SKRIPSI FAKTOR RISIKO INTRINSIK YANG BERHUBUNGAN DENGAN KE JADIAN ISPA PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS

Tuesday, January 26, 2016
(0012-FKM) SKRIPSI FAKTOR RISIKO INTRINSIK YANG BERHUBUNGAN DENGAN KE JADIAN ISPA PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS


BAB II 
LANDASAN TEORI

2.1 Landasan Teori
2.1.1 ISPA
Menurut Cameron dan Hafvander di negara berkembang anak-anak berumur 0-5 tahun (balita) adalah golongan masyarakat yang paling rawan. Hal ini tampak pada angka kematian bayi dan angka kematian balita (0-3 tahun) yang tinggi, yang dapat mencapai 10-20 kali lipat angka di negara industri (Depkes RI, 2001: 6).
Puffer dan Serrano melaporkan bahwa kematian anak balita disebabkan oleh diare, selain itu ISPA menunjukkan angka kematian yang lebih tinggi, menurut Mosley, sebagai penyebab langsung kematian diare juga sebagai penyebab utama kurang gizi dan penyebab lain adalah infeksi saluran nafas (Depkes RI, 2001:6).
Sebagai kelompok penyakit ISPA juga merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang utama. Hal ini disebabkan masih tingginya angka kematian. ISPA juga merupakan salah satu penyebab utama kunjungan pasien di sarana kesehatan sebanyak 40% - 60% kunjungan berobat di puskesmas dan 15% - 30% kunjungan berobat di bagian rawat jalan dan rawat inap RS disebabkan oleh ISPA (Depkes RI, 2001:8)
2.1.2. Definisi ISPA
ISPA adalah penyakit infeksi akut yang menyerang salah satu bagian dan atau lebih dari saluran nafas mulai dari hidung (saluran atas) hingga alveoli (saluran bawah) termasuk jaringan adneksanya seperti sinus, rongga telinga tengah, dan pleura.
2.1.3 Klasifikasi ISPA
Klasifikasi pneumonia berat didasarkan pada adanya batuk dan atau kesukaran bernafas disertai nafas sesak atau tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam (chest indrawing) pada anak usia 2 bulan - 5 tahun. Untuk kelompok umur < 2 bulan diagnosis pneumonia berat ditandai dengan adanya nafas cepat (fast breathing) yaitu frekuensi pernafasan sebanyak 60 kali permenit atau lebih atau adanya tarikan yang kuat pada dinding dada bagian bawah ke dalam (severe chest indrawing).
Klasifikasi pneumonia didasarkan pada adanya batuk dan atau kesukaran bernafas disertai adanya nafas sesuai umur. Batas nafas cepat (fast breathing) pada anak usia 2 bulan - 1 tahun adalah 50 kali per menit dan 40 kali per menit untuk anak usia 1 - 5 tahun.
Klasifikasi bukan pneumonia mencakup kelompok penderita balita dengan batuk yang tidak menunjukkan gejala peningkatan frekuensi nafas dan tidak menunjukkan penyakit-penyakit ISPA lain di luar pneumonia seperti batuk, pilek bukan pneumonia (common cold , pharingytis, tonsillitis, otitis).
2.1.4 Diagnosis ISPA
Beberapa tanda klinis yang dapat menyertai anak dengan batuk yang dikelompokkan sebagai tanda bahaya:
1. Tanda bahaya untuk anak golongan umur < 2 bulan adalah kurang bisa minum, kejang, kesadaran menurun, strider (suara tenggorokan yang terdengar bila terjadi penyempitan jalan nafas bagian atas oleh peradangan/oleh benda lain).
2. Tanda bahaya untuk anak golongan umur 2 bulan sampai 5 tahun adalah tidak bisa minum, kejang, kesadaran menurun, gizi buruk, dan strider. Walaupun anak/bayi ditemukan tanda bahaya tetapi jika tidak ditemukan tarikan dinding dada ke dalam dan atau nafas cepat maka didiagnosa bukan Pneumonia.
2.1.5 Etiologi ISPA
Etiologi ISPA terdiri lebih dari 300 jenis bakteri, virus, dan riketsia. Bakteri penyebab ISPA antara lain adalah genus Streptococcus, Stafilococcus, Pneumococcus, Haemophylus, Bordetela dan Corynebacterium. Virus penyebab ISPA antara lain adalah golongan Mixovirus, Adenovirus, Coronavirus, Pikornavirus, Mixoplasma, Herpesvirus dan lain-lain.
2.1.6 Patogenesis ISPA
Patogenesis ISPA mencakup interaksi antara mikroorganisme penyebab yang masuk melalui berbagai jalan, dengan daya tahan tubuh pasien, kuman mencapai alveolli melalui inhalasi, aspirasi kuman orofaring, penyebaran hematogen dari fokus infeksi lain, atau penyebaran langsung dari lokasi infeksi. Pada bagian saluran nafas bawah, kuman menghadapi daya tahan seluler makrofag alveolar, limfosit bronkial, dan netrofil. Juga daya tahan humoral Ig A dan Ig G dari reaksi bronkial (Slamet Suyono, 2001:802).
Terjadinya pneumonia tergantung pada virulensi mikroorganisme, tingkat kemudahan, dan luasnya daerah paru yang terkena serta penurunan daya tahan tubuh. Faktor predisposisi antara lain berupa kebiasaan merokok, pasca infeksi virus, penyakit jantung kronis, diabetes mellitus, keadaan imunodefisiensi, kelainan atau kelemahan struktur organ dada dan penurunan kesadaran (Slamet Suyono, 2001:802).
2.1.7 Faktor Risiko yang berhubungan kejadian ISPA antara lain:
2.1.7.1 Faktor Intrinsik
Faktor risiko intrinsik adalah faktor yang meningkatkan kerentanan (susceptibility) pejamu terhadap kuman penyebab, dalam hal ini adalah:
2.1.7.1.1 Umur Balita
Umur mempunyai pengaruh besar terhadap terjadinya ISPA. ISPA yang terjadi pada anak dan bayi akan memberikan gambaran klinik yang tampak lebih berat dibandingkan dengan orang dewasa. Gambaran klinik tersebut terutama disebabkan oleh infeksi virus pada bayi dan anak yang belum memperoleh kekebalan alamiah (Hood Alsagaff & Abdul Mukty, 2006: 111).
Menurut Ditjen PPM dan PLP (1996:4), dalam penentuan klasifikasi penyakit ISPA dibedakan atas dua kelompok berdasarkan umurnya, yaitu:
1) Kelompok umur 2 bulan - 5 tahun, klasifikasi dibagi atas pneumonia berat, pneumonia, dan bukan pneumonia.
2) Kelompok umur < 2 bulan, klasifikasi dibagi atas pneumonia berat dan bukan pneumonia.
Menurut Ditjen PPM dan PLP (1996: 6), balita yang berusia < 2 bulan dapat meningkatkan morbiditas dan mortalitas pneumonia sehingga lebih berisiko untuk terjadinya I SPA.
Menurut Soekidjo Notoatmodjo (2003:38), untuk beberapa penyakit tertentu pada bayi (anak balita) dan orang tua lebih rentan terserang. Dengan kata lain, orang pada usia sangat muda atau usia lebih tua rentan atau kurang kebal terhadap kuman penyakit - penyakit menular tertentu, yang dalam hal ini adalah penyakit ISP A. Hal ini mungkin disebabkan karena kedua kelompok umur tersebut daya tahan tubuhnya rendah.
2.1.7.1.2 Berat Badan Lahir
Berat badan merupakan ukuran antropometri yang terpenting dan paling sering digunakan pada bayi baru lahir (neonatus). Berat badan digunakan untuk mendiagnosis bayi normal atau berat badan lahir rendah (I Dewa Nyoman Supariasa, dkk.2001:27). Berat badan bayi ketika dilahirkan sebesar 2.500 gram atau lebih diklasifikasikan sebagai berat badan lahir normal, sedangkan yang ketika lahir mempunyai berat badan lahir kurang dari 2.500 gram diklasifikasikan sebagai berat badan lahir rendah (BBLR) (Achmad Djaeni Soediaoetama, 1993:34).
Berat badan lahir bayi dapat dipengaruhi status gizi ibu hamil, karena status gizi ibu hamil sangat mempengaruhi pertumbuhan janin dalam kandungan. Apabila status gizi buruk, baik sebelum kehamilan dan selama kehamilan, akan menyebabkan berat badan lahir rendah (BBLR). Di samping itu, akan mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan otak janin, anemia pada bayi baru lahir, bayi mudah terinfeksi, dan abortus (I Dewa Nyoman Supariasa, dkk. 2001:27). Dalam usia 0-4 bulan, anak sangat peka terhadap infeksi dan tidak jarang penyakit infeksi ini membawa kematian lebih-lebih apabila anak lahir dengan berat badan di bawah normal. Infeksi saluran pernafasan, penyakit campak, dan batuk rejan merupakan penyakit yang paling sering diderita anak (Sjahmien Moehji, 2003:32).
Pada masa bayi-balita, berat badan dapat digunakan untuk melihat laju pertumbuhan fisik. Pertumbuhan berkaitan dengan perubahan dalam besar, jumlah, ukuran, dan fungsi tingkat sel, organ maupun individu, yang diukur dengan berat, panjang, umur tulang, dan keseimbangan metabolik. Berat badan menggambarkan jumlah dari protein, lemak, air, dan mineral pada tulang (I Dewa Nyoman Supariasa, dkk. 2001:27-39).
2.1.7.1.3 Pemberian Air Susu Ibu (ASI) Eksklusif
Air Susu Ibu (ASI) adalah makanan yang paling baik dan tepat untuk pertumbuhan dan perkembangan yang sehat bagi bayi. ASI sangat ideal untuk bayi yang masih sangat tergantung pada air susu untuk mempertahankan hidupnya. Bayi yang disusui ibu lebih terjaga dari penyakit infeksi dan mempunyai kemungkinan untuk hidup lebih lama (Deddy Muchtadi, 1996:27-34).

Artikel Terkait

Previous
Next Post »