiatan yang berbeda-beda, misalnya ada yang menggambar dan melipat kertas, sedangkan kelompok yang keempat membentuk plastisin. Anak-anak yang mengikuti kegiatan bercerita pada gilirannya akan mengikuti kegiatan menggambar, melipat kertas dan membentuk plastisin. Melalui cara ini, masing-masing anak akan mendapatkan kegiatan atau pengalaman belajar yang sama secara bergantian.
Sekarang sudah banyak buku-buku cerita. Melalui cerita islami seperti do'a anak muslim, seri 20 kisah teladan perjalanan hidup Rasulullah yang meliputi judul "Aku adalah Gajah, Kisah Buroq, Aku sumur Badar dan sebagainya."
Kegiatan bercerita memberikan sejumlah manfaat bagi aspek perkembangan kognitif, afektif maupun psikomotor anak. Memberikan pengalaman belajar yang unik dan menarik, serta dapat menggetarkan perasaan, membangkitkan semangat, dan menimbulkan keasyikan tersendiri. Sehingga memungkinkan pengembangan dimensi perasaan anak TK.
Dari tema cerita yang disajikan guru dengan cara yang menarik menjadikan anak larut dalam imajinatif dalam cerita itu. Anak akan mengidentifikasi tokoh-tokoh dalam cerita yang mempunyai sikap-sikap yang baik dan menghindari berbuat seperti tokoh-tokoh cerita yang tidak baik. Misalnya kalau guru bertutur cerita "Bawang Merah dan Bawang Putih". Maka anak akan mengidentifikasikan dirinya sebagai Bawang Putih karena Bawang Putih itu anak yang berbakti kepada orangtua, yang suka menolong, suka bersahabat, suka bekerja, tidak mendendam, rajin dan sebagainya. Sebaliknya anak tidak menyukai Bawang Merah karena ia anak yang suka menjelek-jelekkan anak lain, suka curang, pemalas, mau menang sendiri dan sebagainya.20
Bermacam nilai sosial, moral dan agama dapat ditanamkan melalui kegiatan cerita. Nilai-nilai sosial yang dapat ditanamkan kepada anak misalnya bagaimana seharusnya sikap seseorang dalam hidup bersama dengan orang lain, seperti saling menolong, saling menghormati dan lain-lain.
Metode cerita adalah merupakan salah satu metode yang digunakan pendidik di TK. Metode cerita merupakan salah satu pemberian pengalaman belajar bagi anak TK dengan membawakan cerita kepada anak secara lisan.
Metode cerita diartikan sebagai teknik yang dilakukan dengan cara bercerita yaitu mengungkapkan peristiwa-peristiwa bersejarah yang mengandung nilai pendidikan moral, rohani, dan sosial bagi seluruh umat manusia di segala tempat dan zaman, baik yang mengenai kisah yang bersifat kebaikan maupun kedzaliman atau juga ketimpangan jasmani, rohani, materi dan spiritual yang dapat melumpuhkan semangat manusia.21
Menurut Armai Arief, metode cerita adalah suatu cara dalam menyampaikan materi pelajaran dengan menuturkan secara kronologis tentang bagaimana terjadinya suatu hal baik yang sebenarnya atau rekaan saja.
Dalam Bahasa Inggris, cerita diartikan sebagai "Story atau Tale, is a story from ancient times about people and event, that may not be true.” Yang artinya, cerita kuno tentang orang-orang dan suatu kejadian yang terjadi atau tidak mungkin terjadi. Sedangkan Tale is an imaginative story, especially one that is full of action ang adventure.23 Artinya cerita imajinasi yang khusus tentang aksi dan petualangan.

SKRIPSI MEMBANGUN PEMAHAMAN KARAKTER KE JUJURAN MELALUI PERMAINAN TRADISIONAL JAWA PADA ANAK USIA DINI

SKRIPSI MEMBANGUN PEMAHAMAN KARAKTER KE JUJURAN MELALUI PERMAINAN TRADISIONAL JAWA PADA ANAK USIA DINI

Friday, January 15, 2016
(0006-PGPAUD) SKRIPSI MEMBANGUN PEMAHAMAN KARAKTER KE JUJURAN MELALUI PERMAINAN TRADISIONAL JAWA PADA ANAK USIA DINI

BAB 2 
KAJIAN PUSTAKA

2.1 Hakikat Paud
2.1.1 Pengertian Paud
Pendidikan anak usia dini (Paud) adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.

2.1.2 Prinsip-prinsip Pendidikan Anak Usia Dini
Dalam melaksanakan pendidikan anak usia dini hendaknya menggunakan prinsip-prinsip sebagai berikut:
2.1.2.1 Berorientasi pada kebutuhan anak
Kegiatan pembelajaran pada anak harus senantiasa berorientasi kepada kebutuhan anak. Anak usia dini adalah anak yang sedang membutuhkan upaya-upaya pendidikan untuk mencapai optimalisasi semua aspek perkembangan baik fisik maupun psikis, yaitu intelektual, bahasa, motorik, dan sosial emosional.
2.1.2.2 Belajar melalui bermain
Bermain merupakan sarana belajar anak usia dini. Melalui bermain anak diajak untuk bereksplorasi, menemukan, memanfaatkan, dan mengambil kesimpulan mengenai benda di sekitarnya.
2.1.2.3 Lingkungan yang kondusif
Lingkungan harus diciptakan sedemikan rupa sehingga menarik dan menyenangkan dengan memperhatikan keamanan serta kenyamanan yang dapat mendukung kegiatan belajar melalui bermain
2.1.2.4 Menggunakan pembelajaran terpadu
Pembelajaran pada anak usia dini harus menggunakan konsep pembelajaran yang terpadu yang dilakukan melalui tema.
2.1.2.5 Mengembangkan berbagai kecakapan hidup
Mengembangkan keterampilan hidup yang dapat dilakukan melalui berbagai proses pembiasaan. Hal ini dimaksudkan agar anak belajar menolong diri sendiri, mandiri dan bertanggungjawab serta memiliki disiplin diri
2.1.2.6 Menggunakan berbagai media edukatif dan sumber belajar
Media dan sumber pembelajaran dapat berasal dari lingkungan alam sekitar atau bahan-bahan yang sengaja disiapkan oleh pendidik/guru.
2.1.2.7 Dilaksanakan secara bertahap dan berulang-ulang
Pembelajaran bagi anak usia dini hendaknya dilakukan secara bertahap, dimulai dari konsep yang sederhana dan dekat dengan anak. Agar konsep dapat dikuasai dengan baik hendaknya guru menyajikan kegiatan-kegiatan yang berulang. 2.2 Konsep Bermain dan Permainan
2.2.1 Pengertian Bermain
Bermain (play) adalah setiap kegiatan yang dilakukan untuk kesenangan yang ditimbulkannya, tanpa mempertimbangkan hasil akhir. Bermain dilakukan secara sukarela dan tidak ada paksaan atau tekanan dari luar atau kewajiban (Hurlock, 1978: 320). Menurut piaget dalam Hurlock (1978: 320) bermain terdiri atas tanggapan yang diulang sekedar untuk kesenangan fungsional. Menurut Battelheim dalam Hurlock (1978: 320) kegiatan bermain adalah kegiatan yang tidak mempunyai peraturan lain kecuali yang ditetapkan pemain sendiri dan tidak ada hasil akhir yang dimaksudkan dalam realitas luar.
Sully dalam bukunya Essay on Laughter (dalam Millar, 1972) dalam Tedjasaputra (2011: 15) mengemukakan bahwa tertawa adalah tanda dari kegiatan bermain dan tertawa ada di dalam aktivitas sosial yang dilakukan bersama sekelompok teman. Menurut Sully , bermain memang mempunyai manfaat tertentu. Hal yang penting dan perlu ada di dalam kegiatan bermain adalah rasa senang yang ditandai oleh tertawa.
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa bermain adalah suatu kegiatan yang apabila dilakukan akan menimbulkan perasaan senang.
2.2.2 Pengertian Permainan
Kata "permainan" berasal dari kata dasar "main" yang antara lain berarti melakukan perbuatan untuk bersenang-senang (Purwaningsih, 2006). Menurut Battelheim dalam Hurlock (1978: 322), Permainan dan olah raga merupakan permainan bagi anak kecil karena menang atau bersaing tidak diperhitungkan, tujuannya hanya untuk kesenangan. Beberapa contoh permainan pada masa kanak-kanak adalah :
1) Permainan pada bayi, terdiri dari permainan yang sederhana dan bisa dilakukan dalam keluarga. Misalnya permainan cilukba, petak umpet dan berpantun.
2) Permainan individual (dilakukan sendiri) pada usia sekitar 4-5 tahun, anak memainkan permainan-permainan untuk menguji kemampuan dirinya. Misalnya saja melompati parit, melompat dengan satu kaki, memantulkan bola ke lantai, meniti tanggul parit dan seterusnya.
3) Permainan bersama teman-teman. Saat anak mempunyai minat melakukan permainan individual, mereka juga mulai berminat dengan kegiatan bersama teman-teman yang biasanya diarahkan oleh anak yang lebih besar. Permainan yang pada umumnya dilakukan adalah petak umpet, pencuri dan polisi, lompat tali,
main kejar-kejaran dan sejenisnya.
4) Permainan beregu, permainan ini mempunyai aturan-aturan yang tinggi. Contoh dari permainan beregu adalah bola basket, sepak bola.
5) Permainan di dalam ruang (indoor play), permainan di dalam ruang pada umumnya dimainkan saat anak harus berdiam di dalam rumah karena sakit, lelah atau cuaca buruk.
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa permainan adalah kegiatan yang dilakukan dengan aturan-aturan yang telah ditetapkan sebelumnya. Permainan dapat dilaksanakan secara individu maupun kelompok. Permainan juga dapat dilakukan di dalam atau luar ruangan, tergantung dari jenis permainan yang dimainkan.
2.3 Faktor yang Mempengaruhi Permainan Anak
Menurut Hurlock (1978: 323) faktor yang mempengaruhi permainan anak adalah sebagai berikut :
1) Kesehatan
Kesehatan sangat mempengaruhi aktivitas anak, termasuk bermain. Anak yang lebih sehat akan cenderung melakukan dan menyenangi kegiatan bermain aktif daripada pasif. Banyaknya energi yang dikeluarkan, membuatnya lebih aktif dan ingin menyalurkan energinya tersebut. Sementara anak yang kurang bergairah, kurang sehat dan mudah lelah akan lebih menyukai kegiatan bermain pasif, yang memang tidak membutuhkan energi yang banyak.
2) Perkembangan Motorik
Kegiatan bermain sedikit banyak bergantung pada perkembangan motorik anak, baik motorik halus maupun motorik kasar. Kegiatan bermain aktif akan lebih banyak menggunakan keterampilan motorik terutama motorik kasar. Sedangkan bermain pasif kurang begitu banyak melibatkan koordinasi motorik.
3) Intelegensi
Biasanya anak yang lebih pandai lebih aktif dari pada anak yang kurang pandai. Dan ini berlaku bagi anak pada setiap jenjang usia. Anak yang pandai juga lebih kreatif dan penuh rasa ingin tahu. Sehingga kegiatan bermain aktif dan pasif sama-sama diminati oleh anak yang pandai. Kegiatan bermain yang menggunakan aktivitas fisik dan intelektual sangat digemari anak yang pandai.
4) Jenis kelamin
Banyak penelitian yang telah dilakukan terhadap perbedaan yang terjadi antara anak laki-laki dan perempuan dalam memilih kegiatan bermain. Anak laki-laki cenderung lebih menyukai aktivitas bermain aktif, seperti olahraga dan permainan seperti perang-perangan juga lebih sering dilakukan oleh anak laki-laki. Sedangkan anak perempuan lebih menyenangi kegiatan bermain konstruktif dan permainan seperti monopoli, ular tangga dan permainan yang lebih "tenang" sifatnya.