Showing posts with label skripsi psikologi. Show all posts
Showing posts with label skripsi psikologi. Show all posts
SKRIPSI KASUS TENTANG STRATEGI COPING STRESS PADA SINGLE PARENT

SKRIPSI KASUS TENTANG STRATEGI COPING STRESS PADA SINGLE PARENT

Wednesday, January 13, 2016
(0011-PSIKOLOGI) SKRIPSI KASUS TENTANG STRATEGI COPING STRESS PADA SINGLE PARENT

BAB II 
KAJIAN PUSTAKA

A. Teori-Teori 
1. Single parent
a) Definisi Single Parent
Pada umumnya keluarga terdiri dari ayah, ibu, dan anak-anak. Ayah dan ibu berperan sebagai orang tua bagi anak-anaknya. Namun, dalam kehidupan nyata sering dijumpai keluarga dimana salah satu orang tuanya tidak ada lagi. Keadaan ini menimbulkan apa yang disebut dengan keluarga dengan single parent
Menurut Hurlock (1999: 199) orangtua tunggal (single parent) adalah orangtua yang telah menduda atau menjanda entah bapak atau ibu, mengasumsikan tanggung jawab untuk memelihara anak-anak setelah kematian pasangannya, perceraian atau kelahiran anak diluar nikah (Hurlock, 1999).
Hammer&Turner (1990: 190) menyatakan bahwa: "A single parent family consist of one parent with dependent children living in the same household" (Hamner&Turner, 1990).
Sementara itu, Sager, dkk (dalam Duvall&Miller, 1985) menyatakan bahwa orang single parent adalah orang tua yang secara sendirian membesarkan anak-anaknya tanpa kehadiran, dukungan, dan tanggung jawab pasangannya. Sejalan dengan pendapat Sager, dkk, Perlmutter dan Hall (1985: 362) menyatakan bahwa single parent adalah: "Parents without partner who continue to raise their children" (Perlmutter & Hall, 1985).
Berdasarkan berbagai definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa keluarga dengan single parent adalah keluarga yang hanya terdiri dari satu orang tua yang dimana mereka secara sendirian membesarkan anak-anaknya tanpa kehadiran, dukungan, tanggung jawab pasangannya dan hidup bersama dengan anak-anaknya dalam satu rumah. b) Macam bentuk single parent
Orangtua yang disebut dengan single parent adalah orangtua tunggal (ayah atau ibu saja). Ada banyak penyebab yang mengakibatkan peran orangtua yang lengkap dalam sebuah rumah tangga menjadi tidak sempurnah. Hal ini bisa disebabkan banyak faktor, dalam penelitian Laksono di antaranya:
1. Jikalau pasangan hidup kita meninggal dunia, otomatis itu akan meninggalkan kita sebagai orang tua tunggal.
2. Jika pasangan hidup kita meninggalkan kita atau untuk waktu yangsementara namun dalam kurun yang panjang. Misalkan ada suami yang harus pergi ke pulau lain atau ke kota lain guna mendapatkan pekerjaan yang lebih layak.
3. Yang lebih umum yakni akibat perceraian.
4. Orangtua angkat ( www.telaga. orangtua tunggal karena hamil di luar nikah, 2009). c) Problematika Orangtua Tunggal Kimmel (1980) dan Walsh (2003) menyatakan beberapa permasalahan yang sering timbul di dalam keluarga dengan orang tunggal baik wanita maupun pria yakni merasa kesepian, perasaan terjebak dengan tanggung jawab mengasuh anak dan mencari sumber pendapatan, kekurangan waktu untuk mengurus diri dan kehidupan seksualnya, kelelahan menanggung tanggung jawab untuk mendukung dan membesarkan anak sendirian, mengatasi hilangnya hubungan dengan partner special, memiliki jam kerja yang lebih panjang, lebih banyak masalah ekonomi yang muncul, menghadapi perubahan hidup yang lebih menekan, lebih rentan terkena depresi, kurangnya dukungan sosial dalam melakukan perannya sebagai orang tua, dan memiliki fisik yang rentan terhadap penyakit (Kimmel, 1980).
Sedangkan masalah khusus yang timbul pada keluarga dengan orang tua tunggal wanita adalah kesulitan mendapatkan pendapatan yang cukup, kesulitan mendapat pekerjaan yang layak, kesulitan membayar biaya untuk anak, kesulitan menutupi kebutuhan lainnya. Sementara pada keluarga dengan orang tua tunggal pria masalah khusus yang timbul hanya dalam hal memberikan perlindungan dan perhatian pada anak (Kimmel, 1980).
Pada kasus keluarga dengan orang tua tunggal yang terjadi karena perceraian, Duvall&Miller (1985) menyatakan bahwa baik bagi wanita maupun pria proses setelah terjadinya perceraian seperti orang yang baru mulai belajar berjalan dengan satu kaki, setelah kaki yang lainnya dipotong. Perceraian adalah proses amputasi pernikahan. Tidak peduli seberapa pentingnya perceraian tersebut, perceraian tetap saja menyakitkan (Duvall dkk, 1985).
2. Stres
a) Definisi stres
Setiap orang pasti pernah mengalami yang namanya stres, definisi stres oleh Selye (1991: 16) adalah respon non spesifik dari badan terhadap setiap tuntutan yang dibuat atasnya. Reaksi pertama pada tiap jenis stres adalah kecemasan yang diikuti oleh tahap perlawanan. Selye menekankan stres tidak hanya merupakan pembunuhan, tetapi juga merupakan kekuatan merusak yang drastis (Walter, 1991).
W.F. Maramis (1998: 65) menyatakan bahwa stres adalah masalah atau tuntutan penyesuaian diri karena sesuatu yang mengganggu keseimbangan kita, bila kita tidak mengatasinya dengan baik akan mengganggu keseimbangan badan atau jiwa kita (Maramis, 1998).
Menurut Handoko (2001: 200) stres adalah suatu kondisi ketegangan yang mempengaruhi emosi, proses berfikir dan kondisi fisik maupun psikis individu yang merupakan reaksi jiwa dan raga terhadap perubahan yang menyenangkan maupun tidak menyenangkan (Handoko, 2001).
Menurut Gray dan Smelzer (2003: 15) stres adalah munculnya reaksi psikologis yang membuat seseorang merasa tegang atau lemas sebab orang tersebut merasa tidak mampu mereda tuntutan atau keinginannya (Achdiat, 2003).
Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa stres adalah suatu kondisi dimana keadaan tubuh terganggu karena tekanan psikologis, karena suatu keadaan yang tidak nyaman. Biasanya stress dikaitkan bukan karena penyakit fisik tetapi lebih mengenai kejiwaan. Akan tetapi karena pengaruh stres tersebut maka penyakit fisik bisa muncul akibat lemah dan rendahnya daya tahan tubuh atau tidak adanya keseimbangan tubuh pada saat tersebut, hingga memerlukan tenaga yang lebih untuk mengembalikan keseimbangan tersebut. b) Gejala-gejala Stres
Setiap orang pasti pernah merasakan stress, sebab stres sudah merupakan bagian dari kehidupan manusia. Penyebabnya pun bisa bermacam-macam. Tak hanya masalah kehidupan sehari-hari. Misalnya, ketidak harmoni san rumahtangga, masalah pekerjaan atau kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan. Bisa juga berasal dari kejadian-kejadian spesifik, yang menguntungkan maupun yang tidak. Perubahan hidup seperti pernikahan, pindah kerja atau kehilangan salahsatu anggota keluarga.
Berikut beberapa gejala-gejala fisik maupun psikis yang dapat dibagi sebagai berikut :
1) Gejala Fisik : merasa lelah, insomnia, nyeri kepala, otot kaku dan tegang (terutama leher/tengkuk, bahu, dan punggung bawah), berdebar-debar, nyeri dada, napas pendek, gangguan lambung dan pencernaan, mual, gemetar, tangan dan kaki merasa dingin, wajah terasa panas, berkeringat, sering flu, dan menstruasi terganggu.
Karena gejala fisik ini mungkin ada kaitannya dengan penyakit fisik, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter sebelum memutuskan bahwa gejala fisik tersebut disebabkan oleh stres.
2) Gejala Mental : berkurangnya konsentrasi dan daya ingat, ragu- ragu, bingung, pikiran penuh atau kosong, kehilangan rasa humor.
3) Gejala Emosi : cemas (pada berbagai situasi), depresi, putus asa, mudah marah, ketakutan, frustrasi, tiba-tiba menangis, fobia, rendah diri, merasa tak berdaya, menarik diri dari pergaulan, dan menghindari kegiatan yang sebelumnya disenangi.
4) Gejala Perilaku : mondar-mandir, gelisah, menggigit kuku, menggerak-gerakkan anggota badan atau jari-jari, perubahan pola makan, merokok, minum minuman keras, menangis, berteriak, mengumpat, bahkan melempar barang atau memukul
c) Sumber stres
Penyebab stres kadangkala mudah untuk dideteksi, tetapi ada yang sulit untuk diketahui. Ada yang mudah untuk dihilangkan, ada yang sulit atau bahkan tidak bisa dihindari. Tiga sumber utama adalah :
1) Lingkungan
Selalu membuat kita harus memenuhi tuntutan dan tantangan, karenanya merupakan sumber stres yang potensial. Kita mengalami bencana alam, cuaca buruk, kemacetan lalu-lintas, dikejar waktu, masalah pekerjaan, rumah tangga, dan hubungan antar manusia. Juga kita dituntut untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan kondisi keuangan, pindah kerja, atau kehilangan orang yang kita cintai.
2) Tubuh
Tuntutan dari tubuh kita untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan faali yang terjadi. Contohnya: perubahan yang terjadi waktu remaja, perubahan fase kehidupan akibat fluktuasi hormon dan proses penuaan. Selain itu, datangnya penyakit, makanan yang tidak sehat, kurang tidur dan olah raga akan mempengaruhi respons terhadap stres.
3) Pikiran
Potensi stres utama juga datang dari pikiran kita yang terus-menerus menginterpretasikan isyarat-isyarat dari lingkungan. Interpretasi kita terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi menentukan apakah kita stres atau tidak. Apakah kita melihat gelas yang berisi air separuhnya sebagai setengah penuh atau setengah kosong; Pikiran-pikiran yang menyebabkan stres sering bersifat negatif, penuh kegagalan, hitam-putih, terlalu digeneralisasi, tidak berdasarkan fakta yang cukup, dan terlalu dianggap pribadi
Sumber stres yang dapat menjadi pemicu munculnya stres pada individu, yaitu:
1) Stressor atau frustrasi eksternal (frustrasi= kekecewaan yang mendalam)
Stressor eksternal: berasal dari luar diri seseorang, misalnya perubahan bermakna dalam suhu lingkungan, perubahan dalam peran keluarga atau sosial, tekanan dari pasangan.
2) Stressor atau frustrasi internal
Stressor internal: berasal dari dalam diri seseorang, misalnya demam, kondisi seperti kehamilan atau menopause atau kondisi emosi seperti rasa bersalah Satu hal yang perlu diingat bahwa stres tidak dapat dihindari karena setiap manusia pasti memiliki stres. Namun yang perlu di lakukan adalah mengkontrol stres tersebut hingga dapat menjadi optimal dan tidak merugikan kesehatan.

SKRIPSI POLA ASUH SINGLE PARENT (IBU) TERHADAP PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN REMAJA

SKRIPSI POLA ASUH SINGLE PARENT (IBU) TERHADAP PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN REMAJA

Wednesday, January 13, 2016
( 0010-PSIKOLOGI) SKRIPSI POLA ASUH SINGLE PARENT (IBU) TERHADAP PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN REMAJA

BAB II
TINJAUAN UMUM POLA ASUH SINGLE PARENT (IBU) TERHADAP PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN REMAJA

A. Pola Asuh Single Parent
1. Pengertian Pola Asuh
Pola asuh adalah merupakan suatu cara terbaik yang dapat ditempuh orang tua dalam mendidik anak sebagai perwujudan dari rasa tanggung jawab kepada anak. Di mana tanggung jawab untuk mendidik anak ini adalah merupakan tanggung jawab primer, karena anak adalah hasil dari buah kasih sayang yang diikat dalam tali perkawinan antara suami isteri dalam keluarga.1
Menurut Kohn, sebagaimana dikutip oleh Chabib Thoha dalam bukunya yang berjudul Kapita Selekta Pendidikan Islam, pola asuh merupakan sikap orang tua dalam berhubungan dengan anaknya, sikap ini dapat dilihat dari berbagai segi, antara lain dari cara orang tua memberikan peraturan kepada anak, cara memberikan hadiah dan hukuman, cara orang tua menunjukkan otoritas dan cara orang tua memberikan perhatian atau tanggapan terhadap keinginan anak.2
Dengan demikian yang disebut dengan pola asuh orang tua adalah bagaimana cara mendidik orang tua terhadap anak, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Cara mendidik secara langsung artinya bentuk-bentuk asuhan orang tua yang berkaitan dengan pembentukan kepribadian, kecerdasan, dan ketrampilan yang dilakukan secara sengaja baik berupa perintah, larangan, hukuman, penciptaan situasi maupun pemberian hadiah sebagai alat pendidikan.
Pendidikan secara tidak langsung adalah berupa contoh kehidupan sehari-hari baik tutur kata sampai kepada adat kebiasaan dan pola hidup, hubungan antara orang tua dengan keluarga, masyarakat, hubungan suami isteri. Semua ini secara tidak sengaja telah membentuk situasi di mana anak selalu bercermin terhadap kehidupan sehari-hari dari orang tuanya.3 2. Jenis-jenis Pola Asuh
Hurlock, sebagaimana dikutip oleh Chabib Thoha, mengemukakan ada tiga jenis pola asuh orang tua terhadap anaknya, yakni (1) pola asuh otoriter, (2) pola asuh demokratis, dan (3) pola asuh permisif.
a. Pola asuh otoriter
Pola asuh otoriter adalah pola asuh yang ditandai dengan cara mengasuh anak dengan aturan-aturan yang ketat, seringkali memaksa anak untuk berperilaku seperti dirinya (orang tua), kebebasan untuk bertindak atas nama diri sendiri dibatasi. Anak jarang diajak berkomunikasi dan bertukar pikiran dengan orang tua, orang tua menganggap bahwa semua sikapnya sudah benar sehingga tidak perlu dipertimbangkan dengan anak.4
Pola asuh otoriter ditandai dengan pemberian hadiah dan hukuman, hadiah dan hukuman merupakan produk dari sistem otoriter yang memperkokoh superioritas tradisional segolongan orang tua terhadap golongan lain.5
b. Pola asuh demokratis
Pola asuh demokratis artinya orang tua memberikan kesempatan kepada setiap anaknya untuk menyatakan pendapat, keluhan, kegelisahan, dan oleh orang tuanya ditanggapi secara wajar dan bimbingan seperlunya.6
Menurut Singgih D. Gunarso dan Yulia Singgih D. Gunarso, pola asuh demokratis adalah anak boleh mengungkapkan pendapat sendiri, mendiskusikan pandangan mereka dengan orang tua.7 c. Pola asuh permisif
Pola asuh ini ditandai dengan cara orang tua mendidik anak secara bebas, anak dianggap sebagai orang dewasa/muda, ia diberi kelonggaran seluas-luasnya untuk melakukan apa saja yang dikehendaki. Kontrol orang tua terhadap anak sangat lemah, juga tidak memberikan bimbingan yang cukup berarti bagi anaknya. Semua apa yang telah dilakukan oleh anak adalah benar dan tidak perlu mendapatkan teguran, arahan atau bimbingan.8 3. Pengertian Single Parent
Single parent yaitu orang yang mengasuh dan membesarkan anak-anak mereka sendiri tanpa bantuan dari pasangannya.9
Sedangkan menurut Moh. Surya yang dimaksud orang tua tunggal (dalam konsep darat disebut "single parent") yaitu orang tua dalam satu keluarga yang tinggal sendiri yaitu ayah atau ibu saja. Single parent dapat terjadi karena perceraian, atau karena salah satu meninggal dunia. Kejadian ini dapat menimpa siapa saja baik muda maupun tua dalam kondisi ayah meninggal dunia. Sehingga ibu menyendiri bersama seluruh anggota keluarganya, atau ibu meninggal dunia sehingga ayah menyendiri bersama dengan keluarganya.10
Single parent a person who looks after their child or children without a husband wife or partner.11 Artinya seseorang yang menjaga anaknya tanpa suami atau istri atau rekan kerja.
7 Singgih D. Gunarsa, dan Yulia Singgih D. Gunarsa, Psikologi Perkembangan Anak dan
Remaja, BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1986, hlm. 116
8 M. Chabib Thoha, op.cit., hlm. 112
9 http://www.telaga.org diakses pada 20 Mi 2007
10 Mohammad Surya, Bina Keluarga, Aneka Ilmu, Semarang, 2003, hlm. 230
11 At Hornby, Oxford Adrameed Learner's Dictionary of Current English, Oxford
Single parent is parent earring for a child on his/ her own.n Artinya satu orang yang menjaga anaknya sendiri.
Sedangkan single parent families (keluarga single parent) berarti keluarga yang terdiri dari ayah ibu yang bertanggung jawab mengurus anak setelah perceraian, kematian atau kelahiran anak diluar nikah.13
Jadi keluarga single parent adalah suatu keluarga yang telah disepakati atau dipimpin oleh seorang pemimpin saja misalnya ayah saja atau ibu saja dan keluarga single parent disini adalah keluarga yang dikepalai seorang janda/ duda dan itu bisa disebabkan karena kematian atau karena perceraian. 4. Tipe-tipe Single Parent
Dalam menghadapi masalah-masalah keluarga tunggal, setiap orang tua akan mempunyai cara-cara dan kiat yang berbeda satu dan yang lainnya bergantung kepada kondisi-kondisi masing-masing. Ada yang mampu bertahan secara mandiri sehingga menjadi sukses dan mungkin lebih sukses jika dibandingkan dengan keluarga utuh. Ada yang menyerah sama sekali kepada keadaan tanpa mampu berbuat apa-apa sehingga berlanjut dengan kehancuran keluarga, kalau memperhatikan berbagai gejala dan pengalaman dari berbagai keluarga tunggal dalam menghadapi tantangan hidupnya. Maka sekurang-kurangnya ada 3 tipe orang tua tunggal yaitu tipe mandiri, tipe tergantung, tipe tak berdaya. d. Tipe Mandiri
Yaitu mereka yang mampu menghadapi kenyataan situasi sebagai orang tua tunggal dan mampu mengatasi masalah-masalahnya dengan sukses. Tipe ini biasanya melanjutkan perjalanan hidup keluarga dengan sukses. Ia menyadari kenyataan yang dihadapinya, segala masalah keluarga dapat teratasi dengan berbagai cara sebaik- baiknya. Anak-anak dan anggota keluarganya diberi pengertian dan kesadaran akan kenyataan, serta ketrampilan menghadapinya.
e. Tipe Tergantung
Yaitu orang tua tunggal yang tergolong tipe ini hampir mampu mengatasi berbagai masalah dan tantangan yang timbul akan tetapi kurang memiliki kemandirian. Dalam hal ini menghadapi berbagai masalah ia hanya bergantung kepada berbagai pihak diluar dirinya, seperti kakak-kakaknya, saudara-saudaranya, kawan-kawannya atau relasi suaminya dan sebagainya. Ia kurang yakin akan kemampuan dirinya, ia menganggap kenyataan ini bukan tanggung jawabnya sendiri, sehingga senantiasa meminta bantuan orang lain, misalnya dalam mendidik anak-anaknya, mungkin yang satu diserahkan kepada neneknya yang satu diserahkan kepada kakaknya.
f. Tipe Tak Berdaya
Yaitu tipe ini berada dalam keadaan tak berdaya dalam menghadapi berbagai tantangan dan masalah yang ditimbulkan oleh kenyataan orang tua tunggal. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukan, ia terlalu menyerah dengan keadaan tanpa berbuat apa-apa, ia putus asa dan pesimis menghadapi masa depannya. Biasanya tipe ini cenderung akan mengalami berbagai kegagalan, seperti terputusnya anak-anak untuk sekolah, berkurangnya penghasilan, makin berkurangnya masa kesejahteraan, makin menurunnya kondisi kesehatan, munculnya berbagai masalah-masalah hambatan psikologis seperti curiga, putus asa, frustasi, konflik, dan sebagainya. Mereka yang tergolong tipe tak berdaya biasanya adalah mereka yang kurang siap menghadapi kenyataan, terlalu besar ketergantungan kepada suami atau istri, kurang memiliki kompetensi hidup, kurang memiliki ketrampilan sosial, sikap rendah diri, ketahanan diri yang rendah, kurang mampu mengendalikan diri, terlalu emosional.14
Dari ketiga tipe di atas sudah tentu harus dihindari munculnya tipe ketiga dan harus diupayakan munculnya tipe pertama. Apabila orang tua tunggal mampu mengatasi masalah-masalah dalam tipe pertama maka dimasa akan datang akan berkembang keluarga-keluarga yang baik dan sejahtera. Peristiwa ketunggalan bukan menjadi sumber kegagalan akan tetapi sebagai pemacu untuk mencapai sukses keluarga di masa yang akan datang. Dengan keluarga yang sejahtera, pada gilirannya akan mendorong timbulnya masyarakat bangsa yang kuat dan sejahtera. Sebaliknya apabila ketunggalan itu merupakan suatu kegagalan, maka pada gilirannya akan menimbulkan suasana kegagalan kehidupan di masyarakat secara luas.

B. Perkembangan Kepribadian
1. Pengertian Perkembangan Kepribadian
Dalam mempelajari perkembangan manusia dan makhluk lain pada umumnya, kita harus membedakan dua hal yaitu proses pematangan (pematangan berarti proses pertumbuhan yang menyangkut penyempurnaan fungsi-fungsi tubuh sehingga mengakibatkan perubahan-perubahan dalam tingkah laku terlepas dari ada atau tidak adanya proses belajar). Dan proses belajar (belajar, berarti mengubah atau memperbaiki tingkah laku melalui latihan, pengalaman dan kontak dengan lingkungan pada manusia hidup dalam masyarakat dengan struktur kebudayaan yang rumit itu). Selain itu masih ada tiga yang ikut menentukan kepribadian yaitu kepribadian atau bakat.15
Dalam kehidupan anak ada dua proses yang beroperasi secara kontinyu yaitu pertumbuhan dan perkembangan. Banyak orang menggunakan istilah pertumbuhan dan perkembangan secara bergantian. Kedua proses ini berlangsung secara interdependensi artinya saling bergantung satu sama lain. Kedua proses ini tidak bisa dipisahkan berdiri

SKRIPSI PERAN GANDA SEORANG SINGGLE PARENT

SKRIPSI PERAN GANDA SEORANG SINGGLE PARENT

Wednesday, January 13, 2016
(0009-PSIKOLOGI) SKRIPSI PERAN GANDA SEORANG SINGGLE PARENT

BAB II 
KAJIAN PUSTAKA

A. Definisi peran ganda
Kata "peran" diambil dari istilah teater dan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kelompok kelompok masyarakat. "Peran ialah bagian yang kita mainkan pada setiap keadaan, dan cara bertingkah laku untuk menyelaraskan diri kita dengan keadaan" (Wolfman, 1989: 10). Johnson & Johnson (2000: 26-27) mengatakan, peran didefinisikan sebagai gambaran mengenai perilaku yang sesuai pada suatu posisi ke arah posisi lain yang saling berhubungan yang didalamnya meliputi hak dan kewajiban.
Sedangkan Soerjono Soekanto (1990: 268-269) menyebutkan bahwa "suatu peran menentukan apa yang diperbuat seseorang bagi masyarakat serta kesempatan-kesempatan apa yang diberikan masyarakat kepadanya". Norma-norma yang ada didalam suatu peran sangat penting untuk mengatur perilaku seseorang. Peran mencakup tiga hal, yaitu:
1. Peran meliputi norma-norma yang dihubngkan dengan posisi atau tempat seseorang dalam masyarakat.
2. Peran adalah suatu konsep tentang apa yang dapat dilakukan oleh individu dalam masyarakat sebagai organisasi.
3. Peran juga dapat dikatakan sebagai perilaku individu yang penting bagi struktur sosial masyarakat.
Seiring dengan perkembangan jaman serta dipengaruhi oleh emansipasi wanita maka peran wanita pun semakin berkembang.
Wolfman (1989: 38) menyatakan bahwa orang-orang yang secara radikal memperjuangkan hak-hak kaum wanita berusaha melawan pendapat stereotype, tidak hanya menyangkal, melainkan juga menentang pola perilaku tradisional kaum wanita. Mereka ingin membetulkan pendapat mengenai peran kaum wanita dan memperjuangkan keadilan dan persamaan kedudukan bagi kaum wanita. Dengan berbuat demikian, mereka menyangkal pendapat bahwa kaum wanita dalam segala hal berlainan dengan kaum pria. Anggapan bahwa pria dan wanita mempunyai karakter yang berbeda menurut fungsinya tidak menurut status sosialnya, merupakan kutukan bagi mereka. Oleh karena itu mereka menolak setiap anggapan bahwa ada nilai-nilai dan perbuatan-perbuatan yang khusus bagi wanita dan penting bagi masyarakat.
Kaum wanita tidak hanya berperan di dalam rumah saja, namun wanita berperan juga dilingkungan kerja. sebaimana dikatakan oleh Wolfman (1989: 10) bahwa meskipun dahulu kaum wanita dewasa hanya memegang peran dalam keluarga, namun dewasa ini banyak sekali wanita yang memainkan peran daam dunia kerja untuk mendapatkan nafkah. Kaum wanita dapat menduduki jabatan yang tidak bersifat tradisional (berbeda dengan peran wanita di rumah), namun mereka tidak dapat ingkar dari tanggung jawab rumah tangga yang sifatnya tradisional. Hal ini merupakan salah satu diantara keluhan-keluhan yang dikemukakan para wanita dimana mereka harus menggabungkan antara pekerjaan rumah tangga dan tugas istri dengan pekerjaan sehari penuh. Salah satu perbedaan penting ialah bahwa wanita rumah tangga lebih mengatur waktunya sendiri daripada ditentukan orang lain untuk melakukan tugas tugas yang perlu (Wolfman, 1989: 28). Sementara itu menurut Noe (2001: 417) wanita yang berperan ganda atau career family women harus bertanggung jawab atas perannya terhadap kualitas perhatian dan perawatan terhadap anak serta bartanggung jawab atas perannya terhadap kualitas pekerjaan.
Berbagai alasan yang melatar belakangi wanita untuk bekerja seperti penjelasan dari Wolfman (1989: 26-27) bahwa disamping uang ternyata wanita karier membuahkan banyak hal, seperti membantu orang lain dan pemenuhan diri pribadi. Pada umumnya wanita bekerja untuk menambah gaji suami atau menopangkeuanagn keluarga untuk bertahan hidup tanpa bermaksud menaiki jenjang kepangkatan. Adapun alasan wanita dalam menentukan pilihan dalam bekerja seperti yang dijelaskan oleh Hurlock (1997: 79-280) dimana pada usia dewasa muda berusia antara umur dua puluhan bahkan umur tiga puluhan dalam memilih pekerjaan tergantung pada faktor-faktor tertentu, diantaranya adalah perlunya persiapan yang lama dan memakan banyak biaya untuk membentuk karier sehingga sulit sekali untuk seseorang untuk menukar kariernya. Faktor lain adalah nilai dan harapan yang tidak realistis, khususnya yang berkenaan dengan prestise dan otonomi tugas-tugas.
Hurlock (1997: 285-286) menambahkan bahwa ada dua alasan umum bagi kemantapan jurusan yang lebih besar baik bagi pria maupun untuk wanita. Pertama, kesempatan kerja bagi wanita lebih sedikit daripada kesempatan untuk kaum pria. Kedua, sebagian besar wanita juga bekerja di luar rumah karena mereka dan keluarganya kekurangan uang. Menyadari bahwa betapa sulit bagi wanita untuk memperoleh pekerjaan, maka mereka begitu erat memegang apa yang teah dimiliki tanpa menghiraukan perasaan pribadinya, karena mereka menyadari pendapatnya penting bagi mereka dan keluarganya. Sebaliknya, pria dapat memperoleh kesempatan yang lebih banyak karena mereka mempunyai lebih banyak kesempatan untuk memilih bidang kerja yang tersedia bagi mereka, walaupun dalam situasi ekonomi yang sulit. Alasan ekonomi juga dapat mempengaruhi wanita untuk bekerja.
Hurlock (1997: 280) mengatakan bahwa banyak istri bekerja dengan tujuan membantu suaminya dalam mencari nafkah, sedang suaminya juga bekerja atau bahkan berpindah karier. Namun adapun sejumlah wanita yang bekerja dengan menyesuaikan pada bakat dan minatnya (Hurlock, 1997: 278).
Berbagai tanggung jawab yang harus dipikul wanita pun semakin bertambah. Menurut Wolfman (1989: 45-46) kaum wanita banyak mengemban tugas dan memikul tanggung jawab di dalam dan di luar rumah, mereka harus belajar menggunakan waktu dngan bijaksana. Mereka harus menggunakan waktu yang tersedia dengan sebaik-baiknya dan mengamati kegiatan mereka. Namun adapula wanita yang terlampau sibuk dengan kegiatannya sehingga lupa untuk membina rumah tangga. Hal ini sesuai dengan pendapat Wolfman (1989: 54) bahwa banyak wanita hidup dalam kesibukan, kegiatan yang padat, produktif dan merasa agak kabur tentang masa depan. Beberapa wanita ini baru memperhatikan masalah menjadi ibu kalau hampir berumur tiga puluh tahun.
Wolfman (1989: 49-50) mengatakan bahwa tanggung jawab mengatur waktu biasanya dibebankan pada ibu. Ibulah yang biasanya bertanggung jawab atas keberangkatan anak ke sekolah dan keberangkatan suami ke pekerjaan pada waktunya. Setiap hari seorang ibu mulai mengurus rumah tangganya, bertanggung jawab atas setiap orang dalam keluarga, sekaligus menyiapkan diri berangkat kerja pada waktunya. Seorang ibu tidak hanya harus menjaga agar keluarganya menempati waktu, tetapi juga mengajarkan kebiasaan baik dan kesadaran akan waktu kepada anak-anak mereka saat meraka beranjak dewasa untuk memikul tanggung jawab yang makin bertambah. Tujuannya agar setiap anggota keluarga biar menepati waktu dan dapat merencanakan serta mengatur waktu dengan baik. Woflman menambahkan dalam mengatur waktu wanita memiliki suatu teknik antara lain:
a. Membuat daftar dan inventaris
Menyusun daftar adalah cara paling umum untuk rencana jangka pendek mencatat apa yang harus dilakukan adalah cara yang baik untuk mengadakan inventarisasi dan menetapkan pilihan kalau terlalu banyak hal yang terdaftar. Hal ini untuk mengantisipasi hal yang akan dilakukan serta dampak yang ditimbulkan terhadap orang lain maupun diri sendiri.
b. Mengurangi waktu tidur
Banyak wanita menyisihkan waktu satu jam setiap harinya dan menggunakan waktu tersebut dengan sebaik-baiknya.
c. Hidup dengan ritme yang sederhana
Ada wanita yang berpendapat bahwa mereka perlu menyederhanakan ritme hidup mereka agar mereka dapat memenuhi jadwal kerja mereka. Diantara berbelanja sekaligus untuk kebutuhan selama seminggu, memeasak lauk pauk kering untuk beberapa hari, mengurusi anak-anak untuk mengerjakan beberapa tugas rutin rumah tangga yang sederhana, mengupah pembantu rumah tangga atau menggunakan alat-alat rumah tangga yang canggih dan efisien.
Banyak wanita yang berusaha mengabaikan kotoran dan debu dirumahnya. Ada pula yang berusaha membersihkan rumah secara sambil lalu untuk menghemat waktu. d. Mencari bantuan dalam melakukan tugas rumah tangga
Kaum wanita yang bersikeras menyatakan bahwa semua anggota keluarga harus ikut serta terlibat dalam tugas rumah tangga, dan tanggung jawab lainnya, cenderung tidak terlalu terbebani rasa capai mereka. Akan timbul rasa bangga karena setiap orang dalam keluarga ikut serta membantu kesejahteraan keluarga. Para suami tentu dapat melakukan segala hal yang dapat dikerjakan wanita, seperti menyapu, mengepel, berbelanja dan memasak.
Sangatlah perlu menyuruh anak-anak memikul sebagian tanggung jawab untuk melakukan tugas. Mereka tidak hanya dapat membantu mengurus diri sendiri, tetapi dapat juga ambil bagian dalam tugas bersama. Mereka dapat dibantu mendewasakan diri dengan cara bertujuan membangun dan memperhatikan kepentingan orang lain. Mereka juga belajar

SKRIPSI PENGARUH TINGKAT PENDIDIKAN ORANG TUA TERHADAP TINGKAH LAKU ANAK DI SD

SKRIPSI PENGARUH TINGKAT PENDIDIKAN ORANG TUA TERHADAP TINGKAH LAKU ANAK DI SD

Wednesday, January 13, 2016
(0008-PSIKOLOGI) SKRIPSI PENGARUH TINGKAT PENDIDIKAN ORANG TUA TERHADAP TINGKAH LAKU ANAK DI SD

BAB II 
LANDASAN TEORI

A. Tinjauan Tentang Pendidikan 
1. Difinisi Pendidikan
Di dalam meningkatkan kesejahteraan umat manusia tidak terlepas dari unsur pendidikan yang berakar dari kebudayaan suatu bangsa, salah satunya bangsa Indonesia, pendidikan nasionalnya berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945. Dimana semua warga berhak atas pendidikan yang di arahkan untuk meningkatkan kecerdasan kehidupan bangsa dan kualitas sumber daya manusia, mengembangkan manusia dan masyarakat Indonesia yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,beriman,berakhlak mulia,berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan, keahlian dan ketrampilan,kesehatan jasmani dan rohani serta kepribadian yang mantap dan mandiri.
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan merupakan suatu metode pengajaran yang dilakukan secara sistematik yang dilakukan oleh suatu negara atau perorangan untuk mempengaruhi agar mempunyai sifat dan mental sesuai dengan idiologi dari Negara tersebut. Ada beberapa pendapat mengenai pengertian pendidikan. Menurut Drs. Amir Daien Indrakusuma (1973 : 27 )
Pendidikan ialah bantuan yang diberikan dengan sengaja kepada anak dalam pertumbuhan jasmani maupun rohaninya untuk mencapai tingkat kedewasaan.

2. Pendidikan
ialah suatu usaha yang sadar yang teratur dan sistematis,yang dilakukan oleh orang-orang yang diserahi tanggung jawab untuk mempengaruhi anak agar mempunyai sifat dan tabiat sesuai dengan cita-cita." Dari definisi diatas mengandung maksud bahwa pendidikan :
a. Pendidikan merupakan bantuan yang dilakukan secara sengaja atau secara sadar dan dilaksanakan secara sistematis dan teratur.
b. Objek pendidikan adalah orang yang masih dalam masa pertumbuhan (anak-anak dan orang dewasa).
c. Pendidikan mempunyai batas akhir yaitu kedewasaan seseorang dalam bertindak dan bertanggung jawab disegala kehidupan.
Banyak para ahli memberikan pengertian mengenai pendidikan dengan prestasi, dimana prestasi diasumsikan sebagai suatu hasil yang dicapai dengan melakukan sesuatu kegiatan, untuk lebih jelasnya akan dikemukakan beberapa pendapat para ahli antara lain :
Menurut W. S Winkel dalam buku Psikolog pengajaran mengemukakan : "prestasi merupakan bukti usaha yang dapat dicapai "(1994 : 161) Sejalan dengan pendapat tersebut di atas WJS. Poerwodaminto dalam bukunya kamus umum Indonesia juga mengemukakan sebagai berikut :
"Prestasi merupakan hasil yang telah dicapai atau dilakukan,dikerjakan " (1982 : 768).
Dari pendapat diatas pada dasarnya sama di dalam memberikan asumsinya, bahwa prestasi merupakan suatu yang membawa arti bagi dirinya.
Para ahli pendidikan dalam memberikan pengertian belajar tidak sama antara satu dengan yang lain. Pada umumnya belajar diartikan sebagai suatu usaha atau kegiatan yang disengaja untuk mengembangkan potensi yang ada dalam diri individu yang melakukan kegiatan belajar.
Pengembangan potensi-potensi tersebut dilaksanakan melalui latihan-latihan sehingga diperoleh kecakapan baru. Guna memperoleh gambaran yang jelas, akan dikemukakan beberapa pandangan para ahli antara lain :
Menurut Oemar Hamalik dalam bukunya Metode Belajar dan Kesulitan-kesulitan Belajar mengemukakan :
"Belajar adalah suatu bentuk pertumbuhan atau perubahan dalan diri seorang yang dinyatakan dalam acara-acara bertingkah laku yang baru berkat pengalaman dan latihan." (1990 : 21) Sejalan dengan pendapat tersebut diatas Winano Surahmat dalam bukunya Cara- Cara Belajar di Universitas juga mengemukakan sebagai berikut :
" Belajar adalah proses perubahan dalam diri seseorang." [1981 : 23] Sedang menurut Cronbach adalah :
Dari ketiga pendapat diatas dapat ditarik kesimpulan yaitu bahwa belajar adalah Proses perubahan, baik perubahan penguasaan pengetahuan maupun perubahan tingkah laku yang dilakukan secara sadar. 2. Teori-teori Belajar
a. Teori belajar menurut Faculty Psychology (ilmu jiwa daya)
Menurut teori ini manusia terdiri dari daya-daya, seperti daya pikiran,mengenal, mengingat,menghayal dan sebagainya. Daya-daya tersebut dapat berkemban apabila dilatih. Semakin banyak latihan maka orang makin berhasil dalam belajarnya.
b. Teori belajar menurut ilmu jiwa asosiasi
Pencetus teori ini ERL. Thom dike dan Pavlow. Teori ini menjelaskan bahwa jiwa manusia terdiri dari ososiasi, tanggapan-tanggapan yang masuk ke dalam jiwa kita. Asosiasi terbentuk dari hubungan stimulus dan respon. Belajar menurut teori ini adalah dengan menghubungkan antara stimulus dan respon sehingga menjadi kebiasaan-kebiasaan.
c. Teori Belajar menurut Ilmu jiwa Gestalt
Menurut teori ini bahwa jiwa manusia menurut kesatuan yang bulat. Jiwa
manusia bersifat hidup dari atif berinteraksi dengan lingkungan. Menurut
teori ini belajar adalah mengalami deraksi, berbuat dan berpikir kritis.
Jadi belajar bukan saja dengan menghubungkan stimulus tetapi
mengalami, reaksi dan berbuat serta berfikir kritis. Jadi belajar bukan saja dengan menghubungkan stimulus tetapi mengalami reaksi dan berbuat serta berfikir.

3. Hukum-hukum Belajar
Dalam belajar terdapat tiga hukum primer dan lima hukum tiga hukum primer itu adalah :
a. Hukum kesiapan, mengatakan bahwa belajar akan berhasil jika terdapat kesiapan bagi individu yang belajar.
b. Hukum latihan, Mengatakan bahwa belajar akan berhasil jika individu yang belajar berhasil dalam membuat hubungan antara stimulus dan respon. Jika stimulus menyenangkan maka respon cenderung untuk diulang kembali.
c. Hukum efek
Mengatakan bahwa hubungan antara stimulus dengan respon akan bertambah erat disertai perasaan senang sehingga cenderung untuk selalu diulangi. Tetapi akan menjadi kurang kuat atau hilang kalau disertai dengan rasa tidak senang atau tidak puas.
Sedangkan lima hukum sekunder adalah ;
a. Hukum respon berganda menyatakan bahwa respon dilakukan berkali-kali sampai respon yang tepan ditemukan.
b. Hukum sikap disposisi menyatakan bahwa sukses dalam membuat hubungan antara stimulus dan respon cenderung untuk dikembangkan. c. Hukum aktivitas parsial menyatakan bahwa individu cenderung untuk memilih unsur-unsur belajar yang paling memenuhi kebutuhan.
d. Hukum asimilasi menyatakan bahwa pengulangan hasil belajar dalam status stimulus akan diterapkan pada situasi tersebut memiliki unsur yang sama. e. Hukum perbuatan asosiatif menyatakan bahwa individu mampu secara
memuaskan terhadap situasi belajar agar respon tersebut dapat diaplikasikan pada situasi lain.

4. Prestasi Belajar
Prestasi belajar merupakan hasil seseorang. Dengan kata lain prestasi belajar diartikan sebagai suatu hasil dari belajar (Gani R.A. 1964 : 44) menurut Sutratinah (1983 :16) menyatakan bahwa
"prestasi belajar merupakan hasil dari pengukuran dan penilaian usaha belajar, selanjutnya dikemukakan bahwa prestasi belajar ini dinyatakan dalam bentuk angka, huruf maupun simbol dan pada setiap-tiap periode tertentu misalnya catur wulan atau semesteran hasil belajar anak dapat dilihat dalam buku raport. " selain itu pengertian prestasi belajar menurut DEPDIKBUD, 1988 :700 adalah :
"Prestasi belajar adalah penguasaan pengetahuan atau ketrampilan yang dikembangkan oleh bidang studi,lazimnya ditunjukan dengan nilai yang diberikan oleh guru."

SKRIPSI PENGARUH PERMAINAN TRADISIONAL KOMBOYAN TERHADAP PENINGKATAN KERJASAMA ANAK TK

SKRIPSI PENGARUH PERMAINAN TRADISIONAL KOMBOYAN TERHADAP PENINGKATAN KERJASAMA ANAK TK

Wednesday, January 13, 2016
(0007-PSIKOLOGI) SKRIPSI PENGARUH PERMAINAN TRADISIONAL KOMBOYAN TERHADAP PENINGKATAN KERJASAMA ANAK TK

BAB 2
LANDASAN TEORI

Suatu penelitian ilmiah memerlukan suatu landasan teori yang kuat sebagai dasar yang mendukung peneliti untuk menuju ke lapangan. Teori-teori yang digunakan sebagai landasan akan mengarahkan alur berfikir pada proses penelitian yang dia lakukan. Dalam bab ini akan diuraikan konsep-konsep pokok yang menjadi dasar pemikiran dalam penelitian. 2.1 Perkembangan Sosialisasi pada Anak 2.1.1 Proses Perkembangan Sosial. Menurut Muhibin (dalam Nugraha & Rachmawati 2004: 1.13) perkembangan sosial merupakan proses pembentukan social self (pribadi dalam masyarakat), yakni pribadi dalam keluarga, budaya, bangsa, dan seterusnya. Adapun Hurlock (1978: 250) mengutarakan bahwa perkembangan sosial merupakan perolehan kemampuan berperilaku yang sesuai dengan tuntutan sosial.
Untuk menjadi individu yang mampu bermasyarakat diperlukan tiga proses sosialisasi. Proses sosialisasi ini tampaknya terpisah, tetapi sebenarnya saling berhubungan satu sama lainnya, sebagaimana yang dikemukakan oleh Hurlock (dalam Nugraha & Rachmawati, 2004: 1.13) yaitu sebagai berikut :
1) Belajar untuk bertingkah laku yang dapat diterima secara sosial
2) Belajar memainkan peran sosial yang dapat diterima
3) Perkembangan sikap sosial
Pada perkembangannya, berdasarkan ketiga proses sosial ini, individu akan terbagi dalam dua kelompok yaitu kelompok individu sosial dan kelompok individu non sosial. Kelompok individu sosial adalah mereka yang tingkah lakunya mencerminkan ketiga proses sosialisasi. Adapun kelompok individu nonsosial adalah mereka yang tingkah lakunya tidak mencerminkan ketiga proses sosialisasi. Mereka adalah individu yang tidak tahu apa yang diharapkan kelompok sosial sehingga tingkah laku mereka tidak sesuai dengan harapan sosial. Kadang-kadang mereka tumbuh menjadi individu anti sosial, yaitu individu yang mengetahui harapan sosial tetapi mereka sengaja melawan hal tersebut. Seseorang agar bisa memenuhi tuntutan sosial maka perlu adanya pengalaman sosial yang menjadi dasar pergaulan. 2.1.2 Pentingnya Pengalaman sosial
Menurut Hurlock (1978: 256), sebagian besar peristiwa atau pengalaman sosial yang dialami pada masa anak-anak dipandang sebagai berikut:
1) Pengalaman yang menyenangkan
Pengalaman yang menyenangkan mendorong anak untuk mencari pengalaman semacam itu lagi.
2) Pengalaman yang tidak menyenangkan
Pengalaman yang tidak menyenangkan dapat menimbulkan sikap yang tidak sehat terhadap pengalaman sosial dan terhadap orang lain. Pengalaman yang tidak menyenangkan mendorong anak menjadi tidak sosial atau anti sosial.
3) Pengalaman dari dalam rumah (keluarga)
Jika lingkungan rumah secara keseluruhan memupuk perkembangan sikap sosial yang baik, kemungkinan besar anak akan menjadi pribadi yang sosial atau sebaliknya.
4) Pengalaman dari luar rumah
Pengalaman sosial awal anak di luar rumah melengkapi pengalaman di dalam rumah dan merupakan penentu penting bagi sikap sosial dan pola perilaku anak. Berdasarkan pemahaman diatas, pengalaman sosial pada masa anak-anak baik itu yang menyenangkan, tidak menyenangkan, diperoleh dari dalam rumah atau dari luar rumah adalah sangat penting.
Adapun ciri umum perkembangan sosial anak usia 4-5 tahun yaitu mulai bermain dan berkomunikasi dengan anak-anak lain, berani dan mempunyai rasa ingin tahu yang besar, menunjukkan perhatian untuk mengetahui lebih jauh tentang perbedaan jenis kelamin. Sedangkan ciri umum perkembangan anak usia 5-6 tahun yaitu dapat bergaul dengan sesama teman, merasa puas dengan prestasi yang dicapai, tenggang rasa terhadap keadaan orang lain, serta dapat mengendalikan emosi.
Menurut Nugraha & Rachmawati (2004: 1.14) karakteristik yang menggambarkan individu dengan penyesuaian diri baik, yaitu :
1) Dapat menerima tanggung jawab sesuai usianya
2) Menikmati pengalaman
3) Mau menerima tanggung jawab sesuai dengan peranannya
4) Mampu memecahkan masalah dengan segera
5) Dapat melawan dan mengatasi hambatan untuk merasa bahagia
6) Mampu membuat keputusan dengan kekhawatiran dan konflik yang minim
7) Tetap pada pilihan sehingga menemukan bahwa pilihannya salah
8) Merasa puas dengan kenyataan
9) Dapat menggunakan pikiran sebagai dasar untuk bertindak, tidak untuk melarikan diri
10) Belajar dari kegagalan, tidak mencari alasan untuk kegagalannya
11) Tahu bagaimana harus bekerja pada saat kerja dan bermain pada saat main
12) Dapat berkata tidak pada sesuatu yang mengganggu
13) Dapat berkata ya pada situasi yang membantu
14) Dapat menunjukan kemarahan ketika merasa terluka atau merasa haknya terganggu
15) Dapat menunjukkan kasih sayang
16) Dapat menahan sakit dan frustasi jika diperlukan
17) Dapat berkompromi ketika mengalami kesulitan
18) Dapat memusatkan energi pada tujuan
19) Menerima kenyataan bahwa hidup adalah perjuangan hidup yang tidak ada habisnya
Berdasarkan uraian diatas maka penulis menyimpulkan bahwa untuk menjadi individu diperlukan penyesuain diri yang baik, anak harus merasa bahagia dan mampu menerima dirinya. 2.1.3 Karakteristik Perkembangan Sosial Anak Usia 4-6 tahun
Menurut Nugraha & Rachmawati (2004: 2.12) karakteristik perilaku sosial diantaranya adalah:
a. Membuat kontak sosial dengan orang di luar rumah
b. Dikenal dengan istilah Peregang age. Dikatakan peregang karena anak sekolah berkelompok belum mengikuti arti dari sosialisasi yang sebenarnya. Mereka mulai belajar menyesuaikan diri dengan harapan lingkungan sosial.
c. Hubungan dengan orang dewasa
d. Hubungan dengan teman sebaya
e. Usia 3-4 tahun mulai bermain bersama. Mereka tampak mulai mengobrol selama bermain, memilih teman untuk bermain, mengurangi tingkah laku permusuhan. Patmonodewo (2000: 33-35) mengemukakan beberapa ciri sosial pada anak usia prasekolah, diantaranya adalah sebagai berikut:
1) Pada umumnya anak usia ini memiliki satu atau dua sahabat, tetapi sahabat ini cepat berganti. Mereka pada umumnya cepat menyesuaikan diri secara sosial,