Showing posts with label ekspor impor. Show all posts
Showing posts with label ekspor impor. Show all posts
SKRIPSI ANALISIS PENGARUH EKSPOR SEKTOR INDUSTRI DAN PENANAMAN MODAL ASING SEKTOR INDUSTRI TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA

SKRIPSI ANALISIS PENGARUH EKSPOR SEKTOR INDUSTRI DAN PENANAMAN MODAL ASING SEKTOR INDUSTRI TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA

Saturday, May 28, 2016

(KODE : 0014-EKONPEMB) : SKRIPSI ANALISIS PENGARUH EKSPOR SEKTOR INDUSTRI DAN PENANAMAN MODAL ASING SEKTOR INDUSTRI TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA


BAB II 
KAJIAN PUSTAKA

A Pertumbuhan Ekonomi
1. Pengertian Pertumbuhan Ekonomi
Suatu perekonomian dikatakan mengalami pertumbuhan jika jumlah produksi barang dan jasanya meningkat. Pertumbuhan ekonomi merupakan suatu proses kenaikan output dari tahun ke tahun yang merupakan suatu gambaran mengenai dampak kebijaksanaan pembangunan yang dilaksanakan khususnya dalam bidang ekonomi. Pertumbuhan ekonomi berarti perkembangan kegiatan dalam perekonomian yang menyebabkan barang dan jasa yang diproduksikan dalam masyarakat bertambah dan kemakmuran masyarakat meningkat (Sukirno, 2003: 10). Kemampuan yang meningkat ini disebabkan karena faktor-faktor produksi akan selalu mengalami pertambahan dalam jumlah dan kualitasnya.
Pertumbuhan ekonomi merupakan ukuran utama keberhasilan pembangunan Hasil pertumbuhan ekonomi tersebut harus dapat dinikmati masyarakat sampai ke lapisan yang paling bawah. Pertumbuhan harus berjalan secara beriringan dan terencana untuk mengupayakan terciptanya pemerataan kesempatan dan pembangunan hasil-hasilnya dengan lebih merata. Bila pembangunan dan hasil-hasilnya tersebut telah terdistribusi secara merata maka daerah - daerah yang miskin, tertinggal, dan tidak produktif akan menjadi produktif yang akhirnya akan mempercepat pertumbuhan ekonomi itu sendiri.

2. Perhitungan Tingkat Pertumbuhan Ekonomi
Fluktuasi pertumbuhan ekonomi secara riil dari tahun ke tahun tercermin dalam nilai Produk Domestik Bruto (PDB). PDB yaitu seluruh nilai tambah yang dihasilkan oleh berbagai sektor atau lapangan usaha yang melakukan kegiatan usahanya di suatu domestik atau agregat. Perubahan nilai PDB akan menunjukkan perubahan jumlah kuantitas barang dan jasa yang dihasilkan selama periode tertentu. Selain PDB, dalam suatu negara juga dikenal ukuran PNB (Produk Nasional Bruto) serta Pendapatan Nasioal {National Income).
Untuk menghitung besarnya pendapatan nasional atau regional, maka ada tiga metode pendekatan yang dipakai:
a) Pendekatan Produksi (Production Approach)
Metode ini dihitung dengan menjumlahkan nilai produksi yang diciptakan sektor ekonomi produktif dalam wilayah suatu negara. Yang dipakai hanya nilai tambah bruto saja agar dapat menghindari adanya perhitungan ganda.
b) Pendekatan Pendapatan (Income Approach)
Metode ini dihitung dengan menjumlah besarnya total pendapatan atau balas jasa setiap faktor-faktor produksi. 
c) Pendekatan Pengeluaran {Consumption Approach)
Metode ini dihitung dengan menjumlahkan semua pengeluaran yang dilakukan berbagai golongan pembeli dalam masyarakat. Yang dihitung hanya nilai transaksi-transaksi barangjadi saja, untuk menghindari adanya perhitungan ganda.

3. Teori-teori Pertumbuhan Ekonomi
Teori-teori pertumbuhan ekonomi melihat hubungan antara pertumbuhan ekonomi dengan faktor-faktor penentu pertumbuhan ekonomi. Ada beberapa teori mengenai pertumbuhan ekonomi, yaitu:
a) Teori Jumlah Penduduk Optimal (Optimal Population Theory)
Teori ini telah lama dikembangkan oleh kaum Klasik. Menurut teori ini, berlakunya The Law of Diminishing Return (TLDR) menyebabkan tidak semua penduduk dapat dilibatkan dalam proses produksi. Jika dipaksakan, justru akan menurunkan tingkat output perekonomian.
b) Teori Pertumbuhan Neo Klasik {Neo Classic Growth Theory)
Teori ini dikembangkan oleh Solow (1956) dan merupakan penyempurnaan teori-teori klasik sebelumnya. Fokus pembahasan teori ini adalah akumulasi stok barang modal dan keterkaitannya dengan keputusan masyarakat untuk menabung atau melakukan investasi. Asumsi penting dari model Solow antara lain:
1. Tingkat teknologi dianggap konstan (tidak ada kemajuan teknologi),
2. Tingkat depresiasi dianggap konstan,
3. Tidak ada perdagangan luar negeri atau aliran keluar masuk barang modal,
4. Tidak ada sektor pemerintah
5. Tingkat pertambahan penduduk (tenaga kerja) juga dianggap konstan,
6. Seluruh penduduk bekerja sehingga jumlah penduduk = jumlah tenaga kerja.
Dengan asumsi-asumsi tersebut, dapat dipersempit faktor-faktor penentu pertumbuhan menjadi hanya stok barang modal dan tenaga kerja. 
c) Teori Pertumbuhan Endojenus (Endogenous Growth Theory)
Teori ini dikembangkan oleh Romer (1986) dan merupakan pengembangan dari teori Klasik-Neo Klasik yang kelemahannya terletak pada asumsi bahwa teknologi bersifat eksojenus. Konsekuensi asumsi ini adalah terjadinya The Law of Diminishing Return, karena teknologi dianggap sebagai faktor eksogen dan tetap. Konsekuensi yang lebih serius adalah perekonomian yang terlebih dahulu maju, dalam jangka panjang akan terkejar perekonomian yang lebih terbelakang, selama tingkat pertambahan penduduk, tingkat tabungan, dan akses terhadap teknologi adalah sama.
Teknologi merupakan barang publik. Oleh karenanya, selama perusahaan dapat menikmati dampak yang sama dari teknologi tersebut, tidak ada satu perusahaan pun yang berusaha memonopoli. Dengan demikian dalam hal ini, faktor teknologi bukanlah sebagai faktor eksogen melainkan faktor endogen.
d) Teori Schumpeter
Schumpeter berpandangan bahwa pertumbuhan ekonomi sangat ditentukan oleh kemampuan kewirausahawanan (entrepreneurship). Sebab, para pengusahalah yang mempunyai kemampuan dan keberanian mengaplikasi penemuan-penemuan baru dalam aktivitas produksi. Langkah-langkah pengaplikasian penemuan-penemuan baru dalam dunia usaha merupakan langkah inovasi. Termasuk dalam langkah-langkah inovasi adalah penyusunan teknik-tahap produksi serta masalah organisasi-manajemen, agar produk yang dihasilkan dapat diterima pasar.
e) Teori Harrod-Domar
Teori Harrod-Domar dikembangkan secara terpisah dalam periode yang bersamaan oleh E.S. Domar dan R.F. Harrod. Keduanya melihat pentingnya investasi terhadap pertumbuhan ekonomi, sebab investasi akan meningkatkan stok barang modal, yang memungkinkan peningkatan output.
1) Investasi

SKRIPSI ANALISIS PENGARUH EKSPOR, IMPOR, KURS NILAI TUKAR RUPIAH TERHADAP CADANGAN DEVISA INDONESIA

SKRIPSI ANALISIS PENGARUH EKSPOR, IMPOR, KURS NILAI TUKAR RUPIAH TERHADAP CADANGAN DEVISA INDONESIA

Tuesday, May 24, 2016

(KODE : 0011-EKONPEMB) : SKRIPSI ANALISIS PENGARUH EKSPOR, IMPOR, KURS NILAI TUKAR RUPIAH TERHADAP CADANGAN DEVISA INDONESIA


BAB II 
URAIAN TEORITIS

2.1 Cadangan Devisa
2.1.1. Pengertian cadangan devisa
Cadangan Devisa (Foreign Exchange Reserves) adalah simpanan oleh bank sentral dan otoritas moneter. Simpanan ini merupakan (asset/ aktiva) bank sentral yang tersimpan dalam beberapa (mata uang cadangan) (Reserve Currency) seperti dolar, euro, yen dan digunakan untuk menjamin (kewajibannya) yaitu mata uang lokal yang diterbitkan dan cadangan berbagai (bank) yang disimpan oleh bank sentral (Pemerintah). Cadangan devisa tidak hanya disimpan dalam bentuk mata uang asing melainkan dalam bentuk surat-surat berharga ataupun logam mulia.
Bank Indonesia sebagai bank sentral negara Indonesia bertanggung jawab atas pengaturan lalu lintas devisa. Sistem cadangan devisa 1970 menerapkan sistem devisa bebas. Peraturan tentang devisa bebas tertuang dalam UU No 24, 1999. Tentang lalu lintas devisa dan sistem nilai tukar menggantikan UU lama yaitu UU No 32, 1964.
Cadangan devisa bertambah ataupun berkurang tampak dalam neraca lalu lintas moneter. Cadangan devisa lazim diukur dengan rasio cadangan resmi terhadap impor, yakni jika cadangan devisa cukup untuk menutupi impor suatu negara selama 3 bulan, lazim dipandang sebagai tingkat yang aman, dan jika hanya 2 bulan atau kurang maka akan menimbulkan tekanan terhadap neraca pembayaran. (Rustian Kamaludin,1999)
Mulai Juli, 2000 Bank Indonesia mengubah konsep pencataatan cadangan devisa. Angka cadangan devisa yang dilaporkan hanya menggunakan konsep International Reserve and Foreign Currency (IRFCL) yang merupakan standar pelaporan secara internasional (SDDS-IMF). Perbedaan antara angka cadangan devisa yang berdasarkan konsep GFA dengan IRFCL terjadi karena perbedaan defenisi. IRFCL hanya asset yang tergolong liquid yang diperhitungkan, sebagai komponen international reserves dan penilaiannya menggunakan kurs yang berlaku saat tanggal pelaporan. Sedangkan dalam konsep GFA, tidak dibedakan tingkat liquiditas tersebut serta tidak digunakan kurs yang berlaku pada saat pelaporan melainkan kurs mata uang asing per 31 Maret 1998. Konsep IRFCL, berangkat dari standar penyebaran data khusus {Special Data Dissemination Standards / SDDS), yang merupakan bentuk penyajian data ekonomi melalui internet dengan menggunakan standar penyajian data Dana Moneter Internasional (IMF). Cakupan SDDS adalah sektor rill, sektor fiskal, sektor keuangan, sektor eksternal. Mengenai IRFCL, struktur metode tersebut terbagi menjadi devisa internasional (internasional reserves), perkiraan aliran bersih devisa yang terjadwal (predetermined short-term net drains), perkiraan aliran devisa yang bersifat siaga (contingent short-term net drains), dan memo item (Sumber;Bank Indonesia)
Cadangan Devisa banyak disimpan dalam mata uang asing dalam hal ini dolar, yen, euro yang merupakan "Hard Currencies " mata uang keras di perdagangan internasional.Kegunaan dari Valuta asing yakni :
1. Mengimpor barang konsumsi, bahan baku industri dan sektor produksi lainnya, peralatan dan perlengkapan (barang modal), perlengkapan pertahanan, keamanan, dsb.
2. Melunasi jasa pihak asing, seperti jasa perbankan, asuransi, pelayaran, penerbangan, perekayasaan, wisatawan Indonesia dan Iain-lain sektor jasa
3. Membiayai kantor perwakilan pemerintah Indonesia (Kedutaan dan Konsulat) di luar negeri
4. Melunasi hutang luar negeri
Namun demikian dalam proses perdagangan internasional semua mata uang negara-negara barat dan negara-negara Asia bebas dipertukarkan di Indonesia {Freely Convertible), dan Dana Moneter Internasional (IMF) telah menyatakan mata uang rupiah, sebagai mata uang yang 'convertible' (dapat dipertukarkan dengan mata uang asing). Transfer valuta asing ke dalam negeri, begitupun sebaliknya transfer dari luar ke dalam negeri juga bebas. (Amir,2003)
Faktor utama sumber cadangan devisa Indonesia yang paling diandalkan adalah dari hasil ekspor (perdagangan internasional) sumber pemasukannya sangat besar menambah cadangan devisa. Ekspor-Impor share pendapatan nasional sebesar 30%. Dan ini akan menambah surplus devisa yang merupakan kas pemerintah dalam melakukan pembiayaan dan pembangunan. Posisi cadangan devisa Indonesia 1985 senilai US$ 5,846 Miliar. Tahun 1991 cadangan devisa US$ 9,868 Miliar. Pada tahun 1998 cadangan devisa Indonesia sebesar US$ 28,004 Miliar dan terus meningkat sampai tahun 2004 menjadi US$ 36,320 Miliar. Tahun 2005 cadangan devisa Indonesia menurun pada nilai US$ 34,724 Miliar dan Tahun 2007 meningkat kembali sebesar US$ 56,920 Miliar.Dan kini data terakhir per-Januari 2009 menunjukan posisi cadangan devisa Indonesia sebesar US$ 335,715 Milliar.

2.1.2. Teori Cadangan Devisa
Cadangan devisa bertambah atau berkurang akan tampak dalam neraca lalu lintas moneter. Jika tandanya negatif (-) berarti cadangan devisa bertambah dan bila positif (+) bererti cadangan devisa berkurang.
Seperti yang sudah dijelaskan bahwa cadangan devisa mengambil peranan penting dalam perdagangan internasional suatu negara maka tanpa ditopang cadangan devisa yang kuat, perekonomian suatu negara dapat runtuh dalam seketika. Seperti masa krisis yang dialami Indonesia. Karena pengaruh pembiayaan cadangan devisa guna keperluan impor, pembayaran utang serta serangan dari para spekulan mampu menggoncang perekonomian negara kita. Hal ini berarti bahwa pertumbuhan cadangan devisa yang tinggi dalam kaitannya dengan krisis bersifat positif. (Tjahjono,1998)
Menurut Tjahjono, Cadangan devisa suatu negara dipengaruhi oleh transaksi berjalan dan ekspor. Perkembangan transaksi berjalan suatu negara perlu diwaspadai dengan cermat, karena defisit transaksi berjalan yang berlangsung dalam jangka panjang dapat menekan cadangan devisa. Oleh karena itu defisit transaksi berjalan sering kali dipandang sebagai signal ketidakseimbangan makro ekonomi yang memerlukan penyesuaian nilai tukar atau kebijakan makro ekonomi yang lebih ketat. Laju ekspor yang tinggi akan menghasilkan hard currency yang dapat memperkuat cadangan devisa, namun mengakibatkan apresiasi1 domestic currency, yang kemudian menambah jumlah uang beredar melalui NFA (Net foreign asset) pada akhirnya dapat mendorong inflasi. Ini merupakan suatu siklus ekonomi yang berkesinambungan dan erat kaitannya dalam proses pertahanan pengolahan cadangan devisa.

2.1.3. Cadangan devisa dalam makro ekonomi 
A. Makro ekonomi
Ilmu ekonomi dipelajari karena mempunyai kegunaan yakni memberikan petunjuk-petunjuk mengenai kebijaksanan apa yang bisa diambil untuk menanggulangi suatu permasalahan ekonomi tertentu.
Ekonomi makro sebagai suatu cabang dari ilmu ekonomi berkaitan dengan permasalahan kebijaksanaan tertentu, yaitu permasalahan kebijakan makro yakni masalah-masalah yang berkaitan dengan pengolahan dan pengendalian umum perekonomian, agar perekonomian bisa bekerja dan tumbuh secara keseimbangan umum. Terhindar dari penyakit makro ekonomi yakni inflasi, perdagangan, ketimpangan neraca pembayaran.
Dalam makro ekonomi terdapat 4 pasar yang saling berhubungan ( Pasar Barang, pasar Uang, Pasar Modal, Pasar Luar negeri). Pasar luar negeri yang merupakan orientasi langsung dari pasar ekspor-impor mempunyai peranan sangat besar bagi cadangan devisa Indonesia. Pasar luar negeri dapat dijelaskan sebagai pasar yang menunjukan permintaan dunia akan hasil-hasil ekspor kita bertemu dengan penawaran dari hasil-hasil tersebut yang bisa disediakan oleh para eksportir kita dan pada sisi lain, permintaan (kebutuhan) negara kita akan barang-barang impor bertemu dengan penawaran barang-barang tersebut oleh pihak luar negeri (supply barang-barang impor).(Boediono.)
Sumbangan atas jasa dan perdagangan telah mampu membawa pergerakan positif atas cadangan devisa. Oleh karena itu komponen ini dianggap penting oleh negara dan menganggap bahwa pembukaan diri terhadap pasar luar negeri akan menguntungkan negara. Sesuai dengan pandangan tokoh ekonomi modern John M Keynes yang mengangap bahwa pembukaan diri suatu negara akan menguntungkan negara tersebut.
Di pasar luar negeri permintaan akan barang ekspor kita bersama dengan penawaran akan barang tersebut menunjukan harga rata-rata ekspor kita dan kuantitas atau volume harga. Harga rata-rata dikalikan volume ekspor memberikan devisa dari ekspor. Di pasar yang sama permintaan masyarakat kita akan barang-barang impor dan menentukan harga rata-rata impor dan volume impor. Juga disini, harga rata-rata dikalikan volume impor memberikan pengeluaran devisa kita untuk impor barang/ jasa tersebut. Untuk pasar luar negeri sering kali kita menggabunggkan pasar ekspor dan impor dan mengamati apa yang terjadi dengan :
a) Neraca perdagangan yaitu penerimaan apabila devisa ekspor dikurangi pengeluaran devisa untuk impor, atau neraca pembayaran apabila kita ingin pula mengetahui tentang aliran keluar-masuknya modal.
b) Dasar penukaran Luar negeri (Terms of Trade)3. Yaitu hanya harga rata-rata ekspor kita dibagi dengan harga rata-rata impor kita.
J.M.Keynes pemikir ekonomi sumbangan terbesarnya dalam teori-teori ekonomi tertuang dalam buku ' The General Theory of Employment,Interst,and Money' 1936 di Inggris. 3 Terms of Trade Rasio antara harga yang dibayar untuk impor dengan harga yang diperoleh dari ekspor dari suatu Negara. (Ekspor Impor. Amir MS)
c) Cadangan devisa, yaitu persediaan devisa yang kita punyai pada awal tahun plus saldo neraca pembayaran.
Hal ini berarti cadangan devisa sangat erat kaitannya dalam penentuan kebijakan ekonomi makro dalam negara kita. Karena setiap kebijakan makro yang ada pastinya memiliki pengaruh terhadap perkembangan cadangan devisa dan begitu pula sebaliknya pengaruh posisi cadangan devisa terhadap kebijakan makro ekonomi yang diambil pemerintah. Guna memperlancar sistem pembiayaan pasar luar negeri serta menghindar dari penyakit-penyakit makro ekonomi yang mampu menghambat pertumbuhan ekonomi.

B. Pengaruh perekonomian terbuka terhadap cadangan devisa
Benjamin franklin mengatakan "Tidak ada negara yang dihancurkan oleh perdagangan". Sebagian besar negara di dunia ini menganut perekenomian terbuka, mereka mengekspor barang dan jasa ke luar negeri, mereka mengimpor barang dan jasa dari luar negeri, dan mereka meminjam dan memberi pinjaman pada pasar keuangan dunia. Pentingnya interaksi internasional ini menunjukan ekspor, impor sebagai persentase dari GDP. Perdagangan bahkan merupakan sentral untuk menganalisis pembangunan ekonomi dan merumuskan kebijakan-kebijakan ekonomi.
Di saat perekonomian terbuka bekerja, maka arus dana internasional merupakan suatu komponen didalamnya. Pola pembiayaan luar negeri akan mempengaruhi peranan serta besar kecilnya cadangan devisa negara. Hal ini pula akan menentukan apakah suatu negara merupakan negara donor atau negara pengutang di pasar dunia, hingga pada akhirnya minilik bagaimana kebijakan-kebijakan di dalam negeri dan diluar negeri mempengaruhi arus modal dan barang.
Pada perekonomian terbuka, pengeluaran suatu negara dalam tahun tertentu tidak perlu sama dengan output barang dan jasanya. Suatu negara bisa melakukan pengeluaran lebih banyak ketimbang produksinya dengan meminjam dari luar negeri, atau ia bisa melakukan pengeluaran lebih banyak dari produksinya dengan meminjam dari luar negeri.