Showing posts with label skripsi keperawatan. Show all posts
Showing posts with label skripsi keperawatan. Show all posts
SKRIPSI HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU PRIMIGRAVIDA TRIMESTER III TERHADAP TEKNIK MENYUSUI YANG BENAR

SKRIPSI HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU PRIMIGRAVIDA TRIMESTER III TERHADAP TEKNIK MENYUSUI YANG BENAR

Thursday, June 16, 2016

(KODE : 0017-KEPERAWATAN ) : SKRIPSI HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU PRIMIGRAVIDA TRIMESTER III TERHADAP TEKNIK MENYUSUI YANG BENAR


BAB II 
TINJAUAN TEORITIS

A. Pengetahuan (Knowledge)
Pengetahuan adalah hasil "tahu", dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengindraan terjadi melalui pancaindra manusia, yakni indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan raba (Notoatmodj o,2003: 127).
Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang. Karena dari pengalaman dan penelitian ternyata perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan (Notoatmodjo, 2003: 128).
Penelitian Rogers (1974) yang dikutip oleh Notoatmodjo (2003: 128), mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku baru (berprilaku baru), didalam diri orang tersebut terjadi proses yang yang berurutan, yaitu Awareness (kesadaran), di mana orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui lebih dahulu terhadap stimulus (objek). Interest (merasa tertarik) terhadap stimulus atau objek tersebut. Di sini sikap subjek sudah mulai timbul. Evaluation (menimbang-nimbang) terhadap baik dan tidaknya stimulus tersebut bagi dirinya. Hal ini berarti sikap responden sudah lebih baik lagi. Trial, di mana subjek mulai mencoba melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh stimulus. Adoption, dimana subjek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran, dan sikapnya terhadap stimulus.
Pengetahuan yang dicakup di dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkat, yaitu :
a. Tahu (Know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan ini adalah mengingat kembali (recall) terhadap suatu spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima.
b. Memahami (Comprehension)
Memahami yaitu suatu kemampuan menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui, dan tempat menginterpretasikan materi tersebut secara benar.
c. Aplikasi (Application)
Aplikasi yaitu suatu kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi sebenarnya.
d. Analisis (Analysis)
Analisa yaitu suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam suatu struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu sama lain.
e. Sintesis (Synthesis)
Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.
f. Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi yaitu kemampuan untuk melakukan suatu penilaian terhadap suatu materi atau objek.

B. Sikap (Attitude)
Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup terhadap suatu stimulasi atau objek. Manifestasi sikap tidak dapat langsung dilihat, tetapi hanya dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari perilaku yang tertutup (Notoatmodjo, 2003: 130).
1. Komponen Pokok Sikap
Menurut Notoatmodjo (2003), komponen pokok sikap meliputi hal-hal berikut:
a. Kepercayaan (keyakinan), ide, dan konsep terhadap suatu objek.
b. Kehidupan emosional atau evaluasi emosional terhadap suatu objek.
c. Kecenderungan untuk bertindak.
2. Tingkatan Sikap
Menurut Notoatmodjo (2003), tingkatan sikap meliputi:
a. Menerima (Receiving)
Menerima, diartikan bahwa orang (subjek) mau dan memperhatikan stimulus yang diberikan objek.
b. Merespon (Responding)
Merespon yaitu memberikan jawaban jika ditanya, mengerjakan, dan menyelesaikan tugas yang diberikan mempakan indikasi sikap.
c. Menghargai (Valuing)
Menghargai yaitu pada tingkat ini individu mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan suatu masalah.
d. Bertanggungjawab (Responsible)
Bertanggung jawab yaitu mempakan sikap yang paling tinggi, dengan segala resiko bertanggungjawab terhadap sesuatu yang telah dipilih.
3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Sikap
Menurut Maulana (2009), faktor-faktor yang mempengaruhi sikap yaitu :
a. Faktor Internal yaitu faktor yang terdapat dalam diri pribadi manusia itu sendiri.
Faktor ini berupa daya pilih seseorang untuk menerima atau menolak pengaruh-pengaruh yang datang dari luar.
b. Faktor Eksternal yaitu faktor yang terdapat dari luar diri manusia itu sendiri.
Faktor ini berupa interaksi sosial diluar kelompok. Misalnya interaksi antara manusia dalam bentuk kebudayaaan yang sampai kepada individu melalui surat kabar, televisi, majalah, dan sebagainya.

C. Teknik Menyusui yang Benar
1. Pengertian Teknik Menyusui yang Benar
Perinasia (2003), menyatakan teknik menyusui yang benar adalah cara memberikan ASI kepada bayi dengan perlekatan dan posisi ibu dan bayi dengan benar.
Menurut Roesli (2008), agar proses menyusui dapat berjalan lancar, maka seorang ibu harus mempunyai keterampilan menyusui agar ASI dapat mengalir dari payudara ibu ke bayi secara efektif
2. Manfaat menyusui
Menurut Roesli (2008), bagi ibu dan bayi ASI menyebabkan kuatnya ikatan batin antara ibu dan bayi. Hal ini merupakan manfaat awal dari menyusui.
a. Manfaat bagi bayi
Menurut Saleha (2009), banyak manfaat pemberian ASI khususnya ASI ekslusif yang dapat dirasakan yaitu: komposisi sesuai kebutuhan, kalori dari ASI memenuhi kebutuhan bayi sampai usia enam bulan, ASI mengandung zat pelindung, perkembangan psikomotorik lebih cepat, menunjang perkembangan kognitif, menunjang perkembangan penglihatan, memperkuat ikatan batin antara ibu dan anak, dasar untuk perkembangan emosi yang hangat dan dasar untuk perkembangan kepribadian yang percaya diri.
b. Manfaat bagi ibu
Menurut Saleha (2009), manfaat menyusui bagi ibu adalah mencegah perdarahan pascapersalinan dan mempercepat kembalinya rahim ke bentuk semula, mempercepat ibu kembali ke berat badan sebelum hamil, menunda kesuburan, menimbulkan perasaan dibutuhkan dan mengurangi kemungkinan kanker payudara dan ovarium.
c. Manfaat bagi keluarga
Adapun manfaat menyusui bagi keluarga menurut Saleha (2009) adalah mudah dalam proses pemberiannya, mengurangi biaya rumah tangga dan bayi yang mendapat ASI jarang sakit, sehingga dapat menghemat biaya untuk berobat.
d. Manfaat bagi Negara
Manfaat menyusui bagi negara menurut Saleha (2009) adalah penghematan untuk subsidi anak sakit dan pemakaian obat-obatan, penghematan devisa dalam hal pembelian susu formula dan perlengkapan menyusui dan mendapatkan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. 
3. Posisi dan perlekatan menyusui yang benar
Menurut Maryunami, A. (2009), terdapat berbagai macam posisi menyusui sebagai berikut: 
a. Posisi ibu
1) Posisi menyusui ibu yang bersalin normal (persalinan spontan)
Ibu yang melahirkan secara spontan bisa lebih leluasa memilih posisi menyusui, sambil duduk atau berbaring menyamping. Jika posisi duduk yang dipilih: gunakan kursi yang nyaman, upayakan telapak kaki menginjak lantai dan gunakan bangku kecil sebagai pengganjal bila posisi kaki agak menggantung.
2) Posisi menyusui ibu yang melahirkan seksio caesaria
Football position adalah posisi yang disarankan untuk ibu yang melahirkan melalui persalinan seksio caesaria. Pada posisi ini: tubuh bayi digendong dengan salah satu tangan ibu, upayakan letak kepala bayi berada tepat dibawah payudara dan membentuk garis lurus dengan badan bayi dan posisi ini aman karena bagian bawah perut ibu yang masih nyeri akibat operasi dapat terlindungi. Posisi ini merupakan posisi yang paling nyaman bagi ibu maupun bayinya. (Varney's.2008).
3) Posisi menyusui ibu dengan bayi kembar
Sama dengan ibu yang melahirkan melalui persalinan seksio caesaria, football position (dengan cara seperti memegang bola) juga tepat untuk bayi kembar dimana kedua bayi disusui bersaman kiri dan kanan, dengan cara : kedua tangan ibu memeluk masing-masing satu kepala bayi, seperti memegang bola, letakkan tepat dibawah payudara ibu, posisi kaki bayi boleh dibiarkan menjuntai keluar, untuk memudahkan, kedua bayi dapat diletakkan pada satu bidang datar yang memiliki ketinggian kurang lebih sepinggang ibu dengan demikian, ibu cukup menopang kepala bayi kembarnya saja. Cara lain adalah dengan meletakkan bantal diatas pangkuan ibu.

SKRIPSI HUBUNGAN KEPATUHAN DALAM MENJALANKAN DIET DENGAN GULA DARAH TERKONTROL PADA PASIEN DIABETES MELITUS

SKRIPSI HUBUNGAN KEPATUHAN DALAM MENJALANKAN DIET DENGAN GULA DARAH TERKONTROL PADA PASIEN DIABETES MELITUS

Thursday, June 16, 2016

(KODE : 0016-KEPERAWATAN) : SKRIPSI HUBUNGAN KEPATUHAN DALAM MENJALANKAN DIET DENGAN GULA DARAH TERKONTROL PADA PASIEN DIABETES MELITUS


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA 

A. Konsep kepatuhan
1. Pengertian
Kepatuhan berasal dari kata dasar patuh, yang berarti disiplin dan taat. Menurut Sacket dalam Niven (2000) kepatuhan adalah sejauh mana perilaku pasien sesuai dengan ketentuan yang diberikan oleh profesional kesehatan
2. Variabel yang mempengaruhi tingkat kepatuhan
Beberapa variabel yang mempengaruhi tingkat kepatuhan menurut Brunner & Suddarth (2002) adalah :
a. Variabel demografi seperti usia, jenis kelamin, status sosio ekonomi dan pendidikan.
b. Variabel penyakit seperti keparahan penyakit dan hilangnya gejala akibat terapi.
c. Variabel program terapeutik seperti kompleksitas program dan efek samping yang tidak menyenangkan.
d. Variabel psikososial seperti intelegensia, sikap terhadap tenaga kesehatan, penerimaan, atau penyangkalan terhadap penyakit, keyakinan agama atau budaya dan biaya finansial dan lainnya yang termasuk dalam mengikuti regimen hal tersebut diatas juga ditemukan oleh Bart Smet dalam psikologi kesehatan. 
3. Faktor-faktor yang mempengaruhi ketidakpatuhan
Faktor-faktor yang mempengaruhi ketidakpatuhan dapat digolongkan menjadi empat bagian menurut Niven (2002) antara lain :
a. Pemahaman tentang instruksi
Tak seorang pun dapat mematuhi instruksi jika ia salah paham tentang instruksi yang diberikan padanya.
b. Kualitas interaksi
Kualitas interaksi antara profesional kesehatan dan pasien merupakan bagian yang penting dalam menentukan derajat kepatuhan.
c. Isolasi sosial dan keluarga
Keluarga dapat menjadi faktor yang sangat berpengaruh dalam menentukan keyakinan dan nilai kesehatan dan nilai kesehatan individu serta juga dapat menentukan program pengobatan yang dapat mereka terima.
d. Keyakinan, sikap dan kepribadian
Becker et al (1979) dalam Niven ( 2002) telah membuat suatu usulan bahwa model keyakinan kesehatan berguna untuk memperkirakan adanya ketidak patuhan. 
4. Faktor penentu derajat ketidakpatuhan
Neil Niven (2002: 193), juga mengungkapkan derajat ketidakpatuhan itu ditentukan oleh beberapa faktor, yaitu:
a. Kompleksitas prosedur pengobatan.
b. Derajat perubahan gaya hidup yang dibutuhkan.
c. Lamanya waktu dimana pasien harus mematuhi program tersebut.
d. Apakah penyakit tersebut benar-benar menyakitkan.
e. Apakah pengobatan itu berpotensi menyelamatkan hidup.
f. Keparahan penyakit yang dipersepsikan sendiri oleh pasien dan bukan petugas kesehatan. 
5. Strategi untuk meningkatkan kepatuhan
Menurut Smet (1994) berbagai strategi telah dicoba untuk meningkatkan kepatuhan adalah :
a. Dukungan profesional kesehatan
Dukungan profesional kesehatan sangat diperlukan untuk meningkatkan kepatuhan, contoh yang paling sederhana dalam hal dukungan tersebut adalah dengan adanya teknik komunikasi. Komunikasi memegang peranan penting karena komunikasi yang baik diberikan oleh profesional kesehatan baik dokter/ perawat dapat menanamkan ketaatan bagi pasien.
b. Dukungan sosial
Dukungan sosial yang dimaksud adalah keluarga. Para profesional kesehatan yang dapat meyakinkan keluarga pasien untuk menunjang peningkatan kesehatan pasien maka ketidakpatuhan dapat dikurangi.
c. Perilaku sehat
Modifikasi perilaku sehat sangat diperlukan. Untuk pasien dengan diabetes melitus diantaranya adalah tentang bagaimana cara untuk menghindari komplikasi lebih lanjut apabila sudah menderita diabetes. Modifikasi gaya hidup dan kontrol secara teratur atau minum obat sangat perlu bagi pasien diabetes.
d. Pemberian informasi
Pemberian informasi yang jelas pada pasien dan keluarga mengenai penyakit yang dideritanya serta cara pengobatannya 

B. Diabetes Melitus
1. Definisi
a. Diabetes melitus adalah keadaan hiperglikemia kronik disertai berbagai kelainan metabolik akibat gangguan hormonal, yang menimbulkan berbagai komplikasi kronik pada mata, ginjal, saraf dan pembuluh darah, disertai lesi pada membran basalis dalam pemeriksaan dengan mikroskop elektron (Mansjoer, 2000 : 580).
b. Diabetes melitus adalah sekelompok kelainan heterogen yang ditandai oleh kenaikan kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemia (Brunner & Suddart, 2002 : 1220),
c. Diabetes melitus adalah suatu kumpulan gejala yang timbul pada seseorang disebabkan oleh karena adanya peningkatan kadar glukosa darah akibat kekurangan insulin baik absolut maupun relatif (Soegondo, 2007).
d. Diabetes melitus adalah penyakit hiperglikemia yang ditandai oleh ketiadaan absolut insulin atau insensitivitas sel terhadap insulin (Corwin, 2001 : 542).

SKRIPSI HUBUNGAN BUDAYA ORGANISASI DENGAN KEPUASAN KERJA PERAWAT PELAKSANA DI RUMAH SAKIT

SKRIPSI HUBUNGAN BUDAYA ORGANISASI DENGAN KEPUASAN KERJA PERAWAT PELAKSANA DI RUMAH SAKIT

Saturday, May 28, 2016

(KODE : 0015-KEPERAWATAN) : SKRIPSI HUBUNGAN BUDAYA ORGANISASI DENGAN KEPUASAN KERJA PERAWAT PELAKSANA DI RUMAH SAKIT


BAB II
KAJIAN TEORI 

A. Budaya Organisasi 
1. Pengertian Budaya Organisasi 
Robbin (2007) mendefenisikan bahwa budaya organisasi adalah sebagai  suatu sistem makna yang dianut oleh anggota-anggota yang membedakan  organisasi tersebut dengan organisasi lain. Robbin mendefenisikan budaya  organisasi sebagai sebuah sistem pemaknaan bersama yang dibentuk oleh anggotanya yang sekaligus menjadi pembeda dengan organisasi lain. Riani (2011)  menjelaskan bahwa budaya organisasi merupakan sistem dari shared value,  keyakinan dan kebiasaan-kebiasaan dalam suatu organisasi yang saling  berinteraksi dengan struktur formalnya untuk menciptakan norma-norma perilaku. 
Budaya organisasi juga mencakup nilai-nilai dan standar-standar yang  mengarahkan perilaku pelaku organisasi dan menentukan arah organisasi secara keseluruhan. 
Budaya organisasi adalah simbol dan interaksi unik pada setiap organisasi.  Hal ini meliputi cara berpikir, berperilaku, berkeyakinan yang sama-sama dimiliki  oleh anggota unit (Marquis, 2010). Budaya organisasi tampak dalam dimensi  aktivitas tugas dan aktivitas pemeliharaan (dinamika) kelompok/organisasi yang  berupa penggunaan bahasa, pengambilan keputusan, teknologi yang digunakan,  dan praktik kerja sehari-hari (Diklat DIKNAS, 2007). 
Druicker (dalam Tika, 2006) menyebutkan bahwa budaya organisasi adalah pokok  penyelesaian masalah-masalah eksternal dan internal yang pelaksanaannya  dilakukan secara konsisten oleh suatu kelompok yang kemudian mewariskan  kepada anggota-anggota baru sebagai cara yang tepat untuk memahami,  memikirkan, dan merasakan terhadap masalah-masalah. 
Berdasarkan pengertian-pengertian di atas maka budaya organisasi adalah  aturan kerja yang ada di organisasi yang akan menjadi pegangan dari sumber daya  manusia dalam menjalankan kewajibannya dan nilai-nilai untuk berperilaku dalam  organisasi. Nilai-nilai tersebut tercermin dalam perilaku dan sikap mereka sehari hari selama mereka berada dalam organisasi tersebut dan sewaktu mewakili  organisasi berhadapan dengan pihak luar. Dengan kata budaya organisasi  mencerminkan cara staf melakukan sesuatu (membuat keputusan, melayani pasien, dll) yang dapat dilihat kasat mata dan dirasakan terutama oleh orang diluar  organisasi tersebut. Dapat juga dikatakan budaya organisasi adalah pola terpadu  perilaku manusia di dalam organisasi termasuk pemikiran-pemikiran, tindakan tindakan, pembicaraan-pembicaraan yang dipelajari dan diajarkan kepada generasi  berikutnya (Muluk, 1999). 
Organisasi yang berorientasi pada pelayanan kesehatan memerlukan budaya  dukungan (Support Culture) dan budaya peran (Role Culture) sebagai cara  meningkatkan motivasi dan kepuasan anggota organisasi. Budaya organisasi yang  efektif adalah budaya organisasi yang mengakar kuat dan dalam. Di rumah sakit  yang berbudaya demikian, dapat dipastikan hampir semua individunya menganut  nilai-nilai yang seragam dan konsisten. 

2. Fungsi Budaya Organisasi 
 Budaya organisasi menurut Tika (2006) memiliki beberapa fungsi yaitu :
(1) sebagai batas pembeda terhadap lingkungan, organisasi maupun kelompok lain, 
(2) sebagai perekat bagi staf dalam suatu organisasi, 
(3) mempromosikan stabilitas  sistem sosial, 
(4) sebagai mekanisme kontrol dalam memadu dan membentuk  sikap serta perilaku staf, 
(5) sebagai integrator, (6)membentuk perilaku bagi para  staf, 
(7) sebagai sarana untuk menyelesaikan masalah-masalah pokok organisasi, 
(8) sebagai acuan dalam menyusun perencanaan perusahaan, 
(9) sebagai alat  komunikasi, 
(10)sebagai penghambat berinovasi. 
Robbins (2003) menyatakan bahwa budaya organisasi mempunyai beberapa  fungsi dalam organisasi yaitu memberi batasan untuk mendefinisikan peran  sehingga memperlihatkan perbedaan yang jelas antar organisasi, memberikan  pengertian identitas terhadap sesuatu yang lebih besar dibandingkan minat  anggota organisasi secara perorangan, menunjukkan stabilitas sistem sosial,  memberikan pengertian dan mekanisme pengendalian yang dapat dijadikan  pedoman untuk membentuk sikap dan perilaku anggota organisasi dan pada  akhirnya budaya orgnisasi dapat membentuk pola pikir dan perilaku anggota  organisasi. 
Ada beberapa manfaat yang dapat diperoleh kedua belah pihak, baik  organisasi maupun para anggotanya. Manfaat tersebut adalah memberikan  pedoman bagi tindakan pengambilan keputusan, mempertinggi komitmen  organisasi, menambah perilaku konsistensi perilaku para anggota organisasi dan  mengurangi keraguan para anggota orgnisasi, karena budaya memberitahukan pada mereka sesuatu dilakukan dan dianggap penting (Mangkunegara, 2005). 

3. Pembentukan Budaya Organisasi 
Robbins (2001) berpendapat bahwa dibutuhkan waktu yang lama untuk pembentukan budaya organisasi. Sekali terbentuk, budaya itu cenderung berakar,  sehingga sukar bagi para manager untuk mengubahnya. 
Dari gambar diatas, dapat dilihat bahwa budaya organisasi diturunkan dari  filsafat pendiri, kemudian budaya ini sangat mempengaruhi kriteria yang  digunakan dalam merekrut/memperkerjakan anggota organisasi. Tindakan dari  manajemen puncak menentukan iklim umum dari perilaku yang dapat diterima  baik dan tidak. Tingkat kesuksesan dalam mensosialisasikan budaya organisasi   tergantung pada kecocokan nilai-nilai staf baru dengan nilai-nilai organisasi dalam  proses seleksi maupun pada preferensi manajemen puncak akan metode-metode sosialisasi. 

4. Dimensi Budaya Organisasi 
Robbins (2007) menjelaskan bahwa budaya organisasi adalah sebuah proses  deskripsi mengenai keadaan organisasi. Penelitian mengenai budaya organisasi  berfokus pada staf mampu merasakan budaya organisasi, terlepas dari mereka  suka atau tidak suka pada budaya organisasi tersebut. Budaya organisasi dapat dirasakan keberadaannya melalui perilaku anggota dalam organisasi tersebut. Hal ini dapat dilihat dari pola dan cara-cara berpikir, merasa, menanggapi dan menuntun para anggota organisasi dalam mengambil keputusan maupun kegiatan kegiatan lainnya dalam organisasi.
Robbins (2007) menjelaskan bahwa pelaksanaan budaya organisasi dapat dikaji dari dimensi budaya organisasi. Dimensi budaya organisasi tidak ditetapkan  secara mudah melainkan berdasarkan studi empiris. Studi empiris ini biasanya  tidak dilakukan menggunakan sampel kecil melainkan menggunakan sampel besar  yang melibatkan beberapa organisasi. Hasilnya tidak ditemukan dimensi budaya  yang berlaku secara umum. Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa memahami budaya organisasi melalui dimensi-dimensinya dapat menggambarkan budaya organisasi dari suatu organisasi tersebut. Banyak ahli yang menguraikan dimensidimensi dalam budaya organisasi salah satunya adalah Denison. Denison and Mirsha (1995) dalam Casida (2007) mengaikat budaya  organisasi dengan efektifitas organisasi. efektifitas organisasi tersebut dipengaruhi oleh empat faktor di dalam budaya organisasi yaitu keterlibatan (Involvement), konsistensi (consistency), adapatasi (Adadptation), Misi (Mision). 
1. Keterlibatan (involvement) 
Keterlibatan merupakan kunci yang tampak dan dapat dirasakan dalam setiap  budaya organisasi (Sutrisno, 2010). Keterlibatan merupakan dimensi budaya  organisasi yang menunjukkan tingkat partisipasi staf dalam proses pengambilan  keputusan (Sobirin, 2007). Denison (2000) dalam Casida (2007) menyatakan,  keterlibatan adalah suatu perlakuan yang membuat staf meras diikutsertakan 
dalam kegiatan organisasi sehingga membuat staf bertanggung jawab tentang  tindakan yang dilakukannya. Keterlibatan (involvement) adalah kebebasan atau  independensi yang dipunyai setiap individu dalam mengemukakan pendapat. 
Keterlibatan tersebut perlu dihargai oleh kelompok atau pimpinan suatu organisasi  sepanjang menyangkut ide untuk memajukan dan mengembangkan  organisasi/perusahaan. Wesemann (2001) dalam Zwan (2006) menjelaskan bahwa keterlibatan mencakup kemampuan organisasi untuk membangun professional dan administrasi staf. Cho (2006) menyatakan bahwa staf yang memiliki perasaan  terlibat dalam organisasi, mereka akan merasa bagian di dalam organisasi dan  pendapat serta tindakan yang mereka lakukan akan terhubung langsung dengan  tujuan organisasi. Keterlibatan menciptakan partisipasi dan komitmen staf terhadap organisasi. Staf yang terlibat di dalam organisasi maka akan meningkat  kinerjanya (Denison (1990) dalam Zwan (2006)).

SKRIPSI HUBUNGAN BEBERAPA FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEJADIAN DIARE DENGAN DEHIDRASI DAN TANPA DEHIDRASI PADA BALITA YANG DATANG DI PUSKESMAS

SKRIPSI HUBUNGAN BEBERAPA FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEJADIAN DIARE DENGAN DEHIDRASI DAN TANPA DEHIDRASI PADA BALITA YANG DATANG DI PUSKESMAS

Saturday, May 28, 2016

(KODE : 0014-KEPERAWATAN) : SKRIPSI HUBUNGAN BEBERAPA FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEJADIAN DIARE DENGAN DEHIDRASI DAN TANPA DEHIDRASI PADA BALITA YANG DATANG DI PUSKESMAS


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Pustaka
1. Diare
a. Pengertian
Diare akut adalah buang air besar pada bayi atau anak lebih dari 3 kali perhari, disertai perubahan konsistensi tinja menjadi cair dengan atau tanpa lendir dan darah yang berlangsung kurang dari 2 minggu (Subagyo B dan Nurtjahjo BS, 2010).
Diare umumnya dibagi menjadi diare akut dan diare kronis, yang keduanya dapat disebabkan karena infeksi dan non infeksi (Subagyo B dan Nurtjahjo BS, 2010).

b. Insidensi
Diare masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Negara berkembang termasuk di Indonesia dan merupakan salah satu penyebab kematian dan kesakitan tertinggi pada anak, terutama usia dibawah 5 tahun. Di dunia terdapat 6 juta anak meninggal tiap tahunnya karena diare dan sebagian besar kejadian tersebut terjadi di negara berkembang. Dari 17% kematian anak di dunia disebabkan oleh diare, sedangkan di Indonesia, dari hasil Riskesdas 2007 didapatkan bahwa diare masih merupakan penyebab kematian bayi terbanyak untuk golongan 1 -4 tahun yaitu 25,2% dibanding pneumonia 15,5%. Dari survei kesehatan demografi Indonesia (1991 ) menyatakan bahwa satu dari sepuluh balita menderita diare dalam dua minggu terakhir, selain itu setiap tahun di Indonesia terjadi 150 kejadian luar biasa dengan jumlah kasus sekitar 20.000 orang dan angka kematian sekitar 2 %. Angka kesakitan diare diperkirakan antara 120 - 130 kejadian per 1000 penduduk, 60% kejadian tersebut terjadi pada Balita (Depkes, 1993)

c. Etiologi
Pada saat ini telah dapat diidentifikasi tidak kurang dari 25 jenis mikroorganisme yang dapat menyebabkan diare pada anak dan bayi. Penyebab infeksi utama timbulnya diare umumnya adalah golongan virus, bakteri dan parasit. Dua tipe dasar dari diare akut oleh karena infeksi non inflammatory dan inflammatory. Enteropatogen menimbulkan non inflammatory diare melalui produksi enterotoksin oleh bakteri, destruksi sel permukaan villi oleh virus, perlekatan oleh parasit, perlekatan oleh bakteri, sebaliknya inflammatory diare biasanya disebabkan oleh bakteri yang menginvasi usus secara langsung atau memproduksi sitotoksin (Subagyo B dan Nurtjahjo BS, 2010).
Beberapa mikroorganisme penyebab diare akut yang dapat menyebabkan diare pada manusia 

d. Faktor-faktor risiko
Cara penularan diare pada umumnya melalui cara fekal - oral yaitu: (Subagyo B dan Nurtjahjo BS, 2010). melalui makanan atau minuman yang tercemar oleh enteropatogen,
• kontak langsung tangan dengan penderita atau barang- barang yang telah tercemar tinja penderita
• tidak langsung melalui lalat Faktor risiko yang dapat meningkatkan penularan enteropatogen antara lain (Subagyo B dan Nurtjahjo BS, 2010).
• Tidak memberikan ASI secara penuh untuk 4 -6 bulan pertama kehidupan bayi.
• Tidak memadainya penyediaan air bersih, pencemaran air oleh tinja, kurangnya sarana kebersihan lingkungan (MCK) dan pribadi yang buruk.
• Penyiapan dan penyimpanan makanan yang tidak higienis dan cara penyapihan yang tidak baik.
1) Faktor umur
Sebagian besar episode diare terjadi pada 2 tahun pertama kehidupan, insiden tertinggi terjadi pada kelompok umur 6-11 bulan pada saat diberikan makanan pendamping ASI. Pola ini menggambarkan kombinasi efek penurunan kadar antibodi ibu, kurangnya kekebalan aktif bayi, pengenalan makanan yang mungkin terkontaminasi bakteri tinja dan kontak langsung dengan tinja manusia atau binatang pada saat bayi mulai merangkak (Subagyo B & Nurtjahjo BS, 2010).
2) Infeksi asimptomatik
Sebagian besar infeksi usus bersifat asimtomatik dan proporsi asimomatik ini meningkat setelah umur 2 tahun dikarenakan pembentukan imunitas aktif. Pada infeksi asimtomatik yang mungkin berlangsung beberapa hari atau minggu, tinja penderita mengandung virus, bakteri atau kista protozoa yang infeksius. Orang dengan infeksi asimtomatik berperan penting dalam penyebaran banyak enteropatogen terutama bila mereka tidak menyadari adanya infeksi, tidak menjaga kebersihan dan berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain ( Tjitra E,1994 )
3) Faktor musim
Di daerah tropik termasuk (Indonesia), diare yang disebabkan oleh rotavirus dapat terjadi sepanjang tahun dengan peningkatan sepanjang musim kemarau, sedangkan diare karena bakteri cenderung meningkat pada musim hujan (Subagyo B & Nurtjahjo BS, 2010)
4) Epidemi dan pandemik
Vibrio cholera 0.1 dan shigella dysentriae 1 dapat menyebabkan epidemik dan pandemik yang mengakibatkan tingginya angka kesakitan dan kematian pada semua golongan usia. Sejak tahun 1961, kolera yang disebabkan oleh Vibrio cholera 1.0 biotipe Eltor telah menyebar ke negara - negara di afrika, Amerika latin, Asia, Timur Tengah dan di beberapa daerah di Amerika Utara dan Eropa. Dalam kurun waktu yang sama Shigella dysentriae tipe 1 menjadi penyebab wabah yang besar di Amerika Tengah dan terakhir di Afrika Tengah dan Asia Selatan. Pada akhir tahun 1992, dikenal strain baru Vibrio Cholera 0139 yang menyebabkan epidemik di Asia dan lebih dari 11 negara mengalami wabah (Widayana IW, 2003) 5. Patofisiologi
Secara umum diare disebabkan oleh 2 hal, yaitu gangguan pada proses absorbsi atau sekresi. Kejadian diare secara umum terjadi dari satu atau beberapa mekanisme yang saling tumpah tindih . Diare dapat juga dikaitkan dengan gangguan motilitas, inflamasi, dan imunologi (Subagyo B & Nurtjahjo BS, 2010).
a. Gangguan absorbsi atau diare osmotik.
Secara umum terjadi penurunan fungsi absorbsi oleh berbagai sebab seperti celiac spure atau karena :
1) Mengkonsumsi magnesium klorida
2) Defisiensi enzim sukrase - isomaltase adanya defisiensi laktase defisien pada anak yang lebih besar.
Adanya bahan yang tidak diserap, menyebabkan bahan intraluminal pada usus halus bagian proksimal tersebut bersifat hipertonis dan menyebabkan hiperosmolaritas. Akibat perbedaan tekanan osmosis antara lumen usus halus dan darah maka pada segmen usus jejunum yang bersifat permeabel, air akan mengalir kearah lumen jejunum, sehingga air akan banyak terkumpul dalam lumen usus. Natrium (Na) akan mengikuti masuk ke dalam lumen, dengan demikian akan terkumpul cairan intraluminal yang besar dengan kadar Na yang normal. Sebagian kecil cairan ini akan diabsorbsi kembali, akan tetapi lainnya akan tetap tinggal di lumen oleh karena ada bahan yang tidak bisa diserap seperti magnesium, glukosa, sukrosa, laktosa, maltosa disegmen ileum dan melebihi kemampuan absorbsi kolon, sehingga terjadi diare. Bahan - bahan seperti karbohidrat dari jus buah, atau bahan yang mengandung sorbitol dalam jumlah berlebihan, akan memberikan dampak yang sama (Subagyo B & Nurtjahjo BS, 2010).
b. Malabsoprsi
Gambaran karakteristik penyakit yang menyebabkan malabsorbsi usus halus adalah atropi vili. Lebih lanjut mikroorganisme tertentu (bakteri tumbuh lampau, giardiasis, enter oadherent E.coli) menyebabkan malabsorbsi nutrisi dengan mengubah fisiologi membran brush border tanpa merusak susunan anatomi mukosa. Hal ini dapat terjadi pada keadaan: (Subagyo B & Nurtjahjo BS, 2010).
• Maldigesti protein lengkap, karbohidrat dan trigliserida diakibatkan insufisiensi eksokrin pankreas.
• Gangguan atau kegagalan ekskresi pankreas menyebabkan kegagalan pemecahan kompleks protein, karbohidrat, trigliserida,
• Pemberian obat pencahar; laktulosa, pemberian magnesium hydroxide (misalnya susu magnesium).
• Mendapat cairan hipertonis dalam jumlah besar dan cepat,
• Pemberian makan atau minum yang tinggi karbohirat, setelah mengalami diare menyebabkan kekambuhan diare.
c. Gangguan sekresi atau diare sekretorik
1) Hiperplasia cripta
Teoritis adanya hyperplasia kripta akibat penyakit apapun, dapat menyebabkan sekresi intestinal dan diare. Pada umumnya penyakit ini menyebabkan atropi vili (Bambang Subagyo & Nurtjahjo Budi Santoso, 2010)
2) Luminal secretagogeus
Dikenal 2 bahan yang menstimulasi sekresi lumen yaitu enterotoksin bakteri dan bahan kimia yang dapat menstimulasi seperti laksansia, garam empedu bentuk dihydroxy, serta asam lemak rantai panjang.
Toksin penyebab diare ini terutama bekerja dengan cara meningkatkan konsentrasi intrasel cAMP, cGMP atau Ca++ yang selanjutnya akan mengaktifkan protein kinase. Pengaktifan protein kinase akan menyebabkan fosforilasi membrane protein sehingga menyebabkan perubahan saluran ion, yang akan menyebabkan Cl di kripta keluar. Disisi lain terjadi peningkatan pompa natrium, dan natrium masuk kedalam lumen usus bersama Cl .
Bahan laksatif dapat menyebabkan efek bervariasi pada aktifitas NaK - ATPase. Beberapa diantaranya memacu peningkatan kadar cAMP intraseluler, meningkatkan permeabilitas intestinal dan sebagian menyebabkan kerusakan sel mukosa. Beberapa obat menyebabkan sekresi intestinal . Penyakit malabsorpsi seperti reseksi ileum dan penyakit Crohn dapat menyebabkan kelainan sekresi seperti menyebabkan peningkatan konsentrasi garam empedu, lemak ( Subagyo B & Nurtjahjo BS, 2010)
3) Blood - Borne Secretagogues.
Diare sekretorik pada anak - anak di negara berkembang, umumnya disebabkan enterotoksin E.coli atau cholera. Berbeda dengan negara berkembang, sedangkan di negara maju diare sekretorik jarang ditemukan, apabila ada, kemungkinan disebabkan obat atau tumor seperti ganglioneuroma atau neuroblastoma yang menghasilkan hormon seperti VIP. Pada orang dewasa, diare sekretorik berat disebabkan oleh neoplasma pankreas, sel non- beta yang menghasilkan VIP, polipeptida pankreas, hormon sekretorik lainnya: sindroma watery diarrhea hypokalemia achlorhydria (WDHA). Diare yang disebabkan tumor ini termasuk jarang. Semua kelainan mukosa usus, berakibat sekresi air dan mineral berlebihan pada villus dan kripta, sehingga semua enterosit terlibat dan dapat terjadi pada mukosa usus yang normal ( Subagyo B & Nurtjahjo BS, 2010).
4) Diare akibat gangguan peristatik
Baik peningkatan ataupun penurunan motilitas, keduanya dapat menyebabkan diare. Penurunan motilitas dapat mengakibatkan bakteri tumbuh banyak yang menyebabkan diare. Kegagalan motilitas usus yang berat menyebabkan stasis intestinal berakibat inflamasi, dekonjugasi garam empedu dan malabsorbsi. Diare akibat hiperperistaltik pada anak jarang terjadi. Watery diare dapat disebabkan karena hipermotilitas pada kasus kolon irritable pada bayi. Gangguan motilitas mungkin merupakan penyebab diare pada thyrotoksikosis, malabsorbsi asam empedu dan berbagai penyakit lain ( Subagyo B & Nurtjahjo BS, 2010).
5) Diare inflamasi
Proses inflamasi di usus halus dan kolon menyebabkan diare pada beberapa keadaan. Akibat kehilangan sel epitel dan kerusakan tight junction, tekanan hidrostatik dalam pembuluh darah dan lymphatic menyebabkan air, elektrolit, mukus, protein dan sering kali sel darah merah dan sel darah putih menumpuk dalam lumen. Biasanya diare akibat inflamasi ini berhubungan dengan tipe diare lain seperti diare osmotik dan diare sekretorik.
Bakteri patogen akan mempengaruhi struktur dan fungsi tight junction, menginduksi sekresi cairan dan elektrolit, dan akan mengaktifkan kaskade inflamasi. Efek infeksi bakterial pada tight junction akan mempengaruhi susunan anatomis dan fungsi absorbsi yaitu cytoskeleton dan perubahan susunan protein. Sebagai contoh, C. difficile akan menginduksi kerusakan cytoskeleton maupun protein, Bacteroides fragilis menyebabkan degradasi proteolitik protein tight junction, V. cholera mempengaruhi distribusi protein tight junction, sedangkan EPEC menyebabkan akumulasi protein cytoskeleton (Subagyo B & Nurtjahjo BS, 2010).

SKRIPSI HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN IBU DAN DUKUNGAN SUAMI TERHADAP PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF

SKRIPSI HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN IBU DAN DUKUNGAN SUAMI TERHADAP PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF

Saturday, May 28, 2016

(KODE : 0013-KEPERAWATAN) : SKRIPSI HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN IBU DAN DUKUNGAN SUAMI TERHADAP PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF


BAB II 
TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Pustaka
1. Anatomi dan Histologi Payudara
Payudara terletak di fascia superficialis yang meliputi dinding anterior thorak. Pada perempuan setelah pubertas payudara membesar dan dianggap berbentuk seperti setengah bulat. Pada wanita dewasa muda payudara terletak diatas costa II sampai VI dan terbentang dari pinggir lateral sternum sampai linea axillaris media. Pinggir lateral atas payudara meluas sampai sekitar pinggir bawah Payudara tersusun atas beberapa bagian yaitu :
Pada bagian luar terdapat papilla mammae (puting susu) berbentuk kerucut dan mungkin warnanya merah muda, coklat muda atau coklat tua. Bagian paling luar papilla ini ditutupi epitel berlapis gepeng dengan lapisan tanduk yang berhubungan langsung dengan kulit di dekatnya (Junqueira, 2007). Daerah berwarna gelap yang mengelilingi puting susu disebut areola. Pada areola terdapat kelenjar-kelenjar kecil yang disebut kelenjar montagomery, menghasilkan cairan berminyak untuk menjaga kesehatan kulit disekitar areola (Roesli, 2000).
Payudara tersusun atas lobulus-lobulus dimana setiap lobulus terdiri dari sekelompok alveoli berbentuk kantong, tersusun atas epitel yang aktif mensekresikan  ASI selama menyusui. ASI yang dihasilkan akan dialirkan melalui sistem duktus laktiferus menuju sinus laktiferus. Sinus laktiferus merupakan saluran ASI melebar dan membentuk kantung disekitar areola yang berfungsi untuk menyimpan ASI (Sherwood, 2001).
Jaringan lemak di sekitar alveoli dan duktus laktiferus menentukan besar kecilnya ukuran payudara. Payudara besar atau kecil memiliki alveoli dan sinus laktiferus yang sama, sehingga dapat menghasilkan ASI sama banyak. Disekeliling alveoli juga terdapat jaringan otot polos yang akan berkontraksi dan memeras keluar ASI. Keberadaan hormon oksitosin menyebabkan otot polos tersebut berkontraksi (Soetjiningsih, 1997).

2. Fisiologi Menyusui
a. Air susu ibu dan hormon prolaktin
Setiap kali bayi menghisap payudara akan merangsang ujung saraf sensorik di sekitar payudara sehingga merangsang kelenjar hipofisis anterior untuk menghasilkan hormon prolaktin. Hormon prolaktin akan menyebabkan sel sekretorik di alveoli menghasilkan ASI (Sherwood, 2001).
Dari gambar di atas setelah hormon prolaktin dihasilkan, hormon tersebut berada di peredaran darah selama 30 menit setelah penghisapan puting. Hormon prolaktin dapat merangsang payudara menghasikan ASI untuk minum berikutnya. Sedangkan untuk minum yang sekarang, bayi mengambil ASI yang sudah ada (IDAI, 2008).
Makin banyak ASI yang dikeluarkan dari sinus laktiferus, makin banyak produksi ASI. Makin sering bayi menyusu makin banyak ASI yang diproduksi. Sebaliknya makin jarang bayi menyusu, makin sedikit payudara menghasilkan ASI. Jika bayi berhenti menghisap maka payudara akan berhenti menghasikan ASI. Prolaktin umumnya dihasilkan pada malam hari, sehingga menyusui pada malam hari dapat mempertahankan produksi ASI. Hormon prolaktin juga akan menekan ovulasi, sehingga menyusui secara eksklusif akan memperlambat kembalinya fungsi kesuburan dan menstruasi. Oleh karena itu menyusui pada malam hari penting untuk menunda kehamilan (Soetjiningsih, 1997)
b. Air susu ibu dan hormon oksitosin
Hormon oksitosin diproduksi oleh bagian posterior kelenjar hipofisis. Hormon tersebut dihasilkan bila ujung saraf sensorik di sekitar payudara dirangsang oleh isapan bayi. Oksitosin akan merangsang kontraksi otot di sekeliling alveoli dan memeras ASI keluar dari alveoli ke sinus laktiferus yang dapat dikeluarkan oleh bayi dan atau ibunya (Sherwood, 2001).
Oksitosin dibentuk lebih cepat dibandingkan prolaktin. Keadaan ini menyebabkan ASI di payudara akan mengalir untuk dihisap. Oksitosin sudah mulai bekerja saat ibu berkeinginan untuk menyusui (sebelum bayi menghisap). Jika reflek oksitosin tidak bekerja dengan baik, maka bayi mengalami kesulitan untuk mendapatkan ASI, padahal payudara tetap menghasilkan ASI namun tidak mengalir keluar (IDAI, 2008). Efek penting oksitosin lainnya adalah menyebabkan uterus berkontraksi setelah melahirkan. Hal ini membantu mengurangi perdarahan, walapun kadang mengakibatkan nyeri. Nyeri diakibatkan karena adanya kontraksi uterus yang berfungsi membantu involusi uterus (Cunningham, 2002).
Keadaan yang dapat meningkatkan hormon oksitosin yaitu perasaan dan curahan kasih sayang kepada bayi, celotehan atau tangisan bayi, dukungan ayah dalam pengasuhan bayi seperti menggendong bayi ke ibu saat akan disusui atau disendawakan, mengganti popok dan memandikan bayi, suami juga dapat membantu pekerjaan rumah tangga (Roesli, 2000).
Beberapa keadaan yang dapat mengurangi produksi hormon oksitosin yaitu rasa cemas terhadap perubahan bentuk payudara dan bentuk tubuh, meninggalkan bayi karena harus bekerja, ASI tidak mencukupi kebutuhan bayi, rasa cemas, sedih, marah, kesal, atau bingung, dan rasa sakit terutama saat menyusui (Depkes RI 2007).
Tanda dan sensasi reflek oksitosin aktif antara lain sensasi diperah di dalam payudara sesaat sebelum menyusui atau pada waktu proses menyusui berlangsung, ASI mengalir dari payudara bila ibu memikirkan bayinya, atau mendengar bayinya menangis, ASI menetes dari payudara sebelah bila bayi menyusu pada payudara yang lainnya, ASI memancar halus ketika bayi melepas payudara pada waktu menyusui, Adanya nyeri yang berasal dari kontraksi rahim, kadang diiringi keluarnya darah dari vagina selama menyusui di minggu pertama, Hisapan yang lambat, dalam dan tegukan bayi menunjukan bahwa ASI mengalir ke dalam mulut bayi (Kristiyanasari, 2009).

3. Air Susu Ibu (ASI) 
a. Pengertian
ASI manusia adalah suatu suspensi lemak dan protein dalam suatu larutan karbohidrat-mineral. Seorang ibu yang menyusui dapat dengan mudah memproduksi 600 ml ASI perhari (Cunningham, 2002).
b. Komposisi ASI
Air susu ibu (ASI) mengandung makronutrien yaitu karbohidrat, protein dan lemak dan mikronutrien adalah vitamin dan mineral. Air susu ibu hampir 90% terdiri dari air. Volume dan komposisi nutrient ASI berbeda untuk setiap ibu bergantung dari kebutuhan bayi. Perbedaan volume dan komposisi diatas juga terlihat pada masa menyusui (kolostrum, ASI transisi, ASI matang, dan ASI pada penyapihan) (IDAI, 2008).
1) Komposisi ASI menurut stadium laktasi adalah :
i. Kolostrum
Kolostrum adalah ASI khusus berwarna kekuningan, agak kental dan diproduksi dalam beberapa hari setelah persalinan. Sekresi kolostrum berlangsung selama kurang lebih 5 hari, dan mengalami perubahan menjadi ASI matur 4 minggu setelahnya (Cunningham, 2002). Dibandingkan dengan ASI matur, kolostrum mengandung lebih banyak mineral dan protein yang sebagian besar terdiri dari globulin, tetapi lebih sedikit mengandung gula dan lemak. Antibodi yang terdapat pada kolostrum, dan kandungan immunoglobulin A-nya dapat memberikan perlindungan pada bayi baru lahir untuk melawan pathogen enterik, kolostrum juga memudahkan perjalanan kotoran pertama bayi yang disebut mekonium. Kolostrum membantu proses maturasi saluran cerna sehingga dapat mencegah alergi dan intoleransi makanan. Total energi kolostrum 58 Kal/100 ml kolostrum. Volume kolostrum sekitar 150-300 ml/24 jam (Soetjiningsih, 1997).
ii. ASI transisi
ASI transisi merupakan ASI peralihan dari kolostrum menjadi ASI matur. ASI transisi ini disekresi dari hari ke-4 sampai hari ke-10 dari masa laktasi, Kadar protein dalam ASI transisi semakin rendah sedangkan kadar karbohidrat dan lemak semakin tinggi. Volume ASI transisi akan semakin meningkat (Kristiyanasari, 2009). 
iii. ASI matur
ASI matur merupakan ASI yang disekresi pada hari ke-10 dan seterusnya dimana komposisinya relatif konstan. Pada ibu yang sehat dimana produksi ASI cukup, ASI ini merupakan makanan satu-satunya yang paling baik dan cukup untuk bayi sampai umur 6 bulan. ASI matur merupakan suatu cairan berwarna putih kekuningan yang diakibatkan warna dari garam Ca-caseinat, riboflavin, dan karoten yang terdapat di dalamnya. ASI matur ini tidak akan menggumpal jika dipanaskan dan terdapat beberapa antimikrobial, antara lain: antibodi terhadap bakteri dan virus, sel (fagosit granulosit, makrofag dan limfosit T), enzim, protein (laktoferin, B12 binding protein), faktor resisten terhadap stafilokokus, komplemen, interferron producting cell, dan hormon-hormon (Soetjiningsih, 1997).
c. Komposisi ASI secara Umum :
i. Karbohidrat
Laktosa adalah karbohidrat utama dalam ASI dan berfungsi sebagai salah satu sumber energi bagi otak. Kadar laktosa dalam ASI dua kali lipat dibandingkan dengan kadar laktosa dalam susu formula. Penyerapan laktosa ASI lebih baik dibandingkan laktosa susu formula atau susu sapi sehingga angka kejadian diare intoleransi laktosa pada pemberian ASI lebih sedikit (IDAI, 2008).
ii. Protein
Protein dalam ASI lebih banyak terdiri dari protein whey yang lebih mudah diserap oleh usus bayi, sedangkan susu sapi lebih banyak mengandung protein casein yang lebih sulit dicerna oleh usus bayi. Disamping itu, beta laktoglobulin yaitu fraksi dari protein whey yang banyak terdapat di protein susu sapi dan dapat menyebabkan alergi tidak terdapat dalam ASI. Kualitas protein ASI lebih baik dibanding susu sapi. ASI mempunyai jenis asam amino lebih lengkap dibandingkan susu sapi. Salah satu contohnya adalah taurin. Taurin diperkirakan mempunyai peranan pada perkembangan otak karena protein ini ditemukan dalam jumlah cukup tinggi pada jaringan otak yang sedang berkembang. Kadar taurin dalam susu formula hanya sedikit dibandingkan susu sapi. Jumlah dan kualitas nukleutida ASI lebih banyak dan lebih bagus dibanding susu sapi. Nukleutida ini memiliki peranan dalam meningkatkan pertumbuhan dan kematangan usus, merangsang pertumbuhan bakteri baik dalam usus dan meningkatkan penyerapan besi dan daya tahan tubuh (Soetjiningsih, 1997).
iii. Lemak
Kadar lemak dalam ASI lebih tinggi dibandingkan dengan susu sapi dan susu formula. Kadar lemak yang tinggi ini dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan otak yang cepat selama masa bayi. Lemak omega 3 dan omega 6 yang berperan dalam perkembangan otak bayi banyak ditemukan dalam ASI. Disamping itu ASI juga banyak mengadung asam lemak rantai panjang diantaranya asam dokosaheksanoik (DHA) dan asam arakidonat (ARA) yang berperan terhadap perkembangan jaringan saraf dan mata. Susu sapi tidak mengandung DHA dan ARA oleh karena itu hampir semua susu formula ditambahkan DHA dan ARA, tetapi DHA dan ARA yang ditambahkan ke dalam susu formula tidak sebaik yang terdapat dalam ASI (IDAI, 2008).
iv. Vitamin
Semua vitamin terkandung dalam ASI manusia, tetapi dalam jumlah bervariasi, dan pemberian makanan pada ibu akan meningkatkan sekresinya (Cunningham,
2002).
v. Mineral
Kadar mineral dalam ASI tidak begitu dipengaruhi oleh makanan yang dikonsumsi ibu dan tidak pula dipengaruhi status gizi ibu. Mineral di dalam ASI memiliki kualitas lebih baik dan lebih mudah diserap dibandingkan dengan mineral dalam susu sapi. Mineral utama yang terdapat dalam ASI adalah kalsium yang berfungsi untuk pertumbuhan jaringan otot dan tulang, transmisi jaringan saraf dan faktor pembekuan darah. Kandungan zat besi baik dalam ASI maupun susu formula keduanya rendah serta bervariasi, namun zat besi dalam ASI lebih mudah diserap. Kandungan mineral zink ASI jauh lebih rendah dari susu formula, tetapi tingkat penyerapannya lebih baik. Penyerapan zink dalam ASI, susu sapi, dan susu formula berturut-turut 60%, 43-50%,, dan 27-32%. Mineral dalam ASI yang kadarnya lebih tinggi dibanding susu formula adalah selenium, yang sangat dibutuhkan pada saat pertumbuhan anak cepat (Soetjiningsih, 1997).

4. Keunggulan ASI dan Manfaat Menyusui
Keunggulan dan manfaat menyusui dapat dilihat dari beberapa aspek yaitu: aspek gizi, aspek imunologik, aspek psikologi, aspek kecerdasan, neurologis, ekonomis dan aspek penundaan kehamilan (Kristiyanasari, 2009).
a. Manfaat ASI Bagi Bayi.
i. Manfaat Kolostrum
Beberapa manfaat kolostrum untuk bayi diantaranya kolostrum mengandung zat kekebalan terutama IgA untuk melindungi bayi dari berbagai penyakit infeksi terutama diare, mengandung protein, vitamin A yang tinggi dan mengandung karbohidrat dan lemak rendah, sehingga sesuai dengan kebutuhan gizi bayi pada hari-hari pertama kelahiran. Membantu mengeluarkan mekonium yaitu kotoran bayi yang pertama berwarna hitam kehijauan, jumlah kolostrum yang bervariasi walaupun sedikit namun cukup untuk memenuhi gizi bayi (Soetjiningsih, 1997).
ii. Aspek Psikologik
Saat proses menyusui terjadi kontak langsung antara ibu dan bayi sehingga timbul ikatan kasih sayang antara ibu dan bayi. Bayi akan merasa aman dan puas karena bayi merasakan kehangatan tubuh ibu dan mendengar denyut jantung ibu yang sudah dikenal sejak masih dalam rahim. Adanya interaksi tersebut penting untuk pertumbuhan dan perkembangan psikologik bayi (Kristiyanasari, 2009).
iii. Aspek Kecerdasan
Interaksi ibu-bayi dan kandungan gizi ASI sangat dibutuhkan untuk perkembangan sistem syaraf otak yang dapat meningkatkan kecerdasan bayi. Penelitian menunjukkan bahwa IQ pada bayi yang diberi ASI secara eksklusif memiliki IQ point 4.3 point lebih tinggi pada usia 18 bulan, 4-6 point lebih tinggi pada usia 3 tahun, dan 8.3 point lebih tinggi pada usia 8.5 tahun, dibandingkan dengan bayi yang tidak diberi ASI (IDAI, 2008).
b. Manfaat ASI Bagi Ibu
i. Aspek kontrasepsi
Dengan menyusui secara eksklusif dapat menunda haid dan kehamilan. Penghisapan puting payudara akan menghambat sekresi LH dan FSH. Dengan demikian menyusui mencegah ovulasi dan berfungsi sebagai cara mencegah kehamilan walaupun tidak 100% efektif sebagai alat kontrasepsi (Sherwood, 2001).
ii. Aspek Kesehatan Ibu
Isapan bayi pada puting ibu merangsang keluarnya hormon oksitosin yang membantu involusi uterus dan mencegah perdarahan pasca persalinan. Penundaan haid dan pencegahan perdarahan pasca persalinan dapat mengurangai kejadian anemia defisiensi besi. Penelitian membuktikan menyusui bayi secara eksklusif dapat menurunkan angka kejadian kanker payudara dan ovarium sebanyak 25 % (Cunningham, 2002).
iii. Aspek Penurunan Berat Badan
Ibu yang menyusui bayinya secara eksklusif ternyata dapat lebih mudah dan cepat kembali ke berat badan semula seperti sebelum hamil (Roesli, 2000).
c. Manfaat ASI Bagi Keluarga.
Memberikan ASI secara eksklusif dapat menghemat pengeluaran dana keluarga karena keluarga tidak memerlukan dana tambahan untuk membeli susu formula selain itu menyusui sangat praktis. Karena dapat diberikan kapan saja dan dimana saja keluarga tidak perlu menyiapkan air masak, botol, dan dot yang harus dibersihkan terlebih dulu (Kristiyanasari, 2009).
d. Manfaat ASI Bagi Negara.
Adanya faktor protektif dan zat nutrisi yang sesuai dalam ASI menjamin status gizi bayi baik dan dapat menghindari bayi dan anak dari penyakit infeksi misalnya diare, otitis media, dan infeksi saluran pernafasan akut bagian bawah sehingga akan menurunkan angka kesakitan dan kematian bayi selain itu dapat pula menghemat subsidi rumah sakit dan menghemat devisa Negara karena anak yang mendapatkan ASI lebih jarang dirawat di rumah sakit dari pada bayi yang di beri susu formula. Jika semua ibu menyusui diperkirakan dapat menghemat devisa Negara yang seharusnya digunakan untuk membeli susu (Kristiyanasari, 2009).

5. ASI Eksklusif
a. Pengertian
Pemberian ASI eksklusif adalah hanya memberikan air susu ibu saja tanpa makanan atau minuman lain sejak lahir hinga bayi berusia enam bulan (MENEGAP, 2007) Menurut organisasi kesehatan dunia (WHO) dan UNICEF merekomendasikan menyusui eksklusif sejak lahir selama enam bulan pertama hidup anak, dan tetap disusui bersama pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI) yang cukup sampai berusia dua tahun atau lebih.

SKRIPSI HUBUNGAN ANTARA PELAYANAN POSYANDU DENGAN KUNJUNGAN IBU YANG MEMPUNYAI BALITA KE POSYANDU

SKRIPSI HUBUNGAN ANTARA PELAYANAN POSYANDU DENGAN KUNJUNGAN IBU YANG MEMPUNYAI BALITA KE POSYANDU

Saturday, May 28, 2016

(KODE : 0012-KEPERAWATAN) : SKRIPSI HUBUNGAN ANTARA PELAYANAN POSYANDU DENGAN KUNJUNGAN IBU YANG MEMPUNYAI BALITA KE POSYANDU


BAB II 
TINJAUAN PUSTAKA

A. Posyandu
1. Definisi Posyandu
Posyandu merupakan perpanjangan tangan puskesmas yang memberikan pelayana dan pemantauan kesehatan yang di laksanakan secara terpadu yang di lakukan oleh dan untuk masyarakat. Posyandu sebagai wadah peran serta masyarakat, yang menyelenggarakan sistem pelayanan pemenuhan kebutuhan dasar, peningkatan kualitas manusia.(UGM, 2007).
Posyandu adalah suatu forum komunikasi, ahli teknologi dan pelayanan kesehatan masyarakat oleh dan untuk masyarakat yang mempunyai nilai strategis dalam mengembangkan sumberdaya manusia sejakdini. (Effendy, 1998).
2. Tujuan Posyandu
Tujuan pokok dari pos pelayanan terpadu adalah :
a. Untuk mempercepat penurunan angka kematian ibu dan anak
b. Untuk meningkatkan pelayanan kesehatan ibu untuk menurunkan IMR (Infant Mortiliy Rate)
c. Untuk mempercepat penerimaan NKKBS
d. Untuk meningkatkan kemampuan masyarakat untuk mengembangkan kegiatan kesehatan dan kegiatan-kegiatan lain yang menunjang peningkatan kemampuan hidup sehat
e. Untuk pendekatan dan pemerataan pelayanan kesehatan kepada masyarakat dalam usaha meningkatkan cakupan pelayanan kesehatan kepada penduduk berdasarkan letak geografi
f. Untuk meningkatkan dan pembinaan peran serta masyarakat dalam rangka alih teknologi untuk swakelola usaha-usaha kesehatan masyarakat.
3. Sasaran Posyandu
a. Bayi berusia kurang dari 1 tahun
b. Anak balita usia 1-5 tahun
c. Ibu hamil, ibu menyusui, dan ibu nifas
d. Pasangan usia subur
4. Kegiatan Posyandu
a. Panca Krida Posyandu
Lima kegiatan Posyandu, yaitu: Kesehatan Ibu dan Anak, Keluarga Berencana, Imunisasi, Peningkatan gizi dan Penanggulangan gizi.
b. Sapta Krida Posyandu
Tujuh kegiatan Posyandu, yaitu: Kesehatan ibu dan anak, Keluarga Berencana, Imunisasi, Peningkatan gizi, Penanggulangan gizi, Sanitasi dasar, dan Penyediaan obat esensial.
5. Sistem Posyandu
Sistem 5 (lima) meja :
a. Meja 1 (satu) :
1) Pendaftaran
2) Pencatatan bayi, balita, ibu hamil, ibu menyusui, dan pasangan usia subur.
b. Meja 2 (dua) Penimbangan balita, ibu hamil
c. Meja 3 (tiga) Pengisian KMS
d. Meja 4 (empat)
1) Diketahui berat badan anak yang naik atau tidak naik, ibu hamil dengan resiko tinggi, pasangan usia subur yang belum mengikuti KB
2) Penyuluhan kesehatan
3) Pelayanan TMT, oralit, Vitamin A, tablet zat besi, pil unggulan dan kondom
e. Meja 5 (lima)
1) Pemberian imunisasi
2) Pemeriksaan kehamilan
3) Pemeriksaan kesehatan dan pengobatan
4) Pelayanan kontrasepsi, IUD, dan suntikan.
6. Persyaratan Posyandu
a. Penduduk RW tersebut paling sedikit terdapat 100 orang balita.
b. Terdiri dari 120 kepala keluarga.
c. Disesuaikan dengan kemampuan petugas (bidan desa).
d. Jarak antara kelompok rumah, jumlah KK dalam 1 (satu) tempat atau kelompok tidak terlalu jauh.
7. Lokasi Posyandu
a. Berada ditempat yang mudah didatangi oleh masyarakat
b. Ditentukan oleh masyarakat itu sendiri
c. Dapat merupakan lokasi sendiri
d. Bila tidak memungkinkan dapat dilaksanakan dirumah penduduk, balai desa, pos RT / RW atau pos lainnya
8. Sarana dasar
Timbangan bayi, timbangan dewasa, kartu KMS, obat - obat berupa Vitamin A, tablet dan sirup Fe, kapsul iodium, obat cacing, oralit, ATK.
9. Sumber Dana
Pembiayaan Posyandu berasal dari berbagai sumber, antara lain :
a. Iuran pengguna / pengunjung Posyandu
b. Iuran masyarakat umum dalam bentuk dana sehat
c. Sumbangan / donatur dari perorangan atau kelompok masyarakat
d. Bantuan dari pemerintah terutama pada awal pembembentukan yakni berupa dana stimulan atau bantuan lainnya dalam bentuk sarana dan prasarana Posyandu.
Pengelolaan dana dilakukan oleh pengurus Posyandu. Dana harus disimpan ditempat yang aman dan jika mungkin mendatangkan hasil. Untuk keperluan biaya rutin disediakan kas kecil yang dipegang oleh kader yang ditunjuk. Setiap pemasukan dan pengeluaran harus dicatat dan dikelola secara bertanggung jawab.

B. Pelayanan Posyandu
Pelayanan posyandu meliputi kesehatan ibu dan anak, keluarga berencana, pemberantasan penyakit menular dengan imunisasi, penaggulangan diare dan gizi yang di lakukan dengan penimbangan balita. (http://irc-kmpk.ugm.ac.id, diakses tanggal 24 maret 2008) 
1. Jenis pelayanan yang minimal perlu diberikan kepada anak (balita dan baduta)
a. Penimbangan untuk memantau pertumbuhan anak, perhatian harus diberikan secara khusus terhadap anak yang selama 3 kali penimbangan pertumbuhannya tidak cukup naik sesuai umurnya (lebih rendah dari 200 gram/bulan) dan anak yang pertumbuhannya berada dibawah garis merah KMS.
b. Pemberian makanan pendamping ASI dan Vitamin A 2 (dua) kali setahun.
c. Pemberian PMT untuk anak yang tidak cukup pertumbuhannya (kurang dari 200 gram/bulan) dan anak yang berat badannya berada dibawah garis merah KMS.
d. Memantau atau melakukan pelayanan imunisasi dan tanda – tanda lumpuh layuh.
e. Memantau kejadian ISPA dan Diare, serta melakukan rujukan bila diperlukan.
2. Pelayanan Ibu hamil dan Ibu menyusui
Bagi ibu hamil dan menyusui, pelayanan diberikan oleh tenaga kesehatan baik oleh Bidan Desa maupun tenaga kesehatan dari Puskesmas di meja V (lima) saat Posyandu buka, berupa :
a. Ibu hamil : pemeriksaan kehamilan, pemberian makanan tambahan bagi ibu hamil yang mengalami KEK, pemberian tablet tambah darah, dan penyuluhan gizi dan kesehatan reproduksi.
b. Ibu menyusui : Pemberian Vitamin A, pemberian makanan tambahan, pelayanan nifas dan pemberian tablet tambah darah, penyuluhan tentang pemenuhan gizi selama menyusui, pemberian ASI eksklusif, perawatan nifas dan perawatan bayi baru lahir, dan pelayanan KB.
3. Pelayanan dengan kunjungan rumah
Kunjungan rumah dilakukan oleh kader dan bila perlu didampingi oleh pendamping dari tenaga kesehatan atau tokoh masyarakat maupun unsur LSM sebelum dan sesudah hari buka Posyandu.
Kegiatan yang dilakukan dalam kunjungan rumah meliputi :
a. Menyampaikan undangan kepada kelompok sasaran agar berkunjung ke Posyandu saat hari buka
b. Mengadakan pemutahiran data bayi, balita, ibu hamil, ibu menyusui dan pemetaan keluarga mi skin
c. Intensifikasi penyuluhan gizi dan kesehatan dasar
d. Melakukan tindak lanjut temuan pada hari buka Posyandu dengan pemberian PMT
e. Pemantauan status imunisasi dan lumpuh layuh
f. Dengan dukungan tenaga kesehatan dan tokoh masyarakat melakukan kampanye pemeriksaan kehamilan dan pertolongan persalinan oleh bidan atau tenaga kesehatan dari Puskesmas dan dapat membentuk kegiatan kelompok peminat kesehatan ibu dan anak.

C. Kunjungan Ibu-ibu ke Posyandu
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia kunjungan merupakan aktivitas seseorang dalam perihal mendatangi suatu objek tertentu. Begitu juga dengan ibu-ibu yang rajin mengunjungi posyandu dengan membawa balitanya. Dari segi pelaksanaan pelayanan posyandu dapat berjalan dengan baik apabila jumlah kunjungan yang tinggi. Fungsi posyandu bagi masyarakat desa sangat berarti, hal ini dapat di lihat dari jumlah kunjungan posyandu di desa lebih tinggi di bandingkan jumlah kunjungan posyandu di kota. Pemanfaatan kelengkapan pelayanan mempengaruhi kunjungan di posyandu. Kunjungan posyandu di desa lebih tinggi di bandingkan posyandu di kota.

D. Balita
Periode penting dalam tumbuh kembang anak adalah balita.karena pada masa ini pertumbuhan dasar yang akan mempengaruhi dan menentukan perkembangaan anak selanjutnya.pada masa balita ini perkembangan kemampuan berbahasa, kreativitas, kesadaran sosial, emosional dan intelegensia berjalan sangat cepat dan merupakan landasan perkembangan berikutnya.
Perkembangan moral serta dasar dasar kepribadian juga di bentuk pada masa ini.dalam perkembangan anak terdapat masa kritis, dimana di perlukan rangsangan atau stimulasi yang berguna agar potensi berkembang, sehingga perlu mendapat perhatian. Perkembangan psikososial sangat di pengaruhi lingkungan dan interaksi antara anak dan orang tua nya atau orang dewasa lain nya.. perkembangan anak akan optimal bila interaksi social di di usahakan sesuai dengan kebutuhan anak pada berbagai tahap perkembangan nya, bahkan sejak bayi masih dalam kandungan.