Showing posts with label aqidah akhlak. Show all posts
Showing posts with label aqidah akhlak. Show all posts
SKRIPSI STUDI TENTANG HUBUNGAN PENDIDIKAN AKHLAK DENGAN KEDISIPLINAN SISWA

SKRIPSI STUDI TENTANG HUBUNGAN PENDIDIKAN AKHLAK DENGAN KEDISIPLINAN SISWA

Tuesday, May 24, 2016

(KODE : 0022-PAI) : SKRIPSI STUDI TENTANG HUBUNGAN PENDIDIKAN AKHLAK DENGAN KEDISIPLINAN SISWA


BAB II 
LANDASAN TEORI

A. Kajian Tentang Pendidikan Akhlak 
1. Pengertian Pendidikan Akhlak
Sebelum penulis membahas dan menjelaskan pengertian pendidikan akhlak, terlebih dahulu disini penulis memberikan pengertian secara terpisah dari dua istilah tersebut yaitu pendidikan dan akhlak. Beberapa pendapat para ahli tentang pengertian tersebut sebagai berikut :
a. Pendidikan
Dalam pengertian tentang pendidikan, para ahli ilmu pengetahuan berbada pendapat, diantaranya adalah :
1) Arti pendidikan secara etimologi
"Paedagogie" berasal dari bahasa yunani, terdiri dari kata "PAIS", artinya anak, dan "AGAIN", diterjemahkan membimbing, jadi Paedagogie yaitu bimbingan yang diberikan kepada anak. 
2) Menurut Ngalim Purwanto, bahwa " Pendidikan ialah segala usaha orang dewasa dalam pergaulan dengan anak - anak untuk memimpin perkembangan jasmani dan rohani kea rah kedewasaan.”
3) Menurut Ahmad D. Marimba, bahwa " Pendidikan adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh si pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani si terdidik menuju terbentuknya kepribadian yang utama. "
4) Suwarno mengutip pendapat Ki Hajar Dewantara.
"Adapun maksud pendidikan yaitu menuntut segala kekuatan kodrat yang ada pada anak - anak itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan bahagia setinggi - tingginya. " 
5) Menurut M. Arifin, " Pendidikan yang benar adalah yang memberikan kesempatan pada keterbukaan terhadap pengaruh dari dunia luardan perkembangan dari diri anak didik. " 
6) M. Arifin mengutip pendapatnya Mortimer J. Adler mengartikan, “Pendidikan adalah proses dengan mana semua kemampuan manusia (bakat kemampuan yang diperoleh) yang dapat dipengaruhi oleh pembiasaan, disempurakan dengan kebiasaan - kebiasaan yang baik melalului sarana yang secara artistic dibuat dan dipakai oleh siapapun untuk membantu orang lain atau dirinya sendiri mencapai tujuan yang ditetapkan yaitu kebiasaan yang baik."
Dari beberapa pendapat ahli pendidikan di atas, maka disini penulis dapat mengambil kesimpulan, bahwa pendidikan adalah suatu proses bimbingan secara sadar dari pendidik untuk mengembangkan kepribadian serta kemampuan dasar siswa agar membuahkan hasil yang baik, jasmani yang sehat, kuat dan berketerampilan, cerdas dan pandai, hatinya penuh iman kepada Allah SWT dan membentuk kepribadian utama.
b. Akhlak
Beberapa ahli yang mendifinisikan tentang akhlak, diantaranya adalah :
1) Menurut Ibnu Maskawih :
Artinya : " Keadaan jiwa seseorang yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan tan melalui pertimbangan pikiran (terlebih dahulu). " 
2) Menurut Imam Al - Ghozali :
Artinya : " Akhlak ialah suatu sifat yang tertanam dalam jiwa yang dari sifat itu timbul perbuatan - perbuatan dengan mudah, dengan tidak memerlukan pertimbangan pikiran ( terlebih dahulu ). " 
3) Al-Qurthuby mengatakan :
Artinya : "Suatu perbuatan manusia bersumber dari adab kesopanannya disebut akhlak, karena perbuatan itu termasuk bagian dari kejadiannya. "
4) Di dalam Dairatul Ma'rifat dikatakan :
Artinya : " Akhlak ialah sifat - sifat manusia yang terdidik. " 
5) Didalam Ensiklopedi pendidikan dikatakan bahwa akhlak ilah budi pekerti, watak, kesusilaan ( kesadaran etik dan moral) yaitu kelakuan baik yang merupakan akibat dari sifat jiwa yang benar terhadap khaliqnya dan sesame manusia.
6) Menurut Abdulloh Dirroz : " Akhlak adalah suatu kekuatan dalam bentuk kehendak yang mantap, kekuatan dan kehendak mana berkombinasi membawa kecenderungan pada pemilik pihak yang benar ( dalam hal akhlak yang baik ) atau pihak yang j ahat ( dalam hal akhlaq jahat ).
Selanjutnya menurut Abdulloh Dirroz, perbuatan-perbuatan manusia yang dapat dianggap sebagai perwujudan dari akhlaknya, jika dipenuhi dua syarat : Pertama : Jika perbuatan itu dilakukan berulang kali sehingga menjadi kebiasaan.
Kedua : Jika perbuatan itu dilakukan karena dorongan emosi-emosi jiwanya, bukan karena adanya tekanan-tekanan yang dating dari luar seperti paksaan dari orang lain sehingga menimbulkan ketakutan, atau bujukan dengan harapan-harapan yang indah dan sebagainya (Tim Dosen Agama Islam, 1990 :225-227).
Dari berbagai pendapat diatas dapatlah penulis simpulkan bahwa yang dimaksud " akhlaq " adalah suatu sifat yang tertanam dalam jiwa manusia yang menimbulkan perbuatan-perbuatan baik dan buruk dengan mudah tanpa melalui pertimbangan-pertimbangan terlebih dahulu dan peruatan tersebut sudah menjadi kebiasaan.
Setelah kita mengetahui pengertian satu persatu daripada pendidikan dan akhlaq, maka kiranya dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud pendidikan akhlak adalah suatu proses bimbingan atau pertolongan pendidik secara sadar pada siswa agar dalam jiwa anak tersebut tertanam dan tumbuh sikap serta tingkah laku atau perbuatan yang sesuai dengan ajaran islam, sehingga dalam pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohaninya untuk membiasakan perbuatan baik dengan mudah tanpa melalui pertimbangan terlebih dahulu, akan tetapi perbuatannya didasarkan pada keimanan, dan juga terbentuklah kepribadian yang utama.

2. Dasar dan Tujuan Pendidikan Akhlak
a. Dasar pendidikan akhlaq
Seperti yang telah kita maklumi bahwa pendidikan akhlaq adalah merupakan bagian daripada bidang studi pendidikan agama disekolah-sekolah. Oleh karenanya dasar operasional yang digunakan oleh pendidian akhlaq adalah sama dengan dasar operasional yang digunakan oleh pendidikan agama disekolah-sekolah islam di Indonesia.
Adapun pelaksanaan pendidikan agama di Indonesia itu mempunyai dasar yang cukup kuat. Dasar-dasar ini dapat dilihat dari tiga segi, yaitu :
1) Segi Yurudis/hukum
2) Segi religious
3) Segi social Psychologis 
1) Dasar dari segi Yuridis / Hukum
Yang dimaksud dasar segi Yuridis / hukum adalah dasar-dasar pelaksanaan pendidikan agama secara langsung ataupun ataupun tidak langsung dapat dijadikan pegangan dalam melaksanakan pendidikan agama di sekolah-sekolah ataupun lembaga-lembaga pendidikan formal di Indonesia. Adapun bentuk dari dasar ini adalah sebagai berikut :


SKRIPSI STUDI KOMPARASI ANTARA AKHLAK SISWA YANG MENGIKUTI PROGRAM MENTORING DENGAN YANG TIDAK MENGIKUTI PROGRAM MENTORING SIE. KEROHANIAN ISLAM (ROHIS) DI SMA

SKRIPSI STUDI KOMPARASI ANTARA AKHLAK SISWA YANG MENGIKUTI PROGRAM MENTORING DENGAN YANG TIDAK MENGIKUTI PROGRAM MENTORING SIE. KEROHANIAN ISLAM (ROHIS) DI SMA

Tuesday, May 24, 2016

(KODE : 0021-PAI) : SKRIPSI STUDI KOMPARASI ANTARA AKHLAK SISWA YANG MENGIKUTI PROGRAM MENTORING DENGAN YANG TIDAK MENGIKUTI PROGRAM MENTORING


BAB II 
AKHLAK SISWA DAN PROGRAM MENTORING DI SEKOLAH

A. Kajian Pustaka
Untuk menghindari pengulangan hasil penelitian yang membahas permasalahan yang sama dari seseorang dalam bentuk buku dan dalam bentuk tulisan lainnya, maka penulis memaparkan beberapa penelitian yang sudah dilakukan.Hasil penelitian itu nantinya akan dijadikan sebagai sandaran teori dan sebagai pembanding dalam mengupas permasalahan tentang akhlak siswa dan program mentoring di SMA Negeri 3 Semarang sehingga muncul penemuan baru.
1. Skripsi berjudul "Pembinaan Sikap Keberagamaan Siswa Melalui Program Mentoring Ekstrakurikuler Rohani Islam (ROHIS) di SMA N Unggulan 57 Jakarta", di tulis oleh M. Ridwansyah tahun 2008 Fakultas Tarbiyah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Hasil dari penelitian ini adalahbahwa program mentoring dapat menjadi wadah serta kontribusi positif dalam pembinaan sikap keberagamaan siswa.
Dari penelitian tersebut, peneliti mendapatkan informasi bahwa dengan mengikuti mentoring, sikap keberagamaan siswa akan menjadi baik. Hasil dari penelitian tersebut merupakan penelitian yang ada relevansinya dengan skripsi ini, namun memiliki fokus permasalahan yang berbeda. Karya tersebut hanya membahas tentang kontribusi positif program mentoring terhadap sikap keberagamaan siswa, dan tidak memperhatikan sikap keberagamaan siswa yang tidak mengikuti mentoring sedangkan fokus permasalahan pada skripsi ini adalah adanya kontribusi positif program mentoring terhadap pembinaan akhlak siswa sekaligus membandingkan antara akhlak siswa yang mengikuti mentoring dengan yang tidak mengikuti mentoring.
2. Skripsi berjudul "Manajemen Internalisasi Nilai-Nilai Keagamaan Melalui Kegiatan Ekstrakurikuler Sie. Kerohanian Islam Untuk Pembentukan Karakter Siswa SMA Negeri 1 Malang" ditulis oleh I'anatut Thoifah tahun 2011 Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.
Hasil dari penelitian tersebut merupakan penelitian yang ada relevansinya dengan skripsi ini, namun memiliki fokus permasalahan yang berbeda, yaitu: penelitian tersebut lebih fokus pada mengetahui letak relevansi manajemen internalisasi nilai-nilai keagamaan melalui kegiatan ekstrakurikuler sie. 
Islam pada siswa SMA N 1 Malang dengan pendidikan karakter, sedangkan dalam penelitian ini fokus pada mengetahui letak perbedaan antara akhlak siswa yang mengikuti program mentoring dengan yang tidak mengikuti program mentoring sie. Kerohanian Islam di SMA Negeri 3 Semarang.
3. Skripsi berjudul "Peran Kegiatan Sie Kerohanian Islam (ROHIS) dalam Upaya Meningkatkan Perilaku Keberagamaan Siswa di SMA N 1 Sidoarjo", ditulis oleh Afdiah Fidianti tahun 2009 Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.
Hasil dari penelitian tersebut adalah bahwa peranan sie. Kerohanian sangat besar manfaatnya terutama dalam meningkatkan perilaku keberagamaan, hal ini dapat dilihat dengan adanya berbagai macam kegiatan sehingga terbina perilaku siswa yang baik terbukti dengan kesadaran siswa untuk beribadah dan berakhlak mulia tehadap Allah SWT, orang tua, guru, sesama teman dan lingkungan sekitarnya.
Penelitian tersebut memiliki relevansi dengan skripsi ini, namun memiliki fokus permasalahan yang berbeda:
a. Karya tersebut membahas peran kegiatan sie. Kerohanian Islam, jadi peran kegiatan sie. Kerohanian Islam ini mencakup semua kegiatan bukan hanya mentoring. Sedangkan fokus permasalahan pada skripsi ini adalah hanya satu program saja, yakni mentoring.
b. Permasalah dalam penelitian tersebut fokus pada perilaku keberagamaan, adapun permasalahan pada skripsi ini fokus pada akhlak siswa, yakni perbedaan antara akhlak siswa yang mengikuti mentoring dengan yang tidak mengikuti mentoring.

B. Kerangka Teoritik
1. Akhlak
a. Pengertian Akhlak
Menurut pendekatan etimologi, perkataan "akhlak" berasal dari bahasa arab jama' dari bentuk mufradnya "Khuluqun" yang menurut bahasa diartikan budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat. Kalimat tersebut mengandung segi-segi persesuaian dengan perkataan "Khalkun" yang berarti kejadian, serta erat hubungannya dengan "Khaliq"  yang berarti Pencipta dan "Makhluk yang berarti diciptakan.
Pola bentukan definisi "Akhlak" di atas muncul sebagai mediator yang menjembatani komunikasi antara Khaliq (Pencipta) dengan makhluk (yang diciptakan) secara timbal balik, yang kemudian disebut sebagai hablum minallah. Dari produk hablum minallah yang verbal, biasanya lahirlah pola hubungan antar sesama manusia yang disebut dengan hablum minannas (pola hubungan antar sesama makhluk).
Berdasarkan sudut pandang kebahasaan definisi akhlak dalam pengertian sehari-hari disamakan dengan "budi pekerti", kesusilaan, sopan santun, tata krama (versi bahasa indonesia) sedang dalam bahasa inggrisnya disamakan dengan istilah moral atau ethic.
Beberapa pakar mengemukakan definisi akhlak sebagai berikut : Ibn Miskawaih, sebagaimana yang dikutip oleh Muhammad Alim menyatakan bahwa akhlak adalah Keadaan jiwa seseorang yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan-perbuatan tanpa terlebih dahulu melalui pertimbangan pikiran.4 Ahmad Amin, sebagaimana yang di kutip oleh Anwar Masy'ari mendefinisikan akhlak ialah ilmu untuk menetapkan ukuran segala perbuatan manusia, yang baik atau yang buruk, yang benar atau yang salah, yang hak atau yang batil.5 Rachmat Djatmika, mendefinisikan bahwa akhlak merupakan perpaduan dari hasil ratio dan rasa yang bermanifestasi pada karsa dan tingkah laku manusia.
Di dalam buku encyclopedia Britanica, di jelaskan bahwa pengertian Ilmu Akhlak itu adalah identik dengan definisi ethics.
Ethics or moral philosophy is the branch of philosophy that is concerned with what is morally good or bad, right and wrong.
Etika atau filsafat moral adalah cabang dari filsafat yang membahas moral baik dan buruk, benar dan salah.
Farid Ma'ruf, sebagaimana yang dikutip oleh Yatimin, mendefinisikan bahwa akhlak ialah,Kehendak jiwa manusia yang menimbulkan perbuatan dengan mudah karena kebiasaan, tanpa memerlukan pertimbangan pikiran terlebih dahulu.8Selanjutnya menurut Ibrahim Anis, mengatakan:
Akhlak adalah Sifat yang tertanam dalam jiwa, yang dengannya lahirlah macam-macam perbuatan, baik atau buruk, tanpa membutuhkan pemikiran dan pertimbangan.
Abdul Karim Zaidan, sebagaimana yang dikutip oleh Yuahar Ilyas mengatakan akhlak yaitu nilai-nilai dan sifat-sifat yang tertanam dalam jiwa, yang dengan sorotan dan timbangannya seseorang dapat menilai perbuatannya baik atau buruk, untuk kemudian memilih melakukan atau meninggalkannya.10Soegarda Poerbakawatja, sebagaimana yang di kutip oleh Yatimin mengatakan akhlak ialah budi pekerti, watak, kesusilaan, dan kelakuan baik yang merupakan akibat dari sikap jiwa yang benar terhadap khaliknya dan terhadap sesama manusia. nHamzah Ya'qub mengemukakan pengertian akhlak sebagai berikut:
1) Akhlak ialah ilmu yang menentukan batas antara baik dan buruk, antara terpuji dan tercela, tentang perkataan atau perbuatan manusia lahir dan batin.
2) Akhlak ialah ilmu pengetahuan yang memberikan pengertian tentang baik dan buruk, ilmu yang mengajarkan pergaulan manusia dan menyatakan tujuan mereka yang terakhir dari seluruh usaha dan pekerjaan mereka.
Sementara itu, Imam al-Ghazali menyatakan bahwa akhlak atau budi pekerti adalah gambaran tingkah laku dalam jiwa yang dari padanya lahir perbuatan-perbuatan dengangampang dan mudah tanpa dibuat-buat dan tanpa memerlukan pemikiran dan penelitian. 13Dapat dirumuskan bahwa akhlak ialah ilmu yang mengajarkan manusia berbuat baik dan mencegah perbuatan jahat dalam pergaulannya dengan Tuhan, manusia, dan makhluk sekelilingnya.u
Jadi, pada hakikatnya khuluq, (budi pekerti) atau akhlak ialah suatu kondisi atau sifat yang telah meresap dalam jiwa dan menjadi kepribadian. Dari sini timbullahberbagai macam perbuatan dengan spontan tanpa dibuat-buat dan tanpa memerlukan pikiran.

b. Ruang Lingkup Akhlak
Menurut Yatimin Abdullah, dalam bukunya yang berjudul Studi akhlak dalam perspektif al-Qur'an, ruang lingkup pembahasan akhlak terbagi kedalam lima bagian, yaitu:
1) Perasaan akhlak
Perasaan akhlak ialah kekuatan seseorang dapat mengetahui sesuatu perilaku, sesuaikah ia dengan akhlak baik atau tidak. Perilaku atau tindakan itu pada suatu waktu dianggap tepat dan baik, tetapi pada waktu dan situasi lain bisa dianggap tidak tepat. Sebagai ilustrasi, misalnya seorang mahasiswa berlari dengan kencang dari halaman kampusnya, karena ingin menyelamatkan anak kecil yang sedang melintas di jalan ray a. Perilaku yang demikian disebut berakhlak baik, sebab mahasiswa itu ingin menyelamatkan anak kecil dari kecelakaan di jalan raya, inilah yang dikatakan suara hati. Tetapi jika mahasiswa itu lari dengan cepat dari halaman kampus ke pinggir jalan hanya untuk sekedar berjumpa dengan pacarnya yang kebetulan sedang berada di tempat itu, maka tindakan seperti itu tidak termasuk berakhlak baik.
2) Pendorong akhlak
Pendorong (stimulant), yaitu kekuatan yang menjadi sumber kelakuan akhlak (moral action). Setiap kelakuan manusia yang bersifat iradah, mempunyai tujuan tertentu. Tiap tindakan manusia mempunyai pendorong tersendiri (ba'its). Hanya saja suluk aspeknya bersifat konkret dalam bentuk tingkah laku lahiriah manusia, baits, aspeknya abstrak, tersembunyi dalam batin manusia, tidak dapat dijangkau oleh panca indra lahiriyah.
Menurut Hamka sebagaimana yang di kutip Abd. Haris, yang mendorong orang untuk berbuat baik itu ternyata ada dua faktor, faktor internal dan faktor eksternal. Pertama, faktor internal adalah jika perbuatan baik itu umbuh dari kesadarannya sendiri, dari dalam sendiri, dari akalnya sendiri, bukan di dorongkan oleh faktor luar. Kedua, faktor eksternal adalah jika perbuatan baik seseorang di dorong oleh pengaruh dari luar dirinya, faktor yang tidak muncul dari hati nuraninya sendiri.
Pendorong akhlak dapat berupa kebaikan, kebenaran, tingkah laku mulia dan sifat-sifat terpuji. Pendorong akhlak ini perlu ditumbuh kembangkan kepada segenap manusia dalam melakukan aktivitas hidupnya. Sebab jika pendorong akhlak ini tidak tumbuh dan tidak berkembang pada diri manusia, maka ia tidak mengetahui apakah perbuatannya termasuk berakhlak baik atau sebaliknya.
3) Ukuran akhlak
Ukuran berarti alat ukur atau standarisasi menyeluruh di seluruh dunia. Ukuran akhlak oleh sebagian ahli diletakkan sebagai alat penimbang perbuatan baik-buruk pada faktor yang ada dalam diri manusia yang masyhur dengan istilah al-qanun adz-dzaty, dalam istilah asing disebut autonomous.
Alat penimbang perbuatan ialah faktor yang datang dari luar diri manusia (al-qanun al-kharijiy), dalam istilah asing disebut hiretonomous, baik yang bersifat/atau undang-undang hasil produk pikiran manusia dan kehendak dari Tuhan (agama).
Manshur Ali Rajab mengatakan bahwa 'urf tidak dapat dipergunakan sebagai alat pengukur akhlak. 'aisyah ketika diajukan pertanyaan pada beliau tentang akhlak Rasulullah, dengan tegas beliau menjawab, bahwa akhlak Rasulullah adalah al-Qur'an. Bagi umat Islam, al-Qur'an dan hadis adalah menjadi alat pengukur akhlak. 
Hamzah Ya'qub, mengatakan al-Qur'an dan Sunnah sebagai sumber moral atau pedoman hidup dalam Islam yang menjelaskan kriteria baik buruknya suatu perbuatan adalah al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah SAW. Kedua dasar itulah yang menjadi landasan dan sumber ajaran Islam secara keseluruhan sebagai pola hidup dan menetapkan mana yag baik dan mana yang buruk. 
Dalam hal ini Ahli sunnah wal jama 'ah berpendapat, menurut mereka baik itu adalah apa yang dikatakan baik oleh agama. Buruk itu apa yang ditentukan buruk oleh agama. Akal pikiran tidaklah kuasa menjelaskan bagaimana bentuk akhlak baik dan akhlak buruk dan tidak kuasa memberikan ukuran yang pas bagaimana akhlak baik dan buruk.
Al-Ghazali mempunyai pendapat agak berbeda yaitu orang yang mengajak kepada ikut-ikutan (taklid) dengan mengisolasi adalah termasuk orang yang bodoh (fasik), orang yang hanya mencukupkan akal saja (terlepas) dari nur (petunjuk) al-Qur'an dan hadis adalah orang yang tertipu. Menurut Al-Ghazali alat pengukur akhlak ialah:
1. al-Qur'an
2. Sunnah Rasul
3. Akal (ijtihad)
Akal yang sehat, suara hati yang steril, nafsu yang terbimbing dapat mengetahui akhlak yang baik dan yang jelek, tetapi suara hati yang tercampur dengan nafsu dunia sulit mengetahui dan membedakan mana yang baik dan yang buruk, terutama tentang prinsip-prinsip keutamaan dan yang seumpamanya.
4) Tujuan akhlak
Tujuan akhlak ialah hendak menciptakan manusia sebagai makhluk yang tinggi dan sempurna, dan membedakannya dari makhluk-makhluk lainnya. Akhlak hendak menjadikan orang berakhlak baik, bertindak tanduk yang baik terhadap manusia, terhadap sesama makhluk dan terhadap Tuhan. Sedang pelajaran akhlak atau ilmu akhlak bertujuan mengetahui perbedaan-perbedaan perangai manusia yang baik maupun yang jahat, agar manusia dapat memegang teguh perangai-perangai yang baik dan menjauhkan diri dari perangai yang jahat, sehingga terciptalah tata tertib dalam pergaulan masyarakat, tidak saling membenci, curiga mencurigai antara satu dengan yang lainnya, tidak ada perkelahian dan peperangan atau bunuh membunuh sesama hamba Allah.
Yang hendak dikendalikan oleh akhlak ialah tindakan lahir. Akan tetapi oleh karena tindakan lahir itu tidak dapat terjadi bila tidak didahului oleh gerak batin atau tindakan hati, maka tindakan batin dan gerak gerik hati termasuk lapangan yang diatur oleh akhlak. Tidak akan terjadi perkelahian kalautidak didahului oleh tindakan batin atau gerak gerik hati, yakni benci membenci (hasad). Oleh karena itu maka setiap insan diwajibkan dapat menguasai batinnya atau mengendalikan hawa nafsunya karena ialah yang merupakan motor dari segala tindakan lahir.
SKRIPSI STRATEGI GURU PAI DALAM MEMBINA AKHLAK SISWA

SKRIPSI STRATEGI GURU PAI DALAM MEMBINA AKHLAK SISWA

Tuesday, May 24, 2016

(KODE : 0020-PAI) : SKRIPSI STRATEGI GURU PAI DALAM MEMBINA AKHLAK SISWA


BAB II 
KAJIAN TEORI

A. Pembinaan Akhlak Siswa 
1. Pengertian Akhlak
Dilihat dari sudut bahasa, kata akhlak adalah bentuk jama' dari khuluk, khuluk di dalam kamus al-Munjid berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku, atau tabiat. Di dalam kitab Da'aratul Ma'arifdi katakan : "akhlak adalah sifat-sifat manusia yang terdidik". Dengan demikian orang yang berakhlak berarti memiliki sifat-sifat terdidik.
Dari pengertian di atas dapat diketahui bahwa akhlak ialah sifat-sifat yang dibawa manusia sejak lahir yang tertanam dalam jiwanya dan selalu ada padanya. Sifat itu dapat lahir berupa pebuatan baik, disebut akhlak yang mulia (akhlaq mahmudah), sedangkan akhlak yang buruk (akhlaq mazmumah) disebut akhlak yang tercela sesuai pembinaannya.
Ahmad Amin, mengatakan bah wa akhlak ialah kebiasaan kehendak1. Ini berarti kebiasaan atau kehendak itu bisa dibiasakan akan sesuatu maka kebiasaannya itu disebut akhlak. Bilakehendak itu dibiasakan memberi, maka kebiasaan itu ialah akhlak dermawan.
Dalamensiklopedi pendidikan dikatakan bahwa akhlak ialah budi pekerti, watak, kesusilaan (kesadaran etik dan moral), yaitu kelakuan baik yang merupakan akibat dari sikap jiwa yang benar terhadap Khaliqnya dan terhadap sesama manusia.2Pengertian ini memberi kesan bahwa akhlak itu terkait dengan perilaku positif.
Pada dasarnya akhlak mengajarkan bagaimana seseorang seharusnya berhubungan dengan Tuhan penciptanya, sekaligus bagaimana seseorang harus berhubungan dengan sesama manusia. Istilah "sesama manusia" dalam konsep akhlak adalah bersifat universal, bebas dari batas-batas kebangsaan maupun perbedaan-perbedaan lainnya.
Menurut Ibnu Maskawaih akhlak adalah "keadaan jiwa seseorang yang mendorongnya untuk melakukan tanpa melalui pemikiran dan pertimbangan."
Sejalan dengan itu Imam Al-Ghazali mengatakan , "akhlak ialah suatu sifat yang tertanam di dalam jiwa yang darinya timbul perbuatan-perbuatan yang mudah, tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan."
Berdasarkan beberapa definisi akhlak di atas, terdapat lima ciri dalam perbuatan akhlak, yaitu sebagai berikut :
1. Perbuatan akhlak adalah perbuatan yang telah tertanam kuat dalam jiwa seseorang, sehingga telah menjadi kepribadiannya.
2. Perbuatan akhlak adalah perbuatan yang dilakukan dengan mudah dan tanpa pemikiran.
3. Bahwa perbuatan akhlak adalah perbuatan yang timbul dari dalam diri orang yang mengerjakannya, tanpa ada paksaan atau tekanan dari luar.
4. Bahwa perbuatan akhlak adalah perbuatan yang dilakukan dengan sesungguhnya, bukan main-main atau bersandiwara.
5. Perbuatan ahklak adalah perbuatan yang dilakukan dengan ikhlas semata-mata karena Allah SWT.
Akhlak memiliki pengertian yang sangat luas dan hal ini memiliki perbedaan yang signifikan dalam istilah moral dan etika. Standar atau ukuran baik buruk akhlak adalah berdasarkan al-Qur'an dan as-Sunnah sehingga bersifat universal dan abadi. Sedangkan moral selalu dikaitkan dengan ajaran baik dan buruk yang diterima oleh masyarakat umum, adat istiadat menjadi standarnya. Sementara itu, etika lebih banyak dikaitkan dengan ilmu atau filsafat, akal sebagai standarnya. Hal ini menyebabkan standar etika dan moral bersifat temporal.
Dalam pembahasan akhlak ada beberapa istilah yang sering digunakan untuk mengatakan akhlak tersebut. Istilah-istilah itu ialah : 
a. Etika
Perkataan etika berasal dari bahasa Yunani ethos yang berarti adat kebiasaan. Dalam pelajaran filsafat, etika merupakan bagian daripadanya. Di dalam ensiklopedi pendidikan dikatakan bahwa etika adalah filsafat tentang nilai, kesusilaan tentang baik dan buruk, kecuali etika mempelajari nilai-nilai, ia merupakan juga pengetahuan tentang nilai-nilai itu sendiri.
b. Moral
Perkataan moral berasal dari bahasa latin "mores" yaitu jamak dari kata mos yang berarti adat kebiasaan. Di dalam kamus umum bahasa Indonesia dikatakan bahwa moral adalah baik buruk perbuatan dan kelakuan.
c. Kesusilaan
Selain istilah-istilah di atas, di dalam bahasa Indonesia untuk membahas baik buruk tingkah laku manusia juga sering digunakan istilah kesusilaan. Kesusilaan berasal dari kata susila yang mendapat awalan ke- dan akhiran -an. Susila berasal dari bahasa Sansekerta, yaitu su dan sila. Su berarti baik atau bagus dan sila berati dasar, prinsip, peraturan hidup atau norma. Di dalam kamus bahasa Indonesia dikatakan, susila berarti sopan, beradab, baik budi bahasanya. Dan kesusilaan sama dengan kesopanan.

2. Sumber-sumber Ajaran Akhlak
Sumber ajaran akhlak adalah al-Qur'an dan Hadits, tingkah laku Nabi Muhammad SAW merupakan contoh suri tauladan bagi umat manusia semua. Ini ditegaskan oleh Allah SWT dalam al-Qur'an Surat Al-Ahzab ayat 21 :
"Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah".(Qs. Al-Ahzab : 21)
Tentang akhlak pribadi Rasulullah dijelaskan pula oleh „Aisyah ra. Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari 'Aisyah ra. Berkata : "Sesungguhnya akhlak Rasulullah itu adalah al-Qur'an." (HR. Muslim). Hadits Rasulullah meliputi perkataan dan tingkah laku beliau, merupakan sumber akhlaq yang kedua setelah al-Qur'an. Segala ucapan dan perilaku beliau senantiasa mendapatkan bimbingan dari Allah SWT, Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam al-Qur'an Surat An-Najm ayat 3-4 :
"Tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)". (QS. An-Najm : 3-4).
Dalam ayat lain Allah SWT memerintahkan agar selalu mengikuti jejak Rasulullah SAW dan tunduk terhadap apa yang dibawa oleh beliau, Allah SWT berfirman :
Artinya : "Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada RasulNya (dari harta benda) yang berasal dari penduduk kota-kota Maka adalah untuk Allah, untuk rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang Kaya saja di antara kamu. apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya" (QS. Al-Hasyr : 7 ).
Al-Qur'an dan Al-Hadits adalah pedoman hidup yang menjadi asas bagi setiap muslim, maka teranglah keduanya merupakan sumber akhlaqul karimah dalam ajaran Islam. Al-Qur'an dan Sunnah Rasul adalah ajaran yang paling mulia dari segala ajaran maupun hasil renungan dan naluri manusia harus tunduk mengikuti petunjuk dan pengarahan al-Qur'an dan As-Sunnah.
Dari pedoman itulah diketahui kriteria mana perbuatan baik dan mana perbuatan buruk. Nabi bersabda: "Aku tinggalkan untukmu dua perkara, kamu tidak akan sesat selamanya jika kamu berpegang teguh kepada keduanya, yaitu al-Qur ' an dan Sunnahku".(HR. Al-Bukhari).

3. Pembinaan Akhlak Siswa
a. Pengertian Pembinaan Akhlak
Secara bahasa strategi dapat diartikan sebagai "siasat, kiat, trik, atau cara". Sedang secara umum strategi ialah suatu garis besar haluan dalam bertindak untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan.
Dalam dunia pendidikan, strategi diartikan sebagai "a plan, method or series of activities designed to achieves a particular aducational goal" . Yaitu strategi pembelajaran dapat diartikan sebagai perencanaan yang berisi tentang rangkaian kegiatan yang didesain untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.
Ada dua hal yang patut kita cermati dari pengertian di atas. Pertama, strategi pembelajaran merupakan rencana tindakan (rangkaian kegiatan) termasuk penggunaan metode dan pemanfaatan berbagai sumber daya/kekuatan dalam pembelajaran. Kedua, strategi disusun untuk mencapai tujuan tertentu. Artinya, arah dari semua keputusan penyusunan strategi adalah pencapaian tujuan.
Dengan demikian, penyusunan langkah-langkah pembelajaran, pemanfaatan berbagai fasilitas san sumber belajar semuanya diarahkan dalam upaya pencapaian tujuan. Oleh sebab itu, sebelum menentukan strategi, perlu dirumuskan tujuan yang jelas yang dapat diukur keberhasilannya, sebab tujuan adalah rohnya dalam implementasi suatu strategi.
b. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Pembinaan Akhlak
Terlaksananya berbagai kegiatan pembinaan akhlak di SMP Islam Plus Baitul Maal, tentu saja adanya berbagai faktor-faktor yang mempengaruhinya. Diantara faktor-faktor yang mempengaruhi tersebut antara lain :
1) Adanya dukungan dari pihak sekolah terhadap pembinaan akhlak
Diantara hal yang ditempuh oleh pihak sekolah para guru-guru terutama guru pendidikan agama Islam untuk mencapai tujuan pendidikan, adalah dengan kegiatan-kegiatan pembinaan akhlak. Sekolah sebagai tempat lokasi pelaksanaan kegiatan belajar mengajar, memiliki peran yang cukup penting untuk tercapainya tujuan pembembinaan akhlak di sekolah. Situasi yang kondusif dsertai dukungan dari seluruh tenaga pendidik dan kependidikan memudahkan bagi para pengurus untuk berkoordinasi dengan semua pihak dalam pembinaan akhlak siswa.
Pihak sekolah juga memberikan kepada guru pendidikan agama Islam untuk mempergunakan ruang kelas, masjid dan sarana yang ada sebagai salah satu bentuk dukungan yang diberikan terhadap berlangsungnya kegiatan pembinaan akhlak siswa.
2) Adanya dukungan dari guru-guru terhadap kegiatan pembinaan akhlak
Guru-guru sebaga ujung tombak pelaksana pendidikan merupakan salah satu unsur pokok yang bersentuhan dengan siswa dalam kegiatan sehari-hari. Dukungan dari guru-guru selain pengintegrasian nilai-nilai ajaran agama dalam penyampaian materi pelajaran sehari-hari, juga pemberian motivasi kepada para siswa untuk mengikuti kegiatan rohani Islam yang di bina oleh guru pendidikan agama Islam.
3) Mayoritas siswa yang beragama Islam
Siswa sebagai subjek utama pendidikan, merupakan sumber daya yang akan diarahkan perkembangannya sesuai dengan tujuan dalam pendidikan. Dengan mayoritas jumlah siswa yang beragama Islam.11, memang seharusnya dapat dijadikan sebagai motivasi bagi tenaga pendidik khususnya guru pendidikan agama Islam untuk mengembangkan potensi-potensi spriritual para siswa sesuai dengan pencapaian dimensi-dimensi yang digariskan dalam tujuan pendidikan, baik pendidikan Islam maupun pendidikan nasional.
Ada beberapa strategi pembelajaran yang dapat digunakan. Wina Sanjaya dalam bukunya menyatakan, mengelompokkan kedalam strategi penyampaian penemuan atau exposition-discovery learning, dan strategi pembelajaran kelompok dan strategi pembelajaran individual atau group indiviual learning.
Dalam strategi exposition, bahan pelajaran disajikan kepada siswa dalam bentuk jadi dan siswa dituntut untuk menguasai bahan tersebut. Roy Killen menyebutkan dengan strategi pembelajaran langsung (direct instruction). Mengapa dikatakan strategi pembelajaran langsung, sebab dalam strategi ini, materi pelajaran disajikan begitu saja kepada siswa, siswa tidak dituntut untuk mengolahnya. Kewajiban siswa adalah menguasainya secara penuh. Dengan demikian, dalam strategi eksposeri guru berfungsi sebagai penyampai informasi. Berbeda dengan strategi discovery. Dalam strategi ini bahan pelajaran dicari dan ditemukan sendiri oleh siswa melalui berbagai aktifitas, sehingga tugas guru lebih banyak sebagai fasilitator dan pembimbing bagi siswanya. Karena sifatnya yang demikian, strategi ini sering juga dinamakan strategi belajar tidak langsung. Strategi belajar individual dilakukan oleh siswa secara mandiri. Kecepatan, dan kelambatan dan keberhasilan pembelajaran siswa sangat ditentukan oleh kemampuan individu siswa yang bersangkutan. Bahan pelajaran serta bagaimana mempelajarinya didesain untuk belajar sendiri. Contoh dari strategi ini adalah melalui modul, atau belajar bahasa melalui kaset audio.
Berbeda dengan strategi pembelajaran individual, belajar kelompok dilakukan secara beregu. Sekelompok siswa diajar seseorang atau oleh beberapa orang guru. Bentuk belajar kelompok itu bisa dalam pembelajaran kelompok besar atau pembelajaran klasikal atau bisa juga siswa belajar dalam kelompok-kelompok kecil atau buzz group. Strategi kelompok tidak memperhatikan kecepatan belajar individual, setiap individu dianggap sama. Oleh karena itu, belajar dalam kelompok dapat terjadi siswa yang memiliki kemampuan tinggi akan terhambat oleh siswa yang mempunyai kemampuan biasa-biasa saja.


SKRIPSI PERAN PENDEKATAN MATEMATIKA AKHLAK DALAM MENINGKATKAN PEMAHAMAN SISWA PADA BIDANG STUDI AKHLAK

SKRIPSI PERAN PENDEKATAN MATEMATIKA AKHLAK DALAM MENINGKATKAN PEMAHAMAN SISWA PADA BIDANG STUDI AKHLAK

Tuesday, May 24, 2016

(KODE : 0019-PAI) : SKRIPSI PERAN PENDEKATAN MATEMATIKA AKHLAK DALAM MENINGKATKAN PEMAHAMAN SISWA PADA BIDANG STUDI AKHLAK


BAB II 
KAJIAN TEORI

A. Tinjauan Tentang Matematika Akhlak 
1. Hakikat Matematika dan Akhlak
a. Hakikat Matematika
Dalam kehidupan sehari-hari matematika banyak srkali untuk memecahkan suatu masalah. Meskipun pemakaiannya seringkali tidak disadari oleh sebagian besar masyarakat. Hal tersebut disebabkan oleh diantara pemakai matematika banyak yang tidak mengetahui apa sebenarnya matematika. Tentunya itu bukan merupakan hal yang mengherankan, karena memang banyak sekali pengertian matematika yang dikemukakan oleh para ahli.
Secara bahasa (lughowi), kata matematika berasal dari bahasa yunani yaitu "mathema" atau "mathematikos" yang berarti hal-hal yang dipelajari. Bagi orang yunani matematika tidak hanya meliputi pengetahuan mengenai angka dan ruang, tetapi juga mengenai musik dan ilmu falak (astronomi). Nasoetion menyatakan bahwa Matematika berasal dari bahasa Yunani "mathein” atau "mathenein" yang artinya mempelajari. Orang belanda menyebutnya dengan wiskunde, yang artinya ilmu pasti. Sedangkan orang Arab, menyebut matematika dengan ilmu al-hisab yang artinya ilmu berhitung. Dinegara kita indonesia, matematika disebut dengan ilmu pasti dan ilmu hitung. Sebagian orang indonesia memberikan plesetan dengan menyebut matematika dengan sebutan "Matimatian”. Hal ini dikarenakan sebagian dari mereka merasa bahwa matematika sulit untuk dipelajari dan sangat memeras otak dan hal itu juga yang membuat sebagian besar anak didik indonesia merasa atau menganggap matematika sebagai momok (suatu hal yang menakutkan) bagi mereka.
Secara istilah, hingga sekarang belum ada devinisi yang sepakati untuk menjelaskan apa itu matematika. Para ahli filsafat dan ahli matematika telah mncoba membuat devinisi matematika diantaranya adalah seperti yang penulis simpulkan dibawah ini :
1. Matematika adalah ilmu tantang bilangan dan ruang
2. Matematika adalah ilmu tentang hubungan (relasi)
3. Matematika adalah ilmu tentang besaran (kuantitas)
4. Matematika adalah ilmu tentang bentuk (abstrak)
5. Matematika adalah ilmu yang bersifat deduktif
6. Matematika adalah ilmu tentang struktur-struktur yang logik
7. Matematika adalah sebuah bahasa
Dari beberapa devinisi tersebut diatas semuanya benar, berdasarkan sudut pandang tertentu. Beragamnya devinisi tersebut dapat disebabakan oleh keluasan wilayah kajian matematika itu sendiri dan sudut pandang yang digunakan. Dari segi wilayah kajian, matematika berawal dari lingkup yang sedehana, yang hanya menelaah tentang bilangan-bilangan dan ruang. Sekarang matematika sudah berkembang dengan menelaah hal-hal yang membutuhkan daya pikir dan imajinasi tingakat tinggi. Salah satu contohnya adalah matematika akhlak yang akan penulis uraikan berdasarkan penelitian yang penulis lakukan. 

b. Hakikat akhlak
Secara bahasa akhlak mempunyai arti budi pekerti, perangai, tingkah laku, tabiat atau watak. Khuluq merupakan gambaran sifat batin manusia, gambaran bentuk lahiriyah manusia seperti: raut wajah, gerak anggota badan, dan seluruh tubuh. Dalam bahasa yunani pengertian khuluq ini disamakan dengan kata ethicos atau ethos, artinya adab kebiasaan, perasaan batin, kecenderungan hati untuk melakukan perbuatan. Ethicos kemudian berubah menjadi etika. Jadi menurut bahasa (etimologi) akhlaq merupakan perilaku hidup manusia secara keseluruhan. Akhlak juga disamakan dengan kesusilaan, sopan santun dan tatakrama.
Secara istilah (Terminologi), para ahli berbeda pendapat. Namun pada intinya sama yaitu tentang prilaku manusia. Diantara pendapat para ahli tersebut adalah:
1. Menurut M. Quraisy syihab, ahli tafsir kontemporer indonesia. Akhlak dapat diartikan sebagai tingkahlaku yang lahir dari manusia dengan sengaja, tidak dibuat-buat dan telah menjadi kebiasaan. Sejak kelahirannya dimuka bumi, manusia membawa potensi untuk bertingkah laku baik dan buruk.
2. Menurut Ibrahim Anis akhlak merupakan ilmu yang objeknya membahas nilai-nilai yang berkaitan dengan perbuatan manusia. Dapat disifatkan dengan baik dan buruknya.
3. Ahmad Amin mengatakan bahwa akhlak adalah kehendak yang biasa dilakukan. Maksudnya: segala sesuatu kehendak yang terbiasa dilakukan, itulah akhlak seperti contoh apabila kebiasaan memberi sesuatu yang baik, disebut akhlakul karimah dan apabila sebaliknya maka disebut akhlakul madzmumah.
4. Imam Al Ghozali mengatakan akhlak ialah sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan bermacam-macam perbuatan dengan mudah, tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan
5. M. Abdulloh Daraz mendefinisikan akhlak sebagai suatu kekuatan dalam kehendak yang mantap. Kekuatan berkombinasi membawa kecenderungan pada pemilihan pihak yang benar (akhlaqul karimah) atau pihak yang jahat (akhlakul madzmumah).
Dari definisi-definisi tersebut dapat dirumuskan bahwa akhlak adalah ilmu yang mengajarkan kepada manusia tentang perbuatan baik yang harus dilakukan dan perbuatan buruk yang harus dicegah dan dihindari dalam hubungannya dengan Tuhan, manusia dan makhluq sekelilingnya. Karena pada hakikatnya akhlak merupakan suatu kondisi atau sifat ayang telah melekat dan meresap dalam diri dan telah menjadi kepribadian. Yang dari sanalah akhirnya muncul perbuatan secara spontan dan tidak dibuat-buat serta tanpa memerlukan pemikiran.
Merupakan sumber ajaran akhlak adalah al-quran dan al-hadits. Al-Quran dan al-Hadits merupakan ajaran yang paling mulia dari ajaran manapun. Dan dari sanalah dapat diketahui kriteria perbuatan yang baik dan perbuatan yang buruk, sebagaimana sabda Nabi SAW: "Aku tinggalkan untukmu dua perkara, kamu tidak akan sesat selamanya jika kamu berpegang teguh kepada keduanya, yaitu alquran dan sunnahku." (HR. Al-Muslim)
Adapun menurut sifatnya, akhlaq dibagi menjadi dua yaitu akhlakul karimah (akhak terpuji) dan akhlakul madzmumah (akhlak tercela). Merupakan golongan akhlak mahmudah antara lain: cinta kepada Allah dan rosulnya, sabar, amanah (dapat dipercaya), menempati janji, qonaah, jujur, pemaaf, menyambung tali silaturrohmi, menghargai dan menghormati orang lain, sopan santun, tolong-menolong, raj in, menjaga kebersihan dan lain sebagainya.sedangkan yang tergolong akhlak madzmumah adalah kufur, syirik, munafik, fasik, murtad, riya', dengki, bohong, kikir, boros, denadam, khianat, fitnah, memutuskan silaturrohmi, sombong (takabur), putus asa, adudomba, dan lain sebagainya.
Akhlak mahmudah memberi manfaat bagi diri maupun orang lain, sedangkan akhlak madzmumah akan merugikan diri sendiri dan orng lain. Sebagaimana yang di firmankan Allah dan disabdakan Rosulullah SAW:
Artinya: "Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk sebaik-baiknya, kemudian kami kembalikan ketempat yang serendah-rendahnya (neraka), kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya." (QS. Attin:4-6)

SKRIPSI PENGARUH METODE SUFISTIK TERHADAP PENGEMBANGAN MOTIVASI BELAJAR AQIDAH AKHLAK

SKRIPSI PENGARUH METODE SUFISTIK TERHADAP PENGEMBANGAN MOTIVASI BELAJAR AQIDAH AKHLAK

Friday, May 20, 2016

(KODE : 0014-PAI) : SKRIPSI PENGARUH METODE SUFISTIK TERHADAP PENGEMBANGAN MOTIVASI BELAJAR AQIDAH AKHLAK


BAB II 
LANDASAN TEORI

A. Tinjauan Tentang Metode Sufistik
1. Pengertian Metode Sufistik
Secara etimologi, metode dalam bahasa arab dikenal dengan istilah thariqah yang berarti langkah-langkah strategis yang dipersiapkan untuk melakukan suatu pekerjaan. Metode juga dapat diartikan sebagai cara yang dipergunakan oleh guru dalam membelajarkan peserta didik saat berlangsungnya proses pembelajaran.
Secara terminologi, para ahli mendefinisikan metode sebagai berikut: Hasan Langgulung mendefinisikan bahwa metode adalah cara atau jalan yang harus dilalui untuk mencapai jalan pendidikan.
Abdur al-Rahman Ghinaimah mendefinisikan bahwa metode adalah cara-cara yang praktis dalam mencapai tujuan pengajaran.
Ahmad Tafsir mendefinisikan bahwa metode mengajar adalah cara yang paling tepat dan cepat dalam mengajarkan mata pelajaran.
Metode juga diartikan seperangkat cara, jalan dan teknik yang digunakan oleh pendidik dalam proses pembelajaran agar peserta didik dapat mencapai tujuan pembelajaran atau menguasai kompetensi tertentu yang dirumuskan dalam silabi pelajaran.
Berdasarkan beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa metode sufistik adalah metode yang dapat kita gunakan secara sufi misalnya metode dongeng atau cerita karena dengan metode itu dapat menimbulkan keteladanan bagi siswa terutama cerita yang berhubungan dengan Nabi dan Rosul serta para orang-orang sholeh.
Pengertian global ajaran Islam telah memberikan konsep dasar filosofis, berkaitan dengan unsur pendidikan secara umum (tataran pedagogis). Kemudian dari konsep dasar itulah para ahli atau pemikir mengembangkannya menjadi ide-ide teknis dan spesifik terkait dengan cara-cara mendidik, strategi belajar-mengajar, dan sebagainya dengan lebih prosedural berdasarkan tataran didaktik- metodik.
Satu dari sekian luas kajian dalam ruang lingkup pendidikan Islam adalah aspek metodologinya. Dalam metodologi pendidikan, antara lain membahas tentang metode (cara), usaha, pendekatan, teknik, dan strategi yang dapat digunakan untuk mencapai semua tujuan-tujuan yang ingin diraih dalam kegiatan pendidikan Islam. Bahkan dalam ajaran Islam, Allah SWT mengingatkan akan pentingnya menggunakan cara-cara yang tepat dalam mengajak manusia ke jalan yang baik, sebagaimana Firman-Nya dalam QS. An-Nahl (16): 125 berikut yang artinya :
"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk." (Departemen Agama 2004, hal. 281).
Menurut Al-Ghazali kata hikmah, mau 'izhah, dan mujahadah merupakan tiga cara berdakwah dalam tiga kelompok yang berbeda. Masing-masing kelompok orang yang diajak ke jalan Allah SWT cocok dengan cara masing-masing, seperti jika hikmah diberikan kepada kelompok mau'izhah, maka sama seperti memberi anak yang masih menyusui dengan daging burung, begitu pun sebaliknya. Agak berbeda dengan Ghazali, Ibnu Rusyd memahami ayat di atas dalam kaitannya menyeru ke jalan Allah, yaitu dengan hikmah diartikannya sebagai dakwah dengan pendekatan substansi yang mengarah pada filsafat. Dengan nasihat yang baik, yang berarti retorika yang efektif dan populer, dan dengan mujahadah yang lebih baik maksudnya adalah metode dialektis yang unggul.
Selanjutnya menurut Imam Al-Syaukani, hikmah adalah ucapan-ucapan yang tepat dan benar atau argumen-argumen yang kuat dan meyakinkan. Mau 'izhah al-hasanah adalah ucapan-ucapan yang berisi nasihat-nasihat yang baik dan bermanfaat bagi orang yang mendengarkan.
Dari tiga pandangan tokoh di atas, jelas ayat tersebut merupakan dasar metodologi dakwah yang pernah dipraktekkan oleh Rasulullah SAW. Ketiga asumsi diatas walaupun agak berbeda, namun bertemu pada satu kaidah, bahwa setiap upaya menyeru atau membimbing manusia ke arah yang baik memerlukan jalan atau cara-cara yang baik pula. Artinya fungsi metode lebih diperhatikan supaya apa yang diusahakan itu efektif. Dilihat dari maknanya secara implisit, ayat di atas menawarkan sebuah metodologi pendidikan yang baik sesuai yang diterapkan oleh Rasulullah SAW sebagai figur pemimpin dan pendidik umat manusia. Jika konsepsi ayat tadi dikaji secara mendalam, maka akan diperoleh lagi secara spesifik dan relatif bervariasi mengenai hal-hal pendidikan dalam Islam serta bagaimana implikasi-implikasi metodologis dalam tataran praktis di lapangan.
a. Metode Bercerita
adalah metode yang bersandar atas percakapan dan diskusi yang bersifat internal. Terkadang pula di waktu lain ia berpijak pada percakapan yang bersifat eksternal. Cerita keluar bersamaan dengan waktu dan tempat yang menutup peristiwa dengan satu bingkai yang mencegah pikiran dari keterceraiberaian di belakang peristiwa-peristiwa tersebut. Cerita juga bertahap dari satu posisi ke posisi lain yang dapat memikat emosi dan pikiran si pendengar sehingga dimungkinkan adanya interaksi dan larut dalam kisah yang didengarnya. Kemudian mengurai sedikit demi sedikit. Titik penerang dalam peristiwa berada pada cahaya yang menyelamatkan posisi cerita dan mengarahkannya ke kondisi yang tenang dan teratur atau mengambil posisi kemanusiaan sebagai akibat dari interaksi pikiran dan kejiwaan bersama dengan adegan-adegan peristiwa itu.
Rosulullah SAW menggunakan metode bercerita karena beliau melihat bahwa cerita termasuk cara yang paling efektif untuk menyampaikan pesan penguatan ideologinya dan lebih dapat mengena pada sasarannya.
b. Metode Keteladanan (Qudwah)
adalah metode Qudwah, yang sering langsung diterjemahkan sebagai keteladanan, merupakan salah satu Metode sufistik yang paling efektif. Qudwah juga merupakan salah satu perilaku Nabi Muhammad SAW. Perilaku beliau SAW tak pernah menyalahi apa yang beliau ajarkan. Yah, di situlah intinya, Qudwah artinya, perilaku si pendidik tidak menyalahi atau tidak bertentangan dengan apa yang ia ajarkan kepada anak didiknya.29 Sebagaimana firman Allah dalam QS 61: 2-3 :
Artinya:
"Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan." (Departemen Agama, 2004, hal. 551).
Rasulullah saw. merepresentasikan dan mengekspresikan apa yang ingin diajarkan melalui tindakannya dan kemudian menerjemahkan tindakannya ke dalam kata-kata. Bagaimana memuja Allah swt., bagaimana bersikap sederhana, bagaimana duduk dalam salat dan do'a, bagaimana makan, bagaimana tertawa, dan lain sebagainya, menjadi acuan bagi para sahabat, sekaligus merupakan materi pendidikan yang tidak langsung.
Mendidik dengan contoh (keteladanan) adalah satu metode pembelajaran yang dianggap besar pengaruhnya. Segala yang dicontohkan oleh Rasulullah saw. dalam kehidupannya, merupakan cerminan kandungan Al-Qur'an secara utuh, sebagaimana firman Allah swt. dalam surat al-Ahzab/33:21 yang berbunyi:
Artinya:
"Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah." (Departemen Agama, 2004, hal. 551).
Metode keteladanan berkenaan dengan penanaman nilai atau values. Ketika guru menginginkan murid-muridnya raj in belajar, hobi membaca, maka sang guru tidak boleh juga mengabaikan hal yang satu ini. Sebagai guru mestinya lebih rajin belajar, juga lebih rajin membaca. Ia akan menjadi orang pertama yang melaksanakan apa yang ia ajarkan. Murid mempunyai semacam idola yang tidak berada jauh dalam jangkauannya. Guru menjadi sumber inspirasi dan keteladanan bagi sivitas akademika-nya. Guru yang mempunyai kepribadian menarik. Nah kita sebagai guru, sebagai orang tua, sebagai sahabat, sebagai atasan, sebagai tetangga, sebagai anak, sebagai saudara -kakak atau adik- atau sebagai apapaun hendaknya mengubah dirinya sendiri dulu sebelum menginginkan perubahan yang terjadi pada pihak lain di luar kita.
Perubahan ini hendaknya juga berawal pada diri sendiri, pada hal-hal yang terkecil, dan mulai saat sekarang juga, sebagaimana dikatakan oleh Abdullah Gymnastiar atau yang dikenal dengan Aa Gym.

2. Dasar Metode Sufistik
Metode sufistik dalam penerapannya banyak menyangkut permasalahan individual dan sosial peserta didik dan pendidik itu sendiri, sehingga dalam menggunakan metode seorang pendidik harus memperhatikan dasar-dasar umum metode sufistik. Sebab metode pendidikan itu hanyalah merupakan sarana atau jalan menuju tujuan pendidikan, sehingga segala jalan yang ditempuh oleh seorang pendidik haruslah mengacu pada dasar-dasar metode pendidikan tersebut dalam hal ini tidak bisa terlepas dari dasar agamis, biologis, psikologis, dan sosiologis.
a. Dasar Agamis
Pelaksanaan metode sufistik dalam prakteknya dipengaruhi oleh corak kehidupan beragama pendidik dan peserta didik, corak kehidupan ini memberikan dampak yang besar terhadap kepribadian peserta didik. Oleh karena itu dalam penggunaan metode agama merupakan salah satu dasar metode pendidikan dan pengajaran islam.
b. Dasar Biologis
Perkembangan biologis manusia, mempunyai pengaruh dalam perkembangan intelektualnya. Sehingga semakin lama perkembangan biologi seseorang, maka dengan sendirinya makin meningkat pula daya intelektualnya. Dalam memberikan pendidikan dan pengajaran dalam pendidikan Islam, seorang pendidik harus memperhatikan perkembangan biologis peserta didik.
c. Dasar Psikologis
Metode sufistik baru dapat diterapkan secara efektif, bila didasarkan pada perkembangan dan kondisi psikis peserta didik. Sebab perkembangan dan kondisi psikis peserta didik memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap internalisasi nilai dan transformasi ilmu. Dalam kondisi jiwa yang labil, menyebabkan transformasi ilmu pengetahuan dan internalisasi nilai akan berjalan tidak sesuai dengan yang diharapkan.
Perkembangan psikis seseorang berjalan sesuai dengan perkembangan psikologisnya, sehingga seorang pendidik dalam menggunakan metode sufistik bukan saja memperlakukan psikologisnya, tetapi juga sosiologisnya. Karena seseorang yang secara biologis menderita cacat, maka secara psikologis dia akan merasa tersiksa karena ternyata dia merasakan bahwa teman-temannya tidak mengalami seperti apa yang dideritanya. Enggan memperhatikan hal yang demikian ini, seorang pendidik harus jeli dan dapat membedakan kondisi jiwa peserta didik, karena pada dasarnya manusia tidak ada yang sama.
d. Dasar Sosiologis
Interaksi yang terjadi antara sesama peserta didik dan interaksi antara guru dan peserta didik, merupakan interaksi timbal balik yang kedua belah pihak akan memberikan peran positif pada keduanya. Dalam kenyataan secara sosiologis seseorang individu dapat memberikan pengaruh pada lingkungan sosial masyarakat dan begitu pula sebaliknya.
Interaksi pendidikan yang terjadi dalam masyarakat justru memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap perkembangan peserta didik dikala ia berada dilingkungan masyarakatnya. Kadang-kadang interaksi atau pengaruh dari masyarakat tersebut berpengaruh pula terhadap lingkungan kelas dan sekolah.