HARAP DIBACA DULU !
Cara pembelian file :
1. SMS atau Whatsapp kan kode file dan alamat email anda ke : 0877-0247-1469 (bukan voice line, SMS only). Contoh : kode EKON0001, xxxxxx@gmail.com.
2. Setelah pesan Anda kami terima, kami akan konfirmasi via SMS ketersediaan file tersebut, sekaligus menginstruksikan untuk membayar ganti biaya pengetikan ke rekening kami dengan ketentuan harga 1 skripsi/PTK = 50rb; harga 1 tesis = 75rb; ditambah dengan 3 digit angka paling belakang nomor HP Anda
3. Jika Anda telah selesai mentransfer, lakukan konfirmasi dengan mengirim SMS ke nomor 0877-0247-1469 (bukan voice line, SMS only).
4. Apabila langkah-langkah diatas telah Anda lakukan, kami akan segera mengirim SKRIPSI, PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK) atau TESIS sesuai dengan request anda (lengkap dari cover s/d daftar pustaka, bisa dalam format WORD atau PDF) melalui attachment (lampiran) ke alamat email yang anda berikan (maksimal 1 jam dari saat pengecekan transfer), Anda tinggal mengeditnya.
Mohon maaf, dengan segala hormat kami tidak melayani :
1. Tawar menawar harga.
2. Komplain setelah lewat 2 hari dari tanggal pengiriman.
Terima kasih atas perhatiannya.
SKRIPSI PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN NHT BERBANTUAN MBI TERHADAP HASIL BELAJAR BAHASA INDONESIA SISWA KELAS V
1. Pengertian belajar
Menurut Purwanto (2009: 38) belajar adalah proses dalam diri individu yang berinteraksi dengan lingkungan untuk mendapatkan pembahan dalam perilakunya. Sedangkan menurut Dimyati dan Mudjiono (2009: 25) belajar merupakan tindakan dan perilaku siswa yang komplek. Sebagai tindakan, maka belajar hanya dialami oleh siswa sendiri. Menurut Slameto (2010: 2) belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu pembahan tingkah laku yang bam secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.
Dalam sistem pendidikan tujuan kurikulum maupun tujuan instruksional, menurut Benyamin Bloom (Sudjana, 2011: 22) menggunakan klasifikasi hasil belajar secara garis besar menjadi tiga ranah antara lain: (a) ranah kognitif berkenaan dengan hasil belajar intelektual yakni pengetahuan atau ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis, sentesis, dan evaluasi, (b) ranah efektif berkenaan dengan sikap yang terdiri dan lima aspek yakni, penerimaan, jawaban atau reaksi, penilaian, organisasi dan internalisasi, dan (c) ranah psikomotoris berkenaan dengan hasil belajar keterampilan dan kemampuan bertindak yang terdiri dan enam aspek yakni, gerakan refleksi, ketepatan, gerakan keterampilan kompleks dan gerakan ekspresif dan interpretatif.
Dari beberapa pendapat di atas dapat diartikan bahwa hasil belajar merupakan suatu hasil yang diperoleh dari peserta didik setelah mengikuti proses pembelajaran. Jadi hasil menentukan tercapai tidaknya tujuan pendidikan yang diaplikasikan dalam bentuk penilaian dalam rangka memberikan pertimbangan apakah tujuan pendidikan tersebut tercapai. Penilaian hasil belajar tersebut dilakukan terhadap proses belajar mengajar untuk mengetahui tercapainya tidaknya tujuan pengajaran dalam hal penguasaan bahan pelajaran oleh peserta didik, selain itu penilaian tersebut dilakukan untuk mengetahui keefektifan proses belajar mengajar yang dilakukan oleh guru.
2. Teori belajar
Sebenarnya terdapat berbagai teori belajar yang dikemukakan oleh para ahli. Namun dalam uraian berikut ini dibatasi hanya pada teori belajar yang mendukung pembelajaran kooperatif. a. Teori kontruktivisme sosial
Kontruktivisme sosial berasal dari Vygotsky. Menurut Vygotsky dalam Huda (2012: 24), mental siswa berkembang pada level intrapersonal di mana mereka belajar menginternalisasi kan dan mentransformasikan interaksi interpersonal mereka dengan orang lain. Lalu pada level intrapersonal di mana mereka mulai memperoleh pemahaman dan keterampilan baru dari hasil interaksi ini. Landasan inilah yang menjadi alasan mengapa siswa perlu diajak untuk berinteraksi bersama siswa lain yang lebih mampu atau orang yang lebih dewasa sehingga mereka bisa menyelesaikan tugas-tugas yang tidak bisa mereka selesaikan sendiri. Oleh karena itu, pembelajaran kooperatif menekankan pada belajar kelompok
antar siswa.
a. Teori Piaget
Teori lain yang mendukung tentang belajar kelompok kecil yang ada pada pembelajaran kooperatif berasal dari teori Piaget tentang konflik sosio kognitif. Menurut Piaget dalam Huda (2012: 25), konflik tersebut muncul ketika siswa mulai merumuskan kembali pemahamannya akan suatu masalah yang bertentangan dengan pemahaman siswa atau orang lain yang sedang berinteraksi dengannya. Saat pertentangan terjadi setiap siswa akan tertantang untuk menuturkan kembali pemahamannya kepada siswa lain dan bersama siswa lain secara bersama-sama menyelesaikan dan meluruskan pemahaman-pemahaman yang masih bertentangan tersebut.
3. Ciri-ciri hasil belajar
Menurut Dimyati dan Mudjiono (2009: 26) membagi beberapa ciri-ciri hasil belajar adalah hasil belajar memiliki kapasitas berupa pengetahuan, kebiasaan, keterampilan sikap dan cita-cita, adanya perubahan mental dan perubahan jasmani, dan memiliki dampak pengajaran dan pengiring. Dari penjelasan tersebut, dapat ditekankan bahwa ciri-ciri hasil belajar adalah berupa perubahan pengetahuan, kebiasaan, sikap serta adanya perubahan mental dan perubahan jasmani yang ditunjukan.
4. Prinsip belajar
Menurut Dimyati dan Mudjiono (2009: 42) prinsip-prinsip belajar yang dapat digunakan sebagai dasar dalam upaya pembelajaran, baik bagi siswa untuk meningkatkan upaya belajar maupun bagi guru dalam upaya untuk meningkatkan mengajar adalah perhatian dan motivasi, keaktifan, keterlibatan langsung/berpengalaman, pengulangan, tantangan, penguatan, dan perbedaan individual. Sedangkan prinsip-prinsip belajar menurut Suprijono (2012: 4) adalah perubahan perilaku, belajar merupakan proses yang sistemik yang dinamis, konstruktif, organik, dan belajar merupakan pengalaman yang pada dasarnya adalah hasil interaksi antara peserta didik dengan lingkungannya.
Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan peneliti bahwa belajar memiliki prinsip-prinsip bahwa belajar memerlukan proses dan penahapan serta kematangan diri siswa, belajar akan lebih mantap dan efektif bila didorong dengan motivasi sehingga siswa dapat berpartisipasi aktif, meningkatkan minat dan membimbing untuk mencapai tujuan instruksional. Perkembangan pengalaman anak didik akan banyak mempengaruhi kemampuan belajar yang bersangkutan serta belajar perlu ada interaksi siswa dengan lingkungan.
5. Ranah penilaian hasil belajar siswa
Menurut Dimyati dan Mudjiono (2009: 26) ranah penilaian hasil belajar meliputi ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotor. Ketiga ranah tersebut merupakan penentu hasil belajar siswa. Berikut ranah penilaian hasil belajar antara lain sebagai berikut.
a. Ranah kognitif
Ranah kognitif menurut Bloom, dkk (Dimyati dan Mudjiono, 2009: 26) menyatakan bahwa ranah kognitif terdiri dari enam jenis perilaku sebagai berikut.
1. Pengetahuan, mencapai kemampuan ingatan tentang hal yang telah dipelajari dan tersimpan dalam ingatan. Pengetahuan itu berkenaan dengan fakta, peristiwa, pengertian, kaidah, teori, prinsip, atau metode.
2. Pemahaman, mencakup kemampuan menangkap arti dan makna tentang hal yang dipelajari.
3. Penerapan, mencakup kemampuan menerapkan metode dan kaidah untuk menghadapi masalah yang nyata dan baru. Misalnya, menggunakan prinsip.
4. Analisis, mencakup kemampuan merinci suatu kesatuan ke dalam bagian- bagian sehingga struktur keseluruhan dapat dipahami dengan baik. Misalnya mengurangi masalah menjadi bagian yang telah kecil.
5. Sintesis, mencakup kemampuan membentuk suatu pola baru. Misalnya kemampuan menyusun suatu program kerja.
6. Evaluasi, mencakup kemampuan membentuk pendapat tentang beberapa hal berdasarkan kriteria tertentu. Misalnya, kemampuan menilai hasil karangan.
b. Ranah afektif
Ranah afektif menurut Krathwohl dan Bloom, dkk (Dimyati dan Mudjiono, 2009: 27) terdiri dari lima perilaku-perilaku sebagai berikut.
1) Penerimaan, yang mencakup kepekaan tentang hal tertentu dan kesediaan memperhatikan hal tersebut. Misalnya, kemampuan mengakui adanya perbedaan-perbedaan.
2) Partisipasi, yang mencakup kerelaan, kesediaan memperhatikan, dan berpartisipasi dalam suatu kegiatan. Misalnya, mematuhi aturan, dan berpartisipasi dalam suatu kegiatan.
3) Penilaian dan penentuan sikap, yang mencakup menerima suatu nilai, menghargai, mengakui dan menentukan sikap. Misalnya, menerima suatu pendapat orang lain.
4) Organisasi, yang mencakup kemampuan membentuk suatu sistem nilai sebagai pedoman dan pegangan hidup. Misalnya, menempatkan nilai dalam suatu skala nilai dan dijadikan pedoman bertindak secara bertanggung jawab.
5) Pembentukan pola hidup, yang mencakup kemampuan menghayati nilai dan membentuknya menjadi pola nilai kehidupan pribadi. Misalnya, pada kemampuan untuk mempertimbangkan dan menunjukkan tindakan yang berdisiplin.
c. Ranah psikomotor
Ranah psikomotor menurut Simpson (Dimyati dan Mudjiono, 2009: 29) terdiri dari tujuh jenis perilaku yaitu persepsi yang mencakup kemampuan memilah-milah kan (mendiskriminasikan) hal-hal secara khas, dan menyadari adanya perbedaan yang khas tersebut. Misalnya, pemilahan warna, angka 6 dan 9, huruf b dan d, persiapan yang mencakup kemampuan penempatan diri dalam keadaan di mana akan terjadi suatu gerakan atau rangkaian gerakan. Kemampuan ini mencakup jasmani dan rohani. Misalnya, posisi star lomba tari. Gerakan terbimbing mencakup kemampuan melakukan gerakan sesuai contoh, atau gerakan peniruan. Misalnya, meniru gerak tari, membuat lingkaran di atas pola.
SKRIPSI PENGAJARAN KEMAMPUAN MENULIS CERPEN DENGAN METODE RESITASI DAN METODE KONTEKSTUAL PADA SISWA KELAS X DI SMA
1. Pengertian Menulis
Ada beberapa pakar yang menjabarkan pengertian menulis Menurut Tarigan (1994: 21) menulis adalah menurunkan atau melukiskan lambang-lambang grafik yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami oleh seseorang, sehingga orang-orang lain dapat membaca lambang-lambang grafik tersebut kalau mereka memahami bahasa dan gambaran grafik itu.
Menurut Suparno dan Muhammad Yunus (2007: 1.29) menulis adalah kegiatan komunikasi berupa penyampaian pesan secara tertulis kepada pihak lain. Menurut Nurudin (2007: 4) menulis adalah kegiatan yang dilakukan seseorang untuk menghasilkan tulisan. Sedangkan menurut Wiyanto (2004: 1) menulis berarti mengubah bunyi yang dapat didengar menjadi tanda-tanda yang dapat dilihat.
Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa menulis adalah menurunkan atau melukiskan lambang-lambang grafik yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami oleh seseorang sehingga orang-orang lain dapat membaca lambang-lambang grafik tersebut.
2. Unsur-unsur Menulis
Menurut The Liang Gie (dalam Nurudin, 2007: 5), unsur menulis setidak-tidaknya terdiri dari : gagasan, tuturan (narasi, deskripsi, eksposisi, argumentasi, persuasi), tatanan, dan wahana.
Unsur yang pertama adalah gagasan. Yang dimaksud dengan gagasan adalah pendapat, pengalaman, atau pengetahuan yang ada dalam pikiran seseorang. Setiap orang mesti punya gagasan, apapun bentuk gagasan itu. Gagasan seseorang akan sangat tergantung pada pengalaman masa lalu, pengetahuan yang dimilikinya, latar belakang hidupnya, kecenderungan personal dan untuk tujuan apa gagasan itu ingin dikemukakan.
Unsur yang kedua adalah tuturan. Tuturan adalah pengungkapan gagasan sehingga dapat dipahami oleh pembaca. Ada beberapa macam-macam tuturan antara lain : narasi (penceritaan), deskripsi (pelukisan), eksposisi (pengungkapan berdasar fakta secara teratur, logis, terpadu), argumentasi (meyakinkan), dan persuasi (pembujukan).
Unsur yang ketiga adalah tatakan. Tatanan yang dimaksud di sini adalah tertib pengaturan dan penyusunan gagasan dengan mengindahkan berbagai asas, aturan, dan teknik sampai merencanakan rangka dan langkah. Ini berarti menulis tidak sekedar menulis, tetapi menulis dengan disertai sebuah "aturan" menulis.
Unsur selanjutnya adalah wahana. Wahana juga sering disebut dengan alat. Wahana dalam menulis berarti sarana pengantar gagasan berupa bahasa tulis yang terutama menyangkut kosakata, gramatika, dan retorika (seni memakai bahasa). Bagi penulis pemula, wahana sering menjadi masalah yang krusial. Akan tetapi, jika disertai niat yang menggelora disertai dengan belajar terus menulis, wahana lambat laun akan bisa dilalui dengan mudah.
3. As as Menulis yang Baik
Menurut Nurudin (2007 : 39) asas menulis yang baik adalah kejelasan (clarity), keringkasan (consieness), ketepatan (correctness), kesatu paduan (unity), penegasan (emphasis).
Yang dimaksud kejelasan adalah tulisan harus dapat dibaca dan dimengerti oleh pembaca. Ini juga termasuk bahwa yang dimaksud penulis tidak disalahartikan atau salah tafsir oleh pembaca gara-gara kalimat-kalimatnya tidak jelas. Dengan kata lain kalimat bisa dikatakan jelas kalau apa yang dipahami oleh pembaca sama persis dengan apa yang dimaksud penulisnya.
Yang dimaksud keringkasan di sini adalah bahwa kalimat yang disusun tidak saja pendek-pendek tetapi jangan menggunakan ungkapan-ungkapan yang berlebihan. Hal ini juga berarti jangan terlalu menghambur-hamburkan kata seenaknya, tak berputar-putar atau mengulang-ulang dalam menyampaikan gagasan. Namun demikian, pendek-pendek juga bukan berarti tanpa masalah.
Ketepatan (correctness), yang dimaksud ketepatan adalah suatu penulisan harus dapat menyampaikan butir gagasan kepada pembaca dengan kecocokan seperti yang dimaksud penulisnya. Ini berarti apa yang diinginkan oleh penulis bisa dipahami sama persis oleh pembacanya. Itu pulalah yang sering dianjurkan bahwa penulis yang baik adalah penulis yang mampu memahami siapa pembaca tulisannya.
Kesatu paduan (unity), yang dimaksud dengan kesatu paduan adalah ada satu gagasan dalam satu alenia. Kasus demikian sering dialami oleh penulis pemula yang belum terbiasa membuat alinea dengan hanya satu pokok pikiran. Satu alenia sebisa mungkin hanya memiliki satu pokok pikiran dengan beberapa pokok pikiran penjelas.
Pertautan (coherence), yang dimaksudnya adalah antar bagian bertautan satu sama lain (antar alenia atau kalimat). Ketiadaan pertautan sangat sering terjadi bila seorang penulis menulis dengan tergesa-gesa dan hanya kompilasi (menggabungkan berbagai sumber tanpa ada kata atau kalimat perangkai atau hanya tumpukan pendapat banyak orang yang disusun sendiri) dari berbagai sumber. Penegasan (Emphasis), adanya penonjolan atau punya derajat perbedaan antar bagian. Ini sangat tergantung pada keahlian penulis. Seorang penulis yang mahir akan bisa menyebar penekanan pada setiap bagian, tetapi, bukan berarti penulis pemula tidak bisa melakukannya. Penulis pemula bisa melakukannya dengan cara membuat sub bahasan dari sebuah tulisan.
Ada enam tahapan yang dapat ditempuh oleh seorang yang hendak menulis cerpen. Enam tahap dimaksud adalah
(1) tahap peningkatan peristiwa,
(2) tahap pemilihan peristiwa,
(3) tahap penyusunan urutan peristiwa,
(4) tahap perangkaian peristiwa fiktif,
(5) tahap penyusunan cerpen, dan
(6) tahap revisi dan penjadian cerpen.
Pada tahap peng ingatan peristiwa, penulis melakukan kegiatan mengingat-ingat peristiwa-peristiwa yang pernah dialami/dirasakannya, tetapi diketahuinya. Peristiwa di sini dapat berupa peristiwa fisik maupun peristiwa non-fisik (batin, pemikiran, perasaan, dsb).
Pada tahap pemilihan peristiwa, penulis melakukan kegiatan menentukan salah satu peristiwa di antara sekian peristiwa yang pernah dialaminya/dirasakannya, atau diketahuinya.
Selanjutnya tahap penyusunan urutan peristiwa. Pada tahap ini penulis melaksanakan kegiatan menyusun urutan peristiwa yang pernah dialaminya/dirasakannya, ataupun mengubah urutan peristiwanya disusun secara garis besar, tidak rinci, dan mendetil.
Tahap perangkaian peristiwa fiktif. Pada tahap ini penulis melaksanakan kegiatan merangkai peristiwa nyata dengan peristiwa fiktif. Penulis dapat mengurai, menambah, ataupun mengubah urutan peristiwa yang telah disusunnya.
Tahap penyusunan cerpen. Pada tahap ini penulis menuliskan peristiwa yang telah ditambah dan/atau yang telah diubah (peristiwa fiktif).
Tahap revisi dan penjadian cerpen, pada tahap ini penulis melaksanakan kegiatan membaca kembali cerpen yang ditulisnya. Apabila ada hal-hal yang perlu diperbaiki, penulis dapat memperbaikinya. Apabila penulis merasa perlu untuk merombak cerpennya, maka penulis boleh melakukannya. Setelah direvisi cerpen ditulis kembali dihasilkan sebuah cerpen (Nurudin, 2007:6).
B. Cerpen
1. Pengertian Cerpen
Cerita pendek adalah cerita berbentuk prosa yang relatif pendek (Sumardjo, 1986: 30). Menurut bentuk fisiknya cerita pendek (atau disingkat menjadi cerpen) adalah suatu cerita yang pendek (Sumardjo, 1986: 36). Notosusanto (dalam Tarigan, 1986: 176) mengatakan bahwa "cerita pendek" adalah cerita yang panjangnya sekitar 5000 kata atau kira-kria 17 halaman kuarto spasi rangkap yang terpusat dan lengkap pada dirinya.
Rosidi dalam (Tarigan, 1986: 176) memberi batasan dan keterangan bahwa "cerpen atau cerita pendek merupakan cerita yang
SKRIPSI PENERAPAN PENDEKATAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING DALAM PEMBELAJARAN MENULIS PUISI PADA SISWA KELAS X SMA
1. Pengertian Menulis Puisi
Menulis merupakan salah satu aspek keterampilan berbahasa ketiga setelah menyimak dan berbicara, kemudian membaca. Ketrampilan menulis adalah ketrampilan proses karena hampir semua orang yang membuat tulisan, baik karya ilmiah, nonilmiah, maupun catatan pribadi, jarang yang melakukan secara spontan dan langsung jadi, demikian dikata (Jauhari, 2012:16).
Menulis sebagai peningkatan kecerdasan. Pada waktu, menulis, daya nalar kita berjalan selain mengeluarkan ide-ide, kita juga mengingat-ingat informasi yang pernah didapat. Hal seperti itu sama dengan melatih ketajaman dan daya tangkap otak. Anak yang bisa belajar dengan berlatih dan menghafal ketajaman otaknya jauh lebih baik dari pada anak didaerah terpencil yang aktivitas sehari-harinya hanya bermain dan mencari makanan, demikian dikata (Jauhari, 2013:15).
Menulis adalah menurunkan atau melukiskan lambang-lambang grafik yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami oleh seseorang, sehingga orang-orang lain dapat membaca lambang-lambang grafik tersebut kalau bisa memahami bahasa dan gambaran grafik itu, demikian dikata (Tarigan, 1994:21).
Menulis adalah pengungkapan ide, gagasan, pikiran, dan pengetahuan seseorang yang diwujudkan dengan lambang-lambang fonem yang telah disepakati bersama. Untuk mendapat ide, gagasan, dan pengetahuan tersebut, kita perlu menyimak dan membaca, demikian dikata (Jauhari, 2013:24).
ata puisi berasal dari bahasa Yunani poieo atau poio yang berarti 1) membangun, 2) menyebabkan, menimbulkan, dan 3) membuat puisi. "Poetes" berarti membuat puisi atau penyair, demikian dikata (Jauhari, 2013:130). Kosasih (2012:97) mengatakan bahwa puisi adalah bentuk karya sastra yang menggunakan kata-kata indah dan karya makna. Keindahan sebuah puisi disebabkan oleh diksi, majas, rima, dan irama yang terkandung dalam karya sastra Sejalan pendapat tersebut, Azizi dkk (2012:124) puisi adalah ragam sastra yang bahasa terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait. Pada dasar membuat puisi seseorang telah menciptakan suatu dunia tersendiri yang mungkin berisi pesan atau gambaran suasana-suasana tertentu baik fisik maupun batin. Puisi itu karya estetis yang bermakna, yang mempunyai arti, bukan hanya sesuatu yang kosong. Oleh karena itu, sebelum pengkajian aspek-aspek yang lain, perlu lebih dahulu puisi dikaji sebagai sebuah struktur yang bermakna dan bernilai estetis, demikan dikata (Pradopo, 2005:3). Dalam puisi bunyi bersifat estetis, yang merapakan unsur puisi untuk mendapatkan keindahan dan tenaga ekspresif. Bunyi disamping hiasan dalam puisi, puisi juga mempunyai tugas yang penting yaitu untuk memperdalam ucapan, menimbulkan rasa, menimbulkan bayangan angan yang jelas, dan menimbulkan suasana yang khusus, demikian dikata (Baribin, 1990:41).
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa menulis puisi adalah cara menuangkan ekspresi pemikiran dari pengarang yang dapat membangkitkan perasaan, merangsang imajinasi panca indra yang digali dari situasi lingkungan masyarakat atau pengalaman pengarang dalam bentuk tulisan dan disajikan untuk masyarakat dalam suasana yang berirama yang direkam dan diekspresikan, dinyatakan dengan menarik dan memberi kesan.
2. Cara Menulis Puisi
Telah kita ketahui bahwa puisi sudah dikenal lama oleh masyarakat donesia. Tidak semua orang dapat menulis puisi dengan bagus dan semua makna tersampaikan. Ada beberapa cara untuk menulis puisi menurut Dewi, dkk, 2009:36-37). a. Menentukan Tema
Tema merapakan gagasan pokok yang dikemukakan oleh penyair melalui puisinya. Tema yang sering digunakan dalam puisi misalnya ketuhanan (religious), kemanusiaan, cinta, patrotisme, penyelesalan. Kembangkan pilihan kata ke dalam larik-larik puisi. Kembangkan kalimat-kalimat yang telah siswa pilih ke dalam larik-larik puisi yang ada biar bisa mempermudah menentukan.
b.Menyusun Larik-Larik Puisi Menjadi Kalimat
Larik-larik yang telah siswa susun dapat siswa disatukan ke dalam bait puisi. Jagan lupa, siswa haras memperhatikan persajakan atau rima dalam menyusun larik ke dalam bait. Perlu siswa ketahui bahwa persajakan dibentuk dari persamaan bunyi.
c.Beri Judul Pada Puisi Yang Kita Buat
Judul dapat diambil dari pilihan kata yang berkesan atau sama dengan tema. Judul diungkapkan dengan kata-kata menarik.
3. Hal-Hal Menulis Puisi
Menurut Kosasih (2012:124) hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menulis
puisi sebagai berikut.
a. Puisi diciptakan dalam suasana perasaan intens yang menuntut pengucapan jiwa yang spontan dan padat. Dalam puisi, seseorang berbicara dan mengucapkan dirinya sendiri secara ekspresif. Hal berbeda dengan prosa, yang pengarangnya tidak selalu mengucapkan dirinya sendiri, tetapi juga bisa berbicara tentang orang lain dan dunianya yang lain.
1) Sebuah proses sosial dalam puisi harus berbeda dengan proses sosial dalam esai, berita, pidato dan pamplet.
2) Hal yang sama juga berlaku untuk sajak cinta, yang harus kita bedakan dengan surat cinta atau rayuan seorang kekasih di taman, di belakang sekolah atau rayuan berbusa dari seorang jejaka dalam telenovela.
3) Tema-tema keutuhan yang diangkat dalam puisi berbeda dengan khotbah atau doa-doa keagamaan yang dilantunkan oleh peminta- peminta di dalam atau terminal.
puisi mendasarkan masalah atau berbagai hal yang menyentuh kesadaran Anda sendiri. Tema yang kita tulis berangkat dari inspirasi dari sendiri yang khas, sekecil, dan sederhana apa pun inspirasi itu.
c. Dalam menulis puisi kita perlu memikirkan cara penyampaiannya.
Cara penyampaian ide tau perasaan atau majas.
1)Gaya bahasa adalah perkataan yang terungkap karena perasaan yang timbul atau hidup dalam hatimu dan mampu menimbulkan suatu perasaan dalam tertentu dalam hati pembaca.
2)Gaya bahasa membuat kalimat-kalimat dalam puisi menjadi hidup, bergerak dan merangsang pembaca untuk member reaksi tertentu dan berkontemplasi atas apa yang dikemukakan penyair.
4.Ciri - Ciri Menulis Puisi
a.Puisi bersifat pemusatan atau konsentrik, karena bentuk puisi hanya memusatkan pelukis annya pada hal-hal pokok.
b.Hampir semua kata yang dipakai dalam penulisan menunjuk arti yang tidak sebenarnya. Kata-kata dalam puisi berperan sebagai lambang-lambang atau kiasan-kiasan.
c.Kata-kata dalam puisi bersifat konotatif. Kadang-kadang kata-kata dalam puisi disebut pula sebagai kata-kata bersayap karena mempunyai kemungkinan arti yang lebih dari satu.
d.Penyusunan baris-baris kalimat atau tipografi pada puisi ditentukan bukan hanya oleh pertautan makna atau arti, melainkan juga rasa atau suasana puisi. Pengubahan tipografi dari bentuk yang sudah ditentukan penyair ke
bentuk tipografi yang lain akan berakibat menggubah makna dan rasa atau suasana puisi bersangkutan, demikian dikata (Kosasih, 2012:115).
5.Unsur-Unsur Puisi Menurut Kosasih (2012:97) secara garis besar, unsur-unsur puisi terbagi menjadi dua macam, yakni struktur fisik atau struktur batin. Dimana unsur-unsur puisi sebagai berikut. a. Unsur fisik
1) Diksi (Pemilihan Kata)
Kata-kata yang digunakan dalam puisi merupakan hasil pemilihan yang sangat cermat. Kata-kata merupakan hasil pertimbangan, baik itu makna, susunan bunyinya, maupun hubungan kata itu dengan kata-kata lain dalam baris dan baitnya. Diksi adalah pemilihan kata-kata yang dilakukan oleh penyair dalam puisi. Karena puisi adalah bentuk karya sastra yang
SKRIPSI KEEFEKTIFAN TEKNIK SCAFFOLDING DALAM PEMBELAJARAN MENULIS CERPEN SISWA KELAS X
1. Pengertian Menulis
Pembelajaran bahasa wajib mengajarkan berbagai keterampilan berbahasa, salah satunya adalah keterampilan menulis. Menulis itu sendiri diartikan sebagai suatu keahlian dalam menuangkan suatu ide, gagasan atau gambaran yang ada di dalam pikiran manusia menjadi sebuah karya tulis yang dapat dibaca dan mudah dimengerti atau dipahami orang lain (Wardhana via Rohmadi, 2007: 33). Di sisi lain, Tarigan (2008: 22) mengatakan bahwa menulis ialah menurunkan atau melukiskan lambang-lambang grafik yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami oleh seseorang, sehingga orang- orang lain dapat membaca lambang-lambang grafik tersebut kalau mereka memahami bahasa dan gambaran grafik itu.
Sementara itu, menulis juga merupakan kemampuan kompleks yang menuntut sejumlah pengetahuan dan keterampilan (Akhadiah, 1988: 2). Melalui kegiatan menulis, penulis terdorong untuk terus belajar secara aktif. Penulis menjadi penemu sekaligus pemecah masalah bukan sekadar menjadi penyadap informasi dari orang lain. Penulis akan lebih mudah memecahkan permasalahannya, yaitu menganalisisnya secara tersurat dalam konteks yang lebih kongkret. Kegiatan menulis yang terencana akan membiasakan seseorang berpikir serta berbahasa secara tertib. Berdasarkan pendapat para ahli di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa menulis adalah keterampilan kompleks seseorang dalam menyampaikan gagasan atau pendapat dengan menggunakan lambang-lambang grafik yang berfungsi sebagai alat komunikasi yang berupa nonverbal untuk menyampaikan pesan kepada pembaca oleh penulis.
2. Fungsi dan Tujuan Menulis
Pada dasarnya fungsi dan tujuan utama menulis adalah sebagai alat komunikasi yang tidak langsung atau tidak tatap muka. Menulis dapat memudahkan seseorang untuk merasakan dan menikmati hubungan-hubungan, memperdalam daya tanggap atau persepsi, memecahkan masalah-masalah yang sedang dihadapi, dan menyusun urutan pengalaman. Ada beberapa tujuan menulis yang diungkapkan Hairston (via Darmadi 1996:3), tujuan tersebut adalah sebagai berikut.
2.a. Sarana untuk menemukan sesuatu.
2.b. Kegiatan menulis dapat memunculkan ide baru.
2.c. Melatih kemampuan mengorganisasi dan menjernihkan berbagai konsep atau ide yang kita miliki.
2.d. Melatih sikap objektif yang ada pada diri seseorang.
2.e. Membantu diri kita untuk menyerap dan memproses informasi.
2.f. Kegiatan menulis akan memungkinkan seseorang berlatih memecahkan beberapa masalah sekaligus.
2.g. Kegiatan menulis dalam sebuah bidang ilmu akan memungkinkan seseorang menjadi aktif dan tidak hanya menjadi penerima informasi.
3. Tahap dalam Menulis
Seorang penulis pasti akan mengalami proses yang panjang dalam menciptakan suatu karya yang kreatif. Sehubungan dengan hal tersebut, penulis harus mengetahui tahapan apa saja yang harus dilalui dalam menciptakan karya kreatif tersebut. Sumardjo (2007: 75 - 78) mengemukakan bahwa pada dasarnya terdapat lima tahap proses kreatif menulis yaitu tahap persiapan, inkubasi, inspirasi, penulisan, dan revisi. Masing-masing tahap tersebut dijelaskan sebagai berikut.
Pertama, adalah tahap persiapan. Pada tahap ini seorang penulis telah menyadari apa yang akan dia tulis dan bagaimana ia akan menuliskannya. Apa yang akan ditulis adalah munculnya gagasan, isi tulisan. Sedang bagaimana ia akan menuangkan gagasan itu adalah soal bentuk tulisannya. Soal bentuk tulisan inilah yang menentukan syarat teknik penulisan. Gagasan itu akan ditulis dalam bentuk artikel atau esai, atau dalam bentuk cerpen, atau dalam bentuk yang lain. Dengan demikian, yang pertama muncul adalah sang penulis telah mengetahui apa yang akan dituliskan nya dan bagaimana menuliskannya. Munculnya gagasan seperti ini memperkuat si penulis untuk segera memulainya atau mungkin juga masih diendapkan nya.
Kedua, tahap inkubasi. Pada tahap ini gagasan yang telah muncul tadi disimpan dan dipikirkan matang-matang, dan ditunggu waktu yang tepat untuk menuliskannya. Selama masa pengendapan ini biasanya konsentrasi penulis hanya pada gagasan itu saja. Di mana saja dia berada dia memikirkan dan mematangkan gagasannya.
Ketiga, saat inspirasi. Inilah saat “Eureka” yaitu saat yang tiba-tiba seluruh gagasan menemukan bentuknya yang amat ideal. Gagasan dan bentuk ungkapannya telah jelas dan padu. Ada desakan yang kuat untuk segera menulis dan tak bisa ditunggu-tunggu lagi.
Keempat, tahap penulisan. Jika pada tahap inspirasi telah muncul maka segeralah lari ke mesin tulis atau komputer atau ambil bolpoin dan segera menulis. Keluarkan segala hasil inkubasi selama ini. Tuangkan semua gagasan yang baik atau kurang baik, muntahan semuanya tanpa sisa dalam bentuk tulisan yang direncanakan nya. Jangan pikirkan mengontrol diri dulu. Jangan menilai mutu tulisanmu dahulu. Itu nanti pada tahap berikutnya. Rasio belum boleh bekerja dulu. Bawah sadar dan kesadaran dituliskan dengan gairah besar. Hasilnya masih suatu karya kasar, masih sebuah draf belaka. Spontanitas amat penting disini.
Kelima, adalah tahap revisi. Periksalah dan nilai lah berdasarkan pengetahuan dan apresiasi yang dimiliki. Buang bagian yang di nalar tidak perlu, tambahkan yang mungkin perlu ditambahkan. Pindahkan bagian atas ke tengah atau ke bawah. Potong, tambal, dan jahit kembali berdasarkan rasio, nalar, pola bentuk yang telah diapresiasi dengan baik. Disinilah disiplin diri sebagai penulis diuji. Ia harus mau mengulangi menuliskannya kembali. Inilah bentuk tulisan terakhir yang dirasa telah mendekati idealnya Kalau sudah mantap, boleh diminta orang lain untuk membacanya.
4. Cerpen
Cerita pendek atau sering disingkat sebagai cerpen termasuk ke dalam bentuk prosa naratif fiktif. Cerita pendek cenderung padat dan langsung pada tujuannya dibandingkan karya-karya fiksi yang lebih panjang, seperti novella (dalam pengertian modern) dan novel. Karena singkatnya, cerita yang sukses mengandalkan teknik-teknik sastra seperti tokoh, plot, tema, bahasa dan insight secara lebih luas dibandingkan dengan fiksi yang lebih panjang. Ceritanya bisa dalam berbagai jenis.
Sebuah cerpen bukanlah sebuah novel yang dipendekkan dan juga bukan bagian dari novel yang belum ditulis. Cerpen merupakan suatu karya fiksi yang bisa dibaca sekali duduk. Dalam sebuah cerpen ceritanya membangkitkan efek tertentu pada diri pembaca. Cerpen biasanya memiliki alur tunggal yang langsung pada peristiwa dan menekankan pada tokoh utamanya saja (Sayuti, 2000: 8).
Di sisi lain, Nurgiyantoro (2010: 10) mengemukakan bahwa cerpen sesuai dengan namanya adalah cerita yang pendek. Akan tetapi, berapa ukuran panjang pendek itu memang tidak ada aturannya, tidak ada satu kesepakatan di antara para pengarang dan para ahli. Walaupun sama-sama pendek, panjang
SKRIPSI KEEFEKTIFAN PEMBELAJARAN MENULIS CERPEN DENGAN MENGGUNAKAN MODEL PROBLEM BASED INSTRUCTION (PBI) DAN MODEL SINEKTIK PADA SISWA SMA
Peneliti menemukan beberapa penelitian yang relevan dengan penelitian yang dilakukan peneliti. Yaitu penelitian yang telah dilakukan oleh Hidayah (2009), Tranwati (2009), Mustikarini (2009), Pusparingga (2010), Budiman (2010). HidYY ((1 \&§ kcjAkf Y V jhnmd Penerapan Model Sinektik untuk Meningkatkan Keterampilan Menulis Puisi Siswa Kelas X4 SMA Negeri 1 Purwonegoro Kabupaten Banjarnegara Tahun Ajaran 2009/2010 menyimpulkan bahwa hasil tes pada siklus I sebesar 60,2 , sedangkan siklus II naik menjadi 74. Kenaikan sebesar 23,16 %. Perubahan perilaku diperoleh dari hasil nontes yang berupa observasi, jurnal, wawancara, dan dokumentasi foto. Peningkatan yang terjadi sebesar 43,33 % yaitu dengan rincian siklus I 60 dan siklus II naik menjadi 86. Jadi peningkatan keterampilan menulis puisi sangat dipengaruhi perilaku siswa.
Persamaan dengan penelitian yang di lakukan peneliti adalah model pembelajaran yang digunakan sama yaitu model Sinektik, yaitu suatu model pembelajaran yang digunakan untuk mengembangkan kreativitas dengan menggunakan pola berfikir analogi dan metafora.
Perbedaan penelitian yang di lakukan peneliti dengan Hidayah ada 3, yaitu Hidayah meneliti tentang keterampilan menulis puisi. Keterampilan menulis puisi yang ingin dicapai adalah jika mencapai nilai ketuntasan belajar yang telah ditetapkan oleh Hidayah yaitu 70. Peneliti meneliti keterampilan menulis cerpen. Menulis cerpen merupakan pembelajaran keterampilan menulis sebuah cerita pendek yang hams dimiliki oleh siswa. Kemampuan menulis cerpen yang dilakukan oleh siswa SMAN 2 Rembang kabupaten Rembang tahun ajaran 2011/2012 dapat diketahui dari hasil tugas yang diberikan oleh peneliti kepada siswa mengenai aspek-aspek menulis cerpen berdasarkan kisah cerita pengalaman orang lain setelah dilakukan pembelajaran menggunakan model Problem Based Instruction (Pada kelas A) dan model sintetik (pada kelas B). Perbedaan selanjutnya yaitu Hidayah hanya menggunakan satu buah kelas X, dan peneliti menggunakan dua buah kelas X. Perbedaan yang lain yaitu pada objek penelitian Hidayah hanya menggunakan satu model pembelajaran yaitu model sintetik, dan peneliti menggunakan dua model pembelajaran di dua kelas yang berbeda yaitu model Problem Based Instruction (PBI) di kelas A dengan model sintetik di kelas B. Problem Based Instruction (PBI) merupakan model pembelajaran yang menghadirkan masalah-masalah yang ada di sekitar siswa untuk merangsang proses berpikir kritis siswa untuk menemukan permasalahan yang nantinya akan dituangkan dalam cerpen. Model sintetik merupakan model pembelajaran yang merangsang kreativitas siswa dalam berpikir.
Metode penelitian yang digunakan peneliti berbeda dengan metode penelitian yang digunakan Hidayah. Dalam penelitiannya Hidayah menggunakan metode penelitian Penelitian Tindakan Kelas (PTK), yaitu penelitian tindakan yang berfokus pada proses belajar mengajar yang terjadi di kelas, bukan pada input kelas (silabus, mated, dll) ataupun output (hasil belajar). PTK dilakukan sebanyak dua kali yaitu siklus I dan siklus II di kelas yang sama. Peneliti menggunakan metode penelitian eksperimen yang dilakukan lebih dari dua kali di dua kelas yang berbeda. Metode eksperimen digunakan karena peneliti ingin menguji keefektifan dari dua model pembelajaran yaitu model Problem Based Instruction (PBI) dengan model sintetik dalam pembelajaran menulis cerpen pada kelas X.
Hasil penelitian yang dilakukan Hidayah berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan peneliti. Hidayah menyimpulkan terdapat peningkatan nilai keterampilan siswa dalam menulis puisi sebesar 23,16% (dari nilainya 60,2 menjadi 74) dan perubahan nilai perilaku sebesar 43,33% (dari 60 menjadi 86) setelah dilakukan pembelajaran menggunakan model sintetik. Hasil penelitian yang dilakukan peneliti yaitu ingin mengetahui pelaksanaan pembelajaran menggunakan model Problem Based Instruction dan model sinektik; mengetahui hasil pembelajaran dengan model Problem Based Instruction dan model Sinektik; dan menguji keefektifan model pembelajaran antara model Problem Based Instruction dengan model sinektik dalam pembelajaran menulis cepen siswa SMA. Peningkatan Keterampilan Menulis Cerpen Berdasarkan Pengalaman Pribadi Melaui Media Angka berdasarkan pengalaman pribadi melalui media angka. Nilai rata-rata kelas X pada tahap prasiklus sebesar 52,74 dan mengalami peningkatan 7,99% menjadi 69,70. Pada siklus II nilai rata-rata kelas meningkat 8,97% menjadi 69,70. Siswa juga mengalami perubahan perilaku yang sebelumnya kurang antusias menjadi lebih termotivasi terhadap pembelajaran menulis cerpen.
Persamaan dengan penelitian yang di lakukan peneliti adalah keterampilan menulis cerpen yang dilakukan di kelas X SMA. Siswa dikatakan berhasil dalam pembelajaran keterampilan menulis cerpen jika siswa mampu menulis cerpen sesuai dengan langkah-langkah menulis cerpen.
Perbedaan penelitian yang di lakukan peneliti dengan Tranwati ada 3 yaitu Tranwati menggunakan media angka. Angka adalah lambang, simbol, tanda sebagai bilangan dari sesuatu. Pada dasarnya angka dapat memotivasi siswa dan membangkitkan minatnya mengikuti pembelajaran. Penggunaan media angka dalam proses pembelajaran menulis cerpen diharapkan dapat mempermudah dan memotivasi proses pembelajaran dan mempertinggi hasil pembelajaran sehingga kompetensi ini ini benar-benar dikuasai siswa. Sedangkan peneliti menggunakan objek 2 model pembelajaran yaitu model Problem Based Instruction (PBI) dan model sinektik. Model Problem Based Instruction merupakan model pembelajaran yang menghadirkan masalah-masalah yang ada di sekitar siswa untuk merangsang proses berpikir siswa untuk menemukan permasalahan yang dituangkan dalam cerpen. Model sintetik merupakan model pembelajaran yang mendorong proses kreatif siswa dalam berpikir dengan menganalogikan diri mereka untuk menemukan penyebab dan solusi dari sebuah peristiwa atau masalah yang digunakan untuk bahan cerpen yang mereka tulis. Metode penelitian yang digunakan peneliti berbeda dengan metode penelitian yang digunakan Tranwati. Dalam peneitiannya Tranwati menggunakan metode penelitian Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yaitu penelitian tindakan yang berfokus pada proses belajar mengajar yang terjadi di kelas, bukan pada input kelas (silabus, mated, dll) ataupun output (hasil belajar). PTK dilakukan sebanyak dua kali yaitu siklus I dan siklus II di kelas yang sama. Peneliti menggunakan metode penelitian eksperimen yang dilakukan lebih dari dua kali di dua kelas yang berbeda. Metode eksperimen digunakan karena peneliti ingin menguji keefektifan dari dua model pembelajaran yaitu model Problem Based Instruction (PBI) dengan model sintetik dalam pembelajaran menulis cerpen pada kelas X.
Hasil penelitian yang dilakukan peneliti berbeda dengan penelitian yang telah dilakukan Tranwati. Tranwati menyimpulkan adanya peningkatan keterampilan menulis cerpen berdasarkan pengalaman pribadi melalui media angka. Nilai rata-rata kelas X pada tahap prasiklus sebesar 52,74 dan mengalami peningkatan 7,99% menjadi 69,70. Pada siklus II nilai rata-rata kelas meningkat 8,97% menjadi 69,70. Siswa juga mengalami perubahan perilaku yang sebelumnya kurang antusias menjadi lebih termotivasi terhadap pembelajaran menulis cerpen. Hasil penelitian yang dilakukan peneliti yaitu ingin mengetahui pelaksanaan pembelajaran menggunakan model Problem Based Instruction dan model sinektik; mengetahui hasil pembelajaran dengan model Problem Based Instruction dan model Sintetik; dan menguji keefektifan model pembelajaran antara model Problem Based Instruction dengan model sintetik dalam pembelajaran menulis cerpen siswa SMA. Peningkatan Kemampuan Menulis Cerpen Dengan Media Komik Siswa Kelas X-7 SMA Negeri 1 Prembun Kebumen Tahun Pelajaran 2008/2009 . penelitiannya pada tahap siklus I nilai rata-rata siswa 70,30 termasuk kategori baik namun belum mencapai standar minimal 75,00. Pada siklus II nilai rata-rata siswa meningkat menjadi 76,55 dan telah memenuhi standar minimal. Selain itu juga ada perubahan perilaku siswa yang tadinya kurang antusias menjadi tertarik, lebih semangat, dan konsentrasi, sehingga suasana kelas lebih tenang dan tertib. Persamaan dengan penelitian yang di lakukan peneliti adalah keterampilan menulis cerpen. Keterampilan menulis cerpen merupakan salah satu keterampilan menulis kreatif. Menulis cerpen sebagai suatu kegiatan yang melahirkan pikiran perasaan ekspresif dan apresiatif.
Perbedaan penelitian yang di lakukan peneliti dengan Mustikarini ada 3 yaitu Mustikarini menggunakan objek media komik. Komik digunakan sebagai sarana untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis khususnya menulis cerpen, sedangkan peneliti menggunakan objek penelitian dua model pembelajaran yaitu model Problem Based Instruction dan model sinektik. Model Problem Based Instruction merupakan model pembelajaran yang menghadirkan masalah-masalah yang ada di sekitar siswa untuk merangsang proses berpikir siswa untuk menemukan permasalahan yang dituangkan dalam cerpen. Model sintetik merupakan model pembelajaran yang mendorong proses kreatif siswa dalam berpikir dengan menganalogikan diri mereka untuk menemukan penyebab dan solusi dari sebuah peristiwa atau masalah yang digunakan untuk bahan cerpen yang mereka tulis.
Metode penelitian yang digunakan peneliti berbeda dengan metode penelitian yang digunakan Mustikarini. Mustikarini menggunakan metode penelitian Penelitian Tindakan Kelas (PTK), yaitu penelitian tindakan yang berfokus pada proses belajar mengajar yang terjadi di kelas, bukan pada input kelas (silabus, mated, dll) ataupun output (hasil belajar). PTK dilakukan sebanyak dua kali yaitu siklus I dan siklus II di kelas yang sama. Peneliti menggunakan metode penelitian eksperimen yang dilakukan lebih dari dua kali di dua kelas yang berbeda. Metode eksperimen digunakan karena peneliti ingin menguji keefektifan dari dua model pembelajaran yaitu model Problem Based Instruction (PBI) dengan model sinektik dalam pembelajaran menulis cerpen pada kelas X.
Hasil penelitian yang dilakukan Mustikarini berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan peneliti. Hasil penelitian yang dilakukan Mustikarini menyebutkan terjadi perubahan berupa peningkatan nilai serta perilaku siswa. Pada tahap siklus I nilai rata-rata siswa 70,30 termasuk kategori baik namun belum mencapai standar minimal 75,00. Pada siklus II nilai rata-rata siswa meningkat menjadi 76,55 dan telah memenuhi standar minimal. Perubahan perilaku siswa yang tadinya kurang antusias menjadi tertarik, lebih semangat, dan konsentrasi, sehingga suasana kelas lebih tenang dan tertib. Hasil penelitian yang dilakukan peneliti yaitu ingin mengetahui pelaksanaan pembelajaran menggunakan model Problem Based Instruction dan model sinektik; mengetahui hasil pembelajaran dengan model Problem Based Instruction dan model Sinektik; dan menguji keefektifan model pembelajaran antara model Problem Based Instruction dengan model sinektik dalam pembelajaran menulis cepen siswa SMA.
Pusparingga (2010) dalam Peningkatan Keterampilan Menulis Cerpen melalui Teknik Pengandaian Diri Sebagai Tokoh dalam Drama Siswa SMAN 1 kenaikan nilai rat-rat 14,4 / 21,9 % dari 65,7 menjadi 80,1. Dan juga terdapat perubahan perilaku siswa menjadi lebih serius dan bersemangat dalam melaksanakan kegitan menulis cerpen.
Persamaan dengan penelitian yang di lakukan peneliti adalah keterampilan menulis cerpen. Yaitu keterampilan siswa dalam menuliskan sebuah cerita. Keterampilan menulis cerpen merupakan salah satu keterampilan menulis kreatif. Menulis cerpen sebagai suatu kegiatan yang melahirkan pikiran perasaan ekspresif dan apresiatif
Perbedaan penelitian yang dilakukan peneliti dengan Pusparingga ada 3 yaitu Pusparingga menggunakan teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam drama untuk mengajarkan pembelajaran menulis cerpen untuk membangkitkan rasa ingin tau dan memunculkan ide yang sangat menarik di benak siswa, membangkitkan motivasi dan rangsangan dalam proses belajar mengajar, serta dapat mempengaruhi psikologi siswa. Dalam penelitian yang dilakukan peneliti, siswa menulis cerita berdasarkan kisah pengalaman orang lain menggunakan dua buah model pembelajaran yang digunakan dalam pembelajaran menulis cerpen