TESIS PENGARUH TINGKAT PENDIDIKAN DAN TIPE POLA ASUH ORANG TUA TERHADAP PERKEMBANGAN PSIKOSOSIAL ANAK PRASEKOLAH

Monday, February 15, 2016
T-(0010) TESIS PENGARUH TINGKAT PENDIDIKAN DAN TIPE POLA ASUH ORANG TUA TERHADAP PERKEMBANGAN PSIKOSOSIAL ANAK PRASEKOLAH

BAB II
KAJIAN TEORI, KERANGKA BERFIKIR DAN HIPOTESIS PENELITIAN

A. Kajian Teori
1. Konsep Pendidikan
a. Pengertian pendidikan
Suwarno (1992) yang dikutip oleh Nursalam dan Pariani (2001), pendidikan berarti bimbingan yang diberikan oleh seseorang terhadap orang lain menuju kearah suatu cita - cita tertentu. Pendidikan dapat mempengaruhi perilaku dan pola hidup terutama dalam motivasi untuk berperan serta dalam pembanguunan kesehatan. Makin tinggi tingkat pendidikan seseorang makin mudah menerima informasi sehingga makin banyak pula pengetahuan yang dimiliki, sebaliknya pendidikan yang kurang akan menghambat perkembangan sikap seseorang terhadap nilai - nilai yang harus diperkenalkan. Pendidikan itu menuntun manusia untuk berbuat dan mengisi kehidupannya, untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan (Notoatmojo, 1984, dikutip oleh Nursalam dan Pariani ,2001). Mantra yang dikutip oleh Notoatmojo (1985) pendidikan dapat mempengaruhi seseorang, termasuk juga perilaku seseorang akan pola hidup terutama dalam memotivasi untuk sikap berperan serta dalam pembangunan kesehatan. Makin tinggi tingkat pendidikan seseorang, makin mudah menerima informasi sehingga makin banyak pula pengetahuan yang dimiliki. Sebaliknya pendidikan yang kurang akan menghambat perkembangan sikap seseorang terhadap nilai - nilai yang baru diperkenalkan (Nursalam, 2003. Dikutip dari Kuncoroningrat,1997). Keputusan Menteri nomer 3 8/KEP/MM. WASP AN/8/1999 pendidikan adalah pengembangan kemampuan dan jati diri peserta didik sebagai wujud kepribadian yang utuh, melalui program pengajaran yang diarahkan melalui kurikulum program studi b. Tingkatan Pendidikan 1). Pendidikan Dasar (SD - SMP) 2). Pendidikan Menengah (SMA) 3). Pendidikan Tinggi (PT)
2. Konsep Pola Asuh
a. Pengasuhan
Asuh adalah menuju kebutuhan pemeliharaan dan perawatan anak agar kesehatannya selalu terpelihara, sehingga diharapkan mereka menjadi anak-anak yang sehat baik fisik, mental, sosial dan spiritual (Effendi, 1998). Menurut Soetjiningsih (1998) asuh adalah kebutuhan fisik-biomedis yang meliputi perawatan kesehatan dasar, kesegaran jasmani, rekreasi dan lain - lain. Keluarga merupakan kelompok soaial yang pertama dimana anak dapat berinteraksi. Pengaruh keluarga dalam pembentukan dan perkembangan psikososial anak sangat besar artinya. Banyak faktor dalam keluarga yang ikut berpengaruh dalam proses perkembangan anak.
Salah satu faktor dalam keluarga yang mempunyai peranan penting dalam pembentukan perkembangan psikososial anak adalah praktik pengasuhan anak. Hal tersebut diperkuat oleh Soetjiningsih (1998) yang menyatakan bahwa keluarga adalah lingkungan yang pertama kali menerima kehadiran anak. Orang tua mempunyai berbagai macam fungsi yang salah satu diantaranya ialah mengasuh putra - putrinya. Dalam mengasuh anaknya orang tua dipengaruhi oleh budaya yang ada di lingkungannya. Disamping itu, orang tua juga diwarnai oleh sikap -sikap tertentu didalam memelihara, membimbing dan mengarahkan putra -putrinya. Sikap tersebut tercermin dalam pola pengasuhan kepada anaknya yang berbeda - beda, karena orang tua punya pola pengasuhan tertentu.
b. Pola Pengasuhan
Pola pengasuhan (Parenting) atau perawatan anak sangat bergantung pada nilai-nilai yang dimiliki keluarga. Pada budaya timur seperti Indonesia, peran pengasuhan atau perawatan lebih banyak dipegang oleh istri atau Ibu meskipun mendidik anak merupakan tanggung jawab bersama. Pada dasarnya tujuan utama pengasuhan adalah:
1). Mempertahankan kehidupan fisik anak dan meningkatkan kesehatannya
2). Memfasilitasi anak untuk mengembangkan kemampuan sejalan dengan tahapan perkembangannya
3). Mendorong peningkatan kemampuan berprilaku sesuai dengan nilai agama dan budaya yang diyakininya.
Kemampuan orang tua menjalankan peran pengasuhan ini tidak bisa dipelajari melalui pendidikan formal, melainkan berdasarkan : pengalaman dalam menjalankan peran tersebut, yaitu dengan mempelajari pengalaman orang tua terdahulu. Orang tua harus mempunyai rasa percaya diri yang besar dalam menjalankan peran pengasuhan ini, terutama dalam pertumbuhan dan perkembangan anak, pemenuhan kebutuhan makan dan pemeliharaan kebersihan perseorangan, pengguna alat permainan serta komunikasi efektif dalam berinteraksi dengan anak dan anggota keluarga yang lain. (Supartini, 2004).
Sebagai pengasuh dan pembimbing dalam keluarga, orang tua sangat berperan dalam meletakkan dasar - dasar perilaku bagi anak - anaknya. Sikap, perilaku, dan kebiasaan orang tua selalu dilihat, dinilai, dan ditiru oleh anaknya yang kemudian semua itu secara sadar atau tidak sadar diresapinya dan kemudian menjadi kebiasaan pula bagi anak - anaknya. Hal demikian disebabkan karena ank mengidentifikasikan diri pada orang tuanya sebelum mengadakan identifikasi dengan orang lain (Supartini, 2004).
c. Menurut Wong dalam Supartini (2004;36) Faktor yang mempengaruhi untuk dapat menjalankan peran pengasuhan.
1). Usia orang tua
2). Keterlibatan ayah
3). Pendidikan orang tua
4). Pengalaman sebelumnya dalam mengasuh anak
5). Stress orang tua
d. Pola Asuh
Pola asuh orang tua merupakan interaksi antara anak dan orang tua selama mengadakan kegiatan pengasuhan. Pengasuhan ini berarti orang tua mendidik, membimbing dan mendisiplinkan serta melindungi anak untuk mencapai kedewasaan sesuai dengan norma - norma yang ada dalam masyarakat. Pengertian pola asuh
Menurut Baumrid (dalam Santi) pola asuh merupakan pola interaksi antara orang tua dan anaknya yaitu bagaimana sikap atau perilaku orang tua saat berinteraksi dengan anak. Termasuk caranya menerapkan aturan, mengajarkan nilai/norma, memberikan perhatian dan kasih sayang serta menunjukan sikap dan perilaku yang baik sehingga dijadikan contoh/panutan bagi anaknya (Hilmansya, 2007;
1). Tedjasaputra M.s. dari lembaga psikologi penerapan Universitas Indonesia,
2). menekankan perlunya mengenali kepribadian atau karakter anak untuk menerapkan pola asuh yang tepat.
3). Macam pola asuh dan dampak terhadap anak
Ada empat macam pola pengasuhan menurut pakar psikologi Baumrid (Parenting, 2008) yaitu : a). Pola asuh Otoriter
Pola otoriter adalah pola pengasuhan yang kaku, diktator dan memaksa anak untuk selalu mengikuti perintah orang tua tanpa banyak alasan. Dalam pola asuh ini biasa ditemukan penerapan hukuman fisik dan aturan - aturan tanpa merasa perlu menjelaskan kepada anak apa guna dan apa alasannya dibalik aturan tersebut.
Pola asuh yang otoriter biasanya berdampak buruk pada anak, seperti merasa ia tidak bahagia, ketakutan, tidak terlatih untuk berinisiatif, selalu tegang, tidak mampu menyelesaikan masalah, begitu juga kemampuan dalam menyelesaikan masalah.
b). Pola asuh Neglecfult
Pola neglecfult atau pola asuh penelantar adalah pola dimana orang tua tidak mau terlibat dan tidak mau pula pusing memedulikan kehidupan anaknya. Dalam pola asuh ini biasanya anak mengganggap bahwa aspek -aspek lain dalam kehidupan orang tuanya lebih penting dari pada keberadaan dirinya.
Pola asuh seperti ini akan menimbulkan serangkaian dampak buruk. Diantaranya anak akan mempunyai harga diri yang rendah, tidak punya kontrol diri yang baik, kemampuan sosialnya buruk dan merasa bukan bagian yang penting untuk orang tuannya.
c). Pola asuh Indulgent
Pola indulgent atau pola asuh penyabar/pemanja adalah pola asuh orang tua yang selalu terlibat dalam semua aspek kehidupan anak. Dalam pola asuh ini tidak ada tuntutan dan kontrol dari orang tua terhadap anak. Orang tua cendrung membiarkan anaknya melakukan apa saja sesuai dengan keinginan anaknya. Bahkan orang tua tidak mempunyai posisi tawar sama sekali didepan anaknya karena semua keinginan anaknya akan dituruti, tanpa memperhitungkan apakah itu baik atau buruk bagi sianak. Pola asuh indulgent mengakibatkan anak jadi sama sekali tidak belajar mengontrol diri, ia selalu menuntut orang lain untuk menuruti keinginannya tapi tidak berusaha belajar menghormati orang lain. Anak pun cendrung mendominasi orang lain sehingga punya kesulitan dalam berteman.
d). Pola asuh Authoritative
Pola authoritative adalah mendorong anak untuk mandiri, tapi orang tua tetap menerapkan batas dan kontrol. Orang tua biasanya bersikap hangat dan penuh welas asih kepada anak, bisa menerima alasan dari semua tindakan anak, mendukung tindakan - tindakan anak yang konstruktif. Anak yang terbiasa dengan pola asuh authoritative akan membawa dampak menguntungkan. Diantaranya anak merasa bahagia, mempunyai kontrol diri dan rasa percaya dirinya terpupuk, bisa mengatasi stress, punya keinginan untuk berprestasi dan bisa berkomunikasi baik dengan teman - teman dan orang dewasa. Dengan adanya dampak positif tersebut, pola asuh authoritative adalah pola asuh yang bisa dijadikan pilihan bagi orang tua.
3). Syarat Pola Asuh Efektif
 a). Pola asuh harus dinamis
Pola asuh harus sejalan dengan meningkatnya pertumbuhan dan perkembangan anak. Penerapan pola asuh untuk anak prasekolah berbeda dari pola asuh untuk anak sekolah. Karena kemampuan berfikir anak prasekolah masih sederhana, jadi pola asuh harus disertai komunikasi yang tidak bertele -tele.
b). Pola asuh harus sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan anak
Hal ini perlu dilakukan karena setiap anak memiliki minat dan bakat yang berbeda. Pada saat anak usia satu tahun potensi anak sudah mulai terlihat, orang tua yang sudah memiliki gambaran potensi anak maka ia perlu diarahkan dan difasilitasi. Selain pemenuhan kebutuhan fisik, orang tua pun perlu memenuhi kebutuhan psikis anak. Sentuhan - sentuhan fisik seperti merangkul, mencium pipi, mendekap dengan penuh kasih sayang, akan membuat anak bahagia sehingga dapat membuat pribadinya berkembang dengan matang. Kebanyakan anak yang tumbuh menjadi pribadi yang dewasa dan matang karena sewaktu kecil ia mendapat kasih sayang dan cinta yang utuh dari orang tuanya.
c). Orang tua harus kompak
Orang tua seharusnya menerapkan pola asuh yang sama pada anak. Dalam hal ini, kedua orang tua sebaiknya berkompromi dalam menetapkan nilai - nilai yang boleh dan tidak boleh. Orang tua tidak boleh saling bersebrangan karena hanya akan membuat anak bingung.
d). Pola asuh hahrus disertai pola asuh yang positif dari orang tua
Penerapan pola asuh membutuhkan sikap - sikap positif dari orang tua sehingga bisa dijadikan contoh/panutan bagi anaknya. Tanamkan nilai - nilai kebaikan dengan disertai penjelasan yang mudah dipahami. Dengan ini diharapkan akan bisa menjadi manusia yang memiliki aturan dan norma yang baik, berbakti dan menjadi panutan bagi temannya dan orang lain.
e). Komunikasi efektif
Komunikasi efektif merupakan sub-bagian dari pola asuh efektif. Syarat untuk berkomunikasi efektif sederhana yaitu meluangkan waktu untuk berbincang - bincang dengan anak. Disini orang tua menjadi pendengar yang baik dan tidak boleh meremehkan pendapat anak. Buka selalu lahan diskusi tentang berbagai hal yang ingin diketahui anak. Dalam setiap diskusi, orang tua dapat memberikan saran, masukan atau meluruskan pendapat anak yang keliru sehingga anak lebih terarah dan dapat mengembangakan potensinya dengan maksimal.
f). Disiplin
Penerapan disiplin dapat dimulai dari hal - hal kecil dan sederhana. Misalnya, membereskan kamar atau menyimpan sesuatau pada tempatnya dengan rapi. Anakpun perlu diajarkan membuat jadwal harian sehingga bisa teratur dan efektif mengelolah kegiatannya. Penerapan disiplin harus dleksibel dan disesuaikan dengan kebutuhan atau kondisi anak.
g). Orang tua harus konsisten
Orang tua harus bisa menerapkan konsisten sikap, setiap aturan harus disertai penjelasan yang bisa dipahami anak. Anak dibiasakan untuk mengerti atau terbiasa mana yang boleh dan mana yang tidak boleh untuk dikerjakan. Orang tua harus konsisten kata dan perbuatan harus sama.
4). Faktor yang mempengaruh Pola asuh
Beberapa faktor yang dapat membuat pola asuh tidak maksimal datang dari lingkungan yang sangat dekat dengan anak. Berikut yang dijabarkan psikolog dari Spectrum Treatment and Education Center, Bintaro, Banten (Irfan H., 2007)
a). Pengasuh
Pola asuh menjadi terganggu jika pengasuh menunjukkan sikap :
(1). Inkonsistensi
Sikap tidak konsisten terjadi kala pengasuh melakukan penyimpangan terhadap aturan atau disiplin yang sudah diterapkan orang tua.
(2). Otoritas Kurang
Contoh bisa datang dari orang tua yang sering memperlakukan pengasuh jauh dari sikap santun. Hal ini yang membuat anak ikut - ikutan tidak menaruh hormat dan patuh pada pengasuhnya.
(3). Ketidak siapan pengasuh
Perilaku pengasuh yang suka membentak, mencubit atau berkata tidak senonoh yang mungkin akan dituru oleh anak.
(4). Overprotektif
Pengasuh yang menerima dan menerapkan aturan dari orang tua sebagaimana adanya, sehingga membuat anak merasa terkekang.
b). Kakek - Nenek
Kakek dan nenek bisa membuat pola asuh menjadi tidak efektif, misalnya :
(1). Inkonsistensi
Berbeda dari pengasuh, sikap inkonsistensi kakek-nenek biasanya disebabkan rasa sayang mereka yang berlebihan terhadap cucu.
(2). Hukuman tidak efektif
Hukuman yang diberikan orang tua tidak efektif karena kakek-nenek memberikan keluasan kepada anak untuk melakukan kesenangan hanya agar si cucu tidak kesal.
c). Lingkungan Rumah
Dari lingkungan sekitar rumah seperti tetangga, anak pun bisa mendapatkan pengalaman negatif yang sedikit banyak akan mempengaruhi keberlangsungan pola asuh orang tua terhadapnya.
(1). Membandingkan
Ketika anak menemukan perbedaan pola asuh maka anak akan membandingkan dan hal ini bisa mempengaruhi anak sehingga akan menyebabkan protes pada orang tuanya.
(2). Inkonsistensi
Jika anak mendapati toleransi yang berbeda di rumah temannya dari apa yang ditemuinya di rumah sendiri maka anak kemungkinan akan melanggar.
d). Lingkungan Sekolah
Sekolah umumnya tidak selalu berpengaruh tapi bisa jadi berpengaruh karena
faktor :
(1). Beda peraturan

Artikel Terkait

Previous
Next Post »