Showing posts with label pertumbuhan ekonomi. Show all posts
Showing posts with label pertumbuhan ekonomi. Show all posts
SKRIPSI ANALISIS PENGARUH EKSPOR SEKTOR INDUSTRI DAN PENANAMAN MODAL ASING SEKTOR INDUSTRI TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA

SKRIPSI ANALISIS PENGARUH EKSPOR SEKTOR INDUSTRI DAN PENANAMAN MODAL ASING SEKTOR INDUSTRI TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA

Saturday, May 28, 2016

(KODE : 0014-EKONPEMB) : SKRIPSI ANALISIS PENGARUH EKSPOR SEKTOR INDUSTRI DAN PENANAMAN MODAL ASING SEKTOR INDUSTRI TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA


BAB II 
KAJIAN PUSTAKA

A Pertumbuhan Ekonomi
1. Pengertian Pertumbuhan Ekonomi
Suatu perekonomian dikatakan mengalami pertumbuhan jika jumlah produksi barang dan jasanya meningkat. Pertumbuhan ekonomi merupakan suatu proses kenaikan output dari tahun ke tahun yang merupakan suatu gambaran mengenai dampak kebijaksanaan pembangunan yang dilaksanakan khususnya dalam bidang ekonomi. Pertumbuhan ekonomi berarti perkembangan kegiatan dalam perekonomian yang menyebabkan barang dan jasa yang diproduksikan dalam masyarakat bertambah dan kemakmuran masyarakat meningkat (Sukirno, 2003: 10). Kemampuan yang meningkat ini disebabkan karena faktor-faktor produksi akan selalu mengalami pertambahan dalam jumlah dan kualitasnya.
Pertumbuhan ekonomi merupakan ukuran utama keberhasilan pembangunan Hasil pertumbuhan ekonomi tersebut harus dapat dinikmati masyarakat sampai ke lapisan yang paling bawah. Pertumbuhan harus berjalan secara beriringan dan terencana untuk mengupayakan terciptanya pemerataan kesempatan dan pembangunan hasil-hasilnya dengan lebih merata. Bila pembangunan dan hasil-hasilnya tersebut telah terdistribusi secara merata maka daerah - daerah yang miskin, tertinggal, dan tidak produktif akan menjadi produktif yang akhirnya akan mempercepat pertumbuhan ekonomi itu sendiri.

2. Perhitungan Tingkat Pertumbuhan Ekonomi
Fluktuasi pertumbuhan ekonomi secara riil dari tahun ke tahun tercermin dalam nilai Produk Domestik Bruto (PDB). PDB yaitu seluruh nilai tambah yang dihasilkan oleh berbagai sektor atau lapangan usaha yang melakukan kegiatan usahanya di suatu domestik atau agregat. Perubahan nilai PDB akan menunjukkan perubahan jumlah kuantitas barang dan jasa yang dihasilkan selama periode tertentu. Selain PDB, dalam suatu negara juga dikenal ukuran PNB (Produk Nasional Bruto) serta Pendapatan Nasioal {National Income).
Untuk menghitung besarnya pendapatan nasional atau regional, maka ada tiga metode pendekatan yang dipakai:
a) Pendekatan Produksi (Production Approach)
Metode ini dihitung dengan menjumlahkan nilai produksi yang diciptakan sektor ekonomi produktif dalam wilayah suatu negara. Yang dipakai hanya nilai tambah bruto saja agar dapat menghindari adanya perhitungan ganda.
b) Pendekatan Pendapatan (Income Approach)
Metode ini dihitung dengan menjumlah besarnya total pendapatan atau balas jasa setiap faktor-faktor produksi. 
c) Pendekatan Pengeluaran {Consumption Approach)
Metode ini dihitung dengan menjumlahkan semua pengeluaran yang dilakukan berbagai golongan pembeli dalam masyarakat. Yang dihitung hanya nilai transaksi-transaksi barangjadi saja, untuk menghindari adanya perhitungan ganda.

3. Teori-teori Pertumbuhan Ekonomi
Teori-teori pertumbuhan ekonomi melihat hubungan antara pertumbuhan ekonomi dengan faktor-faktor penentu pertumbuhan ekonomi. Ada beberapa teori mengenai pertumbuhan ekonomi, yaitu:
a) Teori Jumlah Penduduk Optimal (Optimal Population Theory)
Teori ini telah lama dikembangkan oleh kaum Klasik. Menurut teori ini, berlakunya The Law of Diminishing Return (TLDR) menyebabkan tidak semua penduduk dapat dilibatkan dalam proses produksi. Jika dipaksakan, justru akan menurunkan tingkat output perekonomian.
b) Teori Pertumbuhan Neo Klasik {Neo Classic Growth Theory)
Teori ini dikembangkan oleh Solow (1956) dan merupakan penyempurnaan teori-teori klasik sebelumnya. Fokus pembahasan teori ini adalah akumulasi stok barang modal dan keterkaitannya dengan keputusan masyarakat untuk menabung atau melakukan investasi. Asumsi penting dari model Solow antara lain:
1. Tingkat teknologi dianggap konstan (tidak ada kemajuan teknologi),
2. Tingkat depresiasi dianggap konstan,
3. Tidak ada perdagangan luar negeri atau aliran keluar masuk barang modal,
4. Tidak ada sektor pemerintah
5. Tingkat pertambahan penduduk (tenaga kerja) juga dianggap konstan,
6. Seluruh penduduk bekerja sehingga jumlah penduduk = jumlah tenaga kerja.
Dengan asumsi-asumsi tersebut, dapat dipersempit faktor-faktor penentu pertumbuhan menjadi hanya stok barang modal dan tenaga kerja. 
c) Teori Pertumbuhan Endojenus (Endogenous Growth Theory)
Teori ini dikembangkan oleh Romer (1986) dan merupakan pengembangan dari teori Klasik-Neo Klasik yang kelemahannya terletak pada asumsi bahwa teknologi bersifat eksojenus. Konsekuensi asumsi ini adalah terjadinya The Law of Diminishing Return, karena teknologi dianggap sebagai faktor eksogen dan tetap. Konsekuensi yang lebih serius adalah perekonomian yang terlebih dahulu maju, dalam jangka panjang akan terkejar perekonomian yang lebih terbelakang, selama tingkat pertambahan penduduk, tingkat tabungan, dan akses terhadap teknologi adalah sama.
Teknologi merupakan barang publik. Oleh karenanya, selama perusahaan dapat menikmati dampak yang sama dari teknologi tersebut, tidak ada satu perusahaan pun yang berusaha memonopoli. Dengan demikian dalam hal ini, faktor teknologi bukanlah sebagai faktor eksogen melainkan faktor endogen.
d) Teori Schumpeter
Schumpeter berpandangan bahwa pertumbuhan ekonomi sangat ditentukan oleh kemampuan kewirausahawanan (entrepreneurship). Sebab, para pengusahalah yang mempunyai kemampuan dan keberanian mengaplikasi penemuan-penemuan baru dalam aktivitas produksi. Langkah-langkah pengaplikasian penemuan-penemuan baru dalam dunia usaha merupakan langkah inovasi. Termasuk dalam langkah-langkah inovasi adalah penyusunan teknik-tahap produksi serta masalah organisasi-manajemen, agar produk yang dihasilkan dapat diterima pasar.
e) Teori Harrod-Domar
Teori Harrod-Domar dikembangkan secara terpisah dalam periode yang bersamaan oleh E.S. Domar dan R.F. Harrod. Keduanya melihat pentingnya investasi terhadap pertumbuhan ekonomi, sebab investasi akan meningkatkan stok barang modal, yang memungkinkan peningkatan output.
1) Investasi

TESIS PENGARUH PENGELUARAN PEMERINTAH, INVESTASI DAN ANGKATAN KERJA TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI

TESIS PENGARUH PENGELUARAN PEMERINTAH, INVESTASI DAN ANGKATAN KERJA TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI

Wednesday, March 30, 2016
T-(0109) TESIS PENGARUH PENGELUARAN PEMERINTAH, INVESTASI DAN ANGKATAN KERJA TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI



BAB II 
TINJAUAN PUSTAKA


2.1. Pengertian Pertumbuhan Ekonomi
Pertumbuhan ekonomi adalah proses kenaikan output perkapita dalam jangka panjang (Boediono, 1999 : 8). Pengertian tersebut mencakup tiga aspek, yaitu : proses, output perkapita dan jangka panjang. Pertumbuhan ekonomi merupakan suatu proses, bukan gambaran ekonomi pada suatu saat. Mencerminkan aspek dinamis dari suatu perekonomian, yaitu melihat bagaimana suatu perekonomian berkembang atau berubah dari waktu ke waktu.
Pertumbuhan ekonomi berkaitan dengan kenaikan output per kapita. Dalam hal ini berkaitan dengan output total (GDP) dan jumlah penduduk, karena output per kapita adalah output total dibagi dengan jumlah penduduk. Jadi proses kenaikan output perkapita harus dianalisa dengan melihat apa yang terjadi dengan output total disatu pihak, dan jumlah penduduk di pihak lain. Dengan perkataan lain, pertumbuhan ekonomi mencakup pertumbuhan GDP total dan pertumbuhan penduduk.
Aspek ketiga dari definisi pertumbuhan ekonomi adalah perspektif waktu jangka waktu suatu perekonomian dikatakan mengalami pertumbuhan apabila dalam waktu yang cukup lama (10, 20 atau 50 tahun, atau bahkan lebih lama lagi) mengalami kenaikan output per kapita. Tentu saja dalam waktu tersebut bisa terjadi kemerosotan output per kapita, karena gagal panen misalnya, tetapi apabila dalam waktu yang cukup panjang tersebut output per kapita menunjukkan kecenderungan menaik maka dapat kita katakan bahwa pertumbuhan ekonomi terjadi.
Beberapa ekonom berpendapat bahwa adanya kecenderungan menaik bagi output per kapita saja tidak cukup, tapi kenaikan output harus bersumber dari proses intern perekonomian tersebut. Dengan kata lain proses pertumbuhan ekonomi harus bersifat self-generating, yang berarti bahwa proses pertumbuhan itu sendiri menghasilkan kekuatan bagi timbulnya kelanjutan pertumbuhan dalam periode-periode selanjutnya.
2.2. Teori Pertumbuhan Neo-Klasik
Teori pertumbuhan Solow-Swan telah dikategorikan sebagai teori pertumbuhan neoklasik. Model pertumbuhan Solow dirancang untuk menunjukkan bagaimana pertumbuhan persediaan modal, pertumbuhan angkatan kerja, dan kemajuan teknologi berinteraksi dalam perekonomian, serta bagaimana pengaruhnya terhadap output barang dan jasa suatu negara secara keseluruhan (Mankiw, 2007). Dalam model ini, pertumbuhan ekonomi jangka panjang ditentukan secara exogen, atau dengan kata lain ditentukan di luar model. Model ini memprediksi bahwa pada akhirnya akan terjadi konvergensi dalam perekonomian menuju kondisi pertumbuhan steady-state yang bergantung hanya pada perkembangan teknologi dan pertumbuhan tenaga kerja. Dalam hal ini, kondisi steady-state menunjukkan equilibrium perekonomian jangka panjang (Mankiw, 2007). Asumsi utama yang digunakan dalam model Solow adalah bahwa modal mengalami diminishing returns. Jika persediaan tenaga kerja dianggap tetap, dampak akumulasi modal terhadap penambahan output akan selalu lebih sedikit dari penambahan sebelumnya, mencerminkan produk marjinal modal {marginal product of capital) yang kian menurun Jika diasumsikan bahwa tidak ada perkembangan teknologi atau pertumbuhan tenaga kerja, maka diminishing return pada modal mengindikasikan bahwa pada satu titik, penambahan jumlah modal (melalui tabungan dan investasi) hanya cukup untuk menutupi jumlah modal yang susut karena depresiasi. Pada titik ini perekonomian akan berhenti tumbuh, karena diasumsikan bahwa tidak ada perkembangan teknologi atau pertumbuhan tenaga kerja.
Pertumbuhan ekonomi menurut model pertumbuhan Solow dirancang untuk menunjukkan bagaimana pertumbuhan persediaan modal, pertumbuhan angkatan kerja, dan kemajuan teknologi berinteraksi dalam perekonomian, serta bagaimana pengaruhnya terhadap output barang dan jasa menuju pertumbuhan steady-state yang bergantung hanya pada perkembangan teknologi dan pertumbuhan tenaga kerja.
Kenaikan tingkat tabungan akan mengarah ke tingkat pertumbuhan ekonomi output yang tinggi hanya jika kondisi steady-state dicapai. Saat perekonomian berada pada kondisi steady-state, tingkat pertumbuhan output per pekerja hanya bergantung pada tingkat perkembangan teknologi. Hanya perkembangan teknologi yang bisa menjelaskan peningkatan standar of living yang berkelanjutan. Model solow diawali dari fungsi produksi Y/L = F(K/L) dan dituliskan sebagai y = f(k), dimana y = Y/L dan k = K/L produksi ini menunjukkkan bahwa jumlah output per pekerja (Y/L) adalah fungsi dari jumlah modal per pekerja (K/L) fungsi produksi mengasumsikan diminishing return terhadap modal yang mencerminkan dari kemiringan dari fungsi produksi tersebut. Kemiringan fungsi produksi menggambarkan produk marjinal modal {marginal product of capital) yang menggambarkan banyaknya output tambahan yang dihasikan seorang pekerja ketika mendapatkan satu unit modal tambahan ( Mankiw, 2007). Model solow secara matematis sebagai berikut:
Ak=sf(k)-(n+5+g)k (2.1) dimana :
y = f(k) = F(K/L)
n = tingkat pertumbuhan penduduk
5 = depresiasi
k = modal per pekerja = K/L
y = output per pekerja = Y/L
s = tingkat tabungan
g = tingkat perkembangan teknologi yang mengoptimalkan tenaga kerja
Pada model Solow tanpa perkembangan teknologi, perubahan modal per pekerja ditentukan oleh tiga variabel berikut, yaitu investasi (s), pertumbuhan penduduk (n) dan depresiasi atau penyusutan (5). Dalam kondisi steady-state, Ak harus sama dengan nol sehingga sf(k) = (n+ 5)k,
sf(k) = (n + 5+ g) k (2.2)
Pada kondisi steady-state, output per tenaga kerja dan konsumsi per tenaga kerja masing- masing adalah
y = /(*)
(2.3A) C = y-i
= f(k)-sf(k)
= f(k)-(n + 5 + g)k (2.3B)
Pada kondisi golden-rule, diketahui bahwa produk marginal modal per tenaga kerja adalah
Secara grafik, model pertumbuhan solow( tanpa perkembangan teknologi)
i = sf(k)

Sumber: N.Gregory Mankiw (MakroEkonomi edisi delapan )
Gambar 2.1. Model Pertumbuhan Solow
Jika sf (k) > (n+ 5+g)k , atau jika tabungan lebih besar daripada tingkat pertumbuhan penduduk ditambah tingkat depresiasi dan kemajuan teknologi, maka modal per pekerja (k) akan naik. Kondisi ini dikenal sebagai capital deepening. Sementara capital widening merujuk pada kondisi saat modal meningkat pada tingkatan yang hanya cukup untuk mengimbangi pertumbuhan penduduk dan depresiasi.
Pada kondisi steady-state, output per pekerja adalah konstan. Namun demikian, output total tumbuh dengan kecepatan sama dengan pertumbuhan penduduk, yaitu n. Apabila modal per pekerja lebih kecil dari modal pekerja steady- state atau tabungan lebih besar dari modal yang dibutuhkan maka modal per pekerja naik menuju modal per pekerja steady state.
Ini menunjukkan capital deepening dan mendorong peningkatan output per pekerja. Apabila modal per pekerja lebih besar dari modal per pekerja steady state atau tabungan lebih kecil dari modal yang dibutuhkan maka modal per pekerja turun menuju modal per pekerja steady-state.
y = Y/L
Sumber: N.Gregory Mankiw ( MakroEkonomi edisi delapan )
Gambar 2.2. Model Pertumbuhan Solow Dengan Perubahan pada Tingkat Tabungan Apabila tingkat tabungan (s) naik maka modal per pekerja steady-state naik. Peningkatan modal per pekerja (k) akan meningkatkan output per tenaga kerja (y) dan konsumsi per pekrja (c).
y = "Y7L
Sumber: N.Gregory Mankiw (MakroEkonomi edisi delapan)
Gambar 2.3. Model Pertumbuhan Solow dengan Perubahan pada Pertumbuhan Penduduk
Pertumbuhan penduduk pada grafik diatas, kenaikan tingkat pertumbuhan penduduk dari n ke nl menghasilkan garis capital widening bam (nl+d). Kondisi steady-state tingkat per pekerja yang lebih rendah dibandingkan kondisi steady-state awal titik B, memiliki tingkat modal per pekerja yang lebih rendah dibandingkan kondisi steady-state awal di titik A. Model Solow memprediksi bahwa perekonomian dengan tingkat pertumbuhan penduduk yang lebih tinggi akan memiliki tingkat modal per pekerja yang lebih rendah dan karenanya pendapatan yang lebih rendah pula.
Ada dua masalah dalam perhitungan besarnya perbedaan pendapatan berdasarkan perbedaan modal. Pertama , perbedaan modal yang dibutuhkan adalah terlalu besar. Tidak ada bukti mengenai perbedaan pada stok modal. Kenyataan bahwa rasio modal-output adalah konstan terhadap waktu. Kedua, adalah perbedaan dalam output untuk modal yang berbeda tanpa perbedaan tenaga kerja efektif akan berimplikasi pada keragaman yang sangat besar pada tingkat pengembalian terhadap modal. Jika pasar bersifat kompetitif, tingkat pengembanlian terhadap modal adalah sama dengan produk marginal, f(k) dikurangi depresiasi.
2.3. Teori Pertumbuhan Ekonomi dan Belanja Pemerintah Versi Keynes
Teori yang membahas mengenai hubungan pengeluaran pemerintah dengan pertumbu- han ekonomi diuraikan panjang lebar dalam The General Theory Keynes. Teori ini menguraikan bahwa pendapatan total perekonomian dalam jangka pendek, sangat ditentukan oleh keinginan rumah tangga, perusahaan dan pemerintah untuk membelanjakan pendapatannya. Untuk memodelkan pandangan Keynesian mengenai pengaruh pengeluaran pemerintah terhadap pertum- buhan ekonomi ini diilustrasikan dengan pemodelan yang disebut perpotongan Keynesian (Mankiw, 2007), seperti yang ditunjuk- kan pada gambar 1.
Kenaikan Pengeluaran pemerintah (AG)
Pengeluaran akttal
Pengeluarar yang direncanakan
Meningkatkan pendapatan sebesar:
AG -MFC
If
S-3
Yi
Output (Y)
Gambar 2.4. Perpotongan Keynesian, Pergeseran ke atas dalam
Pengeluaran Pemerintah yang Direncanakan Sebesar AG Meningkatkan Output Sebesar AG/(1-MPC)
= l+MPC+MPC2 +MPC3 = 1 /(I -MPC)
Besarnya kenaikan output sebagai dampak dari kenaikan pengeluaran peme- rintah disebut pengganda pembelian peme- rintah (Government purchases multiplier) yang diukur dengan rasio AY/AG. Implikasi dari perpotongan Keynesian adalah bahwa kenaikan output (AY) lebih besar dari kenaikan pengeluaran pemerintah (AG), hal ini di sebabkan karena adanya efek berantai yang ditimbulkan dari peningkatan penge- luaran pemerintah. Proses ini bermula dari perubahan awal pengeluaran pemerintah sebesar AG meningkatkan output AY sebesar AG, pen ingkatan output atau pendapatan ini selanjutnya meningkatkan konsumsi masya- rakat sebesar MPC x AG, di mana MPC {Marginal Propensity to Consume) adalah kecenderungan mengkonsumsi marginal. Kenaikan dalam pendapatan yang kedua ini sekali lagi meningkatkan konsumsi sekarang sebesar MPC x (MPC x AG) dan seterusnya, sehingga angka pengganda ini merupakan seri geometri tidak terhingga. Secara aljabar pengganda pemerintah ini dapat dituliskan:
AY
AG
AY AG
AY 1
AG
AG I-MPC (2.7)
Selanjutnya menurut (Loizides,et,al, 2005) menunjukkan bahwa pertumbuhan substansial dari besaran pengeluaran pemerintah baik di negara maju maupun pada negara berkembang ini sejak Perang Dunia II, dan pengaruhnya pada pertumbuhan ekonomi j angka panjang (atau sebaliknya), telah banyak
menjadi subyek penelitian. Di sisi lain, studi pembiayaan publik telah diarahkan untuk mengidentifikasikan penye- bab pertumbuhan sektor publik. Hukum Wagner mengenai pengeluaran publik adalah salah satu usaha paling awal yang menekankan pertumbuhan ekonomi sebagai determinan mendasar dari pertumbuhan sektor publik. Sejumlah studi menemukan hubungan positif yang nyata antara pertumbuhan sektor publik dan pertumbuhan ekonomi hanya untuk negara berkembang tetapi bukan pada negara maju, yang lainnya malahan melaporkan hubungan negatif antara pembe- lanjaan pemerintah dan GNP.
2.4. Teori Pertumbuhan Ekonomi Modern
Meliputi teori pertumbuhan Rostow, Kuznet, dan Teori Harrod-Domar. Menurut Rostow (dalam Suryana, 2000 : 60) pembangunan ekonomi adalah suatu transformasi suatu masyarakat tradisional menjadi masyarakat modern, melalui tahapan: masyarakat tradisional, prasyarat lepas landas, lepas landas, tahap kematangan dan masyarakat berkonsumsi tinggi.
Kuznet (dalam Suryana, 2000 : 61) mendefmisikan pertumbuhan ekonomi sebagai kemampuan jangka panjang untuk menyediakan berbagai jenis barang ekonomi yang terus meningkat kepada masyarakat. Kemampuan ini tumbuh atas dasar kemajuan teknologi, institusional dan ideologis yang diperlukannya.
Harrod-Domar (dalam Suryana, 2000 : 62) mengembangkan analisa Keynes yang menekankan tentang perlunya penanaman modal dalam menciptakan pertumbuhan ekonomi. Setiap usaha ekonomi harus menyelamatkan proporsi tertentu dari pendapatan nasional yaitu untuk menambah stok modal yang akan digunakan dalam investasi baru. Menurut Harrod-Domar terdapat hubungan

SKRIPSI ANALISIS PENGARUH PERTUMBUHAN EKONOMI, INVESTASI, DAN JUMLAH INDUSTRI TERHADAP PENYEDIAAN KESEMPATAN KERJA

SKRIPSI ANALISIS PENGARUH PERTUMBUHAN EKONOMI, INVESTASI, DAN JUMLAH INDUSTRI TERHADAP PENYEDIAAN KESEMPATAN KERJA

Tuesday, January 19, 2016

(KODE : 0007-EKONPEMB) : SKRIPSI ANALISIS PENGARUH PERTUMBUHAN EKONOMI, INVESTASI, DAN JUMLAH INDUSTRI TERHADAP PENYEDIAAN KESEMPATAN KERJA



BAB II 
TINJAUAN PUSTAKA

A. Penyerapan Tenaga Kerja
Pada negara yang sedang berkembang umumnya masalah pengangguran merupakan masalah yang sulit dipecahkan sampai saat ini, karena masalah pengangguran menyebabkan tingkat pendapatan nasional dan tingkat kemakmuran masyarakat tidak mencapai potensi yang maksimal. Seperti halnya yang terjadi di Indonesia, pemerintah mengupayakan berbagai jalan keluar untuk dapat mengatasi pengangguran baik di perkotaan maupun di pedesaan.
Proses dari usaha untuk menciptakan tenaga kerja yang merupakan topik dalam penelitian ini dapat diwujudkan apabila pembinaan dan pengembangan industri-industri kecil dapat berjalan dengan semestinya. Berbagai upaya dilakukan pemerintah untuk dapat mendorong perekonomian rakyat.
Pengertian dari penyerapan itu sendiri diartikan cukup luas, menyerap tenaga kerja maknanya menghimpun orang atau tenaga kerja pada suatu lapangan usaha sesuai dengan kebutuhan usaha itu sendiri.
Dalam ilmu ekonomi seperti kita ketahui faktor-faktor produksi adalah tanah, modal, tenaga kerja, dan keahlian. Salah satu faktor tersebut adalah tenaga kerja yang mempunyai keahlian dan keterampilan agar dapat meningkatkan sektor industri. Sementara modal utama yang dibutuhkan adalah sumber daya manusia.
Menurut Siagian (1995) sumber daya manusia dan kekayaan alam yang melimpah tidak banyak artinya tanpa dikelola manusia dengan baik, maksudnya sumber daya lainnya dan kekayaan alam akan sangat berarti apabila telah digunakan manusia tidak hanya bagi kepentingan diri sendiri tetapi juga demi kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan".
Tenaga kerja yang ada banyak yang tidak siap pakai sehingga lapangan kerja yang ada tidak bisa menyerap tenaga kerja yang tidak sesuai dengan kriteria yang dibutuhkan. Disinilah perlunya peranan pemerintah dalam mengatasi hal tersebut melalui pembinaan dan pelatihan bagi tenaga kerja agar dapat meningkatkan kualitas kerja. Sementara itu, harus ada pengembangan industri yang dapat menyerap tenaga kerja sesuai dengan yang diharapkan.
Selanjutnya dari uraian diatas dijelaskan, melalui bantuan peningkatan lunak dapat memotivasi pengetahuan, keterampilan dan wawasan pandangan yang luas sehingga mempermudah proses penyerapan tenaga kerja yang dibutuhkan. Masalah penyerapan tenaga kerja ini juga tidak terlepas dari kesempatan kerja yang tersedia ditengah-tengah masyarakat. Ketidak seimbangan antara penawaran kerja dengan pasar kerja akan menimbulkan pengangguran.
Mengingat kesempatan kerja yang terbatas tersebut maka pemerintah mengupayakan penciptaan lapangan kerja yang nantinya dapat menampung tenaga kerja sehingga mengurangi tingkat pengangguran yang ada ditengah-tengah masyarakat dengan menciptakan usaha-usaha pada bidang industri yang dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi.
Dengan tumbuh dan berkembangnya industri maka dampaknya akan sangat luas terhadap penyerapan tenaga kerja. Peningkatan sumber daya manusia yang lambat tentunya akan menghambat perkembangan industri tersebut. Merupakan tugas dan tanggung jawab masyarakat bersama dengan pemerintah untuk menciptakan lapangan pekerjaan serta berpartisipasi menunjang program pemerintah dalam peningkatan taraf hidup yang adil dan merata.

B. Pertumbuhan Ekonomi
Pertumbuhan ekonomi seharusnya diukur dengan istilah yang riil. Istilah pertumbuhan ekonomi merujuk pada suatu kelompok keseluruhan konsep dengan arti yang berbeda-beda :
1. Pertumbuhan ekonomi dapat didefinisikan sebagai pertambahan arus modal total out put ekonomi suatu negara atau wilayah selama satu periode tertentu.
2. Pertumbuhan ekonomi dapat didefinisikan sebagai pertambahan perkapita atau per tenagakerja. Pertambahan output perkapita atau per tenagakerja menunjukkan indikasi yang lebih baik tentang ekonomi dari pada peningkatan yang tidak seberapa dari total output yang diproduksi.
3. Pertumbuhan ekonomi dapat didefinisikan sebagai pertambahan konsumsi perkapita.
4. Pertumbuhan ekonomi dapat didefinisikan sebagai pertambahan kesejahteraan pribadi.
5. Pertumbuhan ekonomi dapat didefinisikan sebagai perubahan dalam struktur ekonomi.
6. Pertumbuhan ekonomi dapat didefinisikan sebagai suatu rangkaian tahap yang dilalui oleh negara dalam pembangunan ekonomi.
Semua definisi pertumbuhan ekonomi tersebut memiliki kegunaan masing-masing. Sebagai contoh : pertambahan output perkapita memungkinkan suatu peningkatan standar hidup, dan pertambahan dalam konsumsi dan kesejahteraan perkapita menunjukkan peningkatan nyata dari standar hidup. Definisi struktur dan tingkat ekonomi sangat penting untuk mencapai suatu pandangan yang berarti tentang keseluruhan proses pembangunandiseluruh daerah.
Menurut Sukirno (2006) pertumbuhan ekonomi adalah kenaikan output perkapita dalam jangka panjang. Tekanannya adalah pada tiga aspek, yaitu : proses, out put perkapita, dan jangka panjang. Pertumbuhan ekonomi adalah suatu "proses", bukan gambaran ekonomi sesaat.

1) Teori Pertumbuhan Ekonomi
Teori pertumbuhan ekonomi bisa didefinisikan sebagai penjelasan mengenai faktor-faktor apa yang menyebabkan kenaikan output perkapita dalam jangka panjang dan penjelasan bagaimana faktor-faktor tersebut berinteraksi satu sama lain sehingga terjadi proses pertumbuhan. Jadi teori ekonomi adalah suatu "ceritera" yang logis mengenai bagaimana proses pertumbuhan itu terjadi.
Didalam ilmu ekonomi terdapat banyak teori pertumbuhan ekonomi, diantaranya adalah :
1. Teori-teori klasik yang mencakup teori pertumbuhan ekonomi Adam Smith, David Ricardo, dan Schumpeter.
2. Teori-teori modern yang mencakup :
a. Teori pertumbuhan Neo-Keynes yaitu Harold-Domar.
b. Teori pertumbuhan Neo-klasik yaitu Robert Solow, Kaldor dan Kusnetz.
- Teori Pertumbuhan Ekonomi Adam Smith
Adam Smith (1723 - 1790) didalam bukunya An Inquiry Into the Nature and Cause of Wealth of Nations (1776) mengemukakan bagaimana perekonomian kapitalis tumbuh. Teori
Adam Smith sering dianggap sebagai awal dari pengkajian masalah pertumbuhan secara sistematik. Menurut teori Adam Smith ada dua aspek utama dalam pertumbuhan ekonomi, yaitu :
1. Pertumbuhan output (GDP) total.
Smith melihat sistem produksi suatu negara terdiri dari tiga unsur pokok, unsur tersebut adalah :
a. Sumber-sumber alam yang tersedia (faktor produksi tanah).
b. Sumber-sumber manusiawi atau jumlah penduduk.
c. Stok barang kapital yang ada.
Menurut Smith sumber-sumber alam yang tersedia merupakan wadah yang paling mendasar dari kegiatan produksi pada suatu masyarakat. Jumlah sumber-sumber alam yang tersedia merupakan batas maksimal dari pertumbuhan ekonomi tersebut. Artinya selama sumber-sumber ini belum dimanfaatkan sepenuhnya, yang memegang peranan dalam proses produksi adalah dua unsur produksi yang lain yaitu jumlah produksi dan stok kapital yang ada. Dua unsur inilah yang akan menekankan besarnya output masyarakat dari tahun ke tahun. Tetapi apabila output terus meningkat, sumber-sumber alam akhirnya akan dimanfaatkan sepenuhnya dan pada tahap ini sumber-sumber alam akan membatasi output.
Unsur yang kedua adalah sumber-sumber manusiawi atau jumlah penduduk, dalam proses pertumbuhan output unsur ini dianggap mempunyai peranan yang pasif, dalam arti bahwa jumlah penduduk akan menyesuaikan diri dengan kebutuhan akan tenaga kerja dari masyarakat tersebut.
Unsur yang ketiga adalah stok capital yaitu yang secara aktif menentukan tingkat output. Smith memang memberikan peranan sentral kepada pertumbuhan stok capital atau akumulasi capital dalam pertumbuhan output.
2. Pertumbuhan penduduk
Aspek kedua dari pertumbuhan ekonomi adalah pertumbuhan penduduk. Disebut bahwa penduduk bersifat "pasif dalam proses pertumbuhan output, yang berarti bahwa dalam jangka panjang berapun jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan oleh proses produksi akan tersedia melalui pertumbuhan penduduk. Smith mempunyai teori pertumbuhan penduduk yang tidak banyak berbeda dengan teori kependudukan Thomas Maltus meskipun Smith lebih dahulu mengemukannya dari Thomas Maltus.
Menurut Smith, penduduk meningkat apabila tingkat upah yang berlaku lebih tinggi dari tingkat upah subsistensi, yaitu tingkat upah yang pas-pasan untuk seseorang agar bisa mempertahankan hidupnya. Apabila tingkat upah berada diatas tingkat upah subsistensi, maka orang-orang akan kawin pada usia muda, kematian anak-anak berkurang, dan jumlah kelahiran bertambah. Sebaliknya jumlah penduduk akan berkurang apabila tingkat upah yang berlaku jauh dibawah tingkat upah subsistensi. Dalam keadaan ini kematian anak-anak akan meningkat dan banyak perkawinan ditunda. Smith mengatakan bahwa "harga" tenaga manusia ditentukan oleh tarik menarik antara kekuatan permintaan dan penawaran.
3. Posisi stasioner
Akhirnya setiap perekonomian akan sampai pada posisi stasionernya. Pada posisi ini capital dan output tidak lagi tumbuh, permintaan tenaga kerja tidak naik, dan tingkat upah akan tertekan turun sampai pada tingkat upah subsistensi. Pada posisi stasioner nampaknya memang bukan suatu keadaan yang menarik, segalanya serba madeg. Jumlah penduduk yang mati sama dengan jumlah penduduk yang lahir, tingkat upah berada pada tingkat subsistensi dan tidak bisa diharapkan membaik, investasi digunakan hanya untuk mengganti kapital yang rusak. Ini semua terjadi karena perekonomian sudah mencapai perkembangan yang maksimal bila didukung oleh sumber-sumber alam yang ada.
- Teori Pertumbuhan Ekonomi David Ricardo
Ricardo mengemukakan pertumbuhan ekonomi klasik yang mengalami pengembangan lebih lanjut. Garis besar proses pertumbuhan dan kesimpulan-kesimpulan umum yang ditarik oleh Ricardo tidak terlalu berbeda dengan teori Adam Smith. Ricardo menganggap bahwa faktor produksi tanah (sumber daya alam) tidak bisa bertambah sehingga akhirnya bertindak sebagai pembatas dalam proses pertumbuhan.
Aspek-aspek proses pertumbuhan menurut Ricardo memiliki ciri sebagai berikut :
a. Tanah terbatas jumlahnya.
b. Tenaga kerja (penduduk) yang meningkat atau menurun sesuai dengan tingkat upah apakah diatas atau dibawah tingkat upah minimal (upah alamiah).
c. Akumulasi kapital terjadi apabila tingkat keuntungan yang diperoleh pemilik kapital berada diatas tingkat keuntungan minimal yang diperlukan untuk menarik mereka melakukan investasi.
d. Dari waktu ke waktu terjadi kemajuan teknologi.
e. Sektor pertanian dominan.
Satu-satunya harapan untuk meningkatkan perekonomian adalah adanya kemungkinan kemajuan teknologi. Kemajuan teknologi meningkatkan produktivitas tenaga kerja dan kapital. Jadi dengan adanya teknologi, the law of diminishing return bisa diperlambat dan kemerosotan tingkat upah dapat ditekan. Dalam posisi pertumbuhan ekonomi menurut Ricardo ada dua kekuatan dinamis yang tarik menarik, yaitu :
a. The law of diminishing return.
b. Kemajuan teknologi.
Diantara keduanya yang paling dominan adalah the law of diminishing return. Adanya keterbatasan faktor produksi tanah akan membatasi pertumbuhan ekonomi suatu negara. Suatu negara hanya bisa tumbuh sampai batas yang dimungkinkan oleh sumber daya alam yang dimilki negara tersebut.
The law of deminishing return berbunyi : apabila salah satu input tetap, sedang input-input lainnya ditambah penggunaanya maka tambahan output yang dihasilkan dari setiap unit tambahan input tersebut mula-mula naik, akan tetapi kemudian seterusnya menurun apabila inputnya terus ditambah.
- Teori Pertumbuhan Ekonomi Schumpeter
Schumpeter berpendapat bahwa motor penggerak pembangunan ekonomi adalah suatu proses yang ia beri nama inovasi, dan pelakunya adalah para wiraswasta, inovator, atau entrepreneur.
SKRIPSI PENGARUH PERTUMBUHAN EKONOMI, INFLASI, DAN TINGKAT KESEMPATAN KERJA TERHADAP TINGKAT KEMISKINAN DI INDONESIA

SKRIPSI PENGARUH PERTUMBUHAN EKONOMI, INFLASI, DAN TINGKAT KESEMPATAN KERJA TERHADAP TINGKAT KEMISKINAN DI INDONESIA

Tuesday, January 19, 2016

(KODE : 0001-EKOPEMB) : SKRIPSI PENGARUH PERTUMBUHAN EKONOMI, INFLASI, DAN TINGKAT KESEMPATAN KERJA TERHADAP TINGKAT KEMISKINAN DI INDONESIA



BAB II 
LANDASAN TEORI

2.1 Pertumbuhan Ekonomi
Pertumbuhan ekonomi adalah kenaikan pendapatan nasional secara berarti dalam suatu periode perhitungan tertentu (Putong, 2003). Angka pertumbuhan ekonomi umumnya dalam bentuk persentase dan bernilai positif, tetapi mungkin juga bernilai negatif. Negatifnya pertumbuhan ekonomi disebabkan adanya penurunan yang lebih besar dari pendapatan nasional tahun berikutnya dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Menurut Boediono (1985) dalam Kuncoro (2004), teori pertumbuhan ekonomi menjelaskan faktor-faktor apa yang menentukan kenaikan output perkapita dalam jangka panjang, dan penjelasan mengenai bagaimana faktor-faktor tersebut berinteraksi satu sama lain, sehingga terjadi proses pertumbuhan.
Menurut Prof. Simon Kuznets, mendefinisikan pertumbuhan ekonomi sebagai kenaikan j angka panjang dalam kemampuan suatu negara untuk menyediakan semakin banyak jenis barang-barang ekonomi kepada penduduknya. Kemampuan ini tumbuh sesuai dengan kemajuan teknologi, dan penyesuaian kelembagaan dan idiologis yang diperlukannya. Definisi ini mempunyai 3 (tiga) komponen: pertama, pertumbuhan ekonomi suatu bangsa terlihat dari meningkatnya secara terus-menerus persediaan barang; kedua, teknologi maju merupakan faktor dalam pertumbuhan ekonomi yang menentukan derajat pertumbuhan kemampuan dalam penyediaan aneka macam barang kepada penduduk; ketiga, penggunaan teknologi secara luas dan efisien memerlukan adanya penyesuaian di bidang kelembagaan dan ideologi sehingga inovasi yang dihasilkan oleh ilmu pengetahuan umat manusia dapat dimanfaatkan secara tepat (Jhingan, 2000). 

2.1.1 Faktor-Faktor Pertumbuhan Ekonomi
Menurut Arsyad (1997), terdapat 3 faktor penting yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi, yaitu: (1) akumulasi modal, termasuk semua investasi baru yang berwujud tanah(lahan), peralatan fisikal dan sumberdaya manusia (human resources), (2) pertumbuhan penduduk, dan (3) kemajuan teknologi. 
1. Akumulasi Modal
Akumulasi modal akan terjadi jika ada proporsi tertentu dari pendapatan sekarang yang ditabung dan kemudian diinvestasikan untuk memperbesar output pada masa yang akan datang. Pabrik-pabrik, mesin-mesin, peralatan-peralatan dan barang-barang yang baru akan meningkatkan stok modal fisikal suatu negara sehingga pada gilirannya akan memungkinkan negara tersebut untuk mencapai output yang lebih besar.
Selain itu, ada juga investasi tidak langsung. Pembangunan fasilitas-fasilitas irigasi akan dapat memperbaiki kualitas lahan pertanian melalui peningkatan produktivitas per hektar. Jika 100 hektar lahan beririgasi bisa menghasilkan output yang sama dengan 200 hektar lahan tidak beririgasi, maka fasilitas irigasi itu nilainya sama dengan dua kali luas lahan tanpa irigasi. Sama halnya dengan investasi tidak langsung, investasi sumberdaya manusia juga dapat memperbaiki kualitas sumberdaya manusia dan juga akan mempunyai pengaruh yang sama atau bahkan lebih besar terhadap produksi. Sekolah formal, sekolah kejuruan, dan program-program latihan kerja serta berbagai pendidikan informal lainnya, semua diciptakan secara lebih efektif untuk memperbesar kemampuan manusia dan sumber-sumberdaya lainnya sebagai hasil dari investasi langsung dalam pembangunan gedung, peralatan dan bahan-bahan (buku-buku, pro véktor, peralatan penelitian, alat-alat latihan kerja, mesin-mesin, dan lain-lain).
Semua jenis investasi diatas menyebabkan terjadinya akumulasi modal. Akumulasi modal, akan menambah sumberdaya-sumberdaya baru atau meningkatkan kualitas sumberdaya yang ada, tetapi ciri-cirinya yang utama bahwa investasi itu menyangkut suatu trade-off antar konsumsi sekarang dan konsumsi masa yang akan datang, menghasilkan hasil yang sedikit sekarang tetapi hasilnya akan lebih banyak nanti. 2. Pertumbuhan Penduduk
Pertumbuhan penduduk dan hal yang berhubungan dengan kenaikan jumlah angkatan kerja dianggap sebagai faktor yang positif dalam merangsang pertumbuhan ekonomi, artinya semakin banyak angkatan kerja berarti semakin produktif tenaga kerja, sedangkan semakin banyak penduduk akan meningkatkan potensi pasar domestik. 
3. Kemajuan Teknologi
Kemajuan teknologi merupakan faktor yang paling penting dalam pertumbuhan ekonomi. Kemajuan teknologi disebabkan oleh cara-cara baru dan cara-cara lama yang diperbaiki dalam melakukan pekerjaan-pekerjaan tradisional seperti cara menanam padi, membuat pakaian, atau membuat rumah. 

2.1.2 Teori Pertumbuhan Ekonomi
1. Teori Pertumbuhan Harrod-Domar
Merupakan perluasan dari analisa Keynes mengenai kegiatan ekonomi nasional dan masalah penggunaan tenaga kerja. Teori Harrod-Domar pada hakekatnya berusaha untuk menunjukan syarat yang di perlukan agar pertumbuhan yang mantap atau steady growth yang dapat di definisikan sebagai pertumbuhan yang akan selalu menciptakan penggunaan sepenuhnya alat-alat modal yang akan selalu berlaku dalam perekonomian.
Teori Harrod-Domar memperhatikan dua aspek dari pembetukan modal dalam kegiatan ekonomi yaitu : mempertinggi pengeluaran masyarakat dan mempertinggi jumlah alat-alat modal dalam masyarakat. Dalam teori ini juga pembentukan modal dipandang sebagai pengeluaran yang akan menambah kesanggupan suatu perekonomian untuk menghasilkan barang-barang maupun sebagai pengeluaran dan permintaan efektif seluruh masyarakat.
Dalam teori ini juga menganggap bahwa pertambahan dalam kesanggupan memproduksi ini tidak secara sendirinya akan menciptakan pertambahan produksi kenaikan pendapatan nasional. Harrod-Domar menyatakan bahwa pertambahan produksi dan pendapatan nasional bukan ditentukan oleh pertambahan dalam kapasitas memproduksi masyarakat, tetapi oleh kenaikan pengeluaran masyarakat. Dengan demikian, walaupun kapasitas memproduksi bertambah, pendapatan nasional baru akan bertambah dan pertumbuhan ekonomi tercipta. Analisa Harrod-Domar bertujuan menunjukan syarat yang diperlukan supaya dalam jangka panjang kemampuan produksi yang bertambah dari masa ke masa (yang di akibatkan oleh pembetukan modal pada masa sebelumnya) akan selalu sepenuhnya digunakan. 
2. Teori Pertumbuhan Ekonomi Solow-Swan
Menurut teori ini garis besar proses pertumbuhan mirip dengan teori Harrod-Domar dimana asumsi yang melandasi model ini yaitu:
1. Tenaga Kerja (penduduk) tumbuh dengan laju tertentu, misal P per tahun.
2. Adanya Fungsi produksi Q = f (K, L) yang berlaku bagi setiap periode.